Sabtu, 27 November 2010

Alters on The Bridge

Yang lain diam, hening mendengarkan isak tangis Isa. Isa masih kecil, 11 tahun. Masih terlalu kecil untuk memahami amarah Rubi yang memang sedikit temperamental. Tapi yang lain juga bingung ingin menegur Rubi dengan cara apa.

“Ini sudah keterlaluan! Tidak seharusnya Rubi melakukan ini pada Isa, dia pikir dirinya siapa?!” teriak Nirna sembari bertolak pinggang.

“Tapi kita bisa berbuat apa? Siapa yang berani menegur Rubi?” tanya Ron, pria muda yang sangat lemah lembut.

“Mungkin kita tak harus menegurnya sekarang, kalian tahu ‘kan… sangat tidak kondusif. Saat ini pasti Rubi pun tengah emosi, kalau kita menegurnya sekarang tentulah ia akan membalas dengan suara yang jauh lebih keras” jelas Bu Berta lembut. Ibu setengah baya itu memang selalu menjadi penengah yang bijak di antara yang lain.

“Tapi aku penasaran, mengapa Rubi semarah ini pada Isa?” tanya Rani si analitis.

“Aku minta maaf.. “ yang lain terhenyak dengan sebuah suara yang baru saja muncul. “Ini semua salahku..” ucap pria tampan bernama Don. Sementara yang lain masih hening menunggu kalimat penjelas selanjutnya dari ujung bibirnya. “Rubi marah padaku karena ia merasa aku lebih menyayangi Isa daripada dia, dan sekarang.. akupun bingung…” tutur Don dalam.

“Kau tak perlu  meminta maaf Don.. itu bukan salahmu. Kita semua menyayangi Isa dan Rubi. Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Rubi sekarang?” tanya Bu Berta.

“Aku tak tahu ia hendak kemana Bu… ” kata Don.

“Aku ingin mati saja…!” teriak Rubi. Mereka berdiri di tengah jembatan kini, siap meloncat atas kendali Rubi.

“Jangan….! Kami mohon Rubi.. tidakkah kau kasihan pada Isa? Umurnya masih 11 tahun. Ia masih punya mimpi-mimpi yang harus ia capai…” kata Ron.

“Rubi, kau harus berhenti bersikap egois… kau sudah cukup merusak baju baru Isa… Isa tak tahu apa-apa tentang kita. Ia bingung, sedih pastinya. Kumohon Rubi.. orang tua Isa juga pastilah tengah mencari Isa saat ini” pinta Bu Berta.

“Apa peduliku?! Ini aku.. Isa harus tahu kalo aku tak suka!” teriak Rubi.

“Kalau kau mau mati, kau mati saja! Tapi jangan kau matikan Isa!” teriak Nirna.

Tapi terlambat… mereka semua terjuan bersamaan dari atas jembatan dalam satu jasad.

“Telah ditemukan jasad seorang anak perempuan yang hanyut di sungai. Setelah diidentifikasi, diperkirakan anak tersebut berusia 10-13 tahun. Belum dipastikan apa penyebab kematiannya…” lamat-lamat suara TV di ruang keluarga membuat seorang ibu mengulum senyum atas kematian anaknya.

Jumat, 19 November 2010

Self Oriented!

Bangun pagi dimulai dengan senyuman, aku percaya hari ini takdirku adalah yang terbaik untukku. Paling tidak aku telah berusaha. Orang-orang terdekatku tengah sibuk menyemangatiku dan percaya bahwa aku mampu. Tapi doaku semalam kurasa cukup untuk menenangkanku sebelum tidur paling tidak membuatku tertidur pulas semalam. “Rabb.. Aku dengan segala kemampuanku telah kulakukan hingga hari ini. Apapun yang terjadi esok, aku percaya itu semua terjadi karena kehendak-Mu dan itu memang yang terbaik untukku. Aku tak peduli sorak-sorai-basa-basi yang hanya ingin melihatku semangat itu. Rabb.. Engkau yang paling tahu aku, dengan seluruh mampuku dan segala optimistis yang tak pernah mampu ku refleksikan. Aku pasrah..”

Seketika aku teringat bergunung-gunung dosa yang telah kuperbuat, menangis mungkin tak guna menghapus.. tapi mampu menenangkan dan melegakan rasa bersalahku pada mereka. Pada orang-orang yang telah mempercayaiku, pada orang-orang yang menyayangiku, dan tentu saja pada-Mu yang selalu ada untukku. Teringat liang kubur yang tiba-tiba muncul dalam ruang pikirku, ‘ apa yang ‘kan kurasa ketika para pelayat itu kemudian pergi meninggalkan kuburku kelak? Adakah yang ‘kan ingin berdoa untukku?’ Lalu kusadari, aku takut mati. Aku belum siap dalam kesendirian itu. Adakah aku hamba yang baik yang telah mampu menjadi sahabat-Mu? Adakah aku tak melukai hamba-hamba-Mu yang lain? Jikalau benar, ampunkan aku Rabb.. Biarkan sakit ini, gusar ini, menjadi teguran untukku atas semua salah serta khilafku selama ini. Aku pasrahkan semuanya pada-Mu..