Jumat, 23 Juli 2010

Gelandangan Bukan Keinginan

Kalian pernah memperhatikan gelandangan yang menghiasi jalan-jalan kota? Mungkin lebih tepatnya menyebut mereka ‘anak jalanan’ karena mayoritas yang berkeliaran memang di bawah umur belasan. Kalo untuk kalian yang bertempat di Makassar mungkin bisa memperhatikan di daerah lampu merah di Jalan Sultan Alauddin di ujung Jalan Petta Rani, sepanjang jalan Veteran, di bawah Fly Over Jalan Urip Sumoharjo, daerah anjungan Pantai Losari, dan masih banyak tempat di hampir setiap kesempatan kita bisa menemukan mereka.


Pernah memperhatikan bagaimana kerasnya hidup mereka di jalan? Sebenarnya ini hanya hasil observasi sekilas saya saja tentang mereka. Pernah suatu kali, motor saya berhenti di lampu merah. Beberapa anak jalanan berusia mulai dari 2 tahunan yang digendong oleh si kakak perempuan yang mungkin berumur 12 tahun, anak lelaki kira-kira 4 tahunan dan 9 tahunan mengamen bersama. Sekilas mereka tampak bahagia karena sembari tertawa bersama. Tapi seketika, ketika si adik yang 4 tahunan menerima uang recehan dari bapak penikmat lagu, si kakak lelaki yang mungkin berumur 9 tahun tiba-tiba menampar si adik, merampas uang recehan, si adik tetap bertahan, akhirnya si kakak menendang brutal sampai adiknya menangis. Hanya untuk uang receh, yang mungkin untuk sebagian dari kita itu tak berguna. Itu baru konflik sesama anak jalanan, belum lagi konflik dengan pihak lain. Mengemis kiri-kanan, di usir dimana-mana, tidur sembarangan, terbangun di tengah malam karena ternyata menempati lapak orang lain, dan terakhir free sex. Ancaman-ancaman tersebut bukan tidak mungkin mereka temui setiap hari di jalanan.


Pernah suatu ketika, kutanyai mereka yang kusebut anak jalanan. Umurnya masih sekitar 8 tahunan, tapi ia cukup komunikatif. Kupikir anak itu yatim piatu, tapi ternyata tidak… orangtuanya masih lengkap, ayahnya tukang becak, sedangkan ibunya juga mencari uang dengan cara mengemis sambil menggendong adik perempuannya kemana-mana.  Yang membuat miris, karena si ayah yang berprofesi sebagai tukang becak itu kurang mampu menghargai hasil usahanya sehari-hari. Ada uang sedikit, bukannya ditabung untuk kebutuhan sehari-hari malah dihabiskan dalam sehari. Judi. Mungkin, karena sudah lelah dengan keadaan ekonomi yang selalu terhimpit, kebanyakan dari masyarakat kalangan bawah jadi tergiur untuk kaya mendadak, salah satu jalan pintasnya ya dengan judi. Tidak sepenuhnya bisa disalahkan mereka yang ingin hidup lebih layak. Mungkin saja, mereka juga banyak terinfeksi sinetron negeri ini yang SELALU SAJA memamerkan kesenangan memiliki harta melimpah, jarang ada sinetron kita yang mengajarkan SYUKURI APA YANG ADA. Kita selalu dicekoki dengan indahnya memimpikan dunia yang hampir sempurna di sinetron, ketika kembali ke alam nyata seolah mereka menemukan diri mereka dalam mimpi buruk.


Hal yang paling memiriskan adalah berbicara tentang free sex anak jalanan. Tapi, untuk hal ini mungkin dan mudah-mudahan tidak terjadi di Makassar.         Pernah kalian berpikir, anak perempuan 13 tahun yang kalian lihat di jalan sembari menggendong bayi berumur 3 bulan saat mengemis yang kalian pikir adiknya ternyata adalah anaknya? Dan itu nyata, ketika ditanyai kapan pertama kali melakukan hubungan sex, dia menjawab “12 tahun”. Pernah membayangkannya? “awalnya gimana?” Tanya si reporter. “Dulu waktu umur segitu saya disuruh ke kuburan sama ibu saya, eh gak taunya di sana udah ada yang nungguin.. ternyata ibu saya ngejual saya 3 juta. Tu orang mo ngapa-ngapain saya ya terserah dia, tapi saya kabur aja. Sekarang mah buat bertahan hidup aja, kalo gak gitu gimana bisa makan” ceritanya putus asa. Di sampel yang lain, mengakui hubungan sex pertamanya di usia 16 tahun. “Awalnya sih biasa aja, pacar-pacaran biasa aja kayak anak kecil… tapi lama-lama ya gitu… pertama kali sama pacar saya… sekarang mah biasanya sama orang kapalan” jelasnya. “Biasanya dibayar berapa?” Tanya si reporter. “Kadang tujuh puluh rebu… kadang seratus rebu… tapi biasa juga sama temen-temen. Kalo sama temen juga dibayar, kalo sama pacar ya nggak…”. Penjelasan yang lurus seakan menggambarkan free sex di kalangan mereka seolah telah menjadi life-style. Pada sampel yang lain mengaku melakukannya bahkan bisa sampai 3x sehari. “Dengan ngejual diri saya, saya jadi ngerasa mandiri… bisa ngidupin diri sendiri, gak perlu begantung ma orang laen…” dari suaranya sepertinya masih berusia 13-14 tahun. “Kamu gak takut penyakit?” Tanya si reporter. “Ya nggak, kan pake k****m, biasa juga minum pil KB”.


Seperti inikah potret bangsa kita? Bangsa yang konon bermayoritas muslim? Apa sudah tidak ada cara lagi yang bisa ditempuh oleh pemerintah untuk memberantas kemiskinan? Bukankah ketika kemiskinan direduksi, maka kriminalitas, kekerasan dan kebodohan juga bisa direduksi? The thing in this case, mungkin adalah bagaimana kita memperbaiki pola pikir mereka yang sudah terlanjur pesimis dalam menjalani hidup. Mereka tak memilih untuk menjadi anak jalanan, gelandangan, tunawisma, atau apapun itu namanya. Hanya saja, yang mereka tahu, seperti itulah cara yang benar bagi mereka dalam menjalani hidup.  

Bersyukurlah kita, yang masih punya rumah untuk berlindung di kala hujan atau terik, lahir dari keluarga yang mampu membiayai akses internet ini, makan 3x sehari secara teratur, bisa sekolah, dan bayak hal lain yang bisa kita lakukan tapi tidak bagi mereka karena keterbatasan ekonomi. Be thankful guys, cuz we’re not like them… And please, pray for them also if you can’t do anything for them.

sumber gambar : googling

1 komentar:

Go Hyuuga mengatakan...

Whooahh...this writing reminds me with my filipino friend. He ever told me in one of his msg :

"well theres an instance where i ride on a jeepney on my way to office and i saw a poor lady carrying her child who incidentally was boiled by his brother and the child was obviously in pain and the mother keep on saying to her child to calm down cause the child was moaning loud and the lady was wearing a shorts and a sleeveless shirt and the boy was wearing a sando and a shorts and they both wear slipper by the way Makati was the financial capital of the Philippines so we don’t expect people to wear like that in Makati so i know they have nothing and theyre going @ the public hospital with the mother having only 50 pesos in her hands the rich kid brats just look at them and just observed without even thinking how they can help ha ha ha while me who have only 300 pesos on my wallet cause i didn’t withraw @ the atm so i only have 300 on my wallet i still decided to be the second last to go down the jeep and give the lady my 200 ha ha ha but i survived with a hundred peso on my wallet for a day then before i go home i withraw money for my allowance hahaha its too bad that people just ignore other persons suffering and just give sympathy without doing something ha ha ha if i become rich i promise to my self to help as many people as i can ha ha ha more money means more responsibility so ugha please if you are a rich person please don’t think twice if you see people who need your help don’t hesitate cause jesus or allah in you will give more blessings @ people who cares "

Dan...seperti yg dirimu paparkan di sini dewi, dengan perasaan agak malu dengan kondisi gelandangan di hegara kita... n segala janji manis pemerintah yang termaktub di UUD pasal 34... Sy cuma bisa reply :

"About poor people, yes of course I will...if I got a lot of money. But u know about beggar in my country ? There are a lot of beggar that u'll find here at the roadside. But our government appeal us to not give them money. It doesnt mean that we have to give a damn with beggar, but there are a lot of mobsters who entered a business that involves street beggars. They will use many beggar for begging money and then they will take the money and give some percent for beggar. It's very despicable because they have cheated many people who feel sorry for them.
The government even entered into a sweeping streets to arrest beggars and insert them into skills training institutions. So that the beggars have the skills to work and earn their own money.

I would rather to give my money in a certain place that could help me distribute it to poor people, like in Mosque, orphanage and nusring home. So I'll know to whom my money would be given.
And in my religion we are required to spend zakat. Zakat is the wealth that should you set aside for your brothers who are less fortunate because living below the poverty line. Most of us spend it before Idul Fitri day. And in Idul Adha day we sacrificed animals, where the meat can be shared with our brothers who are starving because of poverty. "

Hmmm...sangat miris n dilematis...rasa kemanusiaan kadang di uji dengan sikap skeptis kita terhadap mereka. Apa benar mereka patut d kasihani ? jawabannya mungkin ya...kasihan terhadap nasib mereka...kasihan terhadap pola pikir mereka...n kasihan dengan tindakan mereka....siapa yg patut disalahkan n dimana pangkal masalah yag mesti disolusikan hingga cabang2 masalah lainnya jg dapat tersolusikan. Hahaha...ndada habisnya klo d pikir dew....

N...yg terakhir, oh...sy selalu bersyukur....SYUKURI APA YG ADA HIDUP ADALAH "namaku".