Sabtu, 16 Juli 2011

Cerita dari Balkon #3

“Cukup Dian.. cukup!” Dian berbicara dengan bayangan perempuan di dalam cermin yang masih terus mengalirkan buliran-buliran bening dari matanya.
“Kalau dia berubah dan harus pergi ya sudahlah.. toh sudah saatnya! Tak perlu merasa bersalah atas sejarah, meskipun tiga setengah tahun itu bukan waktu yang singkat, dan berhenti menyalahkan dirimu atas perpisahan ini! Ini bukan salahmu!” masih saja ia mencak-mencak pada perempuan di dalam cermin yang masih terisak. Hatinya sakit. Meski ia yang meminta, Dian lelah dengan kediaman Fatur 3 bulan ini. Dian lelah dengan keapatisan Fatur, tapi dibalik itu ia berpikir mungkin salahnya sehingga Fatur tiba-tiba berubah. Dian tak bisa menjadi perempuan yang ia inginkan.
“Itu bukan salahmu, dia berubah dan kau tetap sama..dan semua orang bisa berubah kapan saja mereka mau!” bentaknya lagi. Tapi entah kenapa, ia merasa keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka malam ini terasa salah oleh Dian. Dengan reaksi Fatur yang sangat datar dengan jawaban ‘itu terserah kamu..’ membuatnya semakin frustasi, merasa semakin menjadi perempuan yang sangat tidak diinginkan Fatur.
Kepalanya pening, jam dinding hijau di ruang depan kamar kost-nya menunjukkan pukul 2.36 dini hari. Besok hari Senin dan pekerjaanya sebagai admin selalu menyibukkannya di hari Senin dan Jumat, hari dimana mereka harus melakukan penginputan dan penarikan data sepanjang hari.
“Kamu harus tidur, mata kamu sudah bengkak, kepala kamu juga pening!” katanya sembari melap semua buliran bening yang sudah mewarnai wajahnya lebih dari 30 menit. Padahal obrolannya dengan Fatur telah selesai sejak 5 jam yang lalu, 4 jam sebelum ia menangis ia habiskan dengan menonton film + sugesti diri sendiri bahwa ia tak sedih.
“Dian.. besok, semuanya sudah berubah... Tidak akan ada lagi nama Fatur di dalam otakmu..” katanya sebelum tidur sembari menarik selimutnya, melupakan semua tangis dan tenggelam dalam kelelahannya.

*

“Jadi kamu putus?” tanya Tian ketika mereka berbincang di balkon kamar mereka sore harinya. Dian hanya membalas dengan anggukan.
“Saya hopeless kak.. dia pasrah saja tanpa meminta penjelasan, seolah itu adalah yang ia mau saya ucapkan sejak lama..”
“Mungkin memang bukan dia yang terbaik buat kamu dek..”
“Lalu siapa?”
“Entahlah..” Tian menggeleng pasrah “Tapi yakin saja, Yang DiAtas selalu tahu yang terbaik untuk kita.. termasuk pasangan yang IA gariskan untuk kita. Mungkin saja orang yang sudah lama kamu kenal, atau sekarang teman kantor kamu yang baru, atau mungkin belum kamu kenal sama sekali” jelas Tian panjang.
“Mungkin.. entahlah Kak, belum mau memikirkan orang baru dan bagaimana cara dia datang nantinya. Kalaupun dia tak datang, sepertinya saya nyaman hidup seperti ini. Mengabdi sampai mati untuk Mama dan Papa, itu lebih real.. mereka selalu ada untukku di sana” sahutnya.
“Jangan begitu dek.. kamu anak tunggal.. orang tua kamu pasti mau kamu punya keluarga sendiri setelah mereka tidak di dunia… masa Cuma gara-gara satu orang ini kamu tidak niat berkeluarga?!”
“Hmm.. oke.. mungkin kita ganti dengan belum  niat..”
“Saya rasa itu lebih baik.. Sampai nanti kamu menemukan orang yang lebih baik dan lebih membuatmu nyaman, kamu pasti akan punya keinginan ke sana” balas Tian yang pandangannya sudah tak menatap Dian lagi. Pikirannya melayang, terbang ke tanah Jawa, ke seorang perempuan ayu pemilik hatinya, Lola.

*

Dian tiba-tiba merasa kikuk dengan perhatian yang sedikit lebih besar yang dicurahkan Tian daripada biasanya. Mereka sering terlihat berdua dan melakukan aktivitas apa saja hanya berdua. Mulai dari berenang, ke pasar, main gitar sambil nyanyi sampai hanya ngobrol-ngobrol ringan di dapur kost-an. Seakan hanya mereka berdualah anak kost dan yang lain hanyalah pemain figuran dalam sandiwara anak kost-kostan itu, sehingga tidak perlu memperhatikan yang lain karena yang lain tidak penting dan bukan inti cerita. Kontraknya sudah hampir berakhir sebagai anak magang, tinggal 2 minggu lagi. Penawaran perpanjangan kontrak dari atasannya sudah ia terima, ia juga sudah menanyakan pada orang tuanya, dan lagi-lagi mereka menyerahkan keputusan itu pada Dian.
“Mungkin lebih baik di sini, di Makassar toh tak ada yang special dan saya sudah harus mencari pekerjaan baru yang kalaupun saya tidak jadi pengangguran, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan tidak ada Kak Tian..” ceplos saja ia berkata di depan cermin sembari tersenyum.
Entah sejak kapan ia merasa Tian menjadi pusat rotasi dunianya. Sejak ia putus dengan Fatur 2 bulan lalu, seminggu setelahnya ia sudah merasa tak ada masalah dengan hidupnya. Agak aneh sebenarnya, mengingat umur hubungannya dengan Fatur 3,5 tahun seakan tak ada artinya. ‘Tapi bukankah lebih aneh lagi kalau kita memaksa merasa aneh padahal itu tak aneh?!’ belanya pada diri sendiri ketika suara di cermin menegur keanehannya.
“Di extend setahun lagi juga saya mau pak…” katanya pada cermin seolah atasannya berdiri tepat di hadapannya. “Howaaa… sepertinya saya mulai gila!” katanya setengah berteriak dan membenamkan wajahnya ke dalam bantal di tempat tidurnya. “I’m just crazy over him…” bisiknya sendiri pada dirinya. Dian mengingat-ingat semua hal yang mereka lewati berdua, ketika mereka menertawakan Riadi yang menggombal anak asrama putri di telepon, ketika Tian mengajari Dian mencuci motor, ketika Tian membantunya memperbaiki jemuran, ketika mereka berdua ke Malili hanya untuk makan ikan bakar di tempat favoritnya, saat Tian berkata bahwa kita semua sama di dunia saat mereka berbincang masalah perbedaan budaya, menurutnya Tian itu keren dengan semua bijak dan objektivitasnya.
Tiba-tiba Dian menyadari sesuatu, menyadari sebuah larangan yang tiba-tiba menyesakkannya, merusak bahagianya, yang seharusnya sudah ia sadari sejak awal. Dan ia, kembali berduka.

Tidak ada komentar: