Senin, 28 Februari 2011

Konspirasi *timelineyangberlebihan

Kamis, 24 Februari 2011. Suatu siang saat cuaca Makassar sedang labil-labilnya, aku dan teman baikku tengah berbincang di teras pondokan teman kami yang lain. Bahasan awalnya adalah hubungannya dengan kekasihnya yang kemudian merembes masalah pernikahan. Mungkin itu salah satu sindrom yang tiba-tiba menyerang kami, para perempuan sarjana baru yang tak jarang selalu disodor pertanyaan “Kapan saya terima undangannya?” taulah.. undangan yang dimaksud tentu bukan undangan main domino, undangan ulang tahun atau undangan arisan. Undangan pernikahan tentulah maksudnya. Pembicaraan dimulai dengan rencana usia pernikahan yang menurutnya cukup wajar di usianya saat ini, 23 tahun. Tapi tidak bagiku, seorang pemimpi yang punya banyak hal yang ingin diwujudkan sebelum berani mengambil keputusan besar yang cukup berat menurutku, menikah.

Kesimpulan teman baikku siang itu ‘kalaupun kita harus menikah dengan orang yang dijodohkan dengan kita, kita pasti akan mampu melaluinya’ hal tersebut berdasar atas pengamatannya pada sepupunya di kampung yang dinikahkan pada usia belasan dengan paman jauh yang lebih tua 10 tahun dan hampir setiap hari ditemuinya sejak kecil. Tapi hanya  kubalas ‘saya tidak akan sanggup hidup selamanya dengan seseorang yang belum kukenali sebelumnya, marriage is a relationship for ever after, right?’. ‘Waktu akan membuat kita merasa terbiasa de… dan terus belajar serta mencoba memahami tentag seseorang dan siapapun dia’ jelasnya. Baiklah kuanggap saja itu pandangan bijak dari seorang perempuan penurut, dan tidak bagiku. Seorang anak perempuan yang cuek, manja, moody, serta sedikit berantakan dalam menjalani hidup. Pembahasan pun berakhir disitu, dengan kesimpulan ‘perjodohan dari pihak orangtua mungkin saja tidak seburuk bayanganku, asalkan si objek mau membuka diri, hati serta pikirannya untuk mencoba memahami orang lain’ tapi mungkin bisa lebih singkat dengan ‘menjalani hidupnya dengan ikhlas’.

Jumat, 25 Februari 2011. Cuaca yang masih tetap tak jelas, di kamar dengan seperangkat alat online di meja tiba-tiba aku teringat diskusiku dengan teman baikku siang kemarin. Lalu kulempar pertanyaan di akun Twitter-ku “Sepakat dengan perjodohan oleh orang tua?” beberapa jawaban mulai kuterima di tab mentions-ku.
#1 setuju-setuju saja, yang penting orangnya baik
#2 tergantung orang yang akan dijodohkan
#3 sepakat, asalkan anaknya cakep, baik dan tajir
#4 dengan siapa mau kau jodohkan orang tuamu? à tdak mengerti dengan pertanyaannya kakak.. -_-“
#5 sepakat, karena orang tua selalu tau yang terbaik untuk anaknya



Hmmh.. dari jawaban-jawaban yang kuterima sepertinya mereka sejenis dengan sepupu teman baikku. Alasannya simple, karena waktu selalu mendewasakan kita dan mengajarkan kita tentang makna belajar memahami orang lain. Tapi kucoba bertanya pada diriku sendiri lagi…
#1 Lalu bagaimana cara mengetahui dia orang baik atau tidak? Sejauh mana kita membuat parameter untuk orang baik? Tapi kan tidak langsung menikah.. ada tahap pengenalan untuk pribadi masing-masing.. Tapi kalau misalnya pribadinya baik tapi tidak ada chemistry? Sepenting itukah chemistry? C’mon.. this is life, not a fairy tale..
#2 Well.. solusinya mungkin mencoba mengenal mereka terlebih dahulu, kalo cocok dilanjutkan kalo tidak ya dilupakan.. Tapi bagaimana jika itu menjadi sebuah keharusan? Mungkin lebih baik mencoba untuk saling memahami sampai mereka benar-benar cocok.. “heh?! Hidup ini apakah sesimpel lego atau serumit labirin?” ‘Seperti lego atau labirin, toh itu tetap pilihan’
#3  Cakep, baik dan tajir? Apa hanya sebatas itu parameter bahagiamu teman? Entahlah, setiap orang mungkin punya standardisasi yang berbeda-beda, tergantung kebutuhan setiap manusia. Tapi, terlalu fisik menurut saya.. Toh, hidup ini juga tak seindah dongeng dan tak serumit sinetron Cinta Fi*ri yang deritanya tiada akhir.
#4 hehhehe…
#5 hmmh.. tapi orang tua tak selalu tau apa yang dirasakan oleh anaknya kan? Toh yang akan menjalani ‘kan anaknya… Bukan orangtuanya.

Setelah berbincang banyak dengan diri sendiri, akhirnya kuputuskan untuk membuat kesimpulan sendiri, yang tentu saja kuketik sendiri, terang saja..ini kan blog saya sendiri. Perjodohan oleh orang tua selalu dimulai dengan konspirasi pihak keluarga dengan tujuan yang baik dari kacamata mereka. Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang cukup mempengaruhi… Ketika kondisi kedua pihak tidak punya pacar, mungkin mudah saja.. Cukup memulai dengan saling membuka diri untuk mengenal satu sama lain, kalau merasa cocok bisa dilanjutkan dan jika tidak mungkin bisa diusahakan, intinya mau membuka diri. Toh, waktupun akan mengajarkan setiap anak Adam untuk belajar memahami kondisi, bagi yang ingin belajar. Bagi yang ingin lari dari kenyataan, ya lain lagi ceritanya.


Lalu untuk kondisi yang lain ketika si anak sudah punya pacar? Arti penting sebuah komunikasi kemudian terbukti. Bukankah mendiskusikan dengan orangtua akan jauh lebih baik dibanding berontak? Orangtua mungkin akan memulai dengan membandingkan seseorang dengan orang yang lain, tetapi itu kan dari kacamata mereka. Kalaupun misalnya pilihan orangtua memang lebih baik, tapi mungkin tidak cukup nyaman untukmu yang akan menjalaninya, ceritakan saja ketdaknyamananmu.. Dan jangan lupa berdoa, semoga orang tuamu cukup demokratis dalam mengambil keputusan tentang hidupmu. Tapi, ketika semuanya memang benar-benar harus terjadi… Mungkin satu kata terakhir bisa menjadi penyemangatmu… Ikhlas.
Untuk semua orang yang dijodohkan di luar sana, semoga orang-orang terpilihmu memang yang terbaik untukmu, meski sebagian orang kemudian menganggap ternyata jodohmu di tangan manusia. Dan untuk yang belum berusaha, time will tell.  Have a great life all