Jumat, 02 Desember 2011

Dunia Si ODHA

Hmm.. sudah Desember saja... :)
Mengingat kemarin [1 Desember-red] adalah hari AIDS sedunia, tiba-tiba saya jadi ingat kejadian 2 tahun silam. Di kantor kami [kantor saya waktu itu] sedang mengadakan penyuluhan tentang HIV/AIDS, dengan pembicara seorang dokter dari pihak Rumah Sakit Perusahaan dan seorang ODHA. Tau ODHA? Well, buat yang belum tau ODHA adalah Orang Dengan HIV/AIDS. 


Taruhlah Mr. X [Example, sumpah! saya lupa namax siapa], dia penderita HIV dan telah rutin meminum obat yang HARUS dikonsumsi setiap hari selama SEUMUR HIDUPnya selama kurang lebih 10 tahun (kala itu). Dia bercerita, awalnya terjangkit HIV lantaran sering tukaran jarum suntik saat lagi "make" bersama teman-teman nongkrongnya. Dia mengaku bukan berasal dari keluarga yang cukup mampu, tapi saat itu Narkoba memang sudah meraja ke kalangan orang level 'atas' sampai level 'bawah'. Jenisnya beda-beda, sesuai dengan kesanggupan kelas masing-masing. Awalnya cuma jadi distributor, lama kelamaan jadi STRESS sendiri karena merasa tidak mendapat perhatian yang cukup dari keluarga. 

Lelah menghadapi hidup, akhirnya ia ikut men'coba' barang dagangannya sendiri.. "mumpung dapat gratisan dari Bos" katanya. Mulailah ia merasa senang dengan ketenangan yang ditawarkan Shabu. Beban pikirannya terasa hilang saat lagi 'make', akhirnya Mr. X makin rajin 'kerja'nya, biar bisa sering-sering dapat gratisan + nambah-nambah beli 'barang' untuk dia sendiri. "Semua jenis sudah saya coba..." akunya. "Lama-kelamaan, kebutuhan saya meningkat drastis. Sampai akhirnya, teman saya ada yang ngaku kena AIDS. Saya mulai takut, jangan-jangan saya kena juga. Setiap bulan pasti saya sariawan dan jumlahnya banyak, belum lagi sembuhnya lama. Begitu juga flu, demam.. akhirnya saya tahu kalau saya terkena HIV Positif" tuturnya. Setelah masuk rehabilitasi Narkoba 2x, akhirnya Mr. X tobat juga. Tapi untuk memperlambat perkembangan si virus, ia harus menenggak obat (ARV : antiretroviral) setiap hari selama seumur hidupnya. Satu hal yang mesti kita ingat, sampai saat ini memang belum ada obat yang mampu menyembuhkan, hanya sebatas memperlambat perkembangan virus saja. Mengapa si virus mesti dihambat perkembangannya? Karena ia dapat merusak sistem kekebalan tubuh hingga sangat parah, kondisi itulah yang disebut AIDS.

Fakta lainnya adalah, seseorang bisa saja terjangkit HIV telah lama tanpa diketahui. Karena, HIV tidak dapat dideteksi secara langsung segera setelah penularan terjadi. Butuh waktu beberapa lama setelah ia berada dalam tubuh kita, baru setelahnya dapat terdeteksi. Jadi bisa saja, seminggu kemarin ternyata kita sudah tertulari dan hari ini kita melakukan pengecekan dengan hasil positif, padahal in fact virusnya sedang berkembang di dalam tubuh kita. Itulah sebabnya, disarankan pengecekan secara berkala terhadap HIV.

Yang menyedihkan, cerita dari Mr. X kala itu, tentang temannya yang juga ODHA. Teman tersebut juga terjangkit HIV karena Narkoba dan sempat keluar masuk Rehabilitasi penanggulangan Narkoba beberapa kali. Sampai akhirnya, ia dinyatakan sembuh dari ketergantungan Narkoba dan dibolehkan kembali ke rumahnya. Awalnya ia merasa hidupnya akan kembali seperti sedia kala, normal seperti sebelum ia memasuki dunia 'kelam'. Tapi dunia bersikap lain, keluarganya tidak begitu peduli, teman-temannya yang dulu mulai menjauh sejak mengetahui ia terjangkit HIV, depresi, akhirnya bunuh diri menjadi pilihannya. Miris 'kan?! :'(


Padahal, jika kita memiliki pengetahuan yang cukup tentang seperti apa HIV/AIDS itu, kita tidak perlu menjauhi ODHA kok... Kenapa? Karena penularan HIV hanya melalui ; darah, cairan dari kelamin (baik dari vagina maupun air mani) serta ASI. Jadi penularan yang paling umum terjadi adalah karena penggunaan jarum suntik yang sama, sex, serta menyusui bagi ibu yang positif HIV kepada bayinya. Jadi tidak benar kalau ada yang bilang bisa menular melalui air liur, keringat, udara, dll. Bahkan, kemungkinan penularan pada saat berciuman sekalipun sangatlah kecil, kecuali jika terdapat luka di dalam mulut, misalnya gusi berdarah yang memungkinkan masuknya virus melalui darah.

Jadi, STOP deh memandang sebelah mata kepada para ODHA. Ada juga kok ODHA yang terjangkit karena tidak sengaja dan bukan karena mereka dulunya "nakal". Bisa jadi mereka tertular dari ibunya ketika disusui. Ada lagi satu kisah dari Pak Dokter kala itu. Ada seorang istri karyawan di kantor kami [saat itu] ternyata telah sakit selama berminggu-minggu, flu, demam, kelainan organ dalam, dan telah diobati tapi belum juga sembuh. Akhirnya pihak RS meminta izin kepada sang suami (karyawan) untuk dilakukan pengecekan terhadap virus HIV pada si Istri. Si suami mengizinkan tapi dengan syarat, identitas pasien harus disembunyikan oleh pihak RS, pihak RS membolehkan, karena itu bagian dari kode etik katanya. Hasilnya, si istri benar HIV positif. Padahal, si istri bukan pengguna narkoba, tidak pernah melakukan sex bebas, serta tidak ada riwayat HIV dari ibunya. Setelah dirunut, si istri tersebut diduga memperoleh virus dari almarhum mantan suaminya yang telah meninggal yang juga mantan pengguna Narkoba. Dan kemungkinan besar telah menularkan pula kepada suaminya, kala itu dilakukan pengecekan pula terhadap si suami, hasilnya Negatif. Tapi, si Suami disarankan melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap HIV, mengingat virus tersebut tidak langsung dapat terdeteksi setelah tertular.

By the way, balik lagi ke ODHA. Coba bayangkan, kita saat sakit flu saja, kita selalu ingin dimengerti oleh orang sekitar kita. Selalu ingin diperhatikan, selalu ingin ditemani, selalu ingin dihibur. Apalagi mereka, orang-orang yang dengan sadarnya mengerti bahwa belum ada obat untuk penyakit yang mereka derita, yang tahu bahwa pengobatan yang harus mereka jalani seumur hidup tidak mampu menyembuhkan hanya memperlambat pertumbuhan virus dalam tubuh mereka, orang-orang yang seolah telah divonis akan sakit keras cepat atau lambat, dan mereka harus mampu melawan ketakutan itu SENDIRIAN. Pernah kepikiran? Saat kamu sakit, kamu malah dijauhi, dengan alasan takut ditulari, padahal yang kamu butuh hanya sekedar senyum serta semangat yang setidaknya membuat kamu tidak berpikir, kalau kamu SENDIRIAN. Kamu cuma butuh sedikit perhatian, bukan belas kasihan. 

ODHA masih punya banyak hal yang bisa mereka lakukan, beruntunglah saat ini sudah ada lembaga yang peduli tentang keberadaan mereka, mewadahi Mr. X dkk. untuk melakukan hal-hal positif yang tidak hanya berguna untuk ODHA, tetapi juga orang lain. Contohnya ya, sosialisasi HIV/AIDS yang saya ikuti kala itu. Intinya, mereka juga manusia biasa kok, butuh perhatian dan bukan kasihan apalagi dikucilkan. Jangan sampai deh ada ODHA-ODHA yang lain yang depresi kemudian bunuh diri lantaran dikucilkan oleh lingkungannya sendiri. Salut untuk mereka dan juga lembaga-lembaga yang mengorganisir para ODHA, tanpa mereka mungkin kita tidak akan pernah ingat akan berbahayanya HIV/AIDS. Semoga tulisan ini juga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh aku, kamu dan juga mereka.

WORLD AIDS DAY..
Stay positive to think, and do...
Keep healthy life  :)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Sepakat skali kak dede! Odha ndag perlu d jauhi, justru mereka bth dsayang2. . . Drpada brakhr kritis, miris dan dramatis (⌣́_⌣̀)

Nice posting kak!
(•ˆ⌣ˆ•)