Sabtu, 25 September 2010

Respect

Berangkat dari rumah jam 6 sore menuju ke kampus, sangat tidak kondusif. Bukannya apa, jarak rumah-kampus 30 menit jam perjalanan, belum lagi di waktu-waktu seperti itu banyak kendaraan yang terburu-buru ingin cepat sampai ke rumah untuk ibadah sholat maghrib.

Di pertigaan jalan, sudah ada dua orang polisi muda -kulihat dari wajah dan posturnya yang masih sangat ceking- tengah berbincang dengan seorang pengguna sepeda motor 
matic. Sepertinya ia ditilang, posisi motornya dipinggirkan di sisi kiri jalan. Karena lampu merah menyala, jadi iseng-iseng saja kuperhatikan ketiga objek itu berbincang. Di tengah perbincangan, kedua polisi saling menunjuk ke arah kendaraan di belakangku. Mereka menginstruksikan kendaraan tersebut untuk ke pinggir. Ternyata mobil mixer,  ready mix concrete. Sopirnya tampak sedikit tegang, tak lama kemudian di pintu kiri turun seorang lelaki usia 30-an menjabat tangan si polisi. Polisi menanyakan jam operasi mobilnya yang tak lazim, si pria tambun menjelaskan alasan-alasannya, diperhatikan oleh kedua polisi tadi. Di sisi jalan yang lain, si pria matic mengarahkan sepeda motornya ke tengah jalan dan mengikuti kendaraan yang lain mengantri menunggu lampu hijau menyala. Salah satu polisi menyadari pergerakan si priamatic, si pria tampak marah dan mengacungkan kepalannya ke arah polisi. Tampak pasrah, polisi muda itu membiarkan si pria matic berlalu, begitu saja.

Respect. Rasa saling menghargai mungkin sudah jarang kita temui hari ini. Mengapa mesti marah jikalau yakin tak salah? Mengapa mesti mengancam jikalau yakin diri benar? Kita seringkali tidak menyadari kalau 
unrespect to each other ini sebenarnya sudah terjadi di mana saja. Tak perlu jauh-jauh kawan, di kampus saja perokok aktif dengan santainya merokok di sembarang tempat. Teguran halus dengan mengibas-ngibaskan tangan tak lagi berpengaruh, mereka cuek saja. Teguran langsungpun dilayangkan... dan dijawab "sorry..sorry.." itu saja, seolah kata tersebut mampu memperbaiki kesehatan kita yang telah dirampas. Sayangnya, itu selalu berulang meski telah ditegur sekian kali. Tidak bisakah kita saling menghargai? Hal yang menurut kita mengganggu untuk orang lain kita reduksi, kalaupun tak bisa untuk dihilangkan. Membuang sampah di sembarang tempat, ketika ditegur dengan cueknya kita berkata "supaya ada guna-gunanya itu cleaning service digaji". Seolah kita yang menggaji mereka, kalaupun iya, apa susahnya meringankan beban  orang lain selagi itu tak memberatkan untuk kita?

Profesi seringkali menjadi gunjingan teranyar dalam hal ini. Saat 
hang out di Mal bersama teman tak jarang kita temui orang yang tetap saja lalu-lalang saat seorang OB tengah mengepel. Selain mengganggu, itu malah membuat lantai jadi semakin kotor. Tapi tanpa rasa bersalah mereka tetap saja melenggang, apatah lagi meminta maaf. Terkadang kita mencibir ketika masuk ke sebuah departement store dan sedang melihat-lihat barang, lalu datang seorang parmuniaga yang menanyakan kebutuhan kita serta mengikuti kemana saja kita pergi. "Memang dia pikir kita mau mencuri?" begitu cibir kita. Padahal itu bagian dari pelayanan mereka, bisa jadi itu instruksi dari atasan yang harus mereka kerjakan, tuntutan profesi.

Bayangkan jika mereka tak ada... Jalanan akan semakin macet karena sikap pengguna jalan yang tak bermoral semakin sulit di atur, koridor kampus akan semakin kotor karena tak ada yang membersihkan, jangan harap Mal akan bersih tanpa OB, dan.. siapa yang akan membantu mencarikan barang yang kita cari di toko tanpa pramuniaga. Itu hanya tuntutan profesionalisme mereka saja kok. Bukankah kita semua sedang berjalan menuju ke sana -profesional- ? Tanyakan diri kita, sudahkan kita profesional menjalankan peran kita hari ini? Jika tidak.. mereka mungkin jauh lebih baik dari kita. Bayangkan jika kita menjadi mereka, mampukah kita seperti mereka?

Mari saling menghargai... mulai dari kata, sikap, serta perbuatan. Ingat temans... kita tak mungkin bisa hidup sendirian. KITA SEMUA SAMA.

Tidak ada komentar: