Kamis, 16 Desember 2010

:)

Kali ini objeknya dia lagi, entah kenapa aku memang senang bercerita tentang rasaku padanya, atau hal-hal bersamanya. Semuanya terasa begitu menyenangkan. Malam ini kutegur ia atas penampilannya yang sudah mulai berantakan, jenggotnya mulai tumbuh tak karuan hampir 3 mm, kumisnyapun tak beda. Tapi ia berkilah akan memangkasnya esok pagi. Baiklah.. Tiba-tiba ia berceloteh, "kalo orang lain yang bergelantung di jenggotnya itu malaikat.. kalo saya kayaknya setan..." ceritanya datar. "Hah?!" aku hanya melongo untuk menunggu lanjutan bicaranya. Seolah perkataannya itu menuntut ketidakadilan Tuhan atas adanya syaitan pada bulu halus di bawah dagunya. Dari nadanya terdengar kekecewaan mendalam atas jenggot tersebut, entah apa dosa si 'gerombolan rambut sangat pendek' itu padanya. "Kenapaki bilang begitu??" tanyaku penasaran sebab ia tak kunjung menjelaskan tanpa kupinta. "Iya.. soalnya kalo malaikat, tidak mungkin dia mengganggu waktu saya sholat... bikin gatal-gatal.. jadi sepertinya ini setan... " jawabnya datar. Aku dan Ibuku tertawa terbahak-bahak mendengar alasannya. Seperti malam biasa, kala aku ingin dimanja aku pasti mencarinya, meski hanya untuk mendengar ceramahnya, cerita yang telah berulang kali ia ceritakan, atau memintanya untuk memijat kepalaku. Dialah Ayahku.

Sabtu, 27 November 2010

Alters on The Bridge

Yang lain diam, hening mendengarkan isak tangis Isa. Isa masih kecil, 11 tahun. Masih terlalu kecil untuk memahami amarah Rubi yang memang sedikit temperamental. Tapi yang lain juga bingung ingin menegur Rubi dengan cara apa.

“Ini sudah keterlaluan! Tidak seharusnya Rubi melakukan ini pada Isa, dia pikir dirinya siapa?!” teriak Nirna sembari bertolak pinggang.

“Tapi kita bisa berbuat apa? Siapa yang berani menegur Rubi?” tanya Ron, pria muda yang sangat lemah lembut.

“Mungkin kita tak harus menegurnya sekarang, kalian tahu ‘kan… sangat tidak kondusif. Saat ini pasti Rubi pun tengah emosi, kalau kita menegurnya sekarang tentulah ia akan membalas dengan suara yang jauh lebih keras” jelas Bu Berta lembut. Ibu setengah baya itu memang selalu menjadi penengah yang bijak di antara yang lain.

“Tapi aku penasaran, mengapa Rubi semarah ini pada Isa?” tanya Rani si analitis.

“Aku minta maaf.. “ yang lain terhenyak dengan sebuah suara yang baru saja muncul. “Ini semua salahku..” ucap pria tampan bernama Don. Sementara yang lain masih hening menunggu kalimat penjelas selanjutnya dari ujung bibirnya. “Rubi marah padaku karena ia merasa aku lebih menyayangi Isa daripada dia, dan sekarang.. akupun bingung…” tutur Don dalam.

“Kau tak perlu  meminta maaf Don.. itu bukan salahmu. Kita semua menyayangi Isa dan Rubi. Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Rubi sekarang?” tanya Bu Berta.

“Aku tak tahu ia hendak kemana Bu… ” kata Don.

“Aku ingin mati saja…!” teriak Rubi. Mereka berdiri di tengah jembatan kini, siap meloncat atas kendali Rubi.

“Jangan….! Kami mohon Rubi.. tidakkah kau kasihan pada Isa? Umurnya masih 11 tahun. Ia masih punya mimpi-mimpi yang harus ia capai…” kata Ron.

“Rubi, kau harus berhenti bersikap egois… kau sudah cukup merusak baju baru Isa… Isa tak tahu apa-apa tentang kita. Ia bingung, sedih pastinya. Kumohon Rubi.. orang tua Isa juga pastilah tengah mencari Isa saat ini” pinta Bu Berta.

“Apa peduliku?! Ini aku.. Isa harus tahu kalo aku tak suka!” teriak Rubi.

“Kalau kau mau mati, kau mati saja! Tapi jangan kau matikan Isa!” teriak Nirna.

Tapi terlambat… mereka semua terjuan bersamaan dari atas jembatan dalam satu jasad.

“Telah ditemukan jasad seorang anak perempuan yang hanyut di sungai. Setelah diidentifikasi, diperkirakan anak tersebut berusia 10-13 tahun. Belum dipastikan apa penyebab kematiannya…” lamat-lamat suara TV di ruang keluarga membuat seorang ibu mengulum senyum atas kematian anaknya.

Jumat, 19 November 2010

Self Oriented!

Bangun pagi dimulai dengan senyuman, aku percaya hari ini takdirku adalah yang terbaik untukku. Paling tidak aku telah berusaha. Orang-orang terdekatku tengah sibuk menyemangatiku dan percaya bahwa aku mampu. Tapi doaku semalam kurasa cukup untuk menenangkanku sebelum tidur paling tidak membuatku tertidur pulas semalam. “Rabb.. Aku dengan segala kemampuanku telah kulakukan hingga hari ini. Apapun yang terjadi esok, aku percaya itu semua terjadi karena kehendak-Mu dan itu memang yang terbaik untukku. Aku tak peduli sorak-sorai-basa-basi yang hanya ingin melihatku semangat itu. Rabb.. Engkau yang paling tahu aku, dengan seluruh mampuku dan segala optimistis yang tak pernah mampu ku refleksikan. Aku pasrah..”

Seketika aku teringat bergunung-gunung dosa yang telah kuperbuat, menangis mungkin tak guna menghapus.. tapi mampu menenangkan dan melegakan rasa bersalahku pada mereka. Pada orang-orang yang telah mempercayaiku, pada orang-orang yang menyayangiku, dan tentu saja pada-Mu yang selalu ada untukku. Teringat liang kubur yang tiba-tiba muncul dalam ruang pikirku, ‘ apa yang ‘kan kurasa ketika para pelayat itu kemudian pergi meninggalkan kuburku kelak? Adakah yang ‘kan ingin berdoa untukku?’ Lalu kusadari, aku takut mati. Aku belum siap dalam kesendirian itu. Adakah aku hamba yang baik yang telah mampu menjadi sahabat-Mu? Adakah aku tak melukai hamba-hamba-Mu yang lain? Jikalau benar, ampunkan aku Rabb.. Biarkan sakit ini, gusar ini, menjadi teguran untukku atas semua salah serta khilafku selama ini. Aku pasrahkan semuanya pada-Mu..

Jumat, 29 Oktober 2010

Merah - Putih - Hitam - Muda - Karya

Tidak bisa tidur, entah kenapa. Padahal ragaku sepertinya sudah sangat lelah untuk terus bertarung dengan waktu, tetapi mata memang terkadang sulit diajak kompromi, apalagi otak… dia selalu ingin bekerja seenak perutnya, meski perutnya entah dimana. Sepertinya mulai ngelantur…

28 Oktober 2010, Hari Sumpah Pemuda. Seakan acara TV hari ini serempak menggemakan ‘yang muda yang berkarya’. Setelah kupikir-pikir ... sepertinya aku tak punya karya yang bisa dibanggakan sampai hari ini. Bicara masalah karya, aku jadi teringat karya tulis yang harus kuselesaikan secepatnya… Ohh.. GOD, sepertinya itu yang belum mampu ditaklukkan otakku hingga ia tak kunjung berhenti berputar hingga selarut ini. Di sini, di dalam kamarku yang kecil ini, ditemani my lovely GRIPEZ aku masih sibuk memikirkan Tugas Akhir-ku yang belum fix-fix juga. Di luar sana puluhan kilometer dari kamarku, sekelompok mahasiswa mungkin tengah memikirkan rencana keberangkatan Bina Akrab besok hingga mesti rapat hingga saat ini. Di kamar yang lain ada yang tengah sibuk menggambar petak Irigasi untuk asistensi keesokan hari. Di sudut kota yang lain, seseorang tengah sibuk chatting dengan kolega yang hanya berjarak 20 meter darinya di kafe yang sama. Dan di sana, ada yang tengah membaca tulisanku entah dengan alasan apa.

Adakah kita memikirkan saudara-saudara kita yang berada di Kepulauan Mentawai? Korban Tsunami yang mungkin hari ini hanya memakan menu yang sama dan sama sekali tak bergizi, Mi Instant. Adakah kita memikirkan saudara-saudara kita yang bermukim di lereng Merapi? Bagaimana kabar mereka di tempat pengungsian hari ini?

Langit merah-putih tengah berkabung lagi. Bencana yang tak tanggung-tanggung tiba-tiba mengguncang tanah ibu pertiwi. Banjir di ibukota, sapuan halus tsunami di Sumatera, serta erupsi di Merapi setidak-tidaknya mampu membuat kita sadar, manusia memang makhluk-Nya yang sungguh tak berdaya. Entah teguran ataukah cobaan, yang pasti ini semua takkan terjadi tanpa izin-Nya, SangMahaMengetahui. Sedikit tenang melihat banyaknya tweet dan status facebook yang mengumandangkan #prayforindonesia. Itu menandakan tidak sedikit dari kita yang mengetahui serta berempati terhadap musibah tersebut. Akan tetapi, kita semua berharap… bentuk kepedulian kita tak sampai di situ teman… Bukankah ikhtiar itu terdiri dari do’a dan usaha? Maka lakukan apapun yang kita mampu dan apapun yang kita sanggup. Sekecil apapun itu untuk mereka, dalam bentuk apapun itu atas nama kemanusiaan. Sedikit dari kita bisa berarti besar untuk mereka. Saya senang dengan penutup sms dari seorang teman tadi malam… ACTION IS THE MOTHER OF HOPE. Mari berbuat… kita… yang muda… yang berkarya… untuk nusa bangsa.

And show the world…. That WE DO LOVE INDONESIA!

Rabu, 29 September 2010

TERASING


- setelah membongkar file lama di blog sebelumnya, tulisan ini lucu juga.. apalagi komen2 di blog sebelumnya.. sy suka.  :D
*
Pernah berpikir merasa terasing di tempatmu berkutat setiap hari? Jika belum, cobalah tuk berpikir sepert itu. Karena mungkin kau akan merasakaanya suatu hari nanti. Hari ini kudapati raga ini terbangun di tempat di mana aku merasa terasing. Sangat terasing. Jam delapan pagi di setiap hari kuliah, tempat ini biasanya kusinggahi sebelum menjamah ruang kuliah. Entah hanya untuk menyapa teman-teman atau hanya sekedar mengambil buku yang kutitip, atau printing tugas, atau sekedar say hi dengan penghuninya. Tempat ini selalu menjadi zona nyaman tuk seorang Nadira. Namaku Nadira.
Tapi kenapa hari ini aku merasa terasing? Ruangan ini jadi begitu berantakan. Karpet merah yang kini sudah cukup usang terlihat semakin usang karena kertas yang berserakan berantakan di atasnya. Tumpukan sepatu yang juga berserakan di depan pintu di bawah meja gambar semakin menambah aksesoris tak nyaman di ruangan ini. Tak kudapati seorangpun di ruangan ini, hanya suara televisi yang menampilkan film lama Dono dkk yang sejak tadi ternyata menontonku tertidur. Tapi samar-samar kudengar ada alunan suara Ipang yang entah apa judulnya yang juga menjadi soundtrack film sejuta umat saat ini, Laskar Pelangi. Aku pengidap hipotensi, jadi saat baru terjaga dari tidur, aku butuh beberapa saat untuk menyadarkan diri agar tak sempoyongan saat bangun. Jadi, belum sempat kulirik siapa operator di ruang belakang. Kubangunkan diriku dari posisi tidur. Ternyata dia. Dia yang namanya malas kusebut. Hubungan ini, tak pernah kuduga kan menjadi seperti ini. Sangat kaku, sangat dingin, sangat dia. Entah kemana manusia yang lain pergi, yang aku tahu, di sini, di ruangan ini, di tempat aku merasa terasing, yang ada hanya aku dan dia. Sosok kharismatik?! Tak pernah terlintas kata itu di kepalaku tentangnya, padahal pendapat itu mendominasi ketika kami mengadakan jajak pendapat tentangnya. Muak dengan kekanak-kanakannya, jiwa-jiwanya yang jamak, introvert-nya yang membingungkan yang selalu ingin dimengerti. Sampai akhirnya aku menyerah. Kukatakan itu padanya, ternyata setelah itu ia berubah. Menjadi seperti ini, tanpa sapa, tanpa senyum, tanpa kata.
‘Hey… kenapa harus peduli? Dia bukan siapa-siapa!’ kata si A. ‘Tapi dia dulu ‘kan teman baikmu…’ kata si B. ‘Tapi lihat saja gayanya yang angkuh, seolah dialah segalanya’ lanjut C. ‘Huh… keakuannya kembali seperti dulu, bahkan makin menjadi’ sahut si D. Hwah…. Suara-suara yang entah datang dari mana bersahut-sahutan di ruang pikirku. ‘Ini semua bagian dari konsekwensi, itu yang harus kau pahami!’ kata E. ‘Menyesalkah kau Nadira? Karena meninggalkannya?’ tanya F. “Tolong berhenti… “ jeritku dalam hati. Sementara dia masih sibuk mengetik entah apa… “Aku tak pernah meninggalkannya, aku masih ingin mendengar ceritanya, keluh kesahnya, tapi dia yang tak ingin berbagi cerita padaku” belaku pada hati-hati kecilku. Tapi mereka tak peduli, meski tak sedikit dari teriakan-teriakan itu yang membelaku. Dia beranjak dari tempat duduknya setelah menerima telepon entah dari siapa. Sepertinya dari seseorang yang cukup berarti dalam hidupnya kini, karena kedengarannya begitu intim. Lalu ia keluar dari ruangan ini tanpa kata. Dan kini, aku benar-benar sendiri di tempatku berkutat setiap hari, merasa terasing. Tanpa sadar tersimpul senyum di wajahku. Setelah kucoba cari tahu mengapa… kudapati jawabnya. Karena kini, sahabat lamaku yang dulu hanya membagi ceritanya kepadaku, kini telah mendapatkan tempat berbagi cerita. Mungkin kau mengira hatiku tengah sakit saat ini, tapi sungguh… di tempat terasing ini, aku menemukan aku yang ternyata menyayanginya sebagai temannya… tak lebih. Sungguh, tak lebih.
-sebelumnya pernah dipostkan pada blog sebelumnya http://dblackgurl.blog.friendster.com/2008/10/terasing/ 

Selasa, 28 September 2010

Sore Seru

“De’ ada pameran pakean muslim di Mushalla…ikut yuk!” ajak Lya sambil lalu ketika melewati sekret UKM Bahasa di Fakultas kami. Tanpa ba-bi-bu kutinggalkan film ‘Hellboy 2’ yang tengah kutonton bersama anak-anak UKM lalu mengejar Lya.
 Saat ini Mushalla jurusan kami masih dalam perbaikan, jadi yang sebelumnya berada di lantai dasar, sekarang dipindahkan ke lantai 2. Letak Mushalla kami berada di dalam kompleks Laboratorium jurusan. Sekarang bulan Romadhon, jadi wajar ba’da Ashar seperti ini kampus sudah sepi. Belum lagi di bulan suci, tak ada kegiatan Laboratorium yang sedang berlangsung. Jadi sudah tertebak ‘kan bagaimana keadaan lab. saat ini? Yaiyalah sepi… Jangankan praktikan, laboran saja sudah kebur jam segini. Apatah lagi asistennya… Mending di rumah ngabuburit…
Teman-teman perempuanku berjalan di depan sambil membahas kira-kira jilbab model seperti apa yang ada di Mushalla hari ini. Model lilit kah, model kaos yang ada talinya kah, yang berbahan licinkah, dsb. Sesampai di Mushalla kami ber-tujuh langsung menyerbu tumpukan pakaian yang tergeletak di depan Yuni, sang empunya jualan. Di sebelahnya ada Kak Fanny, senior kami yang setahun lebih tua. Tak beberapa lama, Lely teman kami yang cukup slow karena anaknya emang spoiled gitu deh… ternyata belum sholat. Jadilah dia ke WC tuk mengambil air wudhu. Sedangkan yang lain masih sibuk dengan barang dagangan. Sementara Lely sholat, ada seorang junior yang masuk ke Musholla “kak, katanya sudah mau dikunci” tutur si junior lalu keluar. Dasar kami anaknya cuek, si junior dicuekin juga. Selesai memilah-milah barang, alhasil cuma Kiki yang belanja rok. Sementara di luar musholla keramaian sepertinya mulai berkurang, yang kedengaran di luar bahkan hanya suara cekikikan kami. Karena sudah merasa cukup melihat-lihatnya kami membantu Yuni membereskan barang dagangannya, namun tiba-tiba… “Lho?! Kok pintunya dikunci….!” teriak seseorang dari luar, tepatnya dari lantai satu. Setelah beres-beres kami bergegas keluar dari musholla, memastikan bahwa kami benar terkunci. Dan benar, kami memang terkunci.
“Howaaaa… bemana ini?! Terkunciki……..” entah siapa yang memulai berteriak. Kami mulai bingung. Cinta yang selalu tampak tenang terus berusaha menenangkan yang lain. Kucoba mencari pintu lab yang terbuka agar kami bisa keluar. Pintu Lab Mektan, terkunci. Lab Aspal, nasibnya sama. Kak Fanny lebih dulu memeriksa Lab Bahan, pintu pertama memang tak terkunci. Pintu ke dua menuju pintu keluar juga hanya tertutup. Sayangnya, pintu terakhir yang menghubungkan langsung keluar ternyata terkunci. Beberapa yang lain mulai berteriak, sementara Cinta dan Lya menghubungi anak-anak yang kira berada di himpunan sore itu. Kuingat ada pintu yang menghubungkan antara Lab Hidro dengan jurusan Perkapalan, aku pernah masuk ke Lab Hidro melalui pintu itu lantaran datang kepagian saat praktikum dan Pak Udin *tukang kunci Lab* belum datang. Mencoba sedikit tenang mungkin lebih baik. Setengah berlari kucek pintu Lab Hidro dan hasilnya… terkunci.
Kami akhirnya memutuskan berkumpul di pintu utama masuk Lab. Menunggu.. mungkin sebentar lagi teman-teman kami dari himpunan akan datang. Tapi, kalaupun mereka datang, mereka mau apa? Semuanya bingung dengan pikiran masing-masing, kalau-kalau kami benar-benar harus di sini selama dua hari.
“Howaaa.. dak mauka’ saya nginap di sini…” teriak salah satu temanku yang cukup ekspresif. “Deh.. bemana kalo dak adaki Pak Raba’? baru Pak Udin pulang Barru.. sapatau mauki juga pulkam Pak Raba’?” Tanya yang lain. “Weh.. buka apaki anana’??? Bemana carata’ sahur???” tambahku sembari memperhatikan ekspresi teman-temanku, lucu. “Janko bilang bgitu dede’…. Dak mauka’ saya.. masa’ ndak mandiki’ sampe hari Senin… ada lagi kuliahku pagi-pagi….” gerutu yang lain. Imajinasiku mulai melayang, membayangkan aku dan teman-temanku dua hari kemudian, lesu karena tak makan dua hari, tidur di dalam mushalla, bau pastinya karena tak mandi, syukur-syukur kalo ada yang membawa pencuci muka. Tapi kutepis, ‘takkan seburuk itu de’… at least anak-anak cowok bisaji belikanki makanan itu kalo perlu minta tolong ambilkan barang-barang lain, perlengkapan mandi  mungkin, baju ganti, semua-semua deh.. tinggal minta tolong orang rumah siapkan, beres.’ Sepertinya otakku mulai tak beres.
Tidak lama kemudian kordinator angkatan kami mengabarkan bahwa teman-teman kami sekarang ada di pintu Lab Bahan yang paling luar. Sempat mereka menyarankan agar kami manjat saja, kebetulan ada celah sedikit di sana. Tapi langsung dibalas dengan… “Wehhh… ko gila kah?! Pake rok ki’ inehh masa’ manjat??” teriak Cinta dari dalam. “Masalahnya tidak ada Pak Raba’.. orang rumahnya tidak tau kemanaki…” teriak Kordinator angkatan kami dari luar. Kami menolak, kami kembali ke pintu utama Lab dengan langkah gontai.  
Teman-temanku sudah mulai lelah mengeluh, wajar saja… sejak 15 menit lalu kami terperangkap *baca:memerangkapkan diri* di sini, kami memang tak hentinya berdiskusi mencari solusi sembari teriak-teriak tolol, sebab tak ada yang mendengar selain kami-kami di sini. Untuk mengobati kebosanan, kuraih handphone dari saku rokku, kurekam ekspresi teman-temanku dengan video, ada yang sadar kamera dan tetap cerah ceria setelah melihat kamera. Hehhe..
“Hahhhahahaha… murasai anana’…” kami tertegun. Di pintu utama sekarang sudah ada Pae’ sang kordinator angkatan tengah tertawa terbahak-bahak menertawakan kesulitan kami… Tapi, tak mengapa karena dia telah membawa juru selamat kami sore itu.. “Pak Rabaaaaaa’……….” teriak kami girang, seakan rindu setengah abad pada juru kunci ruangan di Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin itu.

Based on true story of us, 19th September 2008  

Sabtu, 25 September 2010

Unexpressed Feeling

I don’t need much time to recognize it
I don’t need much words to explain it
I don’t need much theories to solve it
I don’t need much place to talk about it
I don’t need much opinions to feel it

Cause I feel it, always…
Everytime you looked at me in every word you told me
I know, that you are my home where I will always back
Home where  shading me from stormy skies
Home where I am protected from extreme sunlights
Home where I always belong

Do you know, that I love you?
Eventhough I never told you as you never told me
But I believe, you do…
I never could say any good words to you,
But you still there, tried to understand as well as on my mind
I never could give you any pride,
But you still there then say, “never mind.. you did your best”
I never could give happiness for you
But you still there, made me laugh when I really needed
I couldn't be a good listener sometimes
But you still there, tried to explain all the things when i was wrong
Until I realized that you were right without any apologize..
But you were always there, with your big pardon for me

While smiling, but my heart is going to cry…

Dear my beloved Daddy… you are the best man in my life!
I love you…
*Eventhough I never could tell you  

Respect

Berangkat dari rumah jam 6 sore menuju ke kampus, sangat tidak kondusif. Bukannya apa, jarak rumah-kampus 30 menit jam perjalanan, belum lagi di waktu-waktu seperti itu banyak kendaraan yang terburu-buru ingin cepat sampai ke rumah untuk ibadah sholat maghrib.

Di pertigaan jalan, sudah ada dua orang polisi muda -kulihat dari wajah dan posturnya yang masih sangat ceking- tengah berbincang dengan seorang pengguna sepeda motor 
matic. Sepertinya ia ditilang, posisi motornya dipinggirkan di sisi kiri jalan. Karena lampu merah menyala, jadi iseng-iseng saja kuperhatikan ketiga objek itu berbincang. Di tengah perbincangan, kedua polisi saling menunjuk ke arah kendaraan di belakangku. Mereka menginstruksikan kendaraan tersebut untuk ke pinggir. Ternyata mobil mixer,  ready mix concrete. Sopirnya tampak sedikit tegang, tak lama kemudian di pintu kiri turun seorang lelaki usia 30-an menjabat tangan si polisi. Polisi menanyakan jam operasi mobilnya yang tak lazim, si pria tambun menjelaskan alasan-alasannya, diperhatikan oleh kedua polisi tadi. Di sisi jalan yang lain, si pria matic mengarahkan sepeda motornya ke tengah jalan dan mengikuti kendaraan yang lain mengantri menunggu lampu hijau menyala. Salah satu polisi menyadari pergerakan si priamatic, si pria tampak marah dan mengacungkan kepalannya ke arah polisi. Tampak pasrah, polisi muda itu membiarkan si pria matic berlalu, begitu saja.

Respect. Rasa saling menghargai mungkin sudah jarang kita temui hari ini. Mengapa mesti marah jikalau yakin tak salah? Mengapa mesti mengancam jikalau yakin diri benar? Kita seringkali tidak menyadari kalau 
unrespect to each other ini sebenarnya sudah terjadi di mana saja. Tak perlu jauh-jauh kawan, di kampus saja perokok aktif dengan santainya merokok di sembarang tempat. Teguran halus dengan mengibas-ngibaskan tangan tak lagi berpengaruh, mereka cuek saja. Teguran langsungpun dilayangkan... dan dijawab "sorry..sorry.." itu saja, seolah kata tersebut mampu memperbaiki kesehatan kita yang telah dirampas. Sayangnya, itu selalu berulang meski telah ditegur sekian kali. Tidak bisakah kita saling menghargai? Hal yang menurut kita mengganggu untuk orang lain kita reduksi, kalaupun tak bisa untuk dihilangkan. Membuang sampah di sembarang tempat, ketika ditegur dengan cueknya kita berkata "supaya ada guna-gunanya itu cleaning service digaji". Seolah kita yang menggaji mereka, kalaupun iya, apa susahnya meringankan beban  orang lain selagi itu tak memberatkan untuk kita?

Profesi seringkali menjadi gunjingan teranyar dalam hal ini. Saat 
hang out di Mal bersama teman tak jarang kita temui orang yang tetap saja lalu-lalang saat seorang OB tengah mengepel. Selain mengganggu, itu malah membuat lantai jadi semakin kotor. Tapi tanpa rasa bersalah mereka tetap saja melenggang, apatah lagi meminta maaf. Terkadang kita mencibir ketika masuk ke sebuah departement store dan sedang melihat-lihat barang, lalu datang seorang parmuniaga yang menanyakan kebutuhan kita serta mengikuti kemana saja kita pergi. "Memang dia pikir kita mau mencuri?" begitu cibir kita. Padahal itu bagian dari pelayanan mereka, bisa jadi itu instruksi dari atasan yang harus mereka kerjakan, tuntutan profesi.

Bayangkan jika mereka tak ada... Jalanan akan semakin macet karena sikap pengguna jalan yang tak bermoral semakin sulit di atur, koridor kampus akan semakin kotor karena tak ada yang membersihkan, jangan harap Mal akan bersih tanpa OB, dan.. siapa yang akan membantu mencarikan barang yang kita cari di toko tanpa pramuniaga. Itu hanya tuntutan profesionalisme mereka saja kok. Bukankah kita semua sedang berjalan menuju ke sana -profesional- ? Tanyakan diri kita, sudahkan kita profesional menjalankan peran kita hari ini? Jika tidak.. mereka mungkin jauh lebih baik dari kita. Bayangkan jika kita menjadi mereka, mampukah kita seperti mereka?

Mari saling menghargai... mulai dari kata, sikap, serta perbuatan. Ingat temans... kita tak mungkin bisa hidup sendirian. KITA SEMUA SAMA.

Selasa, 14 September 2010

Lelaki, Perempuan dan Rasa

Dia masih di sana, tertatih dengan sedikit senyum mengulas sembari menahan sedikit perih akibat terjatuh dari motor. Tapi tak kalah perih yang ada di hatinya, aku tahu itu. Tersenyum pada yang lain seakan berkata ‘tak ada apa-apa’ atau paling tidak ‘aku baik-baik saja’. Tapi aku tahu, ia tidak.

Sedang yang lain, yang tengah duduk di hadapannya saat ini, yang selalu ia pikir sejak beberapa minggu lalu tampak tak ingin diganggu oleh tatapannya, tak acuhnya seolah berucap ‘aku tak mau tahu lagi’. Si objek ke-dua sibuk bercerita atau mungkin menyibukkan diri untuk bercerita dengan yang lain tanpa ingin melirik bahkan sepersekian detik saja pada objek pertama yang terus manatapnya.

Di sudut yang lain tampak objek ke-tiga memperhatikan perilaku aneh dari keduanya. Curiga kemudian muncul lagi. Seperti bola salju yang semakin membesar disetiap putarannya. Seperti api yang tersiram bensin, semua tak terkendali. Cemburu. Rasa yang aneh yang selalu membayanginya sejak beberapa tahun silam.

*

Berbicara tentang ‘rasa’, sebenarnya sedikit membingungkan -sebagai limitasi dari tulisan saya kali ini, ‘rasa’ yang saya maksudkan adalah hubungan antarmanusia-. Konon kabarnya hal itulah yang membedakan antara perempuan dan lelaki. Perempuan lebih banyak dikendalikan oleh perasaan atau emosi, sedangkan lelaki lebih banyak dikendalikan oleh pikiran atau logika. Tapi saya pikir kitapun tidak boleh menjastifikasi bahwa semua perempuan atau semua lelaki demikian. Apatah lagi kalau kita kemudian menganggap semua perempuan hanya menggunakan perasaan tanpa logika, dan sebaliknya lelaki hanya menggunakan logika tanpa perasaan, sempit sekali.

Ada juga kok tipikal lelaki yang cukup ekspresif menunjukkan perasaannya, secara terang-terangan memamerkan ‘rasa’ yang ia yakini sebagai cinta di depan orang banyak yang mungkin bagi sebagian lelaki itu menurunkan harkat martabat dan derajatnya. Tapi sebagian yang lain menganggap itu sebagai bagian dari gentleness dan tentu kejujuran hati mereka.

Tetapi yang mendominasi mungkin adalah lelaki yang terkesan introvert di depan perempuan. Mereka selalu ingin tampak ‘gagah’ di hadapan kaum hawa, tak bisa tersakiti, tahan banting, tak butuh curhat karena semuanya under control. Selalu ingin bisa diandalkan dalam hal apa saja, ingin tampak ‘dingin’ meski kadang terkesan apatis. Tapi tahukah kalian para lelaki, kadang hal tersebut justru tak mengesankan bagi para perempuan? SIkap kalian yang ingin tampak ‘gagah’ itu justru memuakkan, salah sedikit jadi pahlawan kesiangan. Rasa ingin berbagi tapi malu itu justru menyiksamu dan terlalu banyak menguasai ruang pikirmu, sampai-sampai kau tak peduli pada sekelilingmu. Banyak yang peduli padamu, tapi mereka tahu.. kau takkan pernah berbagi. Dan akhirnya, kau malah lebih dikendalikan oleh rasa malu dan gengsimu dibandingkan logika akan butuhmu.

Perempuan juga tak sedikit yang sangat introvert. Mengaku ini-itu tetapi ternyata tanpa ia sadari ingin begini-begitu. Tidak jarang terkadang mereka bingung dengan dirinya sendiri, merasa tak mengenal diri sendiri. Mungkin karena jujur kepada diri sendiri belum mereka terapkan sepenuhnya, atau mereka tak mengenal siapa diri mereka dengan baik. Tahukah kalian para perempuan, hal seperti itu juga cukup memukkan untuk mereka lelaki. Membuat kalian menjadi sosok yang sulit dimengerti, meski mungkin bagi sebagian lain kalian cukup misterius.

Tetapi yang mendominasi adalah perempuan yang selalu tampak hidup berkelompok dengan para perempuan. Lebih banyak bicara, melakukan hal tak penting –bagi para lelaki-, sangat memperhatikan penampilan, selalu ingin menarik perhatian, karena tentu saja ingin selalu diperhatikan. Tetapi terkadang hal-hal tersebut juga sangat menjengkelkan bagi para lelaki. Harus menemani kalian belanja, mengantar kalian kesana-kemari, padahal mereka juga punya urusan sendiri yang cukup mendesak. Tapi karena tak ingin mengecewakan atau karena ingin selalu bisa ada ketika kalian butuh, maka mereka selalu di sana. Kalian selalu ingin diperhatikan setiap hari, dikhawatirkan setiap saat, tapi kalian tak selalu memberi hal yang sama. Karena menurut kalian, seperti itulah layaknya hubungan itu.

Setelah kupikir-pikir masing-masing pihak sebenarnya egois. Lelaki dengan egonya yang tak ingin berbagi, dan perempuan dengan egonya yang selalu ingin diperhatikan.  Tetapi DIA memang MAHATAHU yang terbaik bagi makhluk-Nya. Manusia diberi pasangan berbeda jenis agar bisa saling melengkapi satu sama lain. Komunikasi kemudian bisa dibangun oleh mereka yang ekstrovert untuk mengetahui keinginan dari si introvert. Perasaan si introvert yang biasanya perasa selalu mudah memahami si ekstrovert yang selalu mengekspresikan perasaannya.

Kira-kira, objek pertama, ke-dua dan ke-tiga di atas tergolong yang mana? Dan silahkan mengembangkan, ada apa dengan mereka sebenarnya..

Selasa, 17 Agustus 2010

Independence Day

17 Agustus 2010 – 17 Agustus 1945 = 65 tahun sudah Indonesia merdeka.  Merdeka dalam artian apa dulu? Saya tidak mau terlalu banyak komentar tentang Negara, bukannya apa.. mikirnya saja berat. Dari kamus Bahasa Indonesia yang tak besar-besar amat, merdeka dimaknakan bebas. So far yang saya pahami, merdeka itu berarti kita bebas menentukan apa yang kita pikirkan, lakukan, dan yang akan kita perbuat.

Pertanyaannya kemudian, sudahkan kita (Indonesia) merdeka? Dari otakku yang tak besar-besar amat serta pengamatanku yang tak jauh-jauh amat, makna merdeka kemudian hanya menjadi mimpi untuk Negara kita yang tak maju-maju amat ini. Pesimis? Iya.. mungkin karena merdeka hari ini tidak sebesar ekspektasi saya terhadap makna Indonesia merdeka.



Tapi saya juga tidak menafikkan usaha para pejuang kita 65 tahun silam, yang sampai menukar nyawa hanya untuk satu kata, merdeka. Mereka menggunakan kata merdeka untuk menyulut semangat melawan penjajah, dengan harapan anak cucu mereka kedepannya tidak perlu menjadi budak lagi bagi bangsa lain.

-          Merdeka menentukan nasib sendiri
Saya sebenarnya cukup heran dengan sikap beberapa kalangan orang Indonesia terhadap Presiden USA Barack Husein Obama. Seberapa besar sih sebenarnya pengaruh orang no.1 USA ini untuk kesejahteraan negri kita? Apa iya kita sebegitu berharapnya pada orang ini hanya karena ia sempat bersekolah 2 tahun di Indonesia? Sampai-sampai dibuatkan patung segala di Jakarta. Maaf kalau kemudian saya jadi berpikir begini… ‘Apa sebegitu  menjilatnya kita pada USA? Atau sebegitu bergantungnya kita pada orang ini? Memangnya orang ini sudah berbuat apa untuk Indonesia?’ Seberapa besar sih harapan kita terhadap bangsa lain untuk menentukan nasib Indonesia kedepannya?

-          Merdeka dari kebergantungan kepada Negara lain
Pernah membayangkan seberapa besar utang Negara kita tahun ini? Dulu, ketika saya masih duduk di kelas 3 SMP, pernah beredar rumor setiap orang di Negara ini memiliki utang 7 juta rupiah jika diakumulasikan utang Indonesia ke luar negeri. Tapi itu hanya rumor, semoga bukan keadaan yang sebenarnya. Itu 9 tahun silam. Bagaimana dengan hari ini? Dari rubrik berita di bulan Januari 2010, utang kita sudah mencapai 1.618 Trilyun Rupiah. Kalo dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini, kira-kira perkepalanya berapa rupiah?

-          Merdeka mengekspresikan ciri bangsa
Sudah banyak hasil karya anak bangsa yang kemudian diklaim hak patennya oleh Negara lain. Menyedihkannya, karena kita tak bisa berbuat apa-apa.  Berikut daftar karya anak bangsa yang diklaim oleh Negara lain *saya copy dari artikel di sebuah web* :
1. Batik dari Jawa oleh Adidas
2. Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
3. Naskah Kuno dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
4. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia
5. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
6. Rendang dari Sumatera Barat oleh Oknum WN Malaysia
7. Sambal Bajak dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Belanda
8. Sambal Petai dari Riau oleh Oknum WN Belanda
9. Sambal Nanas dari Riau oleh Oknum WN Belanda
10. Tempe dari Jawa oleh Beberapa Perusahaan Asing
11. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
12. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
13. Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
14. Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia
15. Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia
16. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
17. Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
18. Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
19. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
20. Kursi Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Perancis
21. Pigura Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Inggris
22. Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia
23. Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti dari Bali oleh Oknum WN Amerika
24. Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia oleh Shiseido Co Ltd
25. Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
26. Kopi Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda
27. Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang
28. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia
29. Kain Ulos oleh Malaysia
30. Alat Musik Angklung oleh Pemerintah Malaysia
31. Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia
32. Tari Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia
Adapula karya anak bangsa lainnya yang diklaim oleh Malaysia berikut ini :
1. Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
2. Naskah Kuno dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
3. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia
4. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
5. Rendang dari Sumatera Barat oleh Oknum WN Malaysia
6. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
7. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
8. Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
9. Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia
10. Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia
11. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
12. Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
13. Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
14. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
15. Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia
16. Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
17. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia
18. Kain Ulos oleh Malaysia
19. Alat Musik Angklung oleh Pemerintah Malaysia
20. Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia
21. Tari Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia


-          Merdeka atas kekayaan negri sendiri
Kalau yang ini tentulah tidak asing lagi. Kekayaan alam yang berlimpah yang kemudian dikelola oleh bangsa lain dengan dasar kontrak karya. Alasannya, karena Indonesia belum mampu mengelola sendiri kekayaannya. Memang benar, mereka memberikan fasilitas yang sangat baik bagi pemerintah daerah, mempekerjakan ribuan karyawan lokal dengan gaji yang tak bisa dipandang remeh, bahkan sangat menggiurkan. Tapi sampai kapan kita kemudian menjadi budak di negri sendiri?

Dan masih banyak kemerdekaan-kemerdekaan lain yang saya ekspektasikan untuk anak negri. Kemerdekaan atas praktik korupsi yang telah mendarah-daging di negri ini. Kemerdekaan atas pendidikan yang layak bagi anak negri yang sampai saat ini masih belum juga tercapai. Merdeka dari orang-orang tak bermoral yang menjual pulau-pulau di Indonesia.  Entah berapa jumlah Pulau di Indonesia hari ini. Merdeka dari oknum-oknum pendukung separatisme di negri ini. Hmmh… itulah mengapa saya malas membahas Negara, selain karena pengetahuan yang kurang, masalah di Negara ini juga cukup berat.

Tapi, di luar dari semua itu… saya masih sangat senang untuk menjadi anak Indonesia. Sangat sayang pada budaya negri ini, bhineka tunggal ika, tepo seliro, serta keramah-tamahannya. Di balik keterpurukan kita di hari Kemerdekaan RI ke-65 tahun ini, saya berharap anak-anak negri sudah mulai berpikir untuk ‘memerdekakan’ bangsanya hari ini. Kalo bukan pemuda, lalu siapa lagi? Saya pun berani bilang, saya belum berbuat apa-apa untuk negri ini… tapi semoga saya bisa berbuat sesuatu.

"Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu." 
 John Fitzgerald Kennedy

Happy Independence Day Indonesia… Semoga kedepannya melahirkan generasi dengan akhlak dan moral yang lebih baik menyongsong Indonesia ke pintu kemerdekaan yang sebenarnya. Amin… 

Sumber Gambar : Googling

Kamis, 12 Agustus 2010

Special Month for Special People



Rindu Ramadhan. Status facebook yang kutulis berbulan-bulan lalu kala masih hidup di perantauan *ceilehh.. bahasanya!*  karena Ramadhan itu benar-benar special dan hanya bisa dirasakan oleh kita yang juga special. Kita special kalau kita beriman… Amin.

Saya jadi teringat potongan ceramah tadi dari Pak Ustadz di masjid saat tarwih. “Jangan sampai, kita berpuasa di bulan ini hanya menahan lapar dan haus saja, dan tidak mendapatkan apa-apa”. Kita berpuasa seharusnya belajar untuk menahan nafsu yang lain selain makan, nafsu bermaksiat, nafsu berghiba, nafsu untuk melakukan hal-hal yang tak berguna, nafsu menghambur-hamburkan rezeki untuk hal yang tak perlu juga.

Jadi ingat kejadian siang tadi, sempat terenyuh dan sangat inginnya membeli BOOMBOX di pusat perbelanjaan saat menemani ibu. Tapi, karena ibuku belum membolehkan jadilah kutahan saja hasrat ingin beli BOOMBOX-ku itu. Tapi benar kata Pak Ustadz, kalo memang belum perlu kenapa mesti beli? Manusia yang beriman itu mampu menahan nafsu… Ya Allah jadikanlah kami manusia beriman yah Rabb.. Amin.


Balik lagi untuk membicarakan sepesialnya Ramadhan. Hanya di Ramadhan :
  1. Kita bangun dini hari untuk sahur dengan niat untuk berpuasa keesokan harinya. Sudah itu, sahur pun dapat pahala pula, kan hukumnya sunnah. 
  2. Kita berbondong-bondong ke masjid di shubuh hari, mulai dari anak kecil sampai nenek-nenek renta untuk berburu berkah-Nya, setelah sholat shubuh ada penceramahnya pula. Sudah dapat pahala berkali lipat karena sholat berjamaah, langkah ke masjid pun dihitung pula pahalanya. 
  3. Setiap aktivitas sunnah pahalanya disamakan dengan yang wajib di bulan biasa. Itulah sebabnya, banyak dari kita yang meningkatkan sholat sunnah di bulan suci ini. Mulai dari sunnah rawatib, Tahiyatul Masjid, Sholat Dhuha, dll. 
  4. Memberi makan orang yang sedang berpuasa, memberikan BONUS pahala bagi si pemberi sebesar pahala yang diperoleh orang  yang diberi, tanpa mengurangi pahala orang yang diberi. Maka, bagi kita yang berkecukupan… saatnya berbagi.
  5. Cuma di BULAN INI… kita wajib berpuasa selama SEBULAN! Dengan berpuasa kita jadi belajar menahan nafsu, bersabar, berempati terhadap apa yang dirasakan orang ‘susah’ kala mereka kelaparan karena tak punya uang untuk makan. Allah benar-benar baik ya? Membuat kita belajar untuk mengevaluasi diri setiap tahunnya. Coba kalo Ramadhan tidak ada, apa iya kita bisa belajar sabar, menahan nafsu, dan berempati pada saat yang bersamaan plus pahala berlipat ganda? Dalam waktu sebulan pula. Supaya kita bisa belajar untuk membiasakan diri dengan cara hidup demikian.
  6. Cuma di Ramadhan, sebelum isya datang kita ramai-ramai ke masjid untuk berjamaah sekaligus tarwih dan sholat witir. Saling mengingatkan tentang makna hidup makhluk-Nya melalui ceramah rohani. Sometimes mungkin membosankan, tapi coba deh tidak melihat metodenya, tapi melihat isi yang disampaikan di dalamnya.
  7. Dan yang terakhir, “Pada bulan Ramdhan, umatku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumnya. Pertama, bila dating awal malam Ramadhan, Allah Azza wa Jalla melihat mereka. Dan barang siapa dilihat oleh Allah, dia tidak akan mendapatkan adzab selamanya. Kedua, bau mulut mereka di waktu sore (saat berpuasa) lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi. Ketiga, para malaikat memohonkan ampun untuk mereka siang dan malam. Keempat, Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kepada surge. Dia berfirman kepada surge-Nya itu, ‘Bersiap-siaplah dan berhiaslah untuk hamba-hambaKu. Sudah dekat waktunya mereka (hamba-hambaKu) itu beristirahat dari kesusahan dunia menuju rumah dan rahmatKu’. Kelima, bila tiba akhir malam (Ramadhan), Allah mengampuni dosa mereka semua. Seorang sahabat bertanya, ‘Apakah itu yang disebut Lailatul Qodar (Malam Keagungan)?’ Jawab beliau : ‘Lain!’ Tidakkah kamu melihat para pegawai (buruh). Bukankah jika mereka rampung pekerjaannya mereka disempurnakan gajinya(mendapatkan bonus, pesangon)?” (HR Al Baihaqi)

Dan masih banyak hal special yang hanya kita dapatkan di bulan nan suci ini, Have a great Ramadhan all… Manfaatkan bulan yang lebih baik dari seribu bulan ini, semoga kita menjadi hamba-Nya yang Taqwa.
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS Al-Baqarah : 183)
Dan yang terakhir.. semoga setelahnya kita mampu ‘me-ramadhan-kan’ hari-hari kita selanjutnya,  sampai di pertemukan kembali dengannya. Amin.

Senin, 09 Agustus 2010

Nightmare in The Evening

Langit lagi-lagi tak bersahabat sore ini… Belakangan ini cuaca di Sorowako cerah ceria di pagi hari, terik terang di siang hari, mendadak gerimis bergemuruh di sore hari dan hujan lebat pada malam hari. Sungguh  sangat mendukung aktivitas kami yang bekerja pagi-sore… tapi sangat tak mendukung untuk kami-kami yang harus keluar ATCO untuk cari makan di malam hari. Maklumlah, kami-kami yang tinggal di D-SINGLE (ATCO (container) dan DORMITORY) tak boleh memasak di dalam kamar. Jadi, mulai dari sarapan, makan siang sampai makan malam kami harus keluar kamar. Atau kalau tidak, memesan makanan delivery service oleh tukang ojek langganan. Belakangan ini juga sering listrk tiba-tiba padam, entah kenapa di saat yang tidak tepat pula, malam hari. Saat sendirian di ATCO, baterai handphone sedang low, dan laptop-pun demikian.

“De’… saya mau ke Salonsa dulu nah… itu ada laptopnya Kak Mylar, bentar  ada Azis datang mo ambil.. ok..ok..?” kata si Upie’ teman se-ATCO-ku.
“Ok bu…” jawabku masih di bawah selimut.. ‘kan masih sore… jadi masih sempat untuk tidur-tidur dulu.. maklumlah.. it’s Friday! Our lovely day… Ntar malam bisa santai-santai nonton film sama anak-anak cowok di Old Camp ato at least di kamar sendiri juga jadi.  Mandinya jam 6 lah, sebelum maghrib.
“Eh.. Upie’ nginapkah?” teriakku dari kamar.
“Iya say… om dan tanteku lagi nda ada, saya disuruh jadi babysitter-nya Ollie…” balas si Upie dengan teriak.
“Okkeh…” sembari menyusun schedule weekend-ku minggu ini. Samar-samar kudengar pintu kamar Upie dibanting dan bunyi pintunya dikunci. Upie sudah pergi. Berhubung magrib masih sejam… So, it’s time to sleep…  and welcome to the nightmare.

Hujan semakin deras, terbangun karena suara hantaman pada pintu kamarmu yang berbahan aluminium tentulah sangat tidak mengenakkan.  Mungkin sebaiknya mandi, sebelum hal yang tidak mengenakkan lain muncul.. dan pula sudah jam 6 sore begini.
Kubuka pintu lemari untuk mengambil pakaian ganti setelah mandi. Jalan sempoyongan menuju kamar mandi dengan otak yang mungkin sedikit sempoyongan juga. Samar-samar dari dalam kamar mandi terdengar hantaman keras dari pintu kamarku, sepertinya bukan hantaman air. ‘Ahh… perasaanmu ji itu dede’…’ mencoba menenangkan diri. “tessss…” 

“Howaaaa….. knapa lampu mati lagi ini?! Mdedeh… belum peki’ lagi mandi kasi’naa…” keluhku dari dalam kamar mandi. ‘Ups.. dak pake teriak-teriakji dede…sendiri jko lagi!’ kataku pada diri sendiri. Kuputuskan kembali ke kamarku, yaiyalah ngapain lama-lama dalam kamar mandi kalo listriknya padam. Kalo masalah gelapnya sih dak masalah, aku sudah sedia lilin kok. Yang masalah adalah jika listrik padam, kami mandi pakai apa? Air jelas tak mengalir juga, dan jangan harap ada air di bak mandi kami… Karena kami, tak punya bak mandi.

“pak..pak…pak….”
Hantaman lebih keras menghujam pintu kamarku… sepertinya ada orang di luar. “SIAPAAAA….?” Tanyaku setengah berteriak. ‘dag…dig…dag…dig… irama jantungku hanya dua jenis…’ Tidak ada jawaban.

“pak..pak…pak….!!!”
“Tungguu….!” kuraih jilbabku dengan sembarangan, ‘aaarghhh… dimana? Ahh pake’ ini saja’ mukena sholat kupasang. Tapi suara hantamannya hilang. Kubuka bingkai jendela di pintu, karena masih ragu untuk membuka pintu. Tidak ada siapa-siapa, hantaman hujan menyambut, koridor jadi terlihat terang karena lampu kamarku tak menyala.
‘dag…dig…dug…dag…dig…dug… kali ini irama jantungku menjadi tiga irama…karena jantungku berdetak 50% persen lebih cepat dari sebelumnya. ‘Ohh.. GOD, maghrib – jumat – listrik padam – sendiri – ketukan tak bertuan – lengkap sudah! Apa mungkin hantaman tadi hanya teguran karena tidur saat maghrib? Ya ALLAH bangun mka’… janganmi ditegur lagi… takkan kuulangi RABB… I Promise…’

“pak..pak…pak….pak!!!”
Kali ini lebih hebat, tapi bukan dari pintu kamarku. “pak..pak…pak….pak!!!” Pintu kamar upi bagian luar. 
“SIIAAAPPAAAA?” setengah lari dengan 5% persen ketakutan, 15% penasaran dan 80% refleks kubuka pintu kamar upi bagian dalam. Belum juga sampai di depan pintu keluar, suara itu hilang lagi. Tiba-tiba aku teringat kisah teman COOPS periode sebelumnya. Dia tidur sendirian di ATCO-nya dan jam 12 malam, ada yang mengetuk pintu kamarnya. Setelah dibuka, tak ada orang. Dan tak ada tanda-tanda jejak seseorang baru saja beranjak dari depan kamarnya. ‘Tapi kamarnya si Dewi ‘kan memang dekat kuburan tua… Kalo kamarku, dia kan harus berjalan menembus hujan deras sejauh ratusan meter… Menurutmu dia jalan? Dia kan bisa ngilang-ngilang kemana saja…. ’ pemikiranku dan perasaanku bertengkar dalam kepalaku.

“pak..pak…pak….pak!!!”
Jauh lebih keras dari sebelumnya… tapi kali ini tak kutanya siapa. Kupilih diam. Kupandangi cahaya lilin di meja belajar. ‘Ya RABB…’
“tess….. “ listrik kembali menyala. “ALHAMDULILLAH………..!” teriakku.
“pak..pak…pak….pak!!! deeeedeeeeeee’!!! ”
‘Hah?! Dia tahu namaku?! Bukaaaannn… itu artinya yang mukul pintu itu manusia…..!’ bathinku kembali bertentangan dengan otakku.

Kubuka pintu dengan sedikit terburu kali ini dengan 50% penasaran, 45% kesal, dan 5% refleks. Berdiri di hadapanku lelaki 24 tahun *1tampang 28 dengan rambut cepak keriting yang basah karena kehujanan dan menggigil kedinginan.
“KAK AZIIIIIIIIIIIIIIIZZZZZZZZZ ?! howaaaa… kita’ di’… parnoku dari tadi di sini… mana mati lampu, ketok-ketok pintu pindah-pindah… pas dibuka ndada orang…. Maghrib-maghrib, hujan lagi…”
“Sorry dek… soalnya tadi kupikir dak ada orang, pas telpon si Upik katanya ada kamu di kamar… Jadi balik lagi, tadinya pikirku si Upik yang ada, jadi ketok di kamar si Upik juga… Eh, mau ngambil laptopnya Kak Mylar…”

“Tunggu meki’ saya ambilkan dulu di kamarnya Upik…” dan kali ini dengan 100% lega kulangkahkan kakiku  untuk mengambil barang titipan yang sempat kulupa sebelumnya, mungkin ketinggalan dalam mimpi... hehhehe.

*1 Kak Aziz…. Becanda… Hhee… ^^v *cengengesan*


Jumat, 23 Juli 2010

Gelandangan Bukan Keinginan

Kalian pernah memperhatikan gelandangan yang menghiasi jalan-jalan kota? Mungkin lebih tepatnya menyebut mereka ‘anak jalanan’ karena mayoritas yang berkeliaran memang di bawah umur belasan. Kalo untuk kalian yang bertempat di Makassar mungkin bisa memperhatikan di daerah lampu merah di Jalan Sultan Alauddin di ujung Jalan Petta Rani, sepanjang jalan Veteran, di bawah Fly Over Jalan Urip Sumoharjo, daerah anjungan Pantai Losari, dan masih banyak tempat di hampir setiap kesempatan kita bisa menemukan mereka.


Pernah memperhatikan bagaimana kerasnya hidup mereka di jalan? Sebenarnya ini hanya hasil observasi sekilas saya saja tentang mereka. Pernah suatu kali, motor saya berhenti di lampu merah. Beberapa anak jalanan berusia mulai dari 2 tahunan yang digendong oleh si kakak perempuan yang mungkin berumur 12 tahun, anak lelaki kira-kira 4 tahunan dan 9 tahunan mengamen bersama. Sekilas mereka tampak bahagia karena sembari tertawa bersama. Tapi seketika, ketika si adik yang 4 tahunan menerima uang recehan dari bapak penikmat lagu, si kakak lelaki yang mungkin berumur 9 tahun tiba-tiba menampar si adik, merampas uang recehan, si adik tetap bertahan, akhirnya si kakak menendang brutal sampai adiknya menangis. Hanya untuk uang receh, yang mungkin untuk sebagian dari kita itu tak berguna. Itu baru konflik sesama anak jalanan, belum lagi konflik dengan pihak lain. Mengemis kiri-kanan, di usir dimana-mana, tidur sembarangan, terbangun di tengah malam karena ternyata menempati lapak orang lain, dan terakhir free sex. Ancaman-ancaman tersebut bukan tidak mungkin mereka temui setiap hari di jalanan.


Pernah suatu ketika, kutanyai mereka yang kusebut anak jalanan. Umurnya masih sekitar 8 tahunan, tapi ia cukup komunikatif. Kupikir anak itu yatim piatu, tapi ternyata tidak… orangtuanya masih lengkap, ayahnya tukang becak, sedangkan ibunya juga mencari uang dengan cara mengemis sambil menggendong adik perempuannya kemana-mana.  Yang membuat miris, karena si ayah yang berprofesi sebagai tukang becak itu kurang mampu menghargai hasil usahanya sehari-hari. Ada uang sedikit, bukannya ditabung untuk kebutuhan sehari-hari malah dihabiskan dalam sehari. Judi. Mungkin, karena sudah lelah dengan keadaan ekonomi yang selalu terhimpit, kebanyakan dari masyarakat kalangan bawah jadi tergiur untuk kaya mendadak, salah satu jalan pintasnya ya dengan judi. Tidak sepenuhnya bisa disalahkan mereka yang ingin hidup lebih layak. Mungkin saja, mereka juga banyak terinfeksi sinetron negeri ini yang SELALU SAJA memamerkan kesenangan memiliki harta melimpah, jarang ada sinetron kita yang mengajarkan SYUKURI APA YANG ADA. Kita selalu dicekoki dengan indahnya memimpikan dunia yang hampir sempurna di sinetron, ketika kembali ke alam nyata seolah mereka menemukan diri mereka dalam mimpi buruk.


Hal yang paling memiriskan adalah berbicara tentang free sex anak jalanan. Tapi, untuk hal ini mungkin dan mudah-mudahan tidak terjadi di Makassar.         Pernah kalian berpikir, anak perempuan 13 tahun yang kalian lihat di jalan sembari menggendong bayi berumur 3 bulan saat mengemis yang kalian pikir adiknya ternyata adalah anaknya? Dan itu nyata, ketika ditanyai kapan pertama kali melakukan hubungan sex, dia menjawab “12 tahun”. Pernah membayangkannya? “awalnya gimana?” Tanya si reporter. “Dulu waktu umur segitu saya disuruh ke kuburan sama ibu saya, eh gak taunya di sana udah ada yang nungguin.. ternyata ibu saya ngejual saya 3 juta. Tu orang mo ngapa-ngapain saya ya terserah dia, tapi saya kabur aja. Sekarang mah buat bertahan hidup aja, kalo gak gitu gimana bisa makan” ceritanya putus asa. Di sampel yang lain, mengakui hubungan sex pertamanya di usia 16 tahun. “Awalnya sih biasa aja, pacar-pacaran biasa aja kayak anak kecil… tapi lama-lama ya gitu… pertama kali sama pacar saya… sekarang mah biasanya sama orang kapalan” jelasnya. “Biasanya dibayar berapa?” Tanya si reporter. “Kadang tujuh puluh rebu… kadang seratus rebu… tapi biasa juga sama temen-temen. Kalo sama temen juga dibayar, kalo sama pacar ya nggak…”. Penjelasan yang lurus seakan menggambarkan free sex di kalangan mereka seolah telah menjadi life-style. Pada sampel yang lain mengaku melakukannya bahkan bisa sampai 3x sehari. “Dengan ngejual diri saya, saya jadi ngerasa mandiri… bisa ngidupin diri sendiri, gak perlu begantung ma orang laen…” dari suaranya sepertinya masih berusia 13-14 tahun. “Kamu gak takut penyakit?” Tanya si reporter. “Ya nggak, kan pake k****m, biasa juga minum pil KB”.


Seperti inikah potret bangsa kita? Bangsa yang konon bermayoritas muslim? Apa sudah tidak ada cara lagi yang bisa ditempuh oleh pemerintah untuk memberantas kemiskinan? Bukankah ketika kemiskinan direduksi, maka kriminalitas, kekerasan dan kebodohan juga bisa direduksi? The thing in this case, mungkin adalah bagaimana kita memperbaiki pola pikir mereka yang sudah terlanjur pesimis dalam menjalani hidup. Mereka tak memilih untuk menjadi anak jalanan, gelandangan, tunawisma, atau apapun itu namanya. Hanya saja, yang mereka tahu, seperti itulah cara yang benar bagi mereka dalam menjalani hidup.  

Bersyukurlah kita, yang masih punya rumah untuk berlindung di kala hujan atau terik, lahir dari keluarga yang mampu membiayai akses internet ini, makan 3x sehari secara teratur, bisa sekolah, dan bayak hal lain yang bisa kita lakukan tapi tidak bagi mereka karena keterbatasan ekonomi. Be thankful guys, cuz we’re not like them… And please, pray for them also if you can’t do anything for them.

sumber gambar : googling