Jumat, 30 Desember 2011

Time is Flowing

Wow... 2011 will pass soon... So much things I did and couldn't do this year... Actually I never made a self resolution on any new year in my life. But I believe everyone has their own hopes, wishes and plans to do in every year, even if they didn't make it in new year moment just like me. :)

As a muslim I  prefer to make my self resolution at the beginning of Romadhon... to become a better person in GOD way, for everyone around me, for my life and afterlife. But for life target, we can say that would be easier to make it at the beginning of Masehi year. I thought so.

Such 24 times before, I don't have any self resolution for 2012. But I Thank God for anything I've got and did for this blessing year.. :) These are...
January : Busy with my lovely Final Project and all of administration stuffs...
The Project Site View of my final project
February : my Final Examination month... Alhamdulillah.. :)
March : my Graduation month, and got first job before Graduation day..
Become an Engineering Bachelor
April : busy-busy-busy-home-office-home-office-no weekend
May : Went to Soroako took contract for 6 months for the second time in Maintenance System - PTI
Busy-busy-busy with documents
June : busy for new activity in Soroako.. jogging on the weekend :D
July : Audit-audit-audit.. fiuuhh..
August : Romadhon is a blessing month.. o:) Blackbox would be new lifestyle.. =.='
September : work-work-work
October : Socialization for staff of PTI...
November : Final presentation, end of contract in PTI, i've got my deBioo.. :)
December : hunting-edit-hunting-edit.. :D job seeker and freelance photographer and dreamer... :D
BW editing
lent fix lens by my fren :)
love love love
Well.. everyone has their own way to be happy..
Enjoy the life for a great afterlife all.. :)
See you on 2012.... \(^_^)/

Jumat, 02 Desember 2011

Dunia Si ODHA

Hmm.. sudah Desember saja... :)
Mengingat kemarin [1 Desember-red] adalah hari AIDS sedunia, tiba-tiba saya jadi ingat kejadian 2 tahun silam. Di kantor kami [kantor saya waktu itu] sedang mengadakan penyuluhan tentang HIV/AIDS, dengan pembicara seorang dokter dari pihak Rumah Sakit Perusahaan dan seorang ODHA. Tau ODHA? Well, buat yang belum tau ODHA adalah Orang Dengan HIV/AIDS. 


Taruhlah Mr. X [Example, sumpah! saya lupa namax siapa], dia penderita HIV dan telah rutin meminum obat yang HARUS dikonsumsi setiap hari selama SEUMUR HIDUPnya selama kurang lebih 10 tahun (kala itu). Dia bercerita, awalnya terjangkit HIV lantaran sering tukaran jarum suntik saat lagi "make" bersama teman-teman nongkrongnya. Dia mengaku bukan berasal dari keluarga yang cukup mampu, tapi saat itu Narkoba memang sudah meraja ke kalangan orang level 'atas' sampai level 'bawah'. Jenisnya beda-beda, sesuai dengan kesanggupan kelas masing-masing. Awalnya cuma jadi distributor, lama kelamaan jadi STRESS sendiri karena merasa tidak mendapat perhatian yang cukup dari keluarga. 

Lelah menghadapi hidup, akhirnya ia ikut men'coba' barang dagangannya sendiri.. "mumpung dapat gratisan dari Bos" katanya. Mulailah ia merasa senang dengan ketenangan yang ditawarkan Shabu. Beban pikirannya terasa hilang saat lagi 'make', akhirnya Mr. X makin rajin 'kerja'nya, biar bisa sering-sering dapat gratisan + nambah-nambah beli 'barang' untuk dia sendiri. "Semua jenis sudah saya coba..." akunya. "Lama-kelamaan, kebutuhan saya meningkat drastis. Sampai akhirnya, teman saya ada yang ngaku kena AIDS. Saya mulai takut, jangan-jangan saya kena juga. Setiap bulan pasti saya sariawan dan jumlahnya banyak, belum lagi sembuhnya lama. Begitu juga flu, demam.. akhirnya saya tahu kalau saya terkena HIV Positif" tuturnya. Setelah masuk rehabilitasi Narkoba 2x, akhirnya Mr. X tobat juga. Tapi untuk memperlambat perkembangan si virus, ia harus menenggak obat (ARV : antiretroviral) setiap hari selama seumur hidupnya. Satu hal yang mesti kita ingat, sampai saat ini memang belum ada obat yang mampu menyembuhkan, hanya sebatas memperlambat perkembangan virus saja. Mengapa si virus mesti dihambat perkembangannya? Karena ia dapat merusak sistem kekebalan tubuh hingga sangat parah, kondisi itulah yang disebut AIDS.

Fakta lainnya adalah, seseorang bisa saja terjangkit HIV telah lama tanpa diketahui. Karena, HIV tidak dapat dideteksi secara langsung segera setelah penularan terjadi. Butuh waktu beberapa lama setelah ia berada dalam tubuh kita, baru setelahnya dapat terdeteksi. Jadi bisa saja, seminggu kemarin ternyata kita sudah tertulari dan hari ini kita melakukan pengecekan dengan hasil positif, padahal in fact virusnya sedang berkembang di dalam tubuh kita. Itulah sebabnya, disarankan pengecekan secara berkala terhadap HIV.

Yang menyedihkan, cerita dari Mr. X kala itu, tentang temannya yang juga ODHA. Teman tersebut juga terjangkit HIV karena Narkoba dan sempat keluar masuk Rehabilitasi penanggulangan Narkoba beberapa kali. Sampai akhirnya, ia dinyatakan sembuh dari ketergantungan Narkoba dan dibolehkan kembali ke rumahnya. Awalnya ia merasa hidupnya akan kembali seperti sedia kala, normal seperti sebelum ia memasuki dunia 'kelam'. Tapi dunia bersikap lain, keluarganya tidak begitu peduli, teman-temannya yang dulu mulai menjauh sejak mengetahui ia terjangkit HIV, depresi, akhirnya bunuh diri menjadi pilihannya. Miris 'kan?! :'(


Padahal, jika kita memiliki pengetahuan yang cukup tentang seperti apa HIV/AIDS itu, kita tidak perlu menjauhi ODHA kok... Kenapa? Karena penularan HIV hanya melalui ; darah, cairan dari kelamin (baik dari vagina maupun air mani) serta ASI. Jadi penularan yang paling umum terjadi adalah karena penggunaan jarum suntik yang sama, sex, serta menyusui bagi ibu yang positif HIV kepada bayinya. Jadi tidak benar kalau ada yang bilang bisa menular melalui air liur, keringat, udara, dll. Bahkan, kemungkinan penularan pada saat berciuman sekalipun sangatlah kecil, kecuali jika terdapat luka di dalam mulut, misalnya gusi berdarah yang memungkinkan masuknya virus melalui darah.

Jadi, STOP deh memandang sebelah mata kepada para ODHA. Ada juga kok ODHA yang terjangkit karena tidak sengaja dan bukan karena mereka dulunya "nakal". Bisa jadi mereka tertular dari ibunya ketika disusui. Ada lagi satu kisah dari Pak Dokter kala itu. Ada seorang istri karyawan di kantor kami [saat itu] ternyata telah sakit selama berminggu-minggu, flu, demam, kelainan organ dalam, dan telah diobati tapi belum juga sembuh. Akhirnya pihak RS meminta izin kepada sang suami (karyawan) untuk dilakukan pengecekan terhadap virus HIV pada si Istri. Si suami mengizinkan tapi dengan syarat, identitas pasien harus disembunyikan oleh pihak RS, pihak RS membolehkan, karena itu bagian dari kode etik katanya. Hasilnya, si istri benar HIV positif. Padahal, si istri bukan pengguna narkoba, tidak pernah melakukan sex bebas, serta tidak ada riwayat HIV dari ibunya. Setelah dirunut, si istri tersebut diduga memperoleh virus dari almarhum mantan suaminya yang telah meninggal yang juga mantan pengguna Narkoba. Dan kemungkinan besar telah menularkan pula kepada suaminya, kala itu dilakukan pengecekan pula terhadap si suami, hasilnya Negatif. Tapi, si Suami disarankan melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap HIV, mengingat virus tersebut tidak langsung dapat terdeteksi setelah tertular.

By the way, balik lagi ke ODHA. Coba bayangkan, kita saat sakit flu saja, kita selalu ingin dimengerti oleh orang sekitar kita. Selalu ingin diperhatikan, selalu ingin ditemani, selalu ingin dihibur. Apalagi mereka, orang-orang yang dengan sadarnya mengerti bahwa belum ada obat untuk penyakit yang mereka derita, yang tahu bahwa pengobatan yang harus mereka jalani seumur hidup tidak mampu menyembuhkan hanya memperlambat pertumbuhan virus dalam tubuh mereka, orang-orang yang seolah telah divonis akan sakit keras cepat atau lambat, dan mereka harus mampu melawan ketakutan itu SENDIRIAN. Pernah kepikiran? Saat kamu sakit, kamu malah dijauhi, dengan alasan takut ditulari, padahal yang kamu butuh hanya sekedar senyum serta semangat yang setidaknya membuat kamu tidak berpikir, kalau kamu SENDIRIAN. Kamu cuma butuh sedikit perhatian, bukan belas kasihan. 

ODHA masih punya banyak hal yang bisa mereka lakukan, beruntunglah saat ini sudah ada lembaga yang peduli tentang keberadaan mereka, mewadahi Mr. X dkk. untuk melakukan hal-hal positif yang tidak hanya berguna untuk ODHA, tetapi juga orang lain. Contohnya ya, sosialisasi HIV/AIDS yang saya ikuti kala itu. Intinya, mereka juga manusia biasa kok, butuh perhatian dan bukan kasihan apalagi dikucilkan. Jangan sampai deh ada ODHA-ODHA yang lain yang depresi kemudian bunuh diri lantaran dikucilkan oleh lingkungannya sendiri. Salut untuk mereka dan juga lembaga-lembaga yang mengorganisir para ODHA, tanpa mereka mungkin kita tidak akan pernah ingat akan berbahayanya HIV/AIDS. Semoga tulisan ini juga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh aku, kamu dan juga mereka.

WORLD AIDS DAY..
Stay positive to think, and do...
Keep healthy life  :)

Selasa, 29 November 2011

[L] [I] [F] [E]

Hy there… long time no see with you all… J
Hehhehe… long time no updating this blog, such I’m so busy. That’s right I’m busy, busy to decide what am I going to do with my life? Jobless in 2 weeks kind a useless human in your home, believe me. Ok, let’s start about my life. I have finished my contract about 6 months in a mining company in Soroako, South Sulawesi, Indonesia. Actually they wanted extend it, but it just need ‘lil more time because there was a problem with their contract between the vendor and company itself. Last week my boss called me by phone, he said it will need longer time, cause the company made some new procedures in hiring people. Well.. it’s not the point of my story actually… J

Life is simple. Some people said.
Life is beautiful. Others said.
Life is not always like what we expected. I said.
Here we go. My life. More than 8 months have some job that I should do, every day. Do something, deliver something to reach something. And now? Stay at home only in 2 weeks just made me feel so… USELESS. Up and down. Black and white. But…. I believe that what we felt can be controlled by our mind. Yeah, maybe not all of your feeling, but everyone has their mood buster right? J

So, I tried to do something different that I never did in Soroako. Cooking. Hha! It’s not that simple, my friends… =.=’ Yesterday I tried to cook a blackforest, but it’s TOTALLY FAILED! The cake didn’t expand, the cream wasn’t good enough. Rrggghh… it was annoying. I thought I have no talent in cooking. But I believe, it was just a first step in a long process in learn. This is the first time, so it doesn’t mean it could change my mind and made me surrender in cooking. NO! at least, by the fault I know now the right one. The right way. And I’ll try to make some others cake… J

I did another thing that I love in my fully BREAK time while looking for another permanent job. I took some pictures about anything around me. I love photography and I learn about it right now. Hoping so much someday I can describe the world well with writing and capturing.  Here it is some pictures…
Hang on you
Hunting in green
The Sun and The Glasses
Before I learnt about photography, I loved photo editing first actually. Below are pictures that i took then edited. Some good some bad... :)
More Contrast
Too Deep... *Sorry =.='
try try try... :)
I just wanna tell you, that the life is not about how we can get the happiness, but how we can change the sadness into happiness, how we can thank God for everything we've got, how we can manage our time to think, do and feel the best of us to others for the best life. Never say tired to try... :)

We may Fail..
But we may not Surrender...
Have a great life all... :)

\(^.~)/

Minggu, 25 September 2011

2


Setelah 5 cm, Donny Dhirgantoro merilis novel keduanya di Juli 2011 dengan judul 2. Tidak jauh berbeda dengan novel sebelumnya 5 cm, 2 juga hadir sebagao novel yang mengajarkan pembaca untuk terus bermimpi, percaya akan mimpi kemudian berjuang untuk mimpi. Dreams, Faith, Fight.

2 mengisahkan tentang perjuangan hidup sejak lahir seorang perempuan Indonesia bernama Gusni. Ia lahir dengan ukuran dan berat badan yang sangat tidak normal, berat 6,25 kg dan panjang 59 cm serta takdir yang menggariskan berat badannya yang takkan pernah mengalami penurunan, akan selalu dan terus meningkat.
Kakaknya, Gita Annisa Srikandi yang sejak melihat Susi Susanti menang dalam Olimpiade Barcelona 1992 bertekad ingin menjadi pemain bulu tangkis yang akan membuat orang tuanya serta jutaan orang tua lain di Indonesia bangga terhadapnya. Tidak beda dengan Gita, di saat yang sama Gusni pun demikian. Ia ingin bermain bulu tangkis karena ingin membuat orang tuanya bahagi dan bangga. Tapi setiap kali Gusni kecil bertanya pada ayahnya, kapan ia boleh bermain bulu tangkis seperti kakaknya yang selalu memboyong piala kemenangan pulang ke rumah, ayahnya selalu menjawab nanti dan nanti. Gusni kecil, percaya akan ada saatnya untuk ia juga bermain nantinya.
Ketika umurnya 12 tahun, karena terus meminta akhirnya orang tuanya mengizinkan untuk bermain bulu tangkis, setelah merundingkan dengan dokter yang menangani penyakit Gusni sejak lahir. Tapi, hanya 2 bulan, ia akhirnya pingsan tiba-tiba saat latihan. Dan sejak itu, ia kembali tak dibolehkan bermain bulu tangkis, mengejar impiannya oleh orang tuanya. Tapi mereka tidak tahu, mimpi itu masih ada... masih di sana.

Hingga akhirnya, ketika usianya menginjak 18 tahun, semuanya kemudian kenjadi jelas bagi Gusni. Kenyataan menghantam mimpinya, menghantam hidupnya, menghantam kepercayaannya. Ia akhirnya tahu penyebab orang tuanya selalu melarang untuk bermain bulu tangkis, mengapa berat badannya tidak pernah turun. Penyakit aneh yang turun temurun secara genetis di keluarganya, yang juga memvonis usianya tak kan lebih dari 25 tahun.

Tapi, perjuangan baru saja dimulai bagi Gusni. ‘Kelebihannya’ adalah kekuranganannya. Ia tak memilih untuk diam, karena pilihannya hanya 2, berjuang atau mati. Ia harus berjuang untuk menurunkan berat badannya agar tak terus bertambah, karena pertambahan itu mengakibatkan obesitas akut, penyempitan rongga dada, tekanan darah tinggi dan serangan jantung. Ia tidak memilih untuk diam menyerah pada kehidupan sembari menunggu waktu untuk mati. Ia memilih untuk berjuang, berani untuk mencintai dan mencintai dengan berani atas hidupnya yang tak sempurna. Hidup memang tak sempurnya, tapi hanya seorang pengecut yang mengharapkan hidup yang sempurna.

Berjuang sendiri dengan mimpinya, bulu tangkis. Berharap mimpinya bisa membuatnya tetap hidup, dia hanya ingin terus hidup, kalaupun nanti waktunya telah tiba, waktunya telah habis, ia ingin pergi setelah ia berjuang atas hidupnya, dan ia ingin orang tuanya menjadi saksi atas perjuangannya untuk hidup. Berani untuk ikhlas kehilangan cintanya, tanpa pamrih, meski perih. Berani untuk terus memompa semangat terus hidup dalam dirinya, kata Pak Pelatih “jangan pernah meragukan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikitpun tidak”.

Ini bulu tangkis, dan ini Indonesia. Perjuangan yang akhirnya tidak hanya harus ia lakukan untuk dirinya, hidupnya, mimpinya, keluarganya, Pak Pelatih, jutaan keluarga lain di Indonesia, serta untuk bangsanya tercinta, INDONESIA.

Ketika kamu bangun di pagi hari..

Dengan hati yang luar biasa, bangun dengan hati yang besar dan berani, tidak sepicis pun menyesali hidupmu. Karena kamu melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan di sadarmu dan di tidak sadarmu. Karena setiap nafas dari hari-harimu bergerak bersama impianmu.

Kamu pasti tahu kalau hidup adalah luar biasa, karena kamu memperjuangkan impianmu. Karena impian ada di tempat yang tepat. Bukan, bukan bualan malas, bukan angan-angan kosong, bukan omong kosong. Tetapi impian ada di alam bawah sadar yang bergerak memenuhi segalanya untuk impianmu. Dan setiap kamu adalah layaknya seorang manusia, seorang manusia yang percaya dengan kekuatan imajinasinya yang luar biasa, impian membuat manusia jadi bermakna.

Sebuah perbuatan, sebuah kenyataan yang melelahkan, sebuah kenyataan penuh tekad, tawa, peluh, air mata, dan luka. Sebuah kenyataan yang berkata kalau hidup tidak akan pernah sempurna, karena hanya seorang pengecut yang mengharapkan hidup yang sempurna.
- 2 -

Sabtu, 24 September 2011

Rindu Menulis

Hwaaa.... pagi, sabtu.. yyihha it's weekend time!!! :D Maap yah pengunjung, kali ini saya lagi narsis-marsisnya, jadi cuma mau menulis tentang saya saja...Kalau mulai eneg, silahkan window blogspotx di-close, soalnya saya yang baru mau nulis aja keknya sudah mulai eneg deh... =.=' 

What a [SOK] busy weeks yah, sampai-sampai untuk melanjutkan cerita saja rasa-rasanya sulit. Bangun shubuh, masuk kantor jam 7.. kata teman kuliah saya ini lebih mirip sekolah, jam masuknya. Sampai rumah [baca: kamar kost] maunya langsung istirahat, atau hura-hura tak jelas atau tenggelam dalam novel-novel bawaan dari Makassar kemarin. FYI, sekarang saya lagi di Sorowako, desa kecil pabrik Nikel BUMNB [badan usaha milik negara Brazil], jaraknya 12 jam dari Kota Makassar melalui darat, letaknya di Kab. Luwu Timur, diapit 3 Danau luas, dll lah.. kalau mau info lengkapnya silahkan di googling yah.. :D







My Bestfriends on weekend :)




Rindu menulis, setelah 4 bulan bekerja tanpa saya sadari pekerjaan saya sebenarnya mengingatkan saya terhadap hobi saya. Tidak jarang saya berkata pada diri sendiri "I wanna be a writer" tapi entah kenapa aplikasinya kok susah sekali untuk serius di bidang itu. Beberapa minggu lalu ada seorang teman yang mengajak untuk jadi "blogger penghasil uang" dan kemudian menjadikan blogger itu sebagai pekerjaan utama. Saya sempat mencoba, tapi entah kenapa dan bagaimana saya hanya berpikir "ini bukan saya, saya tidak ingin menulis hanya karena ingin mendapat uang, saya ingin menulis karena saya ingin berbagi". Tapi kalo keduanya bisa di saat yang sama sih tidak masalah. Sebenarnya intinya bukan di situ sih, soalnya menjadi "blogger penghasil uang" itu tidak semudah itu saudara-saudari sekalian. Tulisan kita harus mampu menjual serta memenuhi kebutuhan orang banyak di saat yang tepat.  Contentnya mesti up to date, mesti sering cari informasi tentang apa saja yang orang-orang cari, dan... lebih sering copasnya dari pada nulisnya. Soalnya, kebayang gak sih klo dalam seminggu kamu mesti bikin tulisan original 3 biji sehari?!
So, tiba-tiba saya merasa "NO! It's not me" saya ingin menulis tentang apa yang saya pikirkan, bukan apa yang orang lain pikirkan.  "I don't wanna be somebody else in writing" meskipun.. yah kit memang mesti lebih objektif, tapi dengan begitu kita 'kan belajar objektif bukan menjadi orang lain 'kan? Sudahlah, saya mulai ngalor-ngidul sepertinya.

Selama 4 bulan di sini saya kembali menemukan hobi lama saya... BERENANG! :) meskipun sempat terhenti saat Romadhon kemarin, tapi sekarang mulai intens lagi... Kenapa berenang? Karena sejak dulu saya memang suka berenang.. di Sorowako sini, kalo kamu sempat jalan-jalan ke sini, rasa-rasanya kurang afdol kalo kamu tidak berenang di Danau Matano, airnya jernih cuy, kalo sempat sih lebih bagus lagi kalo kamu main kayak, rafting, sailing atau bahkan diving buat kamu yang diver. Seru lah...

Anak-anak ini, menurunkan sepedanya ke dasar danau, jadi bersepeda sambil berenang =D



Buat foto-foto juga oke buat kamu yang senang fotografi, dari dulu saya mau jadi fotografer.. tapi sampai sekarang, adaaa saja yang menghalang saya untuk beli kamera, yang paling sering itu UANG. Jadi kalo kamu yang berkelebihan uang di luar sana dan ingin berbagi dengan saya, plis contact me yah.. nanti saya kirimkan nomer rekening saya.








Ini hasil jepreten sy, lumayanlah untuk pemula kan?! *ngasah badik




Ada lagi nih yang baru di Sorowako, ada yang jual MIE KERING! Rasanya mirip [baca:hampir sekali sama] kok sama MIE *I** di Makassar. Konon, bapak kokinya dulu pernah kerja di sana beberapa tahun, beliau pulang kampung trus bikin deh warung sendiri. Bisalaaaah mengobati rasa kangen Mie Kering Makassar.. :)






Mie Kering Sorowako.. ;9



Udah ah.. takut kamunya muntah, cari ember gih...
Bubye blogger...
Happy weekend yah... =D

Minggu, 17 Juli 2011

Distance

When people used to be your home don't get your feeling
When people used to be your best friends can't decode your act
When people used to be your friends don't know what u've done
When people used to be your enemies even don't know what you do
When people around you just tell their stories, plans and dreams
Without any question "how about you there?"

When I hide all the things in my mind
When I don't tell anyone what actually my dreams
When I don't feel any empathy of my loneliness
When my life seems not get better on my view
When just time looks like the one can arrange me
When I do all the things seems not for me
When I have to cry myself to sleep
When laugh is just like a damn way to hide it all
When I have to cry on the phone silently

It's called DISTANCE
Between me and you all.

Sabtu, 16 Juli 2011

Cerita dari Balkon #3

“Cukup Dian.. cukup!” Dian berbicara dengan bayangan perempuan di dalam cermin yang masih terus mengalirkan buliran-buliran bening dari matanya.
“Kalau dia berubah dan harus pergi ya sudahlah.. toh sudah saatnya! Tak perlu merasa bersalah atas sejarah, meskipun tiga setengah tahun itu bukan waktu yang singkat, dan berhenti menyalahkan dirimu atas perpisahan ini! Ini bukan salahmu!” masih saja ia mencak-mencak pada perempuan di dalam cermin yang masih terisak. Hatinya sakit. Meski ia yang meminta, Dian lelah dengan kediaman Fatur 3 bulan ini. Dian lelah dengan keapatisan Fatur, tapi dibalik itu ia berpikir mungkin salahnya sehingga Fatur tiba-tiba berubah. Dian tak bisa menjadi perempuan yang ia inginkan.
“Itu bukan salahmu, dia berubah dan kau tetap sama..dan semua orang bisa berubah kapan saja mereka mau!” bentaknya lagi. Tapi entah kenapa, ia merasa keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka malam ini terasa salah oleh Dian. Dengan reaksi Fatur yang sangat datar dengan jawaban ‘itu terserah kamu..’ membuatnya semakin frustasi, merasa semakin menjadi perempuan yang sangat tidak diinginkan Fatur.
Kepalanya pening, jam dinding hijau di ruang depan kamar kost-nya menunjukkan pukul 2.36 dini hari. Besok hari Senin dan pekerjaanya sebagai admin selalu menyibukkannya di hari Senin dan Jumat, hari dimana mereka harus melakukan penginputan dan penarikan data sepanjang hari.
“Kamu harus tidur, mata kamu sudah bengkak, kepala kamu juga pening!” katanya sembari melap semua buliran bening yang sudah mewarnai wajahnya lebih dari 30 menit. Padahal obrolannya dengan Fatur telah selesai sejak 5 jam yang lalu, 4 jam sebelum ia menangis ia habiskan dengan menonton film + sugesti diri sendiri bahwa ia tak sedih.
“Dian.. besok, semuanya sudah berubah... Tidak akan ada lagi nama Fatur di dalam otakmu..” katanya sebelum tidur sembari menarik selimutnya, melupakan semua tangis dan tenggelam dalam kelelahannya.

*

“Jadi kamu putus?” tanya Tian ketika mereka berbincang di balkon kamar mereka sore harinya. Dian hanya membalas dengan anggukan.
“Saya hopeless kak.. dia pasrah saja tanpa meminta penjelasan, seolah itu adalah yang ia mau saya ucapkan sejak lama..”
“Mungkin memang bukan dia yang terbaik buat kamu dek..”
“Lalu siapa?”
“Entahlah..” Tian menggeleng pasrah “Tapi yakin saja, Yang DiAtas selalu tahu yang terbaik untuk kita.. termasuk pasangan yang IA gariskan untuk kita. Mungkin saja orang yang sudah lama kamu kenal, atau sekarang teman kantor kamu yang baru, atau mungkin belum kamu kenal sama sekali” jelas Tian panjang.
“Mungkin.. entahlah Kak, belum mau memikirkan orang baru dan bagaimana cara dia datang nantinya. Kalaupun dia tak datang, sepertinya saya nyaman hidup seperti ini. Mengabdi sampai mati untuk Mama dan Papa, itu lebih real.. mereka selalu ada untukku di sana” sahutnya.
“Jangan begitu dek.. kamu anak tunggal.. orang tua kamu pasti mau kamu punya keluarga sendiri setelah mereka tidak di dunia… masa Cuma gara-gara satu orang ini kamu tidak niat berkeluarga?!”
“Hmm.. oke.. mungkin kita ganti dengan belum  niat..”
“Saya rasa itu lebih baik.. Sampai nanti kamu menemukan orang yang lebih baik dan lebih membuatmu nyaman, kamu pasti akan punya keinginan ke sana” balas Tian yang pandangannya sudah tak menatap Dian lagi. Pikirannya melayang, terbang ke tanah Jawa, ke seorang perempuan ayu pemilik hatinya, Lola.

*

Dian tiba-tiba merasa kikuk dengan perhatian yang sedikit lebih besar yang dicurahkan Tian daripada biasanya. Mereka sering terlihat berdua dan melakukan aktivitas apa saja hanya berdua. Mulai dari berenang, ke pasar, main gitar sambil nyanyi sampai hanya ngobrol-ngobrol ringan di dapur kost-an. Seakan hanya mereka berdualah anak kost dan yang lain hanyalah pemain figuran dalam sandiwara anak kost-kostan itu, sehingga tidak perlu memperhatikan yang lain karena yang lain tidak penting dan bukan inti cerita. Kontraknya sudah hampir berakhir sebagai anak magang, tinggal 2 minggu lagi. Penawaran perpanjangan kontrak dari atasannya sudah ia terima, ia juga sudah menanyakan pada orang tuanya, dan lagi-lagi mereka menyerahkan keputusan itu pada Dian.
“Mungkin lebih baik di sini, di Makassar toh tak ada yang special dan saya sudah harus mencari pekerjaan baru yang kalaupun saya tidak jadi pengangguran, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan tidak ada Kak Tian..” ceplos saja ia berkata di depan cermin sembari tersenyum.
Entah sejak kapan ia merasa Tian menjadi pusat rotasi dunianya. Sejak ia putus dengan Fatur 2 bulan lalu, seminggu setelahnya ia sudah merasa tak ada masalah dengan hidupnya. Agak aneh sebenarnya, mengingat umur hubungannya dengan Fatur 3,5 tahun seakan tak ada artinya. ‘Tapi bukankah lebih aneh lagi kalau kita memaksa merasa aneh padahal itu tak aneh?!’ belanya pada diri sendiri ketika suara di cermin menegur keanehannya.
“Di extend setahun lagi juga saya mau pak…” katanya pada cermin seolah atasannya berdiri tepat di hadapannya. “Howaaa… sepertinya saya mulai gila!” katanya setengah berteriak dan membenamkan wajahnya ke dalam bantal di tempat tidurnya. “I’m just crazy over him…” bisiknya sendiri pada dirinya. Dian mengingat-ingat semua hal yang mereka lewati berdua, ketika mereka menertawakan Riadi yang menggombal anak asrama putri di telepon, ketika Tian mengajari Dian mencuci motor, ketika Tian membantunya memperbaiki jemuran, ketika mereka berdua ke Malili hanya untuk makan ikan bakar di tempat favoritnya, saat Tian berkata bahwa kita semua sama di dunia saat mereka berbincang masalah perbedaan budaya, menurutnya Tian itu keren dengan semua bijak dan objektivitasnya.
Tiba-tiba Dian menyadari sesuatu, menyadari sebuah larangan yang tiba-tiba menyesakkannya, merusak bahagianya, yang seharusnya sudah ia sadari sejak awal. Dan ia, kembali berduka.

Minggu, 10 Juli 2011

Guess What?!


