Selasa, 20 Juli 2010

Perempuan Itu, Aku dan Ayahku

Tiba-tiba langit seakan mau runtuh, Tuhan menunjukkan keEsaan-Nya dengan menggetarkan Bumi-Nya yang tak ramah kini. Langit gelap, jutaan bintang seakan hilang ditelan mendung malam yang tebal berwarna kemerahan. Beberapa anak yang tinggal di pemukiman kumuh sekitar kampus masih sibuk bermain hujan dengan karung plastik yang sejak tadi mereka seret… mungkin isinya plastik bekas air gelas, karena hanya itu yang paling mudah mereka temukan di sini. Sementara waktu, berjalan angkuh tak tahu diri mengejar sesuatu… mungkin angka 13 yang tak kunjung bertemu. Berdiri anggun 200 m di hadapanku, perempuan berjilbab biru muda dengan kaos longgar warna senada dipadukan dengan rok jins lebar biru tua. Ia berteduh di bawah pohon seakan berharap hujan tak lagi mengunjungi tubuhnya, apa daya Tuhan Sang Penakluk Alam berkehendak lain. Tanpa ampun petir tak hentinya menyambar kaki langit. Perempuan itu lalu beranjak dari sana, dengan lari mengambil langkah seribu menuju angkot yang baru saja berhenti menurunkan penumpang. Sedangkan aku, masih di sini. Di seberang jalan di dalam kedai kopi sembari menikmati hujan yang bagi sebagian orang cukup menyeramkan saat ini.

“Kamu tidak mau pulang ke rumah Fen?” tanya Rian, sepupuku yang sebaya denganku. Kugelengkan kepala tak sepakat, entah kenapa jadi sangat tak bersemangat.
“Mungkin nanti… setelah perasaanku sudah cukup mendingan, dan tentu saja siap untuk menerima damprat dari ayahku… lagi.” Kuusahakan untuk tak terdengar lelah.
“Fendi… bukannya kalo begini terus ayahmu bisa lebih murka lagi?” sembari menyeruput kopinya Rian tampak cemas.
“Ya sudah, kalau begitu itu konsekwensi yang harus kuambil ‘kan? Sama seperti sekarang, tak lulus SNMPTN karena terlalu sibuk dengan ekskul yang sudah jelas sudah kutinggalkan. Aku tahu, ayahku pastilah sangat kecewa… ditambah lagi dua PTS yang lain pun aku tak lulus-lulus. Seandainya ibu masih ada…” kucoba menahan agar buliran itu tak jatuh.
“Hmmh… jadi sekarang mau ke mana? Kamu tidak mau menginap di rumahku saja? Nanti biar ayahku yang menelepon paman untuk mengabarkan kau ada bersama kami…” tawar Rian.
“Terima kasih, tapi kupikir sebaiknya aku pulang… toh biar bagaimana, sebagai anak lelaki satu-satunya di rumah aku sebaiknya menemani ayah menjaga saudara-saudaraku.”

Suasana hening. Hujan semakin deras menambah rasa rinduku pada ibuku.  Betapa kuatnya ia, hidup mendampingi ayahku yang otoriter serta sensitif itu selama lebih dari 29 tahun. Betapa tegarnya ia, saat semua keinginannya harus tertunda demi menutupi segala kebutuhan kami, 5 orang anak yang masih sekolah. Pernah suatu sore kudapati ibu menangis sesenggukan di kamar, sepertinya habis dimarahi ayah. Hanya karena ibu terlambat membayar rekening listrik rumah sehingga mendapat denda. Ayah itu memang benar-benar tak berperasaan kadang-kadang. Hanya untuk hal sepele ia bisa marah selama tiga hari, apalagi untuk hal besar. Tapi, ketika ibu harus benar-benar pergi 7 bulan lalu… ayah yang tampak paling rapuh, sesekali kulihat matanya berkaca-kaca meski ia tetap mengulas senyum kepada para pelayat.
*
‘Kamu dari mana seharian?! Bukannya di rumah berpikir mau lanjut sekolah dimana, malah kelayapan tidak jelas sampai sore begini. Kamu itu sudah besar Fendi, bukan saatnya lagi bermain-main. Bagaimana adikmu bisa sekolah kalau kamu kuliahnya terlambat selesai nanti?! Kamu itu harus berpikir bagaimana mencari sekolah yang bagus dan murah, cepat selesai cari kerja dan bantu ayah kuliahkan adik-adikmu! Kamu pikir pendidikan itu murah ha?!’ Omelan ayah yang selalu terngiang-ngiang di telingaku, sedangkan aku hanya menganggapnya angin lalu. Kini, aku menyesali semuanya… Karena tak rajin datang bimbingan lantaran mengedepankan pekerjaan sebagai reporter di salah satu harian kota pada rubrik remaja, aku tak konsentrasi terhadap pelajaran dan ujian masuk PTN. Tapi sudahlah, sekali lagi itu konsekwensi… yang harus kulakukan saat ini adalah menerobos hujan ini untuk sesegera mungkin sampai rumah dan memohon maaf pada ayahku. Kupercepat laju sepeda motorku, hanya tak ingin membuat ayahku khawatir, biar saja ia mengomel. Bukankah ia memang demikian? Hiburku pada diriku. Setiap orangtua pasti selalu tahu yang mana yang baik bagi anak-anaknya, begitu pula ayahku. Aku yakin itu.
*
Kuparkir motorku di pekarangan rumah. Hujan sudah reda, begitu pula rinduku pada ibuku. Kulayangkan pandanganku ke ruang tamu, biasanya ayahku selalu menungguiku saat aku terlambat pulang. Seperti biasa, hanya untuk meluapkan kemurkaannya padaku.
“Assalamualaikum..” tak kutemukan seorangpun di rumah. Di kamar ayah, kamar kakak perempuanku, bahkan di kamar 3 kembar adik perempuanku juga kosong. Masa iya mereka main ke rumah tetangga?!
“Fendi…fendi….!” Seseorang memanggilku di luar.
“Eh, tante… Orang rumahku ke mana yah Tante?”
“Emm… mereka ke rumah sakit nak… ayahmu tiba-tiba pingsan, mungkin ada gangguan dengan jantung kata dokternya, kamu susul sekarang ke UGD nak… Tadi kata Rida handphone-mu tidak aktif terus…”
“Hah?! Aktif kok tante… mungkin jaringan kurang bagus karena cuaca buruk.. Makasih Tante…” kukunci pintu rumah dan ngebut sesegera mungkin sampai ke UGD rumah sakit dekat rumah.
Aku tak mau kehilangan ayah.. Yah, tunggu aku… aku belum minta maaf… Ayahku memang punya sejarah dengan penyakit jantung, turunan dari ibunya. Hampir semua saudaranya terkena jantung bawaan. Bagaimana kalau ayah meninggal? Siapa yang bisa mengurusi kami berlima? Bagaimana dengan masa depan adik kembarku yang masih 8 tahun kalau mereka harus menjadi yatim-piatu sedini itu? Kakakku mungkin takkan menikah hingga kami semua selesai kuliah. Aku pastilah memilih bekerja daripada kuliah di jurusan idamanku dengan mengorbankan gizi yang baik bagi adik-adikku. Ayah… Kusapu ruangan UGD mencari sosok-sosok yang kukenali.

Di sana, di sudut ruangan… ia sangat tenang. Terbaring tak berdaya dengan wajah pucat, berselimut putih bersih dengan mata tertutup rapat. Saudara-saudaraku diam, si kembar sudah berlinang-linang, kakakku tertunduk lemas. Kutegarkan dadaku seolah semuanya akan baik-baik saja, ku pegangi tangan kanannya… dingin. Tiba-tiba, matanya terbuka… ia menatapku!
Kuremas tangannya “Ayah… Maaf… “
Ia diam, tetapi tersenyum. Senyum terindah yang pernah ia berikan untukku. “Lain kali, kalau ingin pergi dari rumah… kamu pamit!” katanya datar dengan suara lemas. Aku tak peduli seandainya ia mau marah padaku beribu kali lagi saat ia sembuh nanti, toh ia Ayahku. Satu-satunya orang tua yang kupunya saat ini.

“Ini obatnya dek… minumnya 3 kali sehari ya, tolong bapak jangan di buat marah ataupun terlalu senang dulu” perempuan berjilbab biru muda memberikan sekantong obat pada kakakku. Masih sama, jalannya masih anggun… meski hujan tak lagi menghiasi langkahnya. Ketulusannya masih terbaca, wajah tawadhu masih menghiasi setiap hal yang ia lakukan.

Kusadari satu hal kini… pengabdian kepada sesama merupakan interpretasi dari makna pengabdian pada-Nya.

“Kak, saya mau jadi perawat!” kataku mantap pada kakakku.

2 komentar:

Go Hyuuga mengatakan...

Ckckckc...Andrea Hirata effect atau Haerul Purnama effect ? Both of 'em look so resemble with you as well...hahaha

d. mengatakan...

Hehhehehe.. inspired by my cousin sebenarnya..
Andrea Hirata is a good motivator...
And Haerul Purnama? I'm his fan... hohhohho...