Selasa, 28 September 2010

Sore Seru

“De’ ada pameran pakean muslim di Mushalla…ikut yuk!” ajak Lya sambil lalu ketika melewati sekret UKM Bahasa di Fakultas kami. Tanpa ba-bi-bu kutinggalkan film ‘Hellboy 2’ yang tengah kutonton bersama anak-anak UKM lalu mengejar Lya.
 Saat ini Mushalla jurusan kami masih dalam perbaikan, jadi yang sebelumnya berada di lantai dasar, sekarang dipindahkan ke lantai 2. Letak Mushalla kami berada di dalam kompleks Laboratorium jurusan. Sekarang bulan Romadhon, jadi wajar ba’da Ashar seperti ini kampus sudah sepi. Belum lagi di bulan suci, tak ada kegiatan Laboratorium yang sedang berlangsung. Jadi sudah tertebak ‘kan bagaimana keadaan lab. saat ini? Yaiyalah sepi… Jangankan praktikan, laboran saja sudah kebur jam segini. Apatah lagi asistennya… Mending di rumah ngabuburit…
Teman-teman perempuanku berjalan di depan sambil membahas kira-kira jilbab model seperti apa yang ada di Mushalla hari ini. Model lilit kah, model kaos yang ada talinya kah, yang berbahan licinkah, dsb. Sesampai di Mushalla kami ber-tujuh langsung menyerbu tumpukan pakaian yang tergeletak di depan Yuni, sang empunya jualan. Di sebelahnya ada Kak Fanny, senior kami yang setahun lebih tua. Tak beberapa lama, Lely teman kami yang cukup slow karena anaknya emang spoiled gitu deh… ternyata belum sholat. Jadilah dia ke WC tuk mengambil air wudhu. Sedangkan yang lain masih sibuk dengan barang dagangan. Sementara Lely sholat, ada seorang junior yang masuk ke Musholla “kak, katanya sudah mau dikunci” tutur si junior lalu keluar. Dasar kami anaknya cuek, si junior dicuekin juga. Selesai memilah-milah barang, alhasil cuma Kiki yang belanja rok. Sementara di luar musholla keramaian sepertinya mulai berkurang, yang kedengaran di luar bahkan hanya suara cekikikan kami. Karena sudah merasa cukup melihat-lihatnya kami membantu Yuni membereskan barang dagangannya, namun tiba-tiba… “Lho?! Kok pintunya dikunci….!” teriak seseorang dari luar, tepatnya dari lantai satu. Setelah beres-beres kami bergegas keluar dari musholla, memastikan bahwa kami benar terkunci. Dan benar, kami memang terkunci.
“Howaaaa… bemana ini?! Terkunciki……..” entah siapa yang memulai berteriak. Kami mulai bingung. Cinta yang selalu tampak tenang terus berusaha menenangkan yang lain. Kucoba mencari pintu lab yang terbuka agar kami bisa keluar. Pintu Lab Mektan, terkunci. Lab Aspal, nasibnya sama. Kak Fanny lebih dulu memeriksa Lab Bahan, pintu pertama memang tak terkunci. Pintu ke dua menuju pintu keluar juga hanya tertutup. Sayangnya, pintu terakhir yang menghubungkan langsung keluar ternyata terkunci. Beberapa yang lain mulai berteriak, sementara Cinta dan Lya menghubungi anak-anak yang kira berada di himpunan sore itu. Kuingat ada pintu yang menghubungkan antara Lab Hidro dengan jurusan Perkapalan, aku pernah masuk ke Lab Hidro melalui pintu itu lantaran datang kepagian saat praktikum dan Pak Udin *tukang kunci Lab* belum datang. Mencoba sedikit tenang mungkin lebih baik. Setengah berlari kucek pintu Lab Hidro dan hasilnya… terkunci.
Kami akhirnya memutuskan berkumpul di pintu utama masuk Lab. Menunggu.. mungkin sebentar lagi teman-teman kami dari himpunan akan datang. Tapi, kalaupun mereka datang, mereka mau apa? Semuanya bingung dengan pikiran masing-masing, kalau-kalau kami benar-benar harus di sini selama dua hari.
“Howaaa.. dak mauka’ saya nginap di sini…” teriak salah satu temanku yang cukup ekspresif. “Deh.. bemana kalo dak adaki Pak Raba’? baru Pak Udin pulang Barru.. sapatau mauki juga pulkam Pak Raba’?” Tanya yang lain. “Weh.. buka apaki anana’??? Bemana carata’ sahur???” tambahku sembari memperhatikan ekspresi teman-temanku, lucu. “Janko bilang bgitu dede’…. Dak mauka’ saya.. masa’ ndak mandiki’ sampe hari Senin… ada lagi kuliahku pagi-pagi….” gerutu yang lain. Imajinasiku mulai melayang, membayangkan aku dan teman-temanku dua hari kemudian, lesu karena tak makan dua hari, tidur di dalam mushalla, bau pastinya karena tak mandi, syukur-syukur kalo ada yang membawa pencuci muka. Tapi kutepis, ‘takkan seburuk itu de’… at least anak-anak cowok bisaji belikanki makanan itu kalo perlu minta tolong ambilkan barang-barang lain, perlengkapan mandi  mungkin, baju ganti, semua-semua deh.. tinggal minta tolong orang rumah siapkan, beres.’ Sepertinya otakku mulai tak beres.
Tidak lama kemudian kordinator angkatan kami mengabarkan bahwa teman-teman kami sekarang ada di pintu Lab Bahan yang paling luar. Sempat mereka menyarankan agar kami manjat saja, kebetulan ada celah sedikit di sana. Tapi langsung dibalas dengan… “Wehhh… ko gila kah?! Pake rok ki’ inehh masa’ manjat??” teriak Cinta dari dalam. “Masalahnya tidak ada Pak Raba’.. orang rumahnya tidak tau kemanaki…” teriak Kordinator angkatan kami dari luar. Kami menolak, kami kembali ke pintu utama Lab dengan langkah gontai.  
Teman-temanku sudah mulai lelah mengeluh, wajar saja… sejak 15 menit lalu kami terperangkap *baca:memerangkapkan diri* di sini, kami memang tak hentinya berdiskusi mencari solusi sembari teriak-teriak tolol, sebab tak ada yang mendengar selain kami-kami di sini. Untuk mengobati kebosanan, kuraih handphone dari saku rokku, kurekam ekspresi teman-temanku dengan video, ada yang sadar kamera dan tetap cerah ceria setelah melihat kamera. Hehhe..
“Hahhhahahaha… murasai anana’…” kami tertegun. Di pintu utama sekarang sudah ada Pae’ sang kordinator angkatan tengah tertawa terbahak-bahak menertawakan kesulitan kami… Tapi, tak mengapa karena dia telah membawa juru selamat kami sore itu.. “Pak Rabaaaaaa’……….” teriak kami girang, seakan rindu setengah abad pada juru kunci ruangan di Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin itu.

Based on true story of us, 19th September 2008  

2 komentar:

Go Hyuuga mengatakan...

Hauahaha....masih mauko smua ?!! Samanga' dudu ko. LOL~~~ XD

Anonim mengatakan...

tapiiii seruuwwww ugah nagh kek masih maukaaa terulang,....