Senin, 24 Mei 2010

What a Bad Traffic in This Town

Bangun pagi ini sedikit tak enak, semalam niat puasa ganti Romadhon yang belum kebayar-bayar, padahal bentar lagi Romadhon datang. Eh, saking capek-nya tidur terlalu pulas.. terbangun jam 4.50 pagi kala ayampun belum berkotek. Huuft.. akhirnya setelah adzan shubuh berkumandang kuputuskan untuk bangun dan sholat shubuh.. meski butuh beberapa saat untuk menyadarkan raga ini kalau aku telah benar-benar sadar...


Kuputuskan untuk mandi pagi dan bergegas ke kampus, mengingat hari ini ada kuliah Matematika Rekayasa 2, mata kuliah 3 sks yang mengajarkan tentang vektor dan matriks tingkat lanjut yang konon kabarnya sangat berguna untuk perhitungan kami sebagai civil engineer kedepannya, kukutip dari pengantar kuliah Professor Geoteknikku. Kuliah jam sepuluh pagi, mandi jam 8, berangkat jam 9, insyaAllah tak telat.


Perjalanan pagi ini sama saja dengan hari-hari sebelumnya, sedikit macet di daerah Toddopuli-Borong karena orang-orang tak tahu aturan. Sebut saja sopir-sopir angkot yang berhenti seenak perutnya. Berhenti tiba-tiba tanpa menyalakan weser, berhenti di titik kontak pertigaan, padahal jalanan ini cuma 2 lajur-2 jalur.. dia pikir jalan ini punya moyangnya apa?! huuuft.. apa kira-kira ini bad impact dari ketidak-disiplinan pihak yang berwajib dalam pencegahannya ya?


Maksudku begini, sudah jadi rahasia umum di negara kita setiap ingin berurusan dengan masalah administrasi kita selalu menjadi orang-orang yang tak sabar. Contoh yang paling sering yah berurusan dengan pihak berwajib. Mau urus SIM, tapi tidak mau ngantri, malas nunggu, alasan ada urusan yang jauh lebih penting. Tidak sedikit ada oknum yang nakal yang menawarkan menjadi joki. Alhasil, daftar setengah jam, tak perlu test drive, tak ngantri kanan-kiri, SIM-pun di tangan. Cukup mengeluarkan beberapa rupiah saja. Belum lagi urusan tilang-menilang di jalan. Teringat kejadian beberapa tahun lalu. Tapi ini bukan tentang ketidakdisiplinannya, melainkan kenakalan mereka mempermainkan.


Aku kala itu masih jadi mahasiswa paling baru di kampus, biasa.. jadinya banyak kegiatan, salah satunya buat bazar di Pantai Losari. Naik motor setelah menjemput seorang teman, berdua kami menyusuri jalan malam itu.. *halaaaahh.. bahasanya!* Di ujung Jalan Andi Tonro - Kumala kuputuskan untuk belok kanan, dan santai saja... masih hijau kok. But, you know what.. di ujung jalan sudah ada rompi hijau 'melayang'... Maksudnya oknum-oknum yang kumaksud tadi. Dengan santainya dia menuduhku menerobos lampu merah. "Pak, saya ini paling patuh masalah lalu-lintas karena takut kecelakaan.. lampu masih kuning saja saya sudah berhenti, apalagi kalau sudah merah. Bapak tau dari mana saya nerobos, orang bapak di Kumala, lampu merahnya di Andi Tonro!" ucapku kesal. "Aduh bisaji diliat dek dari sini.. sudahmi, mana SIM dan STNK-mu" ajaknya ke pos sementara. Kukeluarkan SIM dan STNK-ku, merasa tidak puas ia mengeluarkan surat tilang-nya. "De' jangan mau berurusan di kantor deh.. bayarnya bisa lebih mahal.. biasanya ratusan" bisik temanku. "Aduh pak, saya ini mahasiswa, kuliah pagi-sore, asistensi kanan-kiri, kerja tugas depan-belakang, belum lagi sekarang musim final kasian.. dak sempatka untuk ambil SIM dan  STNK-ku kodong.." kataku sedikit memelas. Dengan sigap si 'hijau melayang' menutup buku tilangnya sebelum ujung pulpen mendarat di buku tersebut. "Bisaji diselesaikan di sini dek..." tanpa ba-bi-bu kutanya "berapa-kah Pak..? bilang meki'.." dengan polos dia pun menjawab.. "dua puluh ribu mo dek.." mengingat aku masih punya uang 10ribu dan 5ribuan, kucoba tuk menawar.. "15ribuji uangku Pak.. mahasiswaja' kodong..". Tak dinyana, si 'hijau melayang' langsung menjawab "iyo.. itumo saja.." Kuraih uang 10ribuan dan 5ribuan dari dompetku, yang ada di kepalaku saat itu.. yang penting semuanya cepat selesai.


