Selasa, 14 September 2010

Lelaki, Perempuan dan Rasa

Dia masih di sana, tertatih dengan sedikit senyum mengulas sembari menahan sedikit perih akibat terjatuh dari motor. Tapi tak kalah perih yang ada di hatinya, aku tahu itu. Tersenyum pada yang lain seakan berkata ‘tak ada apa-apa’ atau paling tidak ‘aku baik-baik saja’. Tapi aku tahu, ia tidak.

Sedang yang lain, yang tengah duduk di hadapannya saat ini, yang selalu ia pikir sejak beberapa minggu lalu tampak tak ingin diganggu oleh tatapannya, tak acuhnya seolah berucap ‘aku tak mau tahu lagi’. Si objek ke-dua sibuk bercerita atau mungkin menyibukkan diri untuk bercerita dengan yang lain tanpa ingin melirik bahkan sepersekian detik saja pada objek pertama yang terus manatapnya.

Di sudut yang lain tampak objek ke-tiga memperhatikan perilaku aneh dari keduanya. Curiga kemudian muncul lagi. Seperti bola salju yang semakin membesar disetiap putarannya. Seperti api yang tersiram bensin, semua tak terkendali. Cemburu. Rasa yang aneh yang selalu membayanginya sejak beberapa tahun silam.

*

Berbicara tentang ‘rasa’, sebenarnya sedikit membingungkan -sebagai limitasi dari tulisan saya kali ini, ‘rasa’ yang saya maksudkan adalah hubungan antarmanusia-. Konon kabarnya hal itulah yang membedakan antara perempuan dan lelaki. Perempuan lebih banyak dikendalikan oleh perasaan atau emosi, sedangkan lelaki lebih banyak dikendalikan oleh pikiran atau logika. Tapi saya pikir kitapun tidak boleh menjastifikasi bahwa semua perempuan atau semua lelaki demikian. Apatah lagi kalau kita kemudian menganggap semua perempuan hanya menggunakan perasaan tanpa logika, dan sebaliknya lelaki hanya menggunakan logika tanpa perasaan, sempit sekali.

Ada juga kok tipikal lelaki yang cukup ekspresif menunjukkan perasaannya, secara terang-terangan memamerkan ‘rasa’ yang ia yakini sebagai cinta di depan orang banyak yang mungkin bagi sebagian lelaki itu menurunkan harkat martabat dan derajatnya. Tapi sebagian yang lain menganggap itu sebagai bagian dari gentleness dan tentu kejujuran hati mereka.

Tetapi yang mendominasi mungkin adalah lelaki yang terkesan introvert di depan perempuan. Mereka selalu ingin tampak ‘gagah’ di hadapan kaum hawa, tak bisa tersakiti, tahan banting, tak butuh curhat karena semuanya under control. Selalu ingin bisa diandalkan dalam hal apa saja, ingin tampak ‘dingin’ meski kadang terkesan apatis. Tapi tahukah kalian para lelaki, kadang hal tersebut justru tak mengesankan bagi para perempuan? SIkap kalian yang ingin tampak ‘gagah’ itu justru memuakkan, salah sedikit jadi pahlawan kesiangan. Rasa ingin berbagi tapi malu itu justru menyiksamu dan terlalu banyak menguasai ruang pikirmu, sampai-sampai kau tak peduli pada sekelilingmu. Banyak yang peduli padamu, tapi mereka tahu.. kau takkan pernah berbagi. Dan akhirnya, kau malah lebih dikendalikan oleh rasa malu dan gengsimu dibandingkan logika akan butuhmu.

Perempuan juga tak sedikit yang sangat introvert. Mengaku ini-itu tetapi ternyata tanpa ia sadari ingin begini-begitu. Tidak jarang terkadang mereka bingung dengan dirinya sendiri, merasa tak mengenal diri sendiri. Mungkin karena jujur kepada diri sendiri belum mereka terapkan sepenuhnya, atau mereka tak mengenal siapa diri mereka dengan baik. Tahukah kalian para perempuan, hal seperti itu juga cukup memukkan untuk mereka lelaki. Membuat kalian menjadi sosok yang sulit dimengerti, meski mungkin bagi sebagian lain kalian cukup misterius.

Tetapi yang mendominasi adalah perempuan yang selalu tampak hidup berkelompok dengan para perempuan. Lebih banyak bicara, melakukan hal tak penting –bagi para lelaki-, sangat memperhatikan penampilan, selalu ingin menarik perhatian, karena tentu saja ingin selalu diperhatikan. Tetapi terkadang hal-hal tersebut juga sangat menjengkelkan bagi para lelaki. Harus menemani kalian belanja, mengantar kalian kesana-kemari, padahal mereka juga punya urusan sendiri yang cukup mendesak. Tapi karena tak ingin mengecewakan atau karena ingin selalu bisa ada ketika kalian butuh, maka mereka selalu di sana. Kalian selalu ingin diperhatikan setiap hari, dikhawatirkan setiap saat, tapi kalian tak selalu memberi hal yang sama. Karena menurut kalian, seperti itulah layaknya hubungan itu.

Setelah kupikir-pikir masing-masing pihak sebenarnya egois. Lelaki dengan egonya yang tak ingin berbagi, dan perempuan dengan egonya yang selalu ingin diperhatikan.  Tetapi DIA memang MAHATAHU yang terbaik bagi makhluk-Nya. Manusia diberi pasangan berbeda jenis agar bisa saling melengkapi satu sama lain. Komunikasi kemudian bisa dibangun oleh mereka yang ekstrovert untuk mengetahui keinginan dari si introvert. Perasaan si introvert yang biasanya perasa selalu mudah memahami si ekstrovert yang selalu mengekspresikan perasaannya.

Kira-kira, objek pertama, ke-dua dan ke-tiga di atas tergolong yang mana? Dan silahkan mengembangkan, ada apa dengan mereka sebenarnya..

Tidak ada komentar: