Senin, 31 Desember 2012

Closing Speech


It comes to an end… terlalu banyak hal yang patut disyukuri sepanjang tahun, mengingat effort pribadi yang memang belum maksimal, I really do thank God of what I’ve had now. Masa pengangguran di awal tahun yang banyak mengajarkan saya banyak bersyukur atas apa yang saya punya, juga berusaha mandiri dengan sisa tabungan. Full service gretongan di resort Malino Highlands di bulan Februari lantaran iseng-iseng bikin tulisan di blog ini, hehe… Hal itu mengajarkan saya, Allah selalu punya jalan ajaib untuk memberi rezeki pada hamba-Nya. Dan itu membuktikan, bahwa tulisan saya juga ada pembacanya ternyata.. hehhehe. Intinya apapun itu, ikhlaslah.. karena keikhlasan selalu berbuah manis.. J

Memasuki Q2 tahun ini dengan new job yang benar-benar new job. Mesti stay di lapangan untuk proyek jalan dan jembatan di Kab. Maros.. saya banyak belajar bersyukur atas hidup. Bersyukur karena terlahir dari keluarga yang cukup peduli terhadap pendidikan dan masih sanggup membiayai pendidikan saya hingga sarjana. Bersyukur karena tinggal di kota yang sangat dimanjakan oleh fasilitas serta teknologi yang cukup memadai hingga saya mampu berkembang menjadi seperti saya yang sekarang. Tidak seperti anak-anak yang saya temui di sekitar lokasi proyek. Beberapa dari mereka memiliki keluarga yang cukup mampu menyekolahkan mereka secara materi, hanya saja secara pemahaman mungkin kita tidak sepaham. Sekolah hanya sebatas formalitas, toh pada akhirnya mereka hanya akan tinggal di desa, bercocok tanam, berdagang, dan lain sebagainya. Pendidikan di sekolah nantinya hanya akan digunakan untuk menghitung berapa untung rugi perdagangan keluarga, kalkulator juga cukup untuk menghitung itu. Tapi itu hanya sebagian, bersyukur karena sebagian yang lain berani menyekolahkan anak-anaknya sampai titik darah penghabisan, itu kata mereka.

Bersyukur karena air bersih yang mengalir setiap saat di keran bisa dinikmati kapan saja. Tidak seperti mereka yang hanya bergantung pada pipa yang mereka buat sendiri dengan sumber air dari dataran tinggi. Setelah hujan turun, biasanya air tersebut tidak layak untuk digunakan, bahkan untuk mandi sekalipun, airnya bercampur lumpur. Bersyukur karena akhirnya keputusan saya untuk resign 2 bulan kemudian bisa diterima dengan baik oleh mereka. Prinsip saya dihargai, dan itu cukup membuat saya mengklaim bahwa mereka adalah tim kerja terbaik yang saya punya hingga saat ini. Sampai saya menulis blog ini.

Bersyukur karena masa jobless yang hanya berlangsung 3 minggu, juga membuat saya semakin yakin, Allah menyayangi hamba-Nya jauuuuuuuuuuh lebih dalam dari pada apa yang dipikirkan hamba-Nya.  Dan, jangan melewatkan satu kesempatan baik apapun selagi kita mampu. Karena setiap kesempatan bisa melahirkan kejutan-kejutan yang baik atau hikmah yang bisa diambil, trust me.

Bersyukur karena di Q3 tahun ini disibukkan dengan pekerjaan yang bisa dibilang cukup menyenangkan dan punya banyak kenalan baru. J

Bersyukur karena di Q4 tahun ini membuat saya dan dia akhirnya memutuskan untuk berpisah. Perpisahan kemudian membuat kita menyadari how precious we are to each other. Dan mensyukuri that we’re one step closer now.

So now… here I am, to be myself as I’ve been fighting for. I realize, that my effort is not enough yet to get my dreams.. But I thank God for all these blessing in whole my life. Cause I never thought that I deserve it. Alhamdulillah... J


See ya on 2013 everyone..

Kamis, 20 Desember 2012

K A M U


Itu dia, di sana, yang sedang sibuk dengan buku bacaan di bawah pohon di tepi danau. Biar kutebak, itu pasti novel terbaru yang ia beli di hari Sabtu. Aku senang memperhatikannya dari sini, mimiknya membaca, gerak bola matanya ke kiri-kanan mengikuti rentetean kata, kakinya yang jarang diam, selalu menjadi kebiasaannya ketika sedang membaca. Telinganya kadang tak berfungsi baik ketika sedang membaca, jangan harap dia akan menoleh untuk menanggapi pernyataanmu kalau kau tak menyebut namanya sedikit lebih keras untuk memperoleh sedikit perhatiannya. Dia, seperti hidup dalam dunianya sendiri, hanya ada dia dan cerita di dalam novel. Memperhatikannya saat ia membaca seperti ini selalu menjadi favoritku, karena aku tak perlu takut ia akan menoleh dan mendapatiku curi-curi-pandang, tak a…. rrrgh.. aku kedapatan!

Well, she’s coming..

“Ken.. liat apa kamu?” tak dinyana anak ini keluar dari dunianya tiba-tiba.

“Tuuh liat objek foto di belakang kamu.. Ceritanya sudah selesai?” kualihkan pembicaraan sembari mengganti lensa kamera. Menunduk. Sengaja, agar wajah ku yang agak memerah tidak begitu terlihat olehnya.

“Belum sih, mataku sepertinya lelah, jadi rentan berair..” keluhnya.

“Jangan terlalu dipaksa, kan cuma bacaan.. bukan bahan ujian..” aku siap mengambil gambarnya. Jarakku dengannya kira-kira lima meter sekarang. “Coba, pura-puranya kamu lagi baca..” kuatur settingan iso, aperture, shutter speed, auto focus dengan point pada matanya. Cepret.

Hasilnya selalu kusuka. Meski ia hampir selalu tak peduli. Kadang kuperlihatkan hasil jepretanku secara sembunyi-sembunyi, posenya sedang membaca, tertidur, menulis, menghayal, ataupun mengobrol. Ekspresinya, kadang tak terduga, kadang senyum mengembang, kadang tawa renyah, kadang wajah memelas, kadang terkaget, kadang pula kepalan tinju mendarat di bahuku. Dialah Risa, an unpredictable girl in my opinion. Seperti sekarang, ia tak peduli pada hasil jepretanku.

“Capek yah?” kuusap kepalanya seperti biasa, rambutnya jadi sedikit berantakan,  tapi ia tak peduli. Aku duduk di sisinya sekarang. Dia hanya diam.

“Iya.. sepertinya belakangan ini aku stress”

“Stress?! Stress kenapa? Kerjaan yah?” tanyaku iba, ia hanya menggeleng.

“Aku bingung… “ aku menunggu.. menunggu penjelasan tentang kebingungannya.

“Aku putus sama Viky Ken…” lanjutnya. Tuhan, apa aku harus bahagia di atas penderitaan anak ini? Senyum tiba-tiba mewarnai hatiku, tapi wajahku tetap kubiarkan datar, meminta penjelasan lebih lanjut.

“Kenapa?” tanyaku tiba-tiba, meskipun hatiku sebenarnya tak peduli sama sekali tentang alasan keputusannya. Aku yakin ini keputusannya, toh ini bukan pertama kali mereka putus sejak 7 tahun mereka pacaran.

“Aku dilarang pacaran..” aku belum paham, sepertinya dia masih sibuk dengan dunianya.

“Siapa yang larang?” kufokuskan pendengaranku, berharap meskipun suaranya hanya 20 desibel aku masih sanggup mendengarnya.

“Tuhan..” deg! Sudah kubilang, anak ini memang unpredictable kan?

“Tuhan bilang apa?” pertanyaanku sepertinya sudah mulai mengetuk pintu dunianya.

“Tuhan bilang, Risa.. kamu jangan pacaran ya.. selama apapun kamu pacaran dengan dia, dia belum tentu jodohmu loooh…” wajahnya datar, sepertinya anak ini memang sedang kalut.

“Kapan Tuhan bilang begitu?”

“Semalam sebelum aku putus sama Viky…”

“Kenapa Tuhan cuma bilang itu ke kamu? Kenapa Tuhan tidak melarangku juga?” tanyaku.

“Karena kamu tidak punya pacar..” wajahnya masih datar, pandangannya kosong, dan aku bingung menghadapinya begini. Sepanjang perjalanan persahabatan kami sepuluh tahun, aku tak pernah mendapatinya se-stress ini. Ia tak pernah punya masalah dalam hubungannya dengan Viky. Itu setahuku, tapi kupikir Risa memang cukup introvert tentang hubungan asmaranya.

“Ada apa sih Ris…?” aku bergeser berpindah duduk di depannya sekarang. Menyimpan kamera, dan siap mendengar penjelasannya, mencoba memperlakukannya seperti biasanya dia menjadi pendengar yang baik tentang semua masalah-masalahku selama ini. Saat ia yang memiliki masalah, biasanya ia hanya ingin ditemani dalam diam, menjadi pendengar yang baik dalam omongannya yang kadang ngawur, ikut tertawa saat ia menertawakan dirinya sendiri, dan hanya bisa diam ketika mendengar isaknya setelah tawa. Setelah itu, ia akan lebih  tenang, lega, dan bebas dengan solusi yang hanya ia dan Tuhan yang tahu. Setelahnya biasanya akupun sudah mampu lega, masa kritis telah lewat. Tinggal memberinya setopless cokelat favoritnya, maka senyum akan kembali mengembang.

Tapi saat ini ia masih diam. Aku tak sanggup… duduk di depannya lima belas menit hanya mendapatinya diam dengan tatapan kosong seperti ini.

“Dia selingkuh?” tanyaku tak tahan. Dia mendelik padaku tak terima, oke.. berarti bukan. “Dia power ranger kuning dan kamu tidak bisa terima karena kamu maunya dia ranger biru?” tanyaku mulai ngawur. Dia tertawa kecil, akhirnya.

“Dia ternyata Poseidon yang sedang mencari Zeus ke daratan lalu jatuh cinta pada manusia bernama Risa dan ingin menikahinya, tapi Amfitrit tak ingin dimadu…” dia tertawa sendiri dengan cerita yang ia lontarkan.
“Emang kamu bisa hidup di laut?” tanyaku iseng.

“Kalo aku mau, dia mau bikin rumah untuk manusia biasa, semacam rumahnya Sandy di Sponge Bob itu loh Ken…”

“Trus kenapa kamu gak mau? Cuma karena Amfitrit tidak mau dimadu? Kalo jadi kan rumah kalian pasti beda doong.. rumah ala Sandy itu kan cuma kamu yang bisa tinggal dsana..”

Dia menggeleng, “aku suka sama Zeus..” dia berkata dengan wajah datar, menatapku lurus.

