Kamis, 21 April 2011

'MAAG'hlasnya Kalo Begini

04.56 AM. Aku terbangun dari tidurku dengan perasaan yang aneh pada perutku. Mencoba tidur kembali dengan membalikkan badanku ke sebelah kiri, mungkin akan membuatku sedikit enakan. Dunia seolah terguncang gempa, paling tidak duniaku saat ini. Pusing. Itu yang kurasa. ‘aaargh… sepertinya aku akan sulit tidur lagi kalo begini’ gumamku.

Pikirkupun melayang, aku pernah merasa seperti ini beberapa minggu lalu.  Kala itu aku berenang sejak jam 8 sampai 10 pagi tanpa sarapan. Dan baru sarapan di Pukul 11 *ini namanya brunch*. Aku anak yang terbiasa sarapan jam 6 pagi sejak duduk di bangku SD. Sarapan di jam 11 dengan menu Coto Makassar yang cukup pedas. What a beautiful world, pas lagi lapar-laparnya, pas ada makanan favorit, bisa diterka tujuan selanjutnya pasti tempat tidur, pas lagi ngantuk-ngantuknya lantaran kecapekan berenang. Karena sarapan yang sangat terlambat itulah, aku harus menanggung rasa kenyang hingga sore hari dan baru makan di malam harinya. Akibatnya? Tentulah aku masih baik-baik saja hari itu, tapi keesokannya… bangun dari tempat tidur di shubuh hari kusugesti diriku baik-baik saja. Dan aku baik-baik saja. Setelah mengambil air wudhu, aku berniat sholat… tapi, aku toh roboh pada sujud pertama kala itu. Dunia seolah berputar mengelilingiku, entah sejak kapan pusat rotasi Bumi berganti menjadi aku dan aku roboh ke kiri. Tidak hanya itu, mual melanda dan sangat kontras dengan kondisi perutku yang kelaparan. Akhirnya aku tak bisa ke kampus hingga 3 hari setelahnya.

Alur cerita di kepalaku tak sampai disitu. Wisuda selalu menjadi hari yang ditunggu untuk para sarjana yang baru saja yudisium. Pada hari yang ceritanya kami ‘bahagia’ itu, kami harus duduk manis menunggu proses seremonial di Baruga AP Pettarani Universitas Hasanuddin sejak jam 8 pagi hingga jam 12 siang lewat. Tidak sampai di situ, setelahnya ada lagi seremonial tingkat jurusan hingga jam 2 siang. Setelahnya barulah kami yang katanya sedang ‘bahagia’ itu bisa makan bersama orang tua dan bapak-ibu dosen kami. Setelahnya aku dan kedua orang tuaku ingin mengabadikan hari itu dengan berfoto studio ala wisudawati. Tahu ‘kan betapa ramainya foto studio di hari yang katanya kami ber’bahagia’ itu. Mengantrinya saja sampai 2 jam, dan berpose selama tidak lebih dari 15 menit cukup membuat Ayahku dongkol. Hehe. Saking ‘bahagia’nya aku sampai lupa untuk makan malam, sampai rumah aku menumpahkan ke’bahagia’anku di kamar dengan tidur sepuasnya. Bisa diterka, aku bangun dengan keadaan yang sama, pusing ketika badanku kubalikkan ke sebelah kiri. Anehnya, kenapa harus sebelah kiri?

Dan pikiranku kini melayang tentang penyebab kenapa aku bisa merasakannya lagi di shubuh buta ini. Kemarin, aku makan 3x sehari kok. Pagi sarapan nasi – telur dadar buatan tanteku di rumah. Siang makan ala catering kantor dengan menu nasi-sayur-ikan-sambal. Malam aku makan nasi-ikan-sayur-sambal ala masakan rumah, tidak ada yang aneh karena semua kujalani tepat waktu, di waktu aku lapar. Belakangan ini memang aku sering kelaparan di sore hari, kemarin sepulang kantor kusempatkan singgah di pusat elektronik dekat kantor untuk mencari softcase notebook. Sampai ke rumah sebelum adzan maghrib dan sangat lapar. Berhubung belum merasa nyaman untuk makan malam sebab belum masuk waktu sholat maghrib, kuputuskan untuk ngemil Apel dan pula katanya memakan buah sejam sebelum makan itu lebih baik daripada setelah makan, kalo mau makan buah setelah makan bagusnya 2 jam setelahnya. Jangan tanya padaku alasannya kenapa, aku sudah lupa. Serunya, tanteku baru saja selesai menumis sambal yang katanya cukup pedas. Iseng saja kucomot apel dan mencocol dengan sambal tumis. “Apel kan biasa juga dibuat rujak, rujak kan enaknya dimakan pedas-pedas” apologiku asal saja menjawab keheranan tanteku yang seumur denganku itu. ‘Aaarrrgghh… sepertinya gara-gara itu’ kurasai perutku mulai mual. Sudah waktunya sholat shubuh, kepalaku masih pening. Kusugesti diriku untuk bangun mengambil air wudhu. Aku jalan dari WC ke kamar sempoyongan, mencoba untuk sholat. Sujud pertama aku bertahan, aku yakin sampai sujud ke-empat pun aku sanggup. Dan… sujud ke-dua akupun roboh lagi, dan lagi-lagi ke kiri.

Pesan moral :
1.       Jangan berenang di pagi hari tanpa sarapan, tak mengapa makan Coto Makassar sebagai sarapan kalaupun itu harus terjadi, yang penting tidak terlalu pedas.
2.       Siapkan fisik dan makanan semisal roti pada saat Wisuda, mengingat tidak adanya konsumsi yang bisa diandalkan saat hari mem’bahagia’kan (read:melelahkan) itu datang.
3.       Jangan makan apel dengan sambal tumis super pedas pada saat kelaparan.

Pertanyaaan :
Ini ditujukan untuk kalian para dokter di luar sana yang mungkin secara tidak sengaja membaca blogku kali ini, atau mungkin dengan sengaja, atau diajak temannya supaya sengaja, atau menyengajakan diri, terserah sajalah. Dok, kenapa yah saya pusingnya hanya ke sebelah kiri saja?

1 komentar:

Unik Hanifah Salsabiila mengatakan...

ahahaaa..saia juga magh mbak..hiks...melilit bgt kalo' lagi kumattt...hehehe...^_=