Dari case di atas, kira-kira siapa yang salah? Mereka yang sengaja mengadakan kesalahan? atau aku yang tak mau mengalah? Tapi aku 'kan tak salah... setidaknya itu pikirku. Atau kita semua yang memberikan mereka peluang untuk melanjutkan 'aksi'nya hingga kini? hmm.. mungkin bisa dianalogikan telur-ayam ini.. duluan mana yang lahir, ayam atau telur?


Masih tentang keburukan tata-krama orang di-jalan..  Selain si supir angkot yang hanya dia dan Tuhan yang tahu kapan mereka ingin berhenti, *kutipan kata-kata dari Kak Mylar, yang juga ngutip dari Pak Aji* pengendara kendaraan pribadi juga banyak yang bikin polusi lho. Salah satunya polusi suara, beberapa minggu lalu ada pengendara sepeda motor yang tiap 20 dtk membunyikan klaksonnya dan berjalan di lajur paling kanan. Dengan bijaknya kupinggirkan motorku ke-lajur tengah saking takutnya kalau-kalau si pengendaranya lagi kebelet pengen p**p jadi malah p**p di motor, 'kan tidak lucu. Eh, tak tahunya, dia jalan masih santai saja tuh.. dengan kecepatan 40 km/jam di lajur paling kanan. Kucoba positif thinking, 'oh..mungkin ni orang klaksonx lagi rusak..tiap 20 detik jadi bunyi', tapi karena penasaran.. kudekatkan posisi motorku dengan dia.. kuperhatikan jarinya.. oh noo.. dia emang sengaja nekan klaksonnya. Huuft... sadar dak sih, kalo suara klakson kamu itu sangat mengganggu! Dan yang lebih menjengkalkan lagi, si 'annoying motorcycle' itu ternyata bertujuan sama denganku sampai kampus.. jadilah aku harus mendengar 'its annoying noise in whole my trip to campus that day..'


Cerita yang lain masih di lokasi yang sama, jalan. Hari Kebangkitan Nasional 21 Mei kemarin ternyata kampusku melakukan 'aksi' di pintu kampus. Sekedar gambaran, jalan depan kampusku itu 2 jalur - 6 lajur dengan terpisah median di tengahnya. Siang jam 12, kuputuskan untuk kembali ke rumah setelah ensure  kalau tidak ada hal lagi yang harus kulakukan hari itu. Di depan pintu kampus kudapati serombongan mahasiswa berjejer di pinggir jalan sembari orasi, tapi entah mengapa jalan pembagi jalur tertutup, sehingga aku harus memutar jauh untuk berbalik arah. Mengingat tanki bensinku sudah hampir habis, kuputuskan mengisi bensin di pom bensin depan kampus. Setelah keluar dari kampus, alias selang 5 menit setelah keluar dari kampus.. macet ratusan meter sudah terjadi di jalur berlawanan denganku. Setelah kulirik penyebab macet, ternyata teman-teman yang tengah melakukan 'aksi' tadi menutup jalan. Aku bingung, kita ini mahasiswa 'kan? bukankah kita sejak awal selalu ditekankan untuk selalu membela rakyat? sebab konon kita inilah penyambung lidah rakyat yang tanpa pamrih.. harapannya demikian. Tapi bagaimana kita bisa menjadi penyambung lidah rakyat kalau bertindak tidak mengganggu rakyat saja kita sulit untuk laksanakan? bagaimana mungkin kita bisa meyakinkan rakyat bahwa kita membela mereka kalau hal-hal sepele saja kita sudah cukup mengecewakan?


Siapapun kita dari penggalan cerita di atas, aku hanya ingin kita sadar.. setiap hal yang kita lakukan pastilah juga memberi pengaruh terhadap orang lain di sekitar kita. Kenal atau tidak.. itu karena kita hidup di lingkungan yang sama. Let's respect to each others.. so we can realize, that we're not alone.. and this world is not yours.. but ours..

1 komentar:

Go Hyuuga mengatakan...

Hallo dew...ni kujungan blog ^^ BTW, knapa ndada shout box mu ?
Haa...sy tau siapa itu professor, mending itu ceramah matrek blum ko dengar ceramah GT nya...hahaha...
Beh, curhat ko ini pren...terdaftar ji blog mu d searching mechine ? Google ato yahoo ? hebat !!! kritikan langsung buat oknum. N spakat buat pete2 knapa suka main pinggir saja nda pake weser, yg korban kita ini pengendara motor.

Sama, dew...blog ku juga masih sdikit yang tau...jalan2 nah, kasih masukan ^^v
http://debachritz.blogspot.com/

See ya !!!