Aku mencoba tertawa kecil, dia masih diam, aku kikuk lalu mencoba sedikit tersenyum. Aku tau ia serius. Ia hampir selalu serius, serius belajar, serius bekerja, serius bermain, serius membaca juga serius saat bercanda. Dan sekarang, dia serius kalut. “Risa…?” aku menatapnya, mencoba menemukan apa yang ia coba sembunyikan di balik matanya. Nihil. Tatapannya justru berbalik menembus jantungku.

“Aku jatuh cinta sama Zeus..” ia tersenyum,  manis.

“Oh yah? Sudah berapa lama?” tanyaku.

“Baru dua minggu ini..”

“Bukannya katamu kalo kamu pacaran Tuhan akan marah?”

“Iya.. makanya, kenapa Tuhan bikin aku jatuh cinta sama Zeus setelah menjadi selingkuhan Poseidon selama tujuh tahun, supaya aku putus sama Poseidon… “

“Jadi kamu minta putus sama Poseidon trus suka sama Zeus habis itu kamu mau pacaran sama Zeus gitu? Tuhan marah dong..” dia menggeleng lagi.

“Kendra, Tuhan bikin aku jatuh cinta sama Zeus cuma supaya aku putus sama Poseidon.. tapi aku juga tidak minat pacaran sama Zeus..”

“Trus? Mau kamu apa? Tadi katanya jatuh cinta sama Zeus 2 minggu ini..” aku nelangsa dibuatnya bingung.

“Aku, menunggu seorang manusia yang mengajakku berjanji di depan Tuhan.. Karena aku lelah bermimpi, entah bersama Poseidon ataupun Zeus..” katanya lagi-lagi serius.

“Siapa?”

“Siapa saja manusia baik yang beriman dan bertaqwa berbudi pekerti luhur tidak sombong dan rajin menabung…” kali ini diikuti cekikikan lucu dari mulutnya. Aku terdiam.

“Siapa Zeus itu?” aku bertanya dalam..

“Kamu.”

Kamis, 13 Desember 2012

MY EUFORIA



“Berapa lama kamu sanggup menunggu?”

“Sampai kamu siap” jawabmu datar. Tatapanmu tetap lurus menatap jalan malam yang mulai sepi, tampak fokus, pandanganmu memang fokus pada jalan gelap tanpa lampu, tapi aku tahu hatimu tidak. Rinai hujan sedikit mengganggu pandanganmu, wiper tetap bekerja tanpa lelah atas dasar instruksi dari tuas di balik setir sebelah kirimu. Kau diam, mungkin menunggu… menungguku yang tak kunjung memberimu pasti. Jika kujawab Tidak, maka kau akan pergi. Jika kujawab Iya, maka kau akan berjuang mati-matian untuk menjadikan mimpi kita nyata. Mati-matian, itu katamu. Tapi, aku hanya bisa memberimu diam. Aku, bukan lagi sang Pemimpi itu. Aku tak cukup berani untuk bermimpi, lagi.

Katamu, aku idealis. Katamu, aku selalu tahu apa yang ku mau. Katamu, aku sangat komitmen, meski kadang tak konsisten. Katamu, aku high-principled. Katamu, karakterku cukup kuat… Ketika ada yang tidak bisa menerima, maka aku akan pergi. Tapi, tahukah kamu… sejak chemistry ini datang aku berubah menjadi orang lain? Menjadi orang lain ketika menghadapinya, lelaki yang mengaku mencintaiku sejak 7 tahun ini. Lelaki yang menilaiku hampir sama dengan penilaianmu. Bedanya, dia menilaiku sebagai orang yang sangat tidak konsisten. Yah, mungkin dia benar. Aku pikir dia benar. Tahukah kamu, sejak chemistry ini hadir aku tidak sanggup berkomitmen dengan siapapun. Aku tak tahu apa yang ku mau. Aku bingung, hanya mampu tenggelam dalam chemistry kebersamaanku, dan itu denganmu. Bukan dengannya.
“Besok kamu akan datang ‘kan?” tanyaku setengah berbisik.

“Tergantung keputusan kamu malam ini..” kau masih datar menjawabku. Tatapanmu masih sama, lurus tanpa ingin menoleh padaku. Aku tiba-tiba menjadi sulit bernafas. Dadaku sesak. Sesak akan rasa yang harus kutanggalkan malam ini. Sesak pada kebersamaan yang belum juga kutinggalkan tapi sudah kurindukan. Sesak akan sikapmu yang tetiba berubah dingin padaku malam ini.

“Sepuluh tahun sudah ini berlalu, kenapa kamu belum lelah?” tak terbendung linangan itu mengalir di balik suaraku yang terbata.

“Karena aku telah menjadi diriku sendiri lima tahun ini, dan aku sedang berusaha mencapai bahagiaku yang letaknya di ujung keputusanmu” tangan kirimu mengelus kepalaku lembut. Hal yang selalu kau lakukan ketika melihatku sedih, dan hal itu akan selalu kurindukan.

“Tujuh tahun ini aku selalu berpikir bahwa aku mencintainya..” kataku akhirnya.

“Itu pikirmu ‘kan? Boleh aku tahu rasa mu?” tanyamu menodong.

“Kau tahu ‘kan seberapa bingungnya aku sekarang? Aku bingung.. aku tiba-tiba merasa tidak kenal dengan perasaan ini ke kamu, tidak kenal dengan aku yang pura-pura tersenyum ketika bersamanya, tidak kenal dengan hidup yang tiba-tiba dipenuhi dengan pikiran tentang kamu.. Kamu ngerti ‘kan?!” emosiku meluap-luap, buliran itu lagi-lagi mengalir. Kali ini diselingi isak.

Kau menghentikan kemudi, meminggirkan mobilmu ke sisi jalan. Lalu mambalik badanmu, menatapku lembut, mencoba memahami perasaanku yang kalut.

“Risa, aku selalu bahagia.. ketika kamu bahagia.. aku tidak mau melihat kamu bingung seperti ini.. Kekalutanmu ketika bersamaku sudah cukup menggambarkan seberapa besar kamu mencintai dia.. Asal kamu yakin, akupun akan yakin..” kau meraihku, mendekapku dalam peluk sambil terus menenangkanku dengan usapanmu pada rambutku.

Kau melepaskan dekapanmu, meraih tanganku untuk sejanak kau genggam.. “Kalau kite berjodoh, kita akan bertemu di ujung jalan ini ‘kan?” katamu sambil tersenyum. Aku hanya bisa mengangguk, membalas senyum dengan air mata. Tapi senyum ini, ternyata meyakinkanku.. kau nantinya akan bahagia dengan atau tanpaku. Aku tahu itu. Aku yakin kini.

Kejengahan melanda kita, dua sahabat yang tiba-tiba bingung mendapati chemistry dalam persahabatan bertahun-tahun. Memandangimu seperti ini, mungkin akan kurindukan. Malam, wangi lime mobilmu, rintik hujan, jalanan sepi tanpa lampu jalan ini akan selalu mengingatkanku padamu nantinya.

 “Aku suka lagu ini” tiba-tiba tanganmu memutar volume lebih keras.

Aku lega, setidaknya musik yang lebih keras mampu menenggelamkan kejengahan di antara kita. Otak dan perasaanku pun ikut berenang.. kuperbaiki posisi dudukku senyaman mungkin. Mencoba menikmati lagu dengan alunan akustik di kala hujan.. hanya menunggu teh hangat maka bahagia itu cukup.

Your hand fits in mine
Like it's made just for me
But bear this in mind
It was meant to be
And I'm joining up the dots with the freckles on your cheeks
And it all makes sense to me

I know you've never loved
The crinkles by your eyes
When you smile
You've never loved
Your stomach or your thighs,
The dimples in your back at the bottom of your spine
But I'll love them endlessly

I won't let these little things slip out of my mouth
But if I do
It's you
Oh, it's you they add up to
I'm in love with you
And all these little things

You can't go to bed without a cup of tea
And maybe that's the reason that you talk in your sleep
And all those conversations are the secrets that I keep
Though it makes no sense to me


I know you've never loved
The sound of your voice on tape
You never want
To know how much you weigh
You still love to squeeze into your jeans
But you're perfect to me

You'll never love yourself half as much as I love you
You'll never treat yourself right, darling, but I want you to.
If I let you know I'm here for you
Maybe you'll love yourself like I love you, oh.

I won't let these little things slip out of my mouth
But if it's true
It's you,
It's you they add up to
I'm in love with you
And all your little things

Dan hari ini, kau benar-benar tak datang. Tapi aku tetap yakin… dengan atau tanpaku kau akan bahagia. Kebersamaan kita yang begitu indah akan kukemas ke dalam kotak berpita yang kulabeli “KENANGAN”. Hanya sebaris sms yang kau kirimkan…
“Happy Engagement Day yah Chunk.. :-) “
Sender : My Euforia

Senyum merekah di wajahku kini, aku tahu kaupun demikian di manapun kau berada.


Song by : One Direction – Little Things

Selasa, 16 Oktober 2012

..STAY


Dalam diamku aku menunggu satu tanya dari bibir tipis itu. “Apa kau baik-baik saja?” seperti pagi biasa yang kau lakukan ketika melihat luka memar di wajahku. Dan aku, akan membalas hanya dengan seulas senyum yang seolah telah lelah untuk bercerita. Kau kan diam. Hanya sesengguk tangis yang kadang kusimpan untukmu di sela kapan-kapan kita berbincang.
Pagi ini aku memar lagi, satu-satunya lelaki yang kusebut Cinta kini telah berdiam di balik jeruji. Mungkin kau senang, mungkin kau tak merasa perlu untuk melontar satu tanya lagi, karena kau terlalu yakin akan seulas senyum yang begitu lega yang ‘kau pikir akan kau peroleh di wajahku pagi ini. Selain oleh-oleh memar di pelipis kiriku ini tentu saja.

Kau tampak sibuk, mejamu berantakan, sengaja, kau memang tampak berkemas. Kuamati kau dengan awas melalui ekor mataku. Sadarkah kau, aku tengah berbincang dengan diriku tentang dirimu.

“Aku akan pergi” ucapmu memecah kejengahan ruang kerja kita. Aku masih diam, menatapmu lurus, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menelusupmu. Di balik matamu kutemui kecewa.

 “Kenapa?” hanya satu kata itu yang akhirnya terlontar sebagai rangkuman segala tanda tanya dalam kepalaku.

“Aku takkan pernah sanggup melihat mata sembabmu setiap pagi, sebagai pengganti lebam di wajahmu”.

Aku diam. “Kenapa?” lagi-lagi hanya itu kata yang kuucap.

“Karena aku takkan pernah bisa mengganti dia, lelaki yang terus kau cinta dengan lembut, tapi selalu ia balas dengan lebam di wajahmu. Is that love?” kau mengejarku dengan kata-kata atas pahammu.
Aku diam.

“Aku tak sanggup, meski ia mungkin tak kan kembali padamu lagi. Aku takkan sanggup melihat mata sembabmu di setiap pagi karena menangisi kepergiannya. Hal yang paling menyakitkan adalah karena aku yang menjebloskannya, akulah penyebab sembabmu di setiap pagi nantinya”.

