Minggu, 27 Maret 2011

Metamorfosaku Dalam Kita

23 Maret 2011 mungkin adalah hari yang cukup berarti untuk 26 dari kita (C’05). Dan aku adalah 1 dari 26 itu. Hari itu seakan seluruh dunia perkuliahan mengucap selamat tinggal dan selamat berjuang untuk kita. Mulai dari kampus, organisasi kemahasiswaan, para dosen, tugas besar serta lab-lab yang sempat memusingkan itu, sampai para junior yang juga ikut mendoakan. Hmm.. yah, it comes to an end. Tiba-tiba saja semua fase-fase sejak awal masuk hingga menjadi bagian dari keluarga besar kampus UNIVERSITAS HASANUDDDIN, FAKULTAS TEKNIK,  JURUSAN SIPIL, SENAT MAHASISWA FAKULTAS TEKNIK, HIMPUNAN MAHASISWA SIPIL dan WORLDWIDE LANGUAGE COMMUNITY OF ENGINEERING 09 bergantian memenuhi ruang pikirku. Tapi tak lepas dari kita, tentu saja.


2005. Kita semua masih saling mencoba mengenal satu sama lain. Masih sama-sama berjuang dalam intimidasi dari mereka para senior, masih bersama-sama mencoba mengejar akademik meskipun hasilnya selalu beraneka ragam, terkadang tergantung dari keberuntungan, kerajinan, ketekunan dan... posisi saat final. Hehehe.. bukankah ‘posisi menentukan nilai’ hampir selalu menjadi tagline kita? POZMA (Program Orientasi dan Sosialisasi Mahasiswa Almamater) 2005, hanya satu kata yang mampu kutulis untuk kegiatan itu, AMAZING! Marah, capek, dongkol, semua jadi satu... Tapi, selalu menjadi cerita yang sangat mengesankan untuk kami para peserta yang akhirnya selalu menyadari bahwa kisah itu menjadi kenangan termanis kami. “Tundukko cilaka! Dagu rapat dada! Jelalatan matanya kanda! Cepatkooo! Kumpulko di Lapangan Merah! TEKNIK!!!”. Menjadi peserta BOS (Bina Orientasi dan Sosialisasi) 2005, masih ingat betapa bersejarahnyaCE 103 di Minggu siang itu? Ruangan berlantai ubin itu menjadi saksi betapa konyolnya kita kala itu. Serba salah, selalu posisi itu yang menghampiri kita. Pengumpulan selalu manjadi kata paling menyebalkan, ‘aaarrgh.... ingin rasanya kata itu dihilangkan saja dalam kamus besar Bahasa Indonesia’ tapi jangan harap kata itu hilang dari kamus para senior, sebab pastilah seniormu juga akan mencari kata yang lain sebagai gantinya, seniormu kan kreatif! Menjadi panitia Inaugurasi 2005 terkadang mengharuskan kita bekerja siang dan malam untuk mencari dana. Siang jual kue di kampus, malam bikin bazar di Pantai Losari. Dan untuk para gundul, siang sebar proposal malam kerja spanduk. Tapi mudah-mudahan tidak ada yang menyalahkan kegiatan untuk anjloknya nilai akademiknya, toh semuanya ‘kan pilihan.

2006. Sebagai peserta PMS (Pembinaan Mahasiswa Sipil) XX tidak selalu menyebalkan sebenarnya, hanya saja selalu mengantukkan*kata yang aneh*. Baru kali itu kita menyadari, betapa berharganya balsem dalam kegiatan itu, hahahahah... Tapi, pesan moral yang dapat ditarik adalah... jangan sekali-sekali mengoles terlalu banyak balsem di sekitar matamu, sebab bukan hanya rasa kantukmu yang hilang, tetapi juga ditambah dengan rasa ingin menangis. Dan saat itu kau tak mungkin menyalahkan siapa-siapa, apalagi seniormu!  “Pak..pak..pak...” tiba-tiba saja rumah adat beratapkan seng yang digunakan sebagai dapur panitia RAKER HMS FT-UH periode 2006-2007 diserang hujan batu di Pukul 03.00 shubuh lantaran panitianya ketiduran... hahahaha. Di tahun ini kita mulai melancarkan eksistensi baik di depan senior maupun junior baru, jadi trainer untuk angkatan 2006 di BOS 2006 juga cukup mengesankan untuk kita, membuat kita belajar bagaimana menjadi senior yang baik... meski sampai akhirnyapun tidak semua orang menganggap kita sudah sampai di sana. Tapi tak mengapa, at least we’ve done our best.



2007. Konsekwensi dari pilihan-pilihan kita mulai terlihat jelas. Ada yang memilih mengurusi akademik saja, organisasi saja, adapula yang memilih keduanya tetapi ketika harus memilih di saat yang bersamaan selalu memilih mengurusi akademiknya, adapula yang sibuk berorganisasi di luar, dan ada juga yang tidak memilih keduanya dan memilih bergaul di luar kampus. Tapi tak mengapa, toh kita tetap sama.. kita masih orang-orang yang sama yang ketika berkumpul masih akan membahas hal yang sama, tentang bagaimana kita dalam lingkup kita. Beraneka macam warna bermunculan, clash mulai datang, riak pergerakan mulai mebesar... tapi, kita tetaplah kita dan masih sama.

2008. Menjadi pengurus himpunan cukup sering membuat kita berkata “mauko masuk kuliah? Titip absen dule..”. Ruangan beralaskan karpet merah itu selalu menjadi zona nyaman kita dari kegiatan akademik. Dengan berapologi segala macam kita selalu memilih untuk tetap berada di dalamnya daripada memilih untuk ke jurusan. Bahkan tak jarang, kita ke kampus setiap hari tapi tak menginjak koridor jurusan selama seminggu. Tapi kita tahu, kita semua tengah belajar, belajar untuk memilih yang terbaik, belajar untuk melaksanakan pilihan kita serta belajar untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita laksanakan, konsekwensi. Toh kita masih tetap kita, beranekaragam warna dalam satu kotak berlabelkan C’05. Dan begitupun aku yang secara pribadi juga harus belajar untuk mempertanggungjawabkan pilihanku pada WELCOME 09 SMFT-UH.


 

 


2009. Kembali menjadi rakyat jelata terkadang membuat kita lupa, bahwa kini sudah saatnya kita untuk masuk kuliah dengan rajin, mengerjakan tugas-tugas besar kita yang telah batal di tahun sebelumnya, mendaftar sebagai praktikan di laboratorium yang telah batal di tahun sebelumnya. Sindrom zona nyaman masih mengikuti meski tak butuh waktu terlalu lama. Kita mulai bangkit sebagai akademisi lagi, kegiatan organisasi sudah tidak begitu menyibukkan lagi, sebab kalaupun ada, kita hanya sebagai undangan, bukan panitia apalagi peserta. Di tahun ini, 2 dari kita sudah menyelesaikan studinya lebih dulu. Tapi tak terlalu berpengaruh kala itu, hanya sedikit rasa bangga yang menyusup di ruang hati kecil kita serta mengiring mereka dengan doa.

2010. Di tahun selanjutnya kita harus merelakan 35 dari kita pergi karena telah menyelesaikan masa studi. Kenyataan itu kemudian seakan membangunkan kita dari hibernasi panjang dunia akademik, menyulut semangat kuliah kita, tugas besar kita, lab kita, tugas akhir kita.. kenyataan itu menyadarkan kita bahwa ternyata kita sudah cukup lama dan tidak punya waktu yang lebih lama lagi untuk menyelesaikan studi kita. Kita sibuk dengan urusan masing-masing, bahkan terkadang kita sulit bertemu dalam satu minggu meski kita berada di area yang sama, kampus. Gurauan, candaan, callaan sudah cukup sulit untuk ditemukan ketika kita bicara. Yang ada hanyalah pembahasan akademik yang cukup berbelit-belit.

23 Maret 2011. Aku dan 25 teman yang lain harus selesai hari ini. Tapi aku percaya masih ada kita di hati kita masing-masing. Kita masih akan membahas banyak hal yang telah kita lalui bersama selama lebih dari 5 tahun ini ketika kita semua bertemu nanti. Kita masih akan berguarau bersama, berdiskusi bersama, dan mengobrol hal yang tak penting bersama lagi. Nanti atau kapanpun itu, sebab aku yakin... kita masih sama.

I dedicated this writing to my  CIVIL 05 UH