Sabtu, 18 Juni 2011

Cerita dari Balkon #2

Malam ini mereka duduk lagi di sana, di balkon sekaligus koridor kamar kost mereka. Hanya untuk berbagi cerita seperti biasa. Sebagai anak kost, hal yang perlu dijaga adalah keakraban bersama teman kost, sebab mau apa saja bisa jadi mereka adalah orang-orang yang hampir selalu ada.
“Saya anak tunggal Kak…” kata Dian pada Tian dan Riadi, teman kost-nya.
“Wah, terbiasa hidup enak dong kamu Di…” lanjut Riadi.
“Siapa bilang? Ayahku cukup over protected saat masih sekolah… Tapi akhirnya dia luluh juga karena aku keras kepala saat kuliah.. Baru aku boleh kemana-mana” jelas Dian.
“Tapi kamu masih cukup manja kalo kakak bilang, nyuci baju saja mesti pake tukang cuci..”
“Ya.. iya sih, tapi ‘kan kita mempekerjakan orang juga dapat pahala Kak..”
“Iya juga, tapi selagi kita mampu untuk mengerjakan untuk apa minta bantu orang lain? Itu kan artinya kita malas.. maksudnya, kamu malas..” balas Tian.
Dian manyun disebut malas. “Memangnya kalian terbiasa yah mencuci di rumah waktu masih tinggal sama orang tua?” tanyanya.
“Yaiyalah.. meskipun 3 adik kakak itu cewek semua.. Kakak itu juga mencuci di rumah..”
“Aku juga Di.. di rumah juga gitu, semua nyuci baju masing-masing.. Kecuali bapakku”.
‘Ponsel Dian berbunyi, Ditya calling…’
Dian cuek membiarkannya begitu saja.
“Jadi namanya Ditya?” Tian angkat bicara karena penasaran setelah mengintip nama di ponsel Dian.
“Hah?!” Dian mengernyitkan kening bingung.
“Orang yang kamu hindari di Makassar.. Dia yang dijodohkan sama orang tua kamu?”
“Hahahhahhahaha…..” Dian tertawa lepas.
Tian dan Riadi bingung.
“Kenapa ketawa Di? Saya bingung sama obrolan kalian.. memangnya kamu dijodohkan ya Di?” tanya Riadi
“Hahahhha.. ini lagi, huuffttt… waktu itu saya iseng saja tanya sama Kak Tian gimana kira-kira rasanya kalo kita dijodohkan.. bukan berarti saya dijodohkan dong… hahahaha… ehm.. well, sekeras-kerasnya ayahku, dia tetap sosok yang demokratis kok.. jadi di keluargaku tak ada dalam kamus deh masalah perjodohan!”
“Terus, orang yang kamu hindari di Makassar yang kita bicarakan tadi pagi siapa?”
“Ooh.. mm… Iya dia Ditya, mantan yang agak gila menurut saya, bukan rasa sepertinya obsesi.. atau obsesi itu juga rasa yah?!”
“Hmmm.. sudah ah.. saya ngantuk, mulai tidak mengerti sama pembicaraan kalian.. masuk duluan yah..” pamit Riadi.
Have a nice dream Adiiiii….. jangan mimpi sembarangan yaaa…” ucap Dian riang.
“Tapi bisa jadi, rasanya itu yang membuat dia obsesif dek…”
“Entahlah.. saya tidak tahu dan belum mau tahu…”
“Kenapa? Maksudnya kenapa kamu jadi sebenci itu sama Ditya?”
“Memuakkan saja.. sudah tahu saya punya pacar, masih juga berusaha menjelaskan alasan kenapa kami harus pisah 2 tahun lalu, buat saya he’s just so yesterday.. no need to talk titik!”
“Terus.. pacar kamu complain tidak?” tanya Tian
“Cukup bicara tentang saya, sekarang cerita tentang kak Tian saja ya…” raut wajah Dian tiba-tiba berubah dingin tanpa ekspresi.
“Hah?! Kakak tidak punya kisah…” kikuk Tian dibuatnya.
“Howaaa… jangan bohong kak.. itu Kakak agak-agak menutupi sesuatu…. Hayoo ceritaaaaaa…” rajuk Dian. Tian hanya bungkam tak berkisah apa-apa.
“Kamu itu seharusnya bisa belajar lebih mandiri di sini selagi jauh dari orang tua kamu” Tian akhirnya bicara.
“Iya sih, itu juga kesempatan yang baik untuk saya sebenarnya… Kenapa?”
“Hah?! Apanya yang kenapa?”
“Ada apa dengan kisah Kakak?” kembali Dian bertanya.
“Kakak ngantuk, tidur dulu ya..” Tian meninggalkan Dian di balkon yang masih bingung sembari menatap langit jingga di tenggara.
*
Di tempat tidur Tian tidak terpejam, meski lampu kamarnya telah padam ia masih juga memikirkan satu nama, Lola Febiola. Perempuan ayu kelahiran tanah Jawa yang sudah menguasai ruang pikirnya sejak empat tahun silam, sayangnya mereka sudah tak bertemu sejak mereka selesai kuliah setahun lalu. Seakan ia memang berjodoh namanya, lahir di bulan Februari dan mahir bermain biola. Senyum manis selalu tersungging dengan kulit kuning langsat dan rambut panjangnya yang hitam, itu gambarang terakhir yang disaat mereka terakhir kali bertemu. “Lola, kamu apa kabar?” tanya Tian pada dirinya sendiri. Ingin sekali ia menghubungi perempuan itu, tapi kembali ia urungkan.. “Belum saatnya” jawabnya pada diri sendiri.

Sementara di luar, di balkon kamar Tian, Dian masih duduk merenung sendiri. Seorang pria yang telah ia kenal selama tiga setengah tahun ini tiba-tiba berubah sikap 180⁰ terhadapnya sejak 3 bulan lalu. Fatur namanya. Tiba-tiba ia seakan menjadi orang yang lain bagi Dian. Seorang yang berubah apatis atas semua hidupnya, seorang yang dulu begitu pedulinya terhadap setiap perubahan kecil yang ia lakukan. Begitu perhatian untuk setiap hal dalam harinya. Ia merasa kehilangan, tanpa diminta buliran itupun mengalir di pipinya.

1 komentar:

Grace Amaliah mengatakan...

Wow...serasa baca cerber d majalah inehhh... :)