Minggu, 17 Juli 2011

Distance

When people used to be your home don't get your feeling
When people used to be your best friends can't decode your act
When people used to be your friends don't know what u've done
When people used to be your enemies even don't know what you do
When people around you just tell their stories, plans and dreams
Without any question "how about you there?"

When I hide all the things in my mind
When I don't tell anyone what actually my dreams
When I don't feel any empathy of my loneliness
When my life seems not get better on my view
When just time looks like the one can arrange me
When I do all the things seems not for me
When I have to cry myself to sleep
When laugh is just like a damn way to hide it all
When I have to cry on the phone silently

It's called DISTANCE
Between me and you all.

Sabtu, 16 Juli 2011

Cerita dari Balkon #3

“Cukup Dian.. cukup!” Dian berbicara dengan bayangan perempuan di dalam cermin yang masih terus mengalirkan buliran-buliran bening dari matanya.
“Kalau dia berubah dan harus pergi ya sudahlah.. toh sudah saatnya! Tak perlu merasa bersalah atas sejarah, meskipun tiga setengah tahun itu bukan waktu yang singkat, dan berhenti menyalahkan dirimu atas perpisahan ini! Ini bukan salahmu!” masih saja ia mencak-mencak pada perempuan di dalam cermin yang masih terisak. Hatinya sakit. Meski ia yang meminta, Dian lelah dengan kediaman Fatur 3 bulan ini. Dian lelah dengan keapatisan Fatur, tapi dibalik itu ia berpikir mungkin salahnya sehingga Fatur tiba-tiba berubah. Dian tak bisa menjadi perempuan yang ia inginkan.
“Itu bukan salahmu, dia berubah dan kau tetap sama..dan semua orang bisa berubah kapan saja mereka mau!” bentaknya lagi. Tapi entah kenapa, ia merasa keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka malam ini terasa salah oleh Dian. Dengan reaksi Fatur yang sangat datar dengan jawaban ‘itu terserah kamu..’ membuatnya semakin frustasi, merasa semakin menjadi perempuan yang sangat tidak diinginkan Fatur.
Kepalanya pening, jam dinding hijau di ruang depan kamar kost-nya menunjukkan pukul 2.36 dini hari. Besok hari Senin dan pekerjaanya sebagai admin selalu menyibukkannya di hari Senin dan Jumat, hari dimana mereka harus melakukan penginputan dan penarikan data sepanjang hari.
“Kamu harus tidur, mata kamu sudah bengkak, kepala kamu juga pening!” katanya sembari melap semua buliran bening yang sudah mewarnai wajahnya lebih dari 30 menit. Padahal obrolannya dengan Fatur telah selesai sejak 5 jam yang lalu, 4 jam sebelum ia menangis ia habiskan dengan menonton film + sugesti diri sendiri bahwa ia tak sedih.
“Dian.. besok, semuanya sudah berubah... Tidak akan ada lagi nama Fatur di dalam otakmu..” katanya sebelum tidur sembari menarik selimutnya, melupakan semua tangis dan tenggelam dalam kelelahannya.

*

“Jadi kamu putus?” tanya Tian ketika mereka berbincang di balkon kamar mereka sore harinya. Dian hanya membalas dengan anggukan.
“Saya hopeless kak.. dia pasrah saja tanpa meminta penjelasan, seolah itu adalah yang ia mau saya ucapkan sejak lama..”
“Mungkin memang bukan dia yang terbaik buat kamu dek..”
“Lalu siapa?”
“Entahlah..” Tian menggeleng pasrah “Tapi yakin saja, Yang DiAtas selalu tahu yang terbaik untuk kita.. termasuk pasangan yang IA gariskan untuk kita. Mungkin saja orang yang sudah lama kamu kenal, atau sekarang teman kantor kamu yang baru, atau mungkin belum kamu kenal sama sekali” jelas Tian panjang.
“Mungkin.. entahlah Kak, belum mau memikirkan orang baru dan bagaimana cara dia datang nantinya. Kalaupun dia tak datang, sepertinya saya nyaman hidup seperti ini. Mengabdi sampai mati untuk Mama dan Papa, itu lebih real.. mereka selalu ada untukku di sana” sahutnya.
“Jangan begitu dek.. kamu anak tunggal.. orang tua kamu pasti mau kamu punya keluarga sendiri setelah mereka tidak di dunia… masa Cuma gara-gara satu orang ini kamu tidak niat berkeluarga?!”
“Hmm.. oke.. mungkin kita ganti dengan belum  niat..”
“Saya rasa itu lebih baik.. Sampai nanti kamu menemukan orang yang lebih baik dan lebih membuatmu nyaman, kamu pasti akan punya keinginan ke sana” balas Tian yang pandangannya sudah tak menatap Dian lagi. Pikirannya melayang, terbang ke tanah Jawa, ke seorang perempuan ayu pemilik hatinya, Lola.

*

Dian tiba-tiba merasa kikuk dengan perhatian yang sedikit lebih besar yang dicurahkan Tian daripada biasanya. Mereka sering terlihat berdua dan melakukan aktivitas apa saja hanya berdua. Mulai dari berenang, ke pasar, main gitar sambil nyanyi sampai hanya ngobrol-ngobrol ringan di dapur kost-an. Seakan hanya mereka berdualah anak kost dan yang lain hanyalah pemain figuran dalam sandiwara anak kost-kostan itu, sehingga tidak perlu memperhatikan yang lain karena yang lain tidak penting dan bukan inti cerita. Kontraknya sudah hampir berakhir sebagai anak magang, tinggal 2 minggu lagi. Penawaran perpanjangan kontrak dari atasannya sudah ia terima, ia juga sudah menanyakan pada orang tuanya, dan lagi-lagi mereka menyerahkan keputusan itu pada Dian.
“Mungkin lebih baik di sini, di Makassar toh tak ada yang special dan saya sudah harus mencari pekerjaan baru yang kalaupun saya tidak jadi pengangguran, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan tidak ada Kak Tian..” ceplos saja ia berkata di depan cermin sembari tersenyum.
Entah sejak kapan ia merasa Tian menjadi pusat rotasi dunianya. Sejak ia putus dengan Fatur 2 bulan lalu, seminggu setelahnya ia sudah merasa tak ada masalah dengan hidupnya. Agak aneh sebenarnya, mengingat umur hubungannya dengan Fatur 3,5 tahun seakan tak ada artinya. ‘Tapi bukankah lebih aneh lagi kalau kita memaksa merasa aneh padahal itu tak aneh?!’ belanya pada diri sendiri ketika suara di cermin menegur keanehannya.
“Di extend setahun lagi juga saya mau pak…” katanya pada cermin seolah atasannya berdiri tepat di hadapannya. “Howaaa… sepertinya saya mulai gila!” katanya setengah berteriak dan membenamkan wajahnya ke dalam bantal di tempat tidurnya. “I’m just crazy over him…” bisiknya sendiri pada dirinya. Dian mengingat-ingat semua hal yang mereka lewati berdua, ketika mereka menertawakan Riadi yang menggombal anak asrama putri di telepon, ketika Tian mengajari Dian mencuci motor, ketika Tian membantunya memperbaiki jemuran, ketika mereka berdua ke Malili hanya untuk makan ikan bakar di tempat favoritnya, saat Tian berkata bahwa kita semua sama di dunia saat mereka berbincang masalah perbedaan budaya, menurutnya Tian itu keren dengan semua bijak dan objektivitasnya.
Tiba-tiba Dian menyadari sesuatu, menyadari sebuah larangan yang tiba-tiba menyesakkannya, merusak bahagianya, yang seharusnya sudah ia sadari sejak awal. Dan ia, kembali berduka.

Minggu, 10 Juli 2011

Guess What?!


Namanya Elektra Wijaya. Seorang chinese sarjana ekonomi yang baru saja ditinggal Dedi (Daddy) untuk selamanya. Ibunya sudah jauh lebih dulu meninggal dunia. Ia anak bungsu dari 2 bersaudara, kakak perempuannya bernama Watti. Sejak kecil ia selalu merasa hidup di bawah bayang-bayang perbandingan antara ia dan kakaknya. Kakaknya yang cantik, rajin beribadah ke gereja, putih, intinya cica’ (cina cakep!). Ia kemudian tumbuh menjadi remaja yang sulit bergaul dan lebih senang menjadi penonton bagi kehidupan dalam diamnya. Khususnya kehidupan di sekitarnya antara ia, Watti dan Dedi. Sejak kecil ia senang melihat petir sembari bermain hujan, dan ia pengidap epilepsy *yang ini memang tidak berhubungan*. Mereka tinggal di rumah peninggalan belanda bernama Eleonora dengan ukuran yang cukup besar tapi terasa sempit lantaran tumpukan barang elektronik kadaluwarsa yang diperbaiki oleh ayahnya di bawah bendera Wijaya Elektronik. Keluarga besar mereka sudah menjadi ‘orang’ dan terkadang mereka merasa terkucilkan dengan kondisi itu.

Tidak lama setelah meninggalnya Dedi, Watti menikah dengan seorang muslim dan menjadi muallaf. Dia memilih untuk meninggalkan rumah dan mengikuti suaminya ke Tembagapura, tempat dimana suaminya yang berprofesi dokter di RS PT. Freeport Indonesia itu bekerja. Watti mendapatkan apa yang ia mau, hidup dengan segala keberadaan dan jauh dari kecukupan. Sementara Etra (Elektra) harus mampu menghadapi hidup dalam sepi di Eleonora dengan warisan Dedi yang tak ingin ia ganggu serta tabungannya yang ia tabung sejak kecil.

