Kamis, 16 Desember 2010

:)

Kali ini objeknya dia lagi, entah kenapa aku memang senang bercerita tentang rasaku padanya, atau hal-hal bersamanya. Semuanya terasa begitu menyenangkan. Malam ini kutegur ia atas penampilannya yang sudah mulai berantakan, jenggotnya mulai tumbuh tak karuan hampir 3 mm, kumisnyapun tak beda. Tapi ia berkilah akan memangkasnya esok pagi. Baiklah.. Tiba-tiba ia berceloteh, "kalo orang lain yang bergelantung di jenggotnya itu malaikat.. kalo saya kayaknya setan..." ceritanya datar. "Hah?!" aku hanya melongo untuk menunggu lanjutan bicaranya. Seolah perkataannya itu menuntut ketidakadilan Tuhan atas adanya syaitan pada bulu halus di bawah dagunya. Dari nadanya terdengar kekecewaan mendalam atas jenggot tersebut, entah apa dosa si 'gerombolan rambut sangat pendek' itu padanya. "Kenapaki bilang begitu??" tanyaku penasaran sebab ia tak kunjung menjelaskan tanpa kupinta. "Iya.. soalnya kalo malaikat, tidak mungkin dia mengganggu waktu saya sholat... bikin gatal-gatal.. jadi sepertinya ini setan... " jawabnya datar. Aku dan Ibuku tertawa terbahak-bahak mendengar alasannya. Seperti malam biasa, kala aku ingin dimanja aku pasti mencarinya, meski hanya untuk mendengar ceramahnya, cerita yang telah berulang kali ia ceritakan, atau memintanya untuk memijat kepalaku. Dialah Ayahku.