Namanya Elektra Wijaya. Seorang chinese sarjana ekonomi yang baru saja ditinggal Dedi (Daddy) untuk selamanya. Ibunya sudah jauh lebih dulu meninggal dunia. Ia anak bungsu dari 2 bersaudara, kakak perempuannya bernama Watti. Sejak kecil ia selalu merasa hidup di bawah bayang-bayang perbandingan antara ia dan kakaknya. Kakaknya yang cantik, rajin beribadah ke gereja, putih, intinya cica’ (cina cakep!). Ia kemudian tumbuh menjadi remaja yang sulit bergaul dan lebih senang menjadi penonton bagi kehidupan dalam diamnya. Khususnya kehidupan di sekitarnya antara ia, Watti dan Dedi. Sejak kecil ia senang melihat petir sembari bermain hujan, dan ia pengidap epilepsy *yang ini memang tidak berhubungan*. Mereka tinggal di rumah peninggalan belanda bernama Eleonora dengan ukuran yang cukup besar tapi terasa sempit lantaran tumpukan barang elektronik kadaluwarsa yang diperbaiki oleh ayahnya di bawah bendera Wijaya Elektronik. Keluarga besar mereka sudah menjadi ‘orang’ dan terkadang mereka merasa terkucilkan dengan kondisi itu.

Tidak lama setelah meninggalnya Dedi, Watti menikah dengan seorang muslim dan menjadi muallaf. Dia memilih untuk meninggalkan rumah dan mengikuti suaminya ke Tembagapura, tempat dimana suaminya yang berprofesi dokter di RS PT. Freeport Indonesia itu bekerja. Watti mendapatkan apa yang ia mau, hidup dengan segala keberadaan dan jauh dari kecukupan. Sementara Etra (Elektra) harus mampu menghadapi hidup dalam sepi di Eleonora dengan warisan Dedi yang tak ingin ia ganggu serta tabungannya yang ia tabung sejak kecil.

Awalnya, ia memulai karirnya dengan menjadi sales MLM.. tapi kemudian ia merasa gagal untuk itu. Sampai suatu hari, ada panggilan dari sekolah tinggi ilmu sihir untuk menjadikannya asisten dosen. Karena merasa ngeri, ia mendatangi seorang dukun tua untuk mengusir kalau-kalau ada hantu yang mengikutinya. Hasilnya, NIHIL. Dukun tersebut menganggap permasalahnnya berat dan tiba-tiba... ia MENYETRUM si mbah dukun!

Ia mulai pasrah, apa saja akan ia lakukan agar ia tetap bisa hidup dan tidak di bawah belas kasihan kakaknya yang mulai menjengkelkan. Ia memilih untuk mendaftarkan diri ke sekolah tinggi ilmu sihir itu, karena sejauh ini tawaran pekerjaan itulah satu-satunya yang datang padanya. Ia mulai mencari bahan2 yang akan digunakan sebagai pelengkap saat proses pelamaran pekerjaan selain CV dll. Ia mengunjungi sebuah toko berbau mistis di dekat rumahnya, toko yang sejak kecil ia anggap sebagai rumah Nenek Sihir dan hanya berani ia intip setelah itu lari sekencang-kencangnya bersama Watti. Pemiliknya bernama Ibu Sati. Ia sudah sempat mengirimkan berkas lamarannya melalui kuburan dan ternyata gagal. Sekolah itu tidak pernah ada, dan ia baru menyadarinya dari informasi Ibu Sati. Ibu Sati hidup sendiri di tokonya, tapi ia pribadi yang diam, bijaksana dan UNIK! Ibu Sati pernah bilang pada Etra, kalau ia akan menemukan dunianya. Hubungan mereka semakin dekat, dan Ibu Sati kemudian menjadi instruktur Yoganya.

Hidup Etra semakin sulit dan terhimpit, makan hanya 2x sehari dengan menu yang konstan, telur ceplok. Sampai suatu hari, ia bertemu teman lamanya di kampus yang berusaha warnet dan mengenalkannya dengan dunia internet. Lama-kelamaan ia mulai tergiur untuk berinternet di rumah. Dan mulai berpikir untuk membuka usaha internet sendiri mengingat lahan Eleonora cukup luas dan lengang dan tak berisi. Ia mengajak Kewoy, mantan pegawai di warnet temannya untuk ikut berbisnis. Akhirnya mereka tidak hanya berdua tapi berempat bersama Mpret a.k.a Toni dan Mi’un, teman Mpret sejak TK sampai SMA. Tidak mudah, sebab ia harus merelakan 90% badan Eleonora untuk menjadi ruang publik serta menarik deposito warisan Dedi sebagai modal. Tapi tidak rugi, sebab konsep warnet yang mereka garap memang benar-benar tidak biasa, seperti entertainment zone. Bukan hanya warnet, tapi juga tersedia PS, thetre room dengan ratusan kaset film, warung makan dengan koki yang kreatif serta distro, Wajarlah jika ELEKTRA POP kemudian menjadi tempat gaul baru saat itu.

Mungkin karena kelelahan, Etra mulai merasa badannya tidak sehat. Lemas, sangat lemas, tapi lucunya.. ketika akan dibawa ke Rumah Sakit ia tiba-tiba langsung sembuh. Akhirnya Elektra Pop Crew merencanakan penyergapan tiba-tiba untuk membawanya ke Rumah Sakit saat ia tiba-tiba lunglai. Tapi gagal… karena Etra menyetrum lagi. Dari penjelasan Bu Sati, Etra akhirnya tahu.. tubuhnya ternyata berbakat untuk menyimpan dan mengelola aliran listrik. Entah dari mana dan sejak kapan. Karena ulah teman2x… ia mulai terkenal sebagai terapis setrum untuk penyakit syaraf dll. Karena masih baru, ia hanya bisa beroperasi di Elektra Pop. Dan itu cukup mengganggu untuk Mpret mengingat konsep awal bisnis mereka tidak ke arah sana.

Tapi akhirnya Mpret sepakat untuk menjadikan ruang PS sebagai ruang operasi Etra sebagai terapis setrum. Karena, jika tidak dialirkan listrik tersebut dapat melemahkan Etra sendiri. Ternyata, tidak hanya mengalirkan listrik, Etra juga mampu membaca pikiran orang yang ia terapi. Akhirnya ia tahu dan ternyata hanya ia yang belum tahu kalau Mpret ternyata menyukainya.

Lebaran datang. Watti datang dari Tembagapura untuk merayakan idul fitri bersama keluarga suaminya. Etra dipaksa ikut. Tapi di sana, Etra bukan lagi anak yang tidak pandai bergaul dibandingkan Watti. Sekarang ada lingkaran besar orang-orang yang mendengarkannya bercerita tentang Elektra Pop, bagaimana ia mulai merintisnya, dan bagaimana ia mampu menjadi seorang terapis setrum. Dan Watti hanya diam tak mengerti. Dunia terbalik, karena tak semua orang akan menilai kita dari seperti apa fisik kita tetapi dari apa yang telah kita lakukan.


Sekarang, coba tebak apa judul dari buku ini?
:D

Sabtu, 18 Juni 2011

Cerita dari Balkon #2

Malam ini mereka duduk lagi di sana, di balkon sekaligus koridor kamar kost mereka. Hanya untuk berbagi cerita seperti biasa. Sebagai anak kost, hal yang perlu dijaga adalah keakraban bersama teman kost, sebab mau apa saja bisa jadi mereka adalah orang-orang yang hampir selalu ada.
“Saya anak tunggal Kak…” kata Dian pada Tian dan Riadi, teman kost-nya.
“Wah, terbiasa hidup enak dong kamu Di…” lanjut Riadi.
“Siapa bilang? Ayahku cukup over protected saat masih sekolah… Tapi akhirnya dia luluh juga karena aku keras kepala saat kuliah.. Baru aku boleh kemana-mana” jelas Dian.
“Tapi kamu masih cukup manja kalo kakak bilang, nyuci baju saja mesti pake tukang cuci..”
“Ya.. iya sih, tapi ‘kan kita mempekerjakan orang juga dapat pahala Kak..”
“Iya juga, tapi selagi kita mampu untuk mengerjakan untuk apa minta bantu orang lain? Itu kan artinya kita malas.. maksudnya, kamu malas..” balas Tian.
Dian manyun disebut malas. “Memangnya kalian terbiasa yah mencuci di rumah waktu masih tinggal sama orang tua?” tanyanya.
“Yaiyalah.. meskipun 3 adik kakak itu cewek semua.. Kakak itu juga mencuci di rumah..”
“Aku juga Di.. di rumah juga gitu, semua nyuci baju masing-masing.. Kecuali bapakku”.
‘Ponsel Dian berbunyi, Ditya calling…’
Dian cuek membiarkannya begitu saja.
“Jadi namanya Ditya?” Tian angkat bicara karena penasaran setelah mengintip nama di ponsel Dian.
“Hah?!” Dian mengernyitkan kening bingung.
“Orang yang kamu hindari di Makassar.. Dia yang dijodohkan sama orang tua kamu?”
“Hahahhahhahaha…..” Dian tertawa lepas.
Tian dan Riadi bingung.
“Kenapa ketawa Di? Saya bingung sama obrolan kalian.. memangnya kamu dijodohkan ya Di?” tanya Riadi
“Hahahhha.. ini lagi, huuffttt… waktu itu saya iseng saja tanya sama Kak Tian gimana kira-kira rasanya kalo kita dijodohkan.. bukan berarti saya dijodohkan dong… hahahaha… ehm.. well, sekeras-kerasnya ayahku, dia tetap sosok yang demokratis kok.. jadi di keluargaku tak ada dalam kamus deh masalah perjodohan!”
“Terus, orang yang kamu hindari di Makassar yang kita bicarakan tadi pagi siapa?”
“Ooh.. mm… Iya dia Ditya, mantan yang agak gila menurut saya, bukan rasa sepertinya obsesi.. atau obsesi itu juga rasa yah?!”
“Hmmm.. sudah ah.. saya ngantuk, mulai tidak mengerti sama pembicaraan kalian.. masuk duluan yah..” pamit Riadi.
Have a nice dream Adiiiii….. jangan mimpi sembarangan yaaa…” ucap Dian riang.
“Tapi bisa jadi, rasanya itu yang membuat dia obsesif dek…”
“Entahlah.. saya tidak tahu dan belum mau tahu…”
“Kenapa? Maksudnya kenapa kamu jadi sebenci itu sama Ditya?”
“Memuakkan saja.. sudah tahu saya punya pacar, masih juga berusaha menjelaskan alasan kenapa kami harus pisah 2 tahun lalu, buat saya he’s just so yesterday.. no need to talk titik!”
“Terus.. pacar kamu complain tidak?” tanya Tian
“Cukup bicara tentang saya, sekarang cerita tentang kak Tian saja ya…” raut wajah Dian tiba-tiba berubah dingin tanpa ekspresi.
“Hah?! Kakak tidak punya kisah…” kikuk Tian dibuatnya.
“Howaaa… jangan bohong kak.. itu Kakak agak-agak menutupi sesuatu…. Hayoo ceritaaaaaa…” rajuk Dian. Tian hanya bungkam tak berkisah apa-apa.
“Kamu itu seharusnya bisa belajar lebih mandiri di sini selagi jauh dari orang tua kamu” Tian akhirnya bicara.
“Iya sih, itu juga kesempatan yang baik untuk saya sebenarnya… Kenapa?”
“Hah?! Apanya yang kenapa?”
“Ada apa dengan kisah Kakak?” kembali Dian bertanya.
“Kakak ngantuk, tidur dulu ya..” Tian meninggalkan Dian di balkon yang masih bingung sembari menatap langit jingga di tenggara.
*
Di tempat tidur Tian tidak terpejam, meski lampu kamarnya telah padam ia masih juga memikirkan satu nama, Lola Febiola. Perempuan ayu kelahiran tanah Jawa yang sudah menguasai ruang pikirnya sejak empat tahun silam, sayangnya mereka sudah tak bertemu sejak mereka selesai kuliah setahun lalu. Seakan ia memang berjodoh namanya, lahir di bulan Februari dan mahir bermain biola. Senyum manis selalu tersungging dengan kulit kuning langsat dan rambut panjangnya yang hitam, itu gambarang terakhir yang disaat mereka terakhir kali bertemu. “Lola, kamu apa kabar?” tanya Tian pada dirinya sendiri. Ingin sekali ia menghubungi perempuan itu, tapi kembali ia urungkan.. “Belum saatnya” jawabnya pada diri sendiri.

Sementara di luar, di balkon kamar Tian, Dian masih duduk merenung sendiri. Seorang pria yang telah ia kenal selama tiga setengah tahun ini tiba-tiba berubah sikap 180⁰ terhadapnya sejak 3 bulan lalu. Fatur namanya. Tiba-tiba ia seakan menjadi orang yang lain bagi Dian. Seorang yang berubah apatis atas semua hidupnya, seorang yang dulu begitu pedulinya terhadap setiap perubahan kecil yang ia lakukan. Begitu perhatian untuk setiap hal dalam harinya. Ia merasa kehilangan, tanpa diminta buliran itupun mengalir di pipinya.

Senin, 06 Juni 2011

Baru Kali Ini

Enam Juni kali ini...
Baru kali ini aku tak di rumah untuk mengawali dan mengakhiri tanggal ini...
Baru kali ini aku senyenyak ini tidur seolah semua biasa saja..
Baru kali ini aku harus bertanya-tanya di kantor "ini bulan apa memangnya?"
dan kemudian tersadar..'oia yah, ini kan ulang tahunku..'
Baru kali ini aku menerima sms dari ibuku yang bunyinya
Happy birthday I love you
Baru kali ini aku membaca sms ucapan dengan air mata
Baru kali ini aku merasa begitu dipedulikan...
Baru kali ini adikku memberi ucapan ulang tahun, itupun via sms..
SELAMAT ULANG TAHUN
Baru kali ini ada yang membuat surprise dinner
Baru kali ini aku merasa ramai dalam kesendirian..
Baru kali ini aku mendapat sms selamat tidur dengan doa yang panjang hanya untukku

I'd like to thank to:
Mom for your love..
My family for all the kindness..
My bestfriends for all attention, support and wishes..
My friends, for everything u've done to me..
Special thanks to Upi.. for the surprise dinner.. It means so much to me.. :)

Terima kasih semua... :)

Sabtu, 04 Juni 2011

Cerita dari Balkon #1


Langit Sorowako tergolong panas siang ini, suasana yang sangat mendukung di Hari Mencuci Nasional, Minggu. Seember cucian sudah siap dijemur oleh pemuda 25 tahun itu, mengingat statusnya sebagai anak kost yang sedang merantau di kampung orang menuntutnya untuk hidup hemat dan tak acuh pada usaha laundry di samping kost-annya.
“Di sini kuliah atau kerja?” tanya Tian sembari menjemur cuciannya di jemuran depan balkon.
“Kerja” senyum tersungging di wajah perempuan yang ditanya, Dian.
“Oh ya?! Saya pikir kamu masih SMA, hehehe..” dialek Tian yang khas daerah terdengar lucu.
“Wajar sih, tampang saya memang sedikit imut.. hehehe..” balas Dian mencoba melucu.
“Kerja di mana di sini?”
“Saya volunteer di HR Department, 3 bulan sih.. kalo kakak?”
“Ooh.. saya kontrak di Utilities Department selama setahun, baru jalan 4 bulan ini ”
“Di Utilities posisi apa?” tanya  Dian
Electrical Instrument Designer.. kamu asal dari mana aslinya?”
“Makassar..”
“Oh ya? Sama kalau begitu.. kenapa mau jauh-jauh dari Makassar untuk jadi volunteer?”
Dian hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaan Tian dengan sebait pun.  Tian hanya bisa pasrah, berpikir mungkin itu privasi perempuan kurus yang sedang sibuk menatap langit di hadapannya.
“Nama kakak siapa?” tanya Dian memecah keheningan.
“Tian.. kamu?”
“Dian..”

*


Dian masih di sana, di balkon depan kamarnya yang juga merupakan balkon kamar Tian. Balkon ini memang layaknya koridor panjang dengan pintu-pintu kamar kost yang berjejer. Merenung, hampir selalu begitu kegiatannya di malam hari setelah sholat maghrib. Sembari memandangi langit tenggara yang memerah. Bukan karena senja, tapi karena pantulan cahaya slag yang panasnya 1550⁰ C. Tempat itu adalah slag dump, tempat pembuangan sisa pengolahan proses panjang ore menjadi nikel. Begitu banyak hal yang dipikirkannya, tapi tak urung menemukan solusi dalam kepalanya. Selalu begitu. Setiap ada hal yang ia pikirkan, ia memilih untuk diam dan seolah tengah berbicara dengan langit.
“Jangan melamun dek… tidak baik” tegur Tian yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamarnya.
Dian hanya membalas dengan senyum “Kakak pernah berpikir untuk mengakhiri hidup?”
“Hah?! Jangan bunuh diri dulu lah dek.. kamu belum nikah..”
“Apa enaknya menikah?”
“Untuk lebih jelasnya kakak juga belum tahu, tapi paling tidak kita punya teman untuk berbagi segala hal dengan kita..”
“Apa hanya sebatas itu gunanya?”
“Entahlah.. mungkin untuk pemenuhan kebutuhan biologis manusia..”
“Dangkal sekali..”
“Tapi itu juga tidak bisa dipungkiri dek.. fitrah makhluk hidup..”
“Lalu untuk apa menikah jika harus dengan orang yang tidak kita pilih?”
“Kamu dijodohkan dek?”
Wajah Dian datar, tanpa menjawab lagi-lagi Dian meninggalkan Tian dengan tanda tanya, masuk ke kamarnya, mengunci lalu tak terdengar apa-apa lagi.

*

Hari masih pagi, Dian sudah bolak-balik di kamar kost-nya mencari barang-barang yang belum sempat ia persiapkan sejak shubuh lantaran telat bangun pagi.
“Howaa… bisa terlambat ini, sudah setengah tujuh..” ujarnya setengah berteriak.
“Kenapa dek?” tanya Tian yang ternyata sudah muncul di depan pintu kamarnya.
“Telat kaaak.. bisnya pasti sudah berangkaaaat…” jelas Dian masih sementara memasang kaos kaki sembari menggigit roti tawar selai cokelat.
“Ya sudah, kamu ikut saya saja naik motor.. Kantor kamu di Plant juga kan?”
“Iya… oke!” tanpa pikir panjang Dian mulai santai mengunyah rotinya, sedikit tenang sembari memeriksa barang-barang yang akan ia bawa.
“Kakak kok mau kerjanya jauh-jauh?” tanya Dian setelah posisinya sudah nyaman di atas sadel motor di belakang Tian.
Salary di sini ‘kan lumayan besar dek… Lumayanlah buat bantu-bantu orang tua juga untuk sekolah adek-adek di Makassar, dan lagi transportasi pulang ke rumah juga tidak susah, tiap hari ‘kan ada. Kalo kamu?” agak ragu Tian bertanya.
“Ooh.. mm.. di Makassar bosan saja, lagian fresh graduate gini… mau cari pengalaman dulu lah, meskipun cuma magang..”
“Ohh.. kiranya kamu menghindari seseorang di Makassar.. hehehehe..”
“Yaaa.. itu juga sih.. hahahahaha”
Tiba-tiba mesin motor butut itu berhenti berbunyi. “Yah.. motornya mogok dek…. Kita dorong ke sana dulu ya..” tunjuk Tian pada sebuah bengkel di dekat lapangan.
“Kamu gimana mau naik ojek saja ke kantornya atau mau tunggu motorku bisa jalan? Soalnya di sini tidak ada angkot dan taksi” tanya Tian.
“Tunggu sajalah.. tidak lama kan kak?”
“Mudah-mudahan tidak..”
“Oke.. saya menunggu” jawab Dian dan kembali diam dengan banyak hal di kepalanya.
“Anak yang aneh..” gumam Tian berbisik.

Sabtu, 30 April 2011

Book #1 : De Journal

Ini kali pertama saya mau buat resensi buku yang pernah saya baca, dengan gaya saya sendiri tentunya. Sebelumnya sih pernah, tapi cuma lantaran tugas dari guru Bahasa Indonesia di Kelas XII, so it's about 6 or 7 years ago. Setelahnya juga pernah, tapi baru sampai niat... belum direalisasikan. Dan kali ini, saya membuat resensi tidak seperti yang direferensikan oleh guru Bahasa Indonesia saya kala itu *maap ya bu* yang mesti sesuai EYD yang kadang saya juga masih bingung. Well, back to the topic.

De Journal, sebuah novel yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi si Tya seorang mahasiswa S2 yang punya keinginan untuk backpacking ke tempat-tempat indah di negara kita tercinta, Indonesia. Keinginan backpacking memang tampaknya sih biasa saja, yang special adalah backpacking-annya sendirian dan hanya ditemani Tizi, motor Trail miliknya. Amazing, mengingat dia seorang perempuan... as background dia memang mantan juara nasional pencak silat dan sudah sangat aktif di bidang 'kelaki-lakian' sejak SMA dan sangat cinta akan lingkungan sehingga menjadi anggota pecinta alam di kampusnya. Itu sedikit tentang si backpacker. 


Perjalanan di mulai dengan terbang ke Denpasar bersama Tizi *nama motor Trail-nya* dan memulai perjalanannya di sana bersama motor Trail dengan track yang waoww.. Denpasar - Lombok - Sumbawa - Labuhan Bajo - Kep. Komodo - Flores dan akhirnya Kupang. Dari Kupang memulangkan motor Trailnya ke Bandung sedangkan Tya melanjutkan perjalanannya ke Bali sendiri. Kembali ke Bandung untuk charging  selama seminggu dan memulai perjalanan baru ke barat Indonesia. Perjalanan 3 hari 3 malam ke Medan kali ini dengan angkutan umum (bis antar provinsi) - Bukit Lawang - Danau Toba dan P. Samosir - P. Nias - Bukit Tinggi - Harau - Padang - Mentawai - Padang - Medan dan akhirnya naik kapal PELNI ke Malaysia.

Kalo sampul belakangnya sih bilangnya,  'PS : Novel ini adalah kisahku selama lima belas tahun on and off ber-backpacking solo di Indonesia dan 30 negara lainnya'. Tapi isinya ternyata hanya pengalaman si Tya di Indonesia saja. Merasa dibohongi sama si sampul sih tidak juga, tapi kecewa pasti ada.

But, anyway... Banyak hal yang bisa dipelajari dari novel ini, tentu saja dari kacamata saya yang sangat tidak mengenal negara sendiri. Ternyata Indonesia dengan wilayah yang begitu luas, memiliki kekayaan alam yang begitu luar biasa, keragaman budaya yang patut untuk dipertahankan tetapi sangat kontras dengan moral sebagian yang lain yang sangat perlu untuk dipertanyakan. Bertemu banyak orang, banyak budaya, banyak bahasa, banyak pandangan dan banyak karakter yang tentulah tidak pernah sama, banyak kondisi yang selalu menuntut untuk menjadi seseorang yang fleksibel, menghargai orang lain, 'don't judge book by its cover'. Dan yang terpenting adalah banyaknya data dan makna istilah yang diberikan oleh penulis agar pembaca awam bisa memahami. Kalo ini fiksi, mungkin namanya jadi sience fiction tapi berhubung based on true story saya jadi tidak tau istilahnya apa.. hehehe.

Tidak hanya itu banyak hal dari penulis yang terkadang membawa pembaca kemudian berpikir dan mencoba memandang satu masalah dari sisi yang lain. Gaya cerita yang sangat natural juga imajinasi yang cukup 'melanglang buana' menjadi bumbu yang seru dalam novel ini. In the end, i'd give one word to the writer... COOL!

Semoga bisa menjadi inspirasi untuk yang lain.. untuk backpacking dan juga mencintai alam serta melestarikannya semampu kita. LET'S SAVE THE EARTH.

Selasa, 26 April 2011

Seseorang

Tahukah kamu, ada seseorang yang menantimu di luar sana
Seseorang yang selalu mengintip profil facebook-mu setiap ia log-in
Seseorang yang diam-diam men-save-as-image setiap profile picture-mu yang ia senangi
Seseorang yang menunggu sapaanmu di setiap ia mengupdate statusnya
Seseorang yang selalu menunggu akun YM-mu muncul dengan kata 'online'
Seseorang yang selalu menjadi pendengar baikmu di setiap cerita indah dan sedihmu
Seseorang yang selalu bingung ketika kau menanyakan pnedapatnya tentangmu
Seseorang yang selalu berkata dalam hati bahwa 'kau memang yang kucari'
Seseorang yang telah kau kenali sejak kau mengenal teman
Seseorang yang menunggumu lewat di depan rumahnya
Seseorang yang entah sampai kapan akan menunggu hatimu untuknya
Seseorang itu adalah temanku yang juga sahabat baikmu.

Kamis, 21 April 2011

'MAAG'hlasnya Kalo Begini

04.56 AM. Aku terbangun dari tidurku dengan perasaan yang aneh pada perutku. Mencoba tidur kembali dengan membalikkan badanku ke sebelah kiri, mungkin akan membuatku sedikit enakan. Dunia seolah terguncang gempa, paling tidak duniaku saat ini. Pusing. Itu yang kurasa. ‘aaargh… sepertinya aku akan sulit tidur lagi kalo begini’ gumamku.

Pikirkupun melayang, aku pernah merasa seperti ini beberapa minggu lalu.  Kala itu aku berenang sejak jam 8 sampai 10 pagi tanpa sarapan. Dan baru sarapan di Pukul 11 *ini namanya brunch*. Aku anak yang terbiasa sarapan jam 6 pagi sejak duduk di bangku SD. Sarapan di jam 11 dengan menu Coto Makassar yang cukup pedas. What a beautiful world, pas lagi lapar-laparnya, pas ada makanan favorit, bisa diterka tujuan selanjutnya pasti tempat tidur, pas lagi ngantuk-ngantuknya lantaran kecapekan berenang. Karena sarapan yang sangat terlambat itulah, aku harus menanggung rasa kenyang hingga sore hari dan baru makan di malam harinya. Akibatnya? Tentulah aku masih baik-baik saja hari itu, tapi keesokannya… bangun dari tempat tidur di shubuh hari kusugesti diriku baik-baik saja. Dan aku baik-baik saja. Setelah mengambil air wudhu, aku berniat sholat… tapi, aku toh roboh pada sujud pertama kala itu. Dunia seolah berputar mengelilingiku, entah sejak kapan pusat rotasi Bumi berganti menjadi aku dan aku roboh ke kiri. Tidak hanya itu, mual melanda dan sangat kontras dengan kondisi perutku yang kelaparan. Akhirnya aku tak bisa ke kampus hingga 3 hari setelahnya.

Alur cerita di kepalaku tak sampai disitu. Wisuda selalu menjadi hari yang ditunggu untuk para sarjana yang baru saja yudisium. Pada hari yang ceritanya kami ‘bahagia’ itu, kami harus duduk manis menunggu proses seremonial di Baruga AP Pettarani Universitas Hasanuddin sejak jam 8 pagi hingga jam 12 siang lewat. Tidak sampai di situ, setelahnya ada lagi seremonial tingkat jurusan hingga jam 2 siang. Setelahnya barulah kami yang katanya sedang ‘bahagia’ itu bisa makan bersama orang tua dan bapak-ibu dosen kami. Setelahnya aku dan kedua orang tuaku ingin mengabadikan hari itu dengan berfoto studio ala wisudawati. Tahu ‘kan betapa ramainya foto studio di hari yang katanya kami ber’bahagia’ itu. Mengantrinya saja sampai 2 jam, dan berpose selama tidak lebih dari 15 menit cukup membuat Ayahku dongkol. Hehe. Saking ‘bahagia’nya aku sampai lupa untuk makan malam, sampai rumah aku menumpahkan ke’bahagia’anku di kamar dengan tidur sepuasnya. Bisa diterka, aku bangun dengan keadaan yang sama, pusing ketika badanku kubalikkan ke sebelah kiri. Anehnya, kenapa harus sebelah kiri?

Dan pikiranku kini melayang tentang penyebab kenapa aku bisa merasakannya lagi di shubuh buta ini. Kemarin, aku makan 3x sehari kok. Pagi sarapan nasi – telur dadar buatan tanteku di rumah. Siang makan ala catering kantor dengan menu nasi-sayur-ikan-sambal. Malam aku makan nasi-ikan-sayur-sambal ala masakan rumah, tidak ada yang aneh karena semua kujalani tepat waktu, di waktu aku lapar. Belakangan ini memang aku sering kelaparan di sore hari, kemarin sepulang kantor kusempatkan singgah di pusat elektronik dekat kantor untuk mencari softcase notebook. Sampai ke rumah sebelum adzan maghrib dan sangat lapar. Berhubung belum merasa nyaman untuk makan malam sebab belum masuk waktu sholat maghrib, kuputuskan untuk ngemil Apel dan pula katanya memakan buah sejam sebelum makan itu lebih baik daripada setelah makan, kalo mau makan buah setelah makan bagusnya 2 jam setelahnya. Jangan tanya padaku alasannya kenapa, aku sudah lupa. Serunya, tanteku baru saja selesai menumis sambal yang katanya cukup pedas. Iseng saja kucomot apel dan mencocol dengan sambal tumis. “Apel kan biasa juga dibuat rujak, rujak kan enaknya dimakan pedas-pedas” apologiku asal saja menjawab keheranan tanteku yang seumur denganku itu. ‘Aaarrrgghh… sepertinya gara-gara itu’ kurasai perutku mulai mual. Sudah waktunya sholat shubuh, kepalaku masih pening. Kusugesti diriku untuk bangun mengambil air wudhu. Aku jalan dari WC ke kamar sempoyongan, mencoba untuk sholat. Sujud pertama aku bertahan, aku yakin sampai sujud ke-empat pun aku sanggup. Dan… sujud ke-dua akupun roboh lagi, dan lagi-lagi ke kiri.

Pesan moral :
1.       Jangan berenang di pagi hari tanpa sarapan, tak mengapa makan Coto Makassar sebagai sarapan kalaupun itu harus terjadi, yang penting tidak terlalu pedas.
2.       Siapkan fisik dan makanan semisal roti pada saat Wisuda, mengingat tidak adanya konsumsi yang bisa diandalkan saat hari mem’bahagia’kan (read:melelahkan) itu datang.
3.       Jangan makan apel dengan sambal tumis super pedas pada saat kelaparan.

Pertanyaaan :
Ini ditujukan untuk kalian para dokter di luar sana yang mungkin secara tidak sengaja membaca blogku kali ini, atau mungkin dengan sengaja, atau diajak temannya supaya sengaja, atau menyengajakan diri, terserah sajalah. Dok, kenapa yah saya pusingnya hanya ke sebelah kiri saja?