Awalnya, ia memulai karirnya dengan menjadi sales MLM.. tapi kemudian ia merasa gagal untuk itu. Sampai suatu hari, ada panggilan dari sekolah tinggi ilmu sihir untuk menjadikannya asisten dosen. Karena merasa ngeri, ia mendatangi seorang dukun tua untuk mengusir kalau-kalau ada hantu yang mengikutinya. Hasilnya, NIHIL. Dukun tersebut menganggap permasalahnnya berat dan tiba-tiba... ia MENYETRUM si mbah dukun!

Ia mulai pasrah, apa saja akan ia lakukan agar ia tetap bisa hidup dan tidak di bawah belas kasihan kakaknya yang mulai menjengkelkan. Ia memilih untuk mendaftarkan diri ke sekolah tinggi ilmu sihir itu, karena sejauh ini tawaran pekerjaan itulah satu-satunya yang datang padanya. Ia mulai mencari bahan2 yang akan digunakan sebagai pelengkap saat proses pelamaran pekerjaan selain CV dll. Ia mengunjungi sebuah toko berbau mistis di dekat rumahnya, toko yang sejak kecil ia anggap sebagai rumah Nenek Sihir dan hanya berani ia intip setelah itu lari sekencang-kencangnya bersama Watti. Pemiliknya bernama Ibu Sati. Ia sudah sempat mengirimkan berkas lamarannya melalui kuburan dan ternyata gagal. Sekolah itu tidak pernah ada, dan ia baru menyadarinya dari informasi Ibu Sati. Ibu Sati hidup sendiri di tokonya, tapi ia pribadi yang diam, bijaksana dan UNIK! Ibu Sati pernah bilang pada Etra, kalau ia akan menemukan dunianya. Hubungan mereka semakin dekat, dan Ibu Sati kemudian menjadi instruktur Yoganya.

Hidup Etra semakin sulit dan terhimpit, makan hanya 2x sehari dengan menu yang konstan, telur ceplok. Sampai suatu hari, ia bertemu teman lamanya di kampus yang berusaha warnet dan mengenalkannya dengan dunia internet. Lama-kelamaan ia mulai tergiur untuk berinternet di rumah. Dan mulai berpikir untuk membuka usaha internet sendiri mengingat lahan Eleonora cukup luas dan lengang dan tak berisi. Ia mengajak Kewoy, mantan pegawai di warnet temannya untuk ikut berbisnis. Akhirnya mereka tidak hanya berdua tapi berempat bersama Mpret a.k.a Toni dan Mi’un, teman Mpret sejak TK sampai SMA. Tidak mudah, sebab ia harus merelakan 90% badan Eleonora untuk menjadi ruang publik serta menarik deposito warisan Dedi sebagai modal. Tapi tidak rugi, sebab konsep warnet yang mereka garap memang benar-benar tidak biasa, seperti entertainment zone. Bukan hanya warnet, tapi juga tersedia PS, thetre room dengan ratusan kaset film, warung makan dengan koki yang kreatif serta distro, Wajarlah jika ELEKTRA POP kemudian menjadi tempat gaul baru saat itu.

Mungkin karena kelelahan, Etra mulai merasa badannya tidak sehat. Lemas, sangat lemas, tapi lucunya.. ketika akan dibawa ke Rumah Sakit ia tiba-tiba langsung sembuh. Akhirnya Elektra Pop Crew merencanakan penyergapan tiba-tiba untuk membawanya ke Rumah Sakit saat ia tiba-tiba lunglai. Tapi gagal… karena Etra menyetrum lagi. Dari penjelasan Bu Sati, Etra akhirnya tahu.. tubuhnya ternyata berbakat untuk menyimpan dan mengelola aliran listrik. Entah dari mana dan sejak kapan. Karena ulah teman2x… ia mulai terkenal sebagai terapis setrum untuk penyakit syaraf dll. Karena masih baru, ia hanya bisa beroperasi di Elektra Pop. Dan itu cukup mengganggu untuk Mpret mengingat konsep awal bisnis mereka tidak ke arah sana.

Tapi akhirnya Mpret sepakat untuk menjadikan ruang PS sebagai ruang operasi Etra sebagai terapis setrum. Karena, jika tidak dialirkan listrik tersebut dapat melemahkan Etra sendiri. Ternyata, tidak hanya mengalirkan listrik, Etra juga mampu membaca pikiran orang yang ia terapi. Akhirnya ia tahu dan ternyata hanya ia yang belum tahu kalau Mpret ternyata menyukainya.

Lebaran datang. Watti datang dari Tembagapura untuk merayakan idul fitri bersama keluarga suaminya. Etra dipaksa ikut. Tapi di sana, Etra bukan lagi anak yang tidak pandai bergaul dibandingkan Watti. Sekarang ada lingkaran besar orang-orang yang mendengarkannya bercerita tentang Elektra Pop, bagaimana ia mulai merintisnya, dan bagaimana ia mampu menjadi seorang terapis setrum. Dan Watti hanya diam tak mengerti. Dunia terbalik, karena tak semua orang akan menilai kita dari seperti apa fisik kita tetapi dari apa yang telah kita lakukan.


Sekarang, coba tebak apa judul dari buku ini?
:D