Minggu, 10 Juli 2011

Guess What?!


Namanya Elektra Wijaya. Seorang chinese sarjana ekonomi yang baru saja ditinggal Dedi (Daddy) untuk selamanya. Ibunya sudah jauh lebih dulu meninggal dunia. Ia anak bungsu dari 2 bersaudara, kakak perempuannya bernama Watti. Sejak kecil ia selalu merasa hidup di bawah bayang-bayang perbandingan antara ia dan kakaknya. Kakaknya yang cantik, rajin beribadah ke gereja, putih, intinya cica’ (cina cakep!). Ia kemudian tumbuh menjadi remaja yang sulit bergaul dan lebih senang menjadi penonton bagi kehidupan dalam diamnya. Khususnya kehidupan di sekitarnya antara ia, Watti dan Dedi. Sejak kecil ia senang melihat petir sembari bermain hujan, dan ia pengidap epilepsy *yang ini memang tidak berhubungan*. Mereka tinggal di rumah peninggalan belanda bernama Eleonora dengan ukuran yang cukup besar tapi terasa sempit lantaran tumpukan barang elektronik kadaluwarsa yang diperbaiki oleh ayahnya di bawah bendera Wijaya Elektronik. Keluarga besar mereka sudah menjadi ‘orang’ dan terkadang mereka merasa terkucilkan dengan kondisi itu.

Tidak lama setelah meninggalnya Dedi, Watti menikah dengan seorang muslim dan menjadi muallaf. Dia memilih untuk meninggalkan rumah dan mengikuti suaminya ke Tembagapura, tempat dimana suaminya yang berprofesi dokter di RS PT. Freeport Indonesia itu bekerja. Watti mendapatkan apa yang ia mau, hidup dengan segala keberadaan dan jauh dari kecukupan. Sementara Etra (Elektra) harus mampu menghadapi hidup dalam sepi di Eleonora dengan warisan Dedi yang tak ingin ia ganggu serta tabungannya yang ia tabung sejak kecil.

Awalnya, ia memulai karirnya dengan menjadi sales MLM.. tapi kemudian ia merasa gagal untuk itu. Sampai suatu hari, ada panggilan dari sekolah tinggi ilmu sihir untuk menjadikannya asisten dosen. Karena merasa ngeri, ia mendatangi seorang dukun tua untuk mengusir kalau-kalau ada hantu yang mengikutinya. Hasilnya, NIHIL. Dukun tersebut menganggap permasalahnnya berat dan tiba-tiba... ia MENYETRUM si mbah dukun!

Ia mulai pasrah, apa saja akan ia lakukan agar ia tetap bisa hidup dan tidak di bawah belas kasihan kakaknya yang mulai menjengkelkan. Ia memilih untuk mendaftarkan diri ke sekolah tinggi ilmu sihir itu, karena sejauh ini tawaran pekerjaan itulah satu-satunya yang datang padanya. Ia mulai mencari bahan2 yang akan digunakan sebagai pelengkap saat proses pelamaran pekerjaan selain CV dll. Ia mengunjungi sebuah toko berbau mistis di dekat rumahnya, toko yang sejak kecil ia anggap sebagai rumah Nenek Sihir dan hanya berani ia intip setelah itu lari sekencang-kencangnya bersama Watti. Pemiliknya bernama Ibu Sati. Ia sudah sempat mengirimkan berkas lamarannya melalui kuburan dan ternyata gagal. Sekolah itu tidak pernah ada, dan ia baru menyadarinya dari informasi Ibu Sati. Ibu Sati hidup sendiri di tokonya, tapi ia pribadi yang diam, bijaksana dan UNIK! Ibu Sati pernah bilang pada Etra, kalau ia akan menemukan dunianya. Hubungan mereka semakin dekat, dan Ibu Sati kemudian menjadi instruktur Yoganya.

Hidup Etra semakin sulit dan terhimpit, makan hanya 2x sehari dengan menu yang konstan, telur ceplok. Sampai suatu hari, ia bertemu teman lamanya di kampus yang berusaha warnet dan mengenalkannya dengan dunia internet. Lama-kelamaan ia mulai tergiur untuk berinternet di rumah. Dan mulai berpikir untuk membuka usaha internet sendiri mengingat lahan Eleonora cukup luas dan lengang dan tak berisi. Ia mengajak Kewoy, mantan pegawai di warnet temannya untuk ikut berbisnis. Akhirnya mereka tidak hanya berdua tapi berempat bersama Mpret a.k.a Toni dan Mi’un, teman Mpret sejak TK sampai SMA. Tidak mudah, sebab ia harus merelakan 90% badan Eleonora untuk menjadi ruang publik serta menarik deposito warisan Dedi sebagai modal. Tapi tidak rugi, sebab konsep warnet yang mereka garap memang benar-benar tidak biasa, seperti entertainment zone. Bukan hanya warnet, tapi juga tersedia PS, thetre room dengan ratusan kaset film, warung makan dengan koki yang kreatif serta distro, Wajarlah jika ELEKTRA POP kemudian menjadi tempat gaul baru saat itu.

Mungkin karena kelelahan, Etra mulai merasa badannya tidak sehat. Lemas, sangat lemas, tapi lucunya.. ketika akan dibawa ke Rumah Sakit ia tiba-tiba langsung sembuh. Akhirnya Elektra Pop Crew merencanakan penyergapan tiba-tiba untuk membawanya ke Rumah Sakit saat ia tiba-tiba lunglai. Tapi gagal… karena Etra menyetrum lagi. Dari penjelasan Bu Sati, Etra akhirnya tahu.. tubuhnya ternyata berbakat untuk menyimpan dan mengelola aliran listrik. Entah dari mana dan sejak kapan. Karena ulah teman2x… ia mulai terkenal sebagai terapis setrum untuk penyakit syaraf dll. Karena masih baru, ia hanya bisa beroperasi di Elektra Pop. Dan itu cukup mengganggu untuk Mpret mengingat konsep awal bisnis mereka tidak ke arah sana.

Tapi akhirnya Mpret sepakat untuk menjadikan ruang PS sebagai ruang operasi Etra sebagai terapis setrum. Karena, jika tidak dialirkan listrik tersebut dapat melemahkan Etra sendiri. Ternyata, tidak hanya mengalirkan listrik, Etra juga mampu membaca pikiran orang yang ia terapi. Akhirnya ia tahu dan ternyata hanya ia yang belum tahu kalau Mpret ternyata menyukainya.

Lebaran datang. Watti datang dari Tembagapura untuk merayakan idul fitri bersama keluarga suaminya. Etra dipaksa ikut. Tapi di sana, Etra bukan lagi anak yang tidak pandai bergaul dibandingkan Watti. Sekarang ada lingkaran besar orang-orang yang mendengarkannya bercerita tentang Elektra Pop, bagaimana ia mulai merintisnya, dan bagaimana ia mampu menjadi seorang terapis setrum. Dan Watti hanya diam tak mengerti. Dunia terbalik, karena tak semua orang akan menilai kita dari seperti apa fisik kita tetapi dari apa yang telah kita lakukan.


Sekarang, coba tebak apa judul dari buku ini?
:D

1 komentar:

^_^ Andi Tenriawaru ^_^ mengatakan...

hmm suka buku-buku dee juga. . .