Aku diam, tapi dalam diamku hatiku lebam. Jauh lebih lebam dari biasanya. Kau tak pernah tahu. 

“Tapi kenapa?” tanyaku lagi, terbata kini.

“Kenapa apa Tira?” desakmu bingung.

“Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau harus begitu prihatin padaku? Kenapa kau harus memisahkanku dengan orang yang katamu kucinta? Lalu mengapa setelah kau melakukan semuanya, mengobrak-abrik hidup yang menjadi biasaku, lalu kau pergi begitu saja? Kau hanya ingin semuanya berjalan baik-baik saja sesuai pahammu ‘kan? Dan menurutmu, setelah kepergianmu nantinya semuanya akan baik, kau adalah pahlawanku. Pahlawan tanpa pamrih yang tak butuh apresiasi? Begitu? You’ve done to break my life, and now you’re gonna leave Hahha! It’s funny you know..” setengah berteriak, aku tampak seperti orang gila. Aku rasa aku gila. Gila karena baru menyadari betapa aku sangat mencintaimu selama ini, betapa aku begitu membutuhkanmu, betapa aku menggentungkan setiap kisahku padamu. Lalu pagi ini, pagi baru yang kumulai setelah semalaman membakar kenangan dan kebodohanku selama ini. Bahagiaku hari ini adalah menyadari keberadaanmu, dan kau bilang kau akan pergi? Sesenggukan kurangkum kesedihanku dalam tangis.

Kau diam, aku tak bergeming menatapmu. “Maafkan aku..” ucapmu menatapku, menggenggam tanganku, mendekapku dalam pelukmu, lalu mengecup rambutku.

‘Please… stay.. with me’ aku berbisik dalam hati.
 
"I’ll stay.. for you” dengan lugas kau berkata, mendekapku lebih erat. Kurasai jantungmu berdetak cepat. Kau, bahagiaku kini dan nanti.

Jumat, 12 Oktober 2012

BBAMMM!!!


‘Finally, Bali’ kuhirup udara lembab malam dalam-dalam. Riang dalam hatiku tampaknya tak sanggup kusembunyikan, semuanya tergambar jelas dari senyum sumringah yang tak pernah hilang sejak Bapak menerima proposal liburan mid semesterku minggu lalu. Bagaimana tidak, sejak setahun lalu aku mengidam-idamkan perjalanan sendirian, menapaki kampung orang seperti ini. Meski hanya perjalanannya yang sendirian sih, karena di Bali aku akan bertemu sahabat penaku sejak SD, namanya Tita. Dia gadis Bali asli yang tinggal di Kuta. Aku dan Tita belum pernah bertemu langsung, tapi kemajuan teknologi bisa mengatasi semuanya. Kami sering berkorespondensi via Friendster dan chatting. Perjalanan sendiriku kali ini juga dibekali handphone butut bapak yang masih tahan banting dan sebesar tempat pensil ini. Tak masalah, yang penting useful.

So here I am now, Ngurah Rai International Airport, sedang di ruang tunggu depan menunggui Tita, kabar terakhir ia baru saja berangkat dari rumahnya. Karena jarak rumahnya dan airport dekat dan barangku tak banyak, aku terima saja Tita menjemputku dengan sepeda. It’s gonna be so fun… Jalan di Kuta malam-malam naik sepeda, hehehe. Hmmh. Kulirik jam tanganku, 23:03 sudah cukup larut. Tapi ini kan Kuta, dan pula ini malam Minggu, pastilah Kuta ramai oleh wisatawan.

“BBBAM!!!”
“Astaghfirullaaahhh!” spontan aku berseru. Kekagetanku membuat bulu kudukku berdiri. Suara apa itu? Terasa sangat dekat, aku merasa pijakanku sedikit bergetar. Aku tahu, aku mulai takut. Lampu tiba-tiba padam, sepertinya tak ada yang menyala sejauh mataku mampu memandang. Kurogoh saku celanaku untuk meraih handphone butut Bapak, hanya untuk mencari secercah cahaya. Kupeluk ransel hijau army-ku, satu-satunya barang bawaan yang kupunya. Melayangkan pandanganku ke sekeliling, mencoba menangkap gerak-gerik manusia yang tiba-tiba menjadi kikuk, sibuk.

“Ada bom bli…ada bom!!!” samar-samar kudengar suara kisruh dari seorang Bapak yang baru datang. Aku panik. Bom? Bagaimana mungkin? Seketika susasana berubah gaduh, orang-orang berlarian dari berbagai arah, kurengkuh tas ranselku, berlari menuju ke mana saja orang berlari, keluar dari Bandara. Jalanan dipenuhi orang lalu-lalang, tidak sedikit yang meninggalkan mobilnya di tengah jalan. Mencoba mencari tahu, apa yang baru saja terjadi. Aku terus berlari, dalam setiap langkah cepat yang kupunya, kurapalkan doa apa saja yang kuingat. Entah berdoa untuk apa, atau untuk siapa, akupun masih bingung. Langkahku terhenti, kakiku tiba-tiba kaku. Di tengah gelap gulita kota, riuh rendah suara kesakitan, tangis, cahaya terang benderang berasal dari satu titik. Bangunan terbakar, asapnya mengepul lebat, kelabu. Bahkan dari jarak ratusan meter ini, aku hanya bisa melihat satu tanda, maut yang baru saja menyapu.

Aku menjauhi pusat kobaran api, mencoba menghubungi Tita dengan sisa-sisa kesadaran yang kupunya. Semuanya masih seperti mimpi, dan tolong yakinkan aku bahwa ini hanya mimpi. Teleponnya memanggil, tapi tak ada jawaban. Dia pasti khawatir karena tak menemukanku di Bandara. Kuulangi. Teleponnya memanggil, tetap tak ada jawaban. Tapi tiba-tiba, aku justru mengkhawatirkan Tita. Aku diam, mematung, bingung. Kuperhatikan keadaan sekeliling, semua orang tampak sibuk, semua bergerak. Mataku terasa panas, buliran-buliran itu mengalir tak terbendung. Kurasai kesendirianku di tengah keramaian orang-orang yang tak kukenal, di tengah malam, di kota yang begitu jauh dari sanak saudara. Kakiku bergetar, mungkin tak lagi mampu menopang beban kengerian di tubuh ini. Aku menangis sejadi-jadinya, tanpa suara. “Yaa Rabb..” kembali kuhubungi Tita dan kembali tak ada jawaban. Dalam hati tak henti ku berdoa, semoga aku dipertemukan dengan siapa saja yang bisa menjawab kebingunganku.
Pundakku ditepuk “Dek… mau ke mana?” Tanya seorang Bapak dengan dialek Bali asli. Aku hanya diam, masih bingung dan tidak punya jawaban. Sepertinnya sesenggukanku cukup menggambarkan kebingunganku.
“Kamu turis dek? Baru sampai?” Tanya Bapak itu lagi. Aku hanya mengangguk.
“Sekarang dak aman dek.. kalo adek mau, adek bisa ikut ke rumah Bapak dulu sekarang, mobil bapak ada di sana…” si Bapak menunjuk mobil Kijang Krista berwarna merah marun di jejeran mobil yang terparkir di jalan. Entah keberanian atau kebodohan, aku hanya merasa yakin bahwa Bapak inilah jawaban dari doa yang sejak tadi kurapalkan dalam hati. Aku mengangguk, mengikuti langkah si Bapak dengan cepat.

“Dek… sudah bangun?” seorang Ibu mengetuk pintu kamar. Beringsut aku bangun membukakan pintu yang terkunci. Sempoyongan, tidurku memang tak nyenyak. Selain sibuk menghubungi Tita yang masih tak ada kabar, aku juga sibuk mengabarkan kondisiku pada Bapak di Makassar, satu-satunya keluarga yang kupunya. Aku tersenyum pada si Ibu, si Ibu ternyata membawakan sarapan, sepiring roti dan segelas susu.
“Maaf saya merepotkan bu…” kataku sekenanya.
“Dak papa.. adek kan datang ke rumah kami, sudah sepantasnya kami melayani. Adek dari mana?” Tanya si ibu.
“Saya Resi bu.. dari Makassar. Saya baru sampai tadi malam, saya mau ketemu teman saya, namanya Tita, alamatnya di sini..” kusodorkan notepad catatanku pada si ibu, kuterka beliau adalah istri dari Pak Made, bapak yang memungutku semalam. Si ibu mengembalikan notepad-ku.
“Sebaiknya dek Resi jangan keluar rumah dulu, kita semua masih takut keluar… mau tunggu kondisi tenang dulu..” ujar si ibu.
“Tapi saya mesti ketemu teman saya bu, dia pasti sibuk cari saya..” jawabku.
Ibu Made menggeleng “nanti.. tunggu tenang dulu..” katanya tenang dan tegas.
Kuurungkan niatku membantah. Kucoba menghubungi Tita kembali, kali ini teleponnya tak aktif. Bapak sudah memesan tiket penerbangan untuk menjemputku. Tapi kabar yang beredar untuk sementara penerbangan menuju Bali di-blok sementara, entah sampai kapan. Sementara aku, masih tetap ingin mencari tahu tentang Tita. Kepalaku pusing, aku butuh tidur.

Pagi ini kuputuskan untuk keluar rumah, dengan ditemani Dewa, anak Pak Made yang usianya lebih tua setahun dariku. Jalanan lengang, hanya sesekali motor lalu lalang, jalan menuju Legian lokasi pengeboman ditutup, sepertinya masih sedang diinvestigasi. Dewa mengantarku dalam diam, seperti duka yang tergambar jelas dari wajah-wajah penduduk Bali. Semuanya tampak sendu berkabung. Dua ratus nyawa hilang dalam sekejap, dan ratusan lainnya terluka parah. Bali yang kuimpikan akan menyambutku dengan damainya Ubud, keramaian Kuta, tiba-tiba berubah menjadi Bali yang dirundung kesunyian dalam duka. Dan semuanya, tergambar jelas dari wajah para penduduk Bali. Aku teringat Tita, ajakannya mengunjungi kampung halamannya ini sudah lama ia rencanakan. Keinginannya untuk mengenalkanku pada Bali yang sebenarnya, yang selalu kuingat dia selalu bilang “Kalo di Bali kamu gak usah takut, orang Bali baik-baik kok” dan itu dibuktikan dengan keramahan keluarga Bapak Made. Kesedihan tergambar di mana-mana, penduduk Bali tampak sedih tak terkecuali. Toko-toko belum berani buka, bahkan supermarket yang menjual kebutuhan sehari-hari masih sulit ditemukan. Kami sampai, rumah Tita di kawasan Poppies, gang kecil yang dipenuhi penginapan. Begitupun rumah Tita, 70% adalah penginapan sederhana dengan kolam renang kecil di sampingnya. Teduh. Patung-patung khas Bali menjadi penyambut di bagian depan penginapan. Sepi. Seorang ibu menyambut kami, mengantarku ke salah satu kamar di bagian belakang penginapan, area rumah pribadi.

Di sana, di dalam kamar, Tita terbaring meringkuk, menggulung tubuhnya sendiri di balik selimut. Diam, ia menatapku, tanpa ekspresi. Aku duduk di sampingnya, diam, tanpa ingin menyentuhnya. Melihatnya saja cukup membuatku takut kalau-kalau ia berteriak histeris.

Dari ibunya aku mendapat cerita, malam itu Tita dengan sepedanya ingin menjemputku di Bandara melewati Legian. Tepat 50 meter melewati sari club, kelab malam yang dipenuhi wisatawan asing itu tiba-tiba meledak. Tita terhempas, terkena pecahan beling, dan terhambur bersama potongan-potongan mayat yang terbang dari barbagai arah. Dia trauma. Secara fisik ia hanya mengalami luka ringan, tapi secara psikologis ia sangat terguncang. Ibunya juga mengkhawatirkanku ternyata, sampai melapor ke polisi, mereka tidak bisa menghubungiku karena handphone Tita hilang. Dan di sinilah aku kini. Menatapi sahabat penaku untuk pertemuan pertama kami. Rencana untuk menjelajah Bali dengan sepedanya, menapaki kedamaian Pulau Dewata, menonton upacara ngaben keluarganya, sirna sudah. Sedih melihatnya seperti tanpa nyawa, hanya takut akan hidup yang ia punya. Aku pamit. Sore ini aku akan pulang ke Makassar, Bapak tak jadi menjemput, tiket Denpasar – Ujung Pandang ternyata lebih dulu diperoleh. Tapi aku janji, akan kembali suatu hari nanti.

Kadang aku berpikir, bagaimana mungkin kita mengaku manusia tapi tak memiliki jiwa kemanusiaan? Membunuh sesama manusia secara brutal seakan kanibal yang tak berakal. Atas nama agama? ‘cuihh..’ aku muak. Jangan mengaku agamawan kalau yang kau lakukan justru menentang Tuhan. Agama yang mana yang mengajarkan kita untuk saling bunuh-bunuhan hah?! Aku murka… marah, kecewa pada sesuatu yang entah apa ataupun siapa. Aku pulang dengan luka yang mendalam.

Sepuluh tahun telah berlalu, Tita telah hampir pulih, hampir. Hingga kini, ia masih sering merasa risih ketika berada di suatu tempat yang banyak dikunjungi wisatawan asing. Masih cukup takut untuk mengunjungi keramaian sendirian. Tapi paling tidak, ia kini sudah bisa tersenyum dan mengingat semuanya tidak dengan benci. Di balik lukanya, ia tak menyimpan dendam kepada para pelaku, dia dengan bijak memaafkan mereka, menurutnya, merekapun korban… korban pencucian otak dari pihak-pihak yang lain. Dan hari ini, ia mulai berani untuk mengenang 12 Oktober 2002 di GWK, tanpa trauma.

Mari menjadi manusia untuk kemanusiaan.
In memorial Bom Bali I 12 Oktober 2002

Senin, 24 September 2012

In Memory of Egwin Al Yusuf

Ini berita duka, sedikit tidak percaya, dan masih diselubungi sedih ketika membuat tulisan ini. Saat ini. Ketika kamu membaca postingan ini bisa jadi ruh ini tak lagi di sini. Unpredictable. Seperti itulah hidup jika kamu ingin saya menggambarkannya hanya dengan satu kata. Dia, seorang senior, kakak, guru, serta motivator yang sangat baik dan bijak ternyata telah lebih dulu menghadap Sang Khalik kemarin. Pukul berapa tepatnya saya tidak tahu, yang saya tahu, saya merasa kehilangan yang cukup mendalam. Dan tulisan ini, saya dedikasikan untuk mengenang beliau, Kanda Egwin Al-Yusuf, Sipil FT-UH '01.

Pertemuan pertama kami saat itu saya masih maba (mahasiswa baru), kami dikumpul oleh senior di sekretatiat HMS (Himpunan Mahasiswa Sipil) FT-UH. Dia, sebagai senior menanyakan kabar kami, yang tentu saja dalam keadaan dipaksa baik :), tapi meski ia tahu kondisi kami sedang dipaksa baik, dia banyak memberikan semangat serta gambaran tentang dunia kemahasiswaan, biasalaah senior.. :) Kak Egy juga sempat memberi koreksi pada tugas besar Menggambar Rekayasa Struktur Bangunan saya hari itu, sebelum saya asistensikan pada temannya. Selang beberapa lama, HMS kala itu punya program kerja melalui kelompok khusus CLC (civil language center) mengundang 'bule-bule' ke himpunan untuk sekedar berdiskusi atau berbagi cerita, hitung-hitung practice our english on that time. Iseng-iseng saya sedikit terlibat percakapan dengan si 'bule' yang kemudian membuat saya di-klaim bisa direkrut sebagai anggota baru CLC. :)) Akhirnya, saya masuk ke struktur organisasi sebagai anggota CLC. Nah, di CLC inilah saya mengenal Kak Egy lebih dekat. 

Di kampus kami, ada ritual EEDC (engineering english debating competition) yang dihelat setiap tahunnya. Ajang ini diselenggarakan oleh UKM bernama WELCOME 09 SMFT-UH (worldwide language community of engineering). Kak Egy, sebagai debater yang cukup handal ingin mencari bibit-bibit debater baru di angkatan kami, jadilah kami diperkenalkan ke dunia debating oleh beliau melalui CLC. Suatu ketika, Fak. Kedokteran menyelenggarakan ajang debat tingkat SMA dan Universitas se-Sulawesi Selatan, di awal tahun 2006. Merasa kami telah dilatih secara berkala oleh beliau, dia lalu mengutus 3 tim dari SMFT-UH, yang mana 2 tim berasal dari jurusan kami, sipil. Tidak sia-sia, kenekatannya kala itu mengantar tim kami sebagai runner up di kompetisi tersebut. :) Selang 2 bulan, EEDC kembali digelar, karena bermodalkan runner up di ajang tingkat universitas, Kak Egy kembali mengutus kami mewakili jurusan sipil di 4th EEDC tahun 2006. Alhamdulillah, we're the champion

Selepas EEDC, kami tetap rutin latihan debat di HMS, masih dengan adjudicator yang sama, Kak Egy. Kondisi WELCOME 09 ternyata tidak sesehat kelihatannya seperti saat kepanitiaan EEDC. Semakin hari semakin terpuruk ditinggal sang President. Akhirnya Kak Egy mengumpulkan anggota WELCOME 09 yang masih tersisa dan menyarankan untuk membuat Musyawarah Luar Biasa hingga penetapan President baru di tahun 2007. Dan akhirnya, beliau meminta saya secara pribadi untuk menduduki kursi Vice President. Maka, jadilah saya Vice President yang cukup buta akan organisasi sendiri. :( Ditambah lagi cukup disibukkan dengan tulisan-tulisan bulanan untuk mading Rekayasa.. yang bisa dibilang, cukup melelahkan. But, from that hectic period, i learnt so much things. Dan saat-saat itulah yang kemudian bisa membentuk saya menjadi pribadi yang seperti sekarang. Peranan Kak Egy tidak sampai di situ, setiap kali ada kesempatan untuk berdiskusi, beliau selalu meluangkan. Entah diskusi tentang WELCOME 09, HMS FT-UH, debating, memberi pelatihan adjudicator, sampai pembahasan tentang rahasia-rahasia kecil kami. :) Karena motivasi Kak Egy juga, saya akhirnya berani untuk menjadi Adju debating di beberapa ajang di luar kampus. Selepas masa ke-wakil-presidenan, ternyata WELCOME 09 masih berani untuk mempercayakan saya sebagai President periode 2008-2009. 

Masa itu Kak Egy sudah bergelar sarjana, dan sudah cukup disibukkan dengan profesinya sebagai tenaga pengajar di salah satu lembaga kursus bahasa inggris terbesar di Makassar. Tapi ia masih cukup sering memberi masukan dan menjadi penghubung antara WELCOME 09 dengan kantornya, sebagai sponsor pada beberapa kegiatan. Lama tak bertukar kabar, terakhir saya mendengar beliau bekerja sebagai PNS di Kendari pada Dinas PU. Sampai akhirnya, kabar terbaru yang saya terima semalam, beliau sudah pergi, penyakit asmanya menjadi alasan kepergiannya selain karena kehendak Sang Pemilik Kehidupan. :'(

Saya mungkin hanya 1 dari seribu adik yang merasa dekat dengan beliau. Tapi saya percaya, kalo kamu sempat mengenalnya, kamu akan merasa dekat dengan Kak Egy. Pribadinya yang terbuka, supel, dan tulus saya pikir cukup mampu menjadi inspirasi untuk orang sekitarnya. Saya selalu ingat ceritanya ketika ia masih maba, debutnya sebagai seorang debater berawal ketika ada ajang debat tingkat universitas, seniornya hanya memanggilnya dan bilang "Egy.. ko ikut debat nah.. maumi mulai itu, we are the champion!" Dan dengan modal we are the champion dari seniornya, Kak Egy turun dan ... kalah. Bagaimana tidak, dia sama sekali buta tentang debate competition saat itu. "Itulah alasannya kenapa saya begitu peduli sama juniorku tentang debating, karena saya tidak mau jadi seperti seniorku, cuma kasi modal we are the champion baru suruh adek-adekku turun kompetisi... jelas kalah... jadi, kau juga begitu nanti... ajari adek-adekmu dulu sebelum kau tinggalkan.." dan saya tahu kak... saya tidak pernah menjadi sepertimu. :'( Maaf.. Saya tidak pernah bisa seloyal beliau terhadap lembaga.. khususnya WELCOME 09. Well.. seperti itulah Kak Egy untuk saya, perannya terhadap eksistensi saya pada lembaga kemahasiswaan, dunia debating yang pernah sangat saya cinta,  serta motivasi saya untuk mengeksplorasi kemampuan yang saya punya. Tanpa niat nekat Kak Egy, saya dan teman-teman mungkin tidak akan pernah menjadi runner up itu, the champion itu, Vice President kemudian President, dan tidak akan mengenal sejarah WELCOME 09 lebih jauh. 

Maaf untuk semua janji yang terabaikan ya Kak.. Maaf untuk semua salah dan khilaf.. Terima kasih untuk setiap inspirasi, loyalitas, serta semua hal yang sudah Kak Egy berikan. I miss those moments with you... :( Innalillahi wa innailaihi roji'uun.. Semoga Kak Egy dilapangkan kuburnya, diringankan bebannya, diampunkan dosanya. Al Fatihah..

Dear my Rabb..
Lapangkan kuburnya, ampuni dosanya, ringankan bebannya... Hanya KepadaMu Kami Menghamba
Aminnn ya Rabbal Alamiiin...

Ini tampang Kak Egy waktu jaman saya maba :)
Grabbed from his facebook account