Jumat, 02 Juli 2010

The Green Man

Ini kota kecil, tapi sangat bersih... kudengar kota ini menerima adipura kebersihan entah telah berapa lama. Setelah berkeliling kota masuk beberapa desa seharian, waktunya sholat Dzuhur. Di ujung jalan, di sisi jalan poros antar kota, berdiri kokoh sebuah mesjid dengan aksen modern untuk tataran kota kecil ini. Konstruksinya belum selesai, tapi kupikir tinggal finishing touch saja.. dan bagian pagarnya yang masih sampai tahapan pemasangan bouplank. Tapi mesjid ini bersih, lapang dengan dindingnya yang tinggi, WC yang cukup terawat dan air yang sangat lancar. It's enough to say that "it's complete". 


Setelah mencuci muka dan tak lupa berwudhu di dalam WC, aku keluar dengan langkah berjinjit ke dalam mesjid.. 'kakiku basah, semoga tak kotor..' Di barisan depan beberapa pria separuh baya tengah sholat sunnah secara menyebar di penjuru mesjid. Di baris wanita, hanya ada seorang ibu tua yang juga tengah melaksanakan sholat sunnah. Tak beberapa lama, salah seorang dari pria-pria itu mengumandangkan qamat, lalu di belakangnya muncullah bapak yang lain dengan jubah dan peci putih, imam kami siang itu.


Saat itulah aku melihatnya, dari balik kolom mesjid di sebelah kanan. Ia mengenakan kemeja hijau muda dan sarung lusuh, tapi tak ketinggalan peci yang tertanggal di atas kepalanya. Sepertinya ia baru saja selesai sholat sunnah di balik kolom mesjid. Wajahnya tenang, seperti tak punya masalah sama sekali. Kulit tuanya yang keriput sama sekali tak mengurangi ketenangannya. Dia berjalan dengan bungkuk, raga tuanya yang semakin sulit diajak kompromi membuat tulang belakangnya tak lurus lagi. Dia harus berdiri tak sempurna dengan sedikit membungkuk. Tapi ternyata tak membuatnya menjadi halangan untuk tetap sholat berjamaah di mesjid dan lengkap dengan sholat sunnahnya. Setelah sholat Dzuhur dan berdoa bersama Pak Imam, bapak tua itu berpindah ke sisi mesjid yang lain, dan sholat sunnah.


Si bapak tua dengan kemeja lusuh yang tampak sangat kesulitan itu saja mau sholat berjamaah di mesjid yang jaraknya kurang-lebih 500 m dari rumahnya, setiap waktu sholat. Itu artinya, setiap hari si Bapak harus berjalan kurang-lebih 5 km setiap hari untuk sholat. Karena konon, mesjid itulah yang terdekat dari rumahnya.  Dulu ia seorang guru di desa, tapi tamatan SMA, setelah bekerja puluhan tahun dengan posisi yang sama, honorer. Tapi dia tak menuntut apa-apa, "yang penting bisai sekolah anakku' nak...". Membiayai 3 orang anak yang kini semuanya telah bekerja di ibukota provinsi dengan gaji yang hanya cukup untuk makan tentulah sangat sulit. Tapi tetap saja, dia tak menyerah. Ketika kutanya mengapa tak ikut anaknya saja untuk tinggal di kota, ia berkata "di sinima' lahir nak.. di sini tommi mauka mati. Tidak cocokka tinggal di kota, terlalu rame baru tidak ada temanku kurasa. Orang semua sibuk sama urusannya masing-masing. Lebih baek di sini, biar tong tidak adami istriku, tapi banyakji tetanggaku yang bisa liat-liatka tiap hari."


Niat yang sederhana yang mampu membuatku tersadar. Mati. Toh kita hidup untuk mati suatu hari nanti. Bagaimana cara dan kapan waktunya, itu bisa apa dan kapan saja. Apa harus menunggu setua bapak ini untuk mengingat kita akan mati? Apa harus menunggu se-tak-sempurnanya raga ini seperti bapak ini untuk mengingatkan kita, bahwa kita akan kembali pada-Nya? Pak.. semoga Allah senantiasa melindungimu baik di dunia, maupun di akhirat. Amin..

Tidak ada komentar: