Minggu, 29 Januari 2012

A Job Seeker

A Job Seeker, that’s what I am right now. Hidup seperti ini sudah saya lakoni sejak 2 bulan lalu. Meski beberapa teman yang mungkin over estimate terhadap saya bilang “masa sih kamu nganggur?!” But here I am, this is me, a Job Seeker  J. Well, tidak ada yang aneh menurut saya.. toh sometimes life is not like what we’ve planned and expected, right? I always try to enjoy my life as a Job Seeker while do something could make me a better person, at least from my point of view.. J


Itu memang tidak mudah untuk orang yang belum pernah menjadi pengangguran sebelumnya seperti saya. Pada saat kuliah saya pernah bekerja as COOPS (cooperative program student) di salah satu perusaan tambang multinasional di Indonesia selama 6 bulan. Otomatis, as fresh graduate saya sudah experience 6 months, Thank God. Sebelum wisuda saya bekerja freelance (saya menyebutnya demikian karena saya tidak terikat kontrak sama sekali terhadap perusahaan-perusahaan tersebut) sebagai admin teknik selama dua bulan sampai akhirnya saya kembali ke tambang untuk kontrak selama 6 bulan. And after all, this is the new life… a Job Seeker  J

Menurut saya 2 bulan itu sudah waktu yang cukup lama untuk menjadi pengangguran, dan seharusnya saya memang sudah mempersiapkan kondisi ini sebelum kontrak saya sebelumnya habis, itu mungkin pikir kamu. Iya, kamu benar. Idealnya memang seperti itu. Tidak sedikit pula sebenarnya kesempatan yang sudah saya lewatkan, but it’s not the regret time my friend. Dan paling tidak, saya tidak mengisi waktu kosong saya untuk meratapi nasib, bersedih-sedih ria, kemudian menyalahkan diri lalu menyalahkan dunia yang seolah tak adil dan ditemukan mati naas minum racun tikus lantaran depresi akut. Hehehhehe… Tidak semematikan itu kok… menjadi pengangguran mestinya jadi kesempatan buat kita untuk mengabdi terhadap orang rumah.. JJJ

Ookeh.. saya kemudian berpikir, what kind of Job that I want? Beberapa minggu lalu penulis novel laris “5 cm” dan “2” Mas Donny Dhirgantoro melontarkan pertanyaan yang cukup menghentak bagi saya di akun Twitternya. “Apa sih pekerjaan idaman kamu? #dreamJob”. Saya tiba-tiba bingung, saya tiba-tiba merasa ada badai otak di dalam kepala saya *ampun, kuakui yang ini LEBAY!* Beberapa kali menangani pekerjaan yang berbeda dengan kesan “Just So So” untuk semua pekerjaan itu tentulah bikin saya bingung. Kira-kira pekerjaan apa sih yang bikin saya mau dengan sangat ikhlas begadang, duduk berlama-lama untuk bekerja. Saya juga kaget dengan jawaban tweet saya kala itu, “Saya mau menjadi seorang penulis + fotografer yang bisa menggambarkan dunia dengan jujur”… dibalas dengan “Wih…” dari Mas Donny. Dunia tulis-menulis dan fotografi memang dunia yang saya gemari, dan jujur saja… saya memang tidak jarang begadang Cuma untuk menulis dan ngedit foto, meskipun hasilnya juga tetep “just so so” J. Tapi saya tidak pernah berpikir sama sekali untuk menjadikannya sebagai pekerjaan tetap saya sebelumnya, sebelum tweet saya itu. Tapi, buat kamu yang belum tahu, saya adalah Mantan Mahasiswa Teknik Sipil teman-teman, yang idealnya telah dididik to become an Engineer mungkin 3 atau 4 tahun ke depan, dengan parameter Engineer di tempat saya bekerja sebelumnya. Apa iya saya harus banting setir ke dunia Jurnalis? Hmmh… saya memang senang, tapi hati saya belum ingin menjadikannya pekerjaan, biarlah mereka tetap berada di jalur Hobby saja.. J

Suatu kali seorang teman saya yang telah bekerja sebagai pegawai BUMN bertanya “Enak kerja di Soroako De’?” “….” Saya masih berpikir, karena memang menurut saya setiap kondisi pasti ada pros-cons nya… belum sempat saya menjawab, teman saya nyelutuk menjawab sendiri pertanyaannya “Ya iyalah enak, gajinya banyak!” saya hanya membalas dengan senyum, dalam hati saya ingin tertawa sekaligus kasihan pada teman saya ini. Oke, jujur saja… Gaji saya sebulan waktu itu memang mampu menutupi biaya SPP saya selama 11 semester dan masih tetap bersisa. But… it’s not the point! Plis deehhh.. sampai kapan sih kita mau mengukur kebahagiaan, kesuksesan, kenyamanan dengan seberapa besar nominal yang masuk ke rekening kita tiap bulannya? Halloow… adakah yang menjualnya? Meskipun memang, lebih enak nangis di atas mobil mercy daripada di atas sepeda! Tapi bukan itu… Saya pernah merasa sangat kasihan pada diri saya sendiri waktu berada di sana. Saya sampai mikir, hanya demi uangkah saya bekerja? Harus mengorbankan waktu bersama keluarga, sahabat-sahabat, bisakah semua itu dibeli? Jawabannya toh tetap TIDAK. Saat itu saya kemudian paham… bukan itu yang saya mau. Bukan, bukan hanya karena jauh dari keluarga alasannya, tetapi bagaimana membuat saya benar-benar in dengan pekerjaan itu yang sulit. Saya pikir setiap orang menginginkan pekerjaan yang benar-benar cocok secara minat serta bakat, psikologis tanpa primbon, dan salary saya tempatkan di urutan ke-tiga. And I Thank GOD… saya sekarang sadar, what kind of Job that I wantJ

Beberapa waktu lalu saya menolak dengan sengaja sebuah tawaran training dari perusahaan pialang. Jujur saja, saya tertarik dengan posisi yang mereka tawarkan. Tapi saya tidak tertarik dengan bergerak di bidang apa perusahaan tersebut. Saya bukannya sombong *insya Allah semoga saya dijauhkan dari sifat itu* untuk terlalu banyak memilih pekerjaan, tapi saya merasa tidak nyaman dan sedikit mengganggu idealisme saya sebagai seorang Hamba *IMHO*. Mungkin kamu berpikir, lalu kenapa kamu melamar? Well.. jawabannya adalah, perusahaan tersebut bergerak sebagai penyedia jasa di berbagai bidang, salah satunya Developer. Saat itu saya pikir mereka memanggil saya untuk perusahaan developer mereka mengingat educational background saya nyambung dengan itu. Tapi setelah interview saya sadar, lagi-lagi bukan itu dan mungkin memang belum saatnya. J


Saya juga teringat interview saya pekan lalu dengan bagian HRD dari sebuah perusahaan. “Pencapaian kamu sebelumnