Minggu, 25 September 2011

2


Setelah 5 cm, Donny Dhirgantoro merilis novel keduanya di Juli 2011 dengan judul 2. Tidak jauh berbeda dengan novel sebelumnya 5 cm, 2 juga hadir sebagao novel yang mengajarkan pembaca untuk terus bermimpi, percaya akan mimpi kemudian berjuang untuk mimpi. Dreams, Faith, Fight.

2 mengisahkan tentang perjuangan hidup sejak lahir seorang perempuan Indonesia bernama Gusni. Ia lahir dengan ukuran dan berat badan yang sangat tidak normal, berat 6,25 kg dan panjang 59 cm serta takdir yang menggariskan berat badannya yang takkan pernah mengalami penurunan, akan selalu dan terus meningkat.
Kakaknya, Gita Annisa Srikandi yang sejak melihat Susi Susanti menang dalam Olimpiade Barcelona 1992 bertekad ingin menjadi pemain bulu tangkis yang akan membuat orang tuanya serta jutaan orang tua lain di Indonesia bangga terhadapnya. Tidak beda dengan Gita, di saat yang sama Gusni pun demikian. Ia ingin bermain bulu tangkis karena ingin membuat orang tuanya bahagi dan bangga. Tapi setiap kali Gusni kecil bertanya pada ayahnya, kapan ia boleh bermain bulu tangkis seperti kakaknya yang selalu memboyong piala kemenangan pulang ke rumah, ayahnya selalu menjawab nanti dan nanti. Gusni kecil, percaya akan ada saatnya untuk ia juga bermain nantinya.
Ketika umurnya 12 tahun, karena terus meminta akhirnya orang tuanya mengizinkan untuk bermain bulu tangkis, setelah merundingkan dengan dokter yang menangani penyakit Gusni sejak lahir. Tapi, hanya 2 bulan, ia akhirnya pingsan tiba-tiba saat latihan. Dan sejak itu, ia kembali tak dibolehkan bermain bulu tangkis, mengejar impiannya oleh orang tuanya. Tapi mereka tidak tahu, mimpi itu masih ada... masih di sana.

Hingga akhirnya, ketika usianya menginjak 18 tahun, semuanya kemudian kenjadi jelas bagi Gusni. Kenyataan menghantam mimpinya, menghantam hidupnya, menghantam kepercayaannya. Ia akhirnya tahu penyebab orang tuanya selalu melarang untuk bermain bulu tangkis, mengapa berat badannya tidak pernah turun. Penyakit aneh yang turun temurun secara genetis di keluarganya, yang juga memvonis usianya tak kan lebih dari 25 tahun.

Tapi, perjuangan baru saja dimulai bagi Gusni. ‘Kelebihannya’ adalah kekuranganannya. Ia tak memilih untuk diam, karena pilihannya hanya 2, berjuang atau mati. Ia harus berjuang untuk menurunkan berat badannya agar tak terus bertambah, karena pertambahan itu mengakibatkan obesitas akut, penyempitan rongga dada, tekanan darah tinggi dan serangan jantung. Ia tidak memilih untuk diam menyerah pada kehidupan sembari menunggu waktu untuk mati. Ia memilih untuk berjuang, berani untuk mencintai dan mencintai dengan berani atas hidupnya yang tak sempurna. Hidup memang tak sempurnya, tapi hanya seorang pengecut yang mengharapkan hidup yang sempurna.

Berjuang sendiri dengan mimpinya, bulu tangkis. Berharap mimpinya bisa membuatnya tetap hidup, dia hanya ingin terus hidup, kalaupun nanti waktunya telah tiba, waktunya telah habis, ia ingin pergi setelah ia berjuang atas hidupnya, dan ia ingin orang tuanya menjadi saksi atas perjuangannya untuk hidup. Berani untuk ikhlas kehilangan cintanya, tanpa pamrih, meski perih. Berani untuk terus memompa semangat terus hidup dalam dirinya, kata Pak Pelatih “jangan pernah meragukan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikitpun tidak”.

Ini bulu tangkis, dan ini Indonesia. Perjuangan yang akhirnya tidak hanya harus ia lakukan untuk dirinya, hidupnya, mimpinya, keluarganya, Pak Pelatih, jutaan keluarga lain di Indonesia, serta untuk bangsanya tercinta, INDONESIA.

Ketika kamu bangun di pagi hari..

Dengan hati yang luar biasa, bangun dengan hati yang besar dan berani, tidak sepicis pun menyesali hidupmu. Karena kamu melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan di sadarmu dan di tidak sadarmu. Karena setiap nafas dari hari-harimu bergerak bersama impianmu.

Kamu pasti tahu kalau hidup adalah luar biasa, karena kamu memperjuangkan impianmu. Karena impian ada di tempat yang tepat. Bukan, bukan bualan malas, bukan angan-angan kosong, bukan omong kosong. Tetapi impian ada di alam bawah sadar yang bergerak memenuhi segalanya untuk impianmu. Dan setiap kamu adalah layaknya seorang manusia, seorang manusia yang percaya dengan kekuatan imajinasinya yang luar biasa, impian membuat manusia jadi bermakna.

Sebuah perbuatan, sebuah kenyataan yang melelahkan, sebuah kenyataan penuh tekad, tawa, peluh, air mata, dan luka. Sebuah kenyataan yang berkata kalau hidup tidak akan pernah sempurna, karena hanya seorang pengecut yang mengharapkan hidup yang sempurna.
- 2 -

Tidak ada komentar: