Sabtu, 04 Juni 2011

Cerita dari Balkon #1


Langit Sorowako tergolong panas siang ini, suasana yang sangat mendukung di Hari Mencuci Nasional, Minggu. Seember cucian sudah siap dijemur oleh pemuda 25 tahun itu, mengingat statusnya sebagai anak kost yang sedang merantau di kampung orang menuntutnya untuk hidup hemat dan tak acuh pada usaha laundry di samping kost-annya.
“Di sini kuliah atau kerja?” tanya Tian sembari menjemur cuciannya di jemuran depan balkon.
“Kerja” senyum tersungging di wajah perempuan yang ditanya, Dian.
“Oh ya?! Saya pikir kamu masih SMA, hehehe..” dialek Tian yang khas daerah terdengar lucu.
“Wajar sih, tampang saya memang sedikit imut.. hehehe..” balas Dian mencoba melucu.
“Kerja di mana di sini?”
“Saya volunteer di HR Department, 3 bulan sih.. kalo kakak?”
“Ooh.. saya kontrak di Utilities Department selama setahun, baru jalan 4 bulan ini ”
“Di Utilities posisi apa?” tanya  Dian
Electrical Instrument Designer.. kamu asal dari mana aslinya?”
“Makassar..”
“Oh ya? Sama kalau begitu.. kenapa mau jauh-jauh dari Makassar untuk jadi volunteer?”
Dian hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaan Tian dengan sebait pun.  Tian hanya bisa pasrah, berpikir mungkin itu privasi perempuan kurus yang sedang sibuk menatap langit di hadapannya.
“Nama kakak siapa?” tanya Dian memecah keheningan.
“Tian.. kamu?”
“Dian..”

*


Dian masih di sana, di balkon depan kamarnya yang juga merupakan balkon kamar Tian. Balkon ini memang layaknya koridor panjang dengan pintu-pintu kamar kost yang berjejer. Merenung, hampir selalu begitu kegiatannya di malam hari setelah sholat maghrib. Sembari memandangi langit tenggara yang memerah. Bukan karena senja, tapi karena pantulan cahaya slag yang panasnya 1550⁰ C. Tempat itu adalah slag dump, tempat pembuangan sisa pengolahan proses panjang ore menjadi nikel. Begitu banyak hal yang dipikirkannya, tapi tak urung menemukan solusi dalam kepalanya. Selalu begitu. Setiap ada hal yang ia pikirkan, ia memilih untuk diam dan seolah tengah berbicara dengan langit.
“Jangan melamun dek… tidak baik” tegur Tian yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamarnya.
Dian hanya membalas dengan senyum “Kakak pernah berpikir untuk mengakhiri hidup?”
“Hah?! Jangan bunuh diri dulu lah dek.. kamu belum nikah..”
“Apa enaknya menikah?”
“Untuk lebih jelasnya kakak juga belum tahu, tapi paling tidak kita punya teman untuk berbagi segala hal dengan kita..”
“Apa hanya sebatas itu gunanya?”
“Entahlah.. mungkin untuk pemenuhan kebutuhan biologis manusia..”
“Dangkal sekali..”
“Tapi itu juga tidak bisa dipungkiri dek.. fitrah makhluk hidup..”
“Lalu untuk apa menikah jika harus dengan orang yang tidak kita pilih?”
“Kamu dijodohkan dek?”
Wajah Dian datar, tanpa menjawab lagi-lagi Dian meninggalkan Tian dengan tanda tanya, masuk ke kamarnya, mengunci lalu tak terdengar apa-apa lagi.

*

Hari masih pagi, Dian sudah bolak-balik di kamar kost-nya mencari barang-barang yang belum sempat ia persiapkan sejak shubuh lantaran telat bangun pagi.
“Howaa… bisa terlambat ini, sudah setengah tujuh..” ujarnya setengah berteriak.
“Kenapa dek?” tanya Tian yang ternyata sudah muncul di depan pintu kamarnya.
“Telat kaaak.. bisnya pasti sudah berangkaaaat…” jelas Dian masih sementara memasang kaos kaki sembari menggigit roti tawar selai cokelat.
“Ya sudah, kamu ikut saya saja naik motor.. Kantor kamu di Plant juga kan?”
“Iya… oke!” tanpa pikir panjang Dian mulai santai mengunyah rotinya, sedikit tenang sembari memeriksa barang-barang yang akan ia bawa.
“Kakak kok mau kerjanya jauh-jauh?” tanya Dian setelah posisinya sudah nyaman di atas sadel motor di belakang Tian.
Salary di sini ‘kan lumayan besar dek… Lumayanlah buat bantu-bantu orang tua juga untuk sekolah adek-adek di Makassar, dan lagi transportasi pulang ke rumah juga tidak susah, tiap hari ‘kan ada. Kalo kamu?” agak ragu Tian bertanya.
“Ooh.. mm.. di Makassar bosan saja, lagian fresh graduate gini… mau cari pengalaman dulu lah, meskipun cuma magang..”
“Ohh.. kiranya kamu menghindari seseorang di Makassar.. hehehehe..”
“Yaaa.. itu juga sih.. hahahahaha”
Tiba-tiba mesin motor butut itu berhenti berbunyi. “Yah.. motornya mogok dek…. Kita dorong ke sana dulu ya..” tunjuk Tian pada sebuah bengkel di dekat lapangan.
“Kamu gimana mau naik ojek saja ke kantornya atau mau tunggu motorku bisa jalan? Soalnya di sini tidak ada angkot dan taksi” tanya Tian.
“Tunggu sajalah.. tidak lama kan kak?”
“Mudah-mudahan tidak..”
“Oke.. saya menunggu” jawab Dian dan kembali diam dengan banyak hal di kepalanya.
“Anak yang aneh..” gumam Tian berbisik.

3 komentar:

Grace Amaliah mengatakan...

Hmmm....si Dian lari dari konspirasi terselubung di Makassar toh ? hehehe....

d. mengatakan...

hehhehe.. tunggu kisah selanjutnya Uga.. ;)

adityo lesmana mengatakan...

ragu2...teruputus...tapi sy yakin kenal cerita sebelum cerita ini di rancang