Senin, 31 Januari 2011

Rasa ; Air (part 2)


Setelah kurampungkan menulis kekecewaanku pada blog karena tak jadi berenang, mengingat usahaku hingga harus menyusahkan ibu hanya untuk membeli topi renang, serta rasa rinduku pada air berbau kaporit yang harus kuhilangkan, kuputuskan untuk begadang malam ini. Kubuka akun facebook-ku, kuaktifkan aplikasi chat-nya. 

Berbincang dengan beberapa teman mungkin lebih menyenangkan dan mampu melupakan rasa kecewaku. Toh, akupun tak harus bangun pagi esok… aku bisa tidur hingga siang, sore akan kuhabiskan hingga pagi keesokannya di PMS, kegiatan tahunan kampus untuk mahasiswa baru. 


Si shiro berbunyi lagi, kulirik jam analog di sudut kanan bawah monitorku, 1:05 AM. Siapa yang sms jam segini? Dari Yuni lagi, teringat bunyi sms-nya beberapa jam yang lalu. Tapi kali ini isinya lain, membawaku membayangkan bau kaporit air kolam lagi.. “Aslm..dd,tdrmi?sy miqr,kl bsk qt ttp renang aj,gmn?mw skalika,hhe..it jg kl kw mw sih :-D”. Tiba-tiba aku tersenyum tanpa otakku memerintah, mungkin tanpa kusadari. Kubalas secepat yang kumampu “Wlkms.. Belump syg.. hihhihihi.. Sy sih okeoke sj.. :D tp dak twka t4x yun.. Cey jg kekx mw tuh…”

Entah bagaimana caranya, kupaksa diriku untuk tidur setelah lelah ber-chatting dengan beberapa teman, hampir pukul 2 pagi, aku terlelap. Aku berenang dalam mimpi.





NB : masih berantakan.. :D

Sabtu, 29 Januari 2011

Rasa ; Air

Entah sejak kapan aku menyadari ini, mungkin sejak aku pertama kali mempelajarinya. Ini bukan tentang air, bukan. Tapi ini tak dapat dilakukan tanpa air… aku suka berenang sejak pertama kali aku mempelajarinya. Jika aku ditanya olahraga yang paling kusukai sejak dulu, aku selalu menjawab “berenang dan basket!” meski mereka memaksa jawabannya hanya boleh satu, kuanggap saja mereka *berenang dan basket* adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Meskipun untuk keduanya aku sangat jauh dari kategori ‘jago’, tapi aku suka kau mau apa.




Aku belajar berenang sejak masih di bangku SMP kelas satu seingatku. Dalam masa belajar, setiap minggu pagi atau sore tanteku *adik bungsu ibuku* selalu mengajakku ke kolam renang salah satu hotel sesuai keinginannya. Setelah tahap belajar selesai, itu artinya aku sudah bisa, intensitas mengunjungi kolam renang kamipun berkurang menjadi dua minggu sekali. Tapi, satu hal yang kuingat dan selalu kurasa hingga kini… Aku selalu merasa sangat senang ketika aku tahu aku akan berenang! Rasa yang selalu sulit untuk kuungkap. Bau kaporit kolam renang tiba-tiba muncul, air berlimpah berwarna biru tiba-tiba hadir dalam otakku, perasaan ringan mengapung sembari bergerak selalu mampu membahagiakan hatiku. Seperti saat ini, aku bahagia ketika tahu besok aku akan berenang!



Tadi siang, di mushalla kampus seorang teman tiba-tiba menegaskan rencana berenangnya, dengan wajah sumringah kukatakan aku ingin ikut, dengan rasa yang selalu sama ketika mengingat kolam renang. Teman yang lain sibuk menanyakan kostum apa yang akan kami gunakan esok mengingat ia mengenakan jilbab dan kolam renang yang akan kami kunjungi bukan khusus untuk wanita, hanya saja pada sabtu pagi biasanya cukup sepi. Sementara aku dengan sibuk memikirkan tutup kepalaku. Aku tak suka dengan tutup kepala yang ada pada swimpack-ku, itu membuatku tak nyaman, kata adik sepupuku itu baju penguin. Baju renang khusus bagi perempuan berjilbab katanya. Aku sudah menyusun rencana, sepulang dari kampus, aku akan singgah ke rumah bapak pembimbing untuk asistensi jurnal, setelahnya singgah ke toko perlengkapan olah raga untuk mencari topi renang.

Kuparkir motorku dengan sedikit terburu, tak kusangka… tokonya tak menjual yang kucari. Pramuniaganya menyarankanku mengunjungi mal terdekat, ‘huuuft… no thank’s! I wanna go home right now..’ Sesampai di rumah kudapati ibuku sedang berbaring di kamarnya, ia baru saja selesai mandi sore. Belakangan ini kakinya sering sakit, kata dokter ada pergeseran tulang pada pinggulnya yang kemudian menghimpit syaraf-syaraf pada tungkai paha dan betis kirinya. Alhasil, beliau harus kontrol  di rumah sakit syaraf tiap dua minggu sekali. Well, cukup tentang ibuku. Kuajak ia jalan-jalan ke mal sore ini, awalnya dia berpikir untuk dibonceng olehku, tapi kutolak menurutku kakinya takkan mampu bertahan cukup lama di atas motor. Kamipun memutuskan naik angkot alias angkutan kota a.k.a pete-pete ke Mal Ratu Indah.

Sesampai di Mal, kuajak ibuku memasuki department store terbesar di Mal tersebut untuk mencari kebutuhannya. Setelah berkeliling kurang lebih satu jam, akhirnya ibu memilih sepasang sandal dan sepasang sepatu untuknya. Kuminta uang untuk membayarkan belanjaanya pada kasir. Si mas kasir menghitung belanjaan ibu, ia memberikan kembalian dengan sepotong kertas bertuliskan voucher. “Untuk pembelanjaan di atas 150ribu berhadiah voucher sebesar 50ribu, tetapi hanya berlaku untuk barang bertanda segitiga biru dan untuk pembelanjaan di atas 100ribu kak, oia.. vouchernya hanya berlaku untuk hari ini yah Kak.. Terima kasih..” sambil tersenyum si mas voucher, maksud saya mas kasir menyerahkan struk dan kertas voucher di atas baki kayu kecil padaku.

Ibu menawarkan membelanjakan voucher untukku, kami ke tempat sepatu wanita mencari sepatu yang pantas kukenakan untuk ke pesta sayangnya tak ada yang menarik menurutku. Tempat pakaian wanita akhirnya menjadi sasaran berikutnya, kenapa semua size baju tiba-tiba terasa sangat besar?! Tidak adakah XS untukku?! Sempat terpikir membawanya ke tempat permak baju kelak, tapi kuingat masih ada antrian baju belum dipermak di rumah. Kami ke lantai 1 mencari jaket jumper  yang tiba-tiba kuinginkan. HIJAU ini bagus juga, tapi tiba-tiba aku merasa aneh mengenakannya. Tak disadari ternyata sudah pukul 21.33, ibu juga sudah mulai mengeluhkan kakinya lagi. Kuminta ibu duduk di bangku di depan fitting room di belakang kasir, menungguku saja di sana sembari aku mencari kebutuhan utamaku, topi renang.

Setengah berlari aku keluar dari department store menuju ke toko perlengkapan olah raga di depan hall  Mal tersebut. Nihil, mas pramuniaganya menyarankan aku ke mal dekat rumah lagi… ‘kyaaaa… saya kan mo berenangnya besok pagi mas….’ Seruku dalam hati. Sudahlah, kuputuskan untuk membeli topi renang yang dijual di department store tadi saja. “Ini ada dua jenis kak.. yang ini silicon dan yang ini kain” jelas si mbak pramuniaga. Tanpa berpikir panjang, kuambil yang kain berwarna hitam, mengingat topi renangku dulu yang berbahan silicon robek lantaran saking semangatku mengenakannya. Kuraih notanya, dan masih sempat keliling-keliling sebentar melihat barang yang kira-kira bisa kuambil untuk memanfaatkan sepotong voucher dalam kantongku. Nihil. Kulirik casio putih di tangan kiriku, 21.47 kupercepat jalan ke kasir untuk membayar. Turun ke lantai satu, ternyata ibu sudah menunggu di depan eskalator. Ibu masih mengajak untuk memilih sesuatu untukku, tapi kuajak saja ia pulang… mengingat kakinya pasti sakit sesampai di rumah jika kami lebih lama di sini.

Sampai di rumah, kami puas dengan belanjaan masing-masing. Ibu dengan sandal dan sepatunya sedang aku dengan topi renangku. Kucoba, dan pas.. aku puas. Kupersiapkan semua barang yang akan kukenakan esok, baju renang, kacamata, topi, semuanya kukeluarkan dari lemari pakaianku. Setelah hampir setahun tak kukenakan, bau air tiba-tiba merasuk ke dalam otakku, senang itu selalu begitu, ia datang… karena aku akan berenang! Aku senang…



Tiba-tiba ‘shiro’ si henpon putihku berbunyi ‘sms siapa yah…’ kuraih shiro, kubuka kuncinya…’oh.. Yuni’ bunyinya… “Aslm..kt ***l nd jd renang bsk bd’,mgu dpnpi lg L”
Rasaku, rasa yang selalu kurindukan itu tiba-tiba hilang, berganti kecewa yang tak terkira.

NB : Rindu menulis yang berakibat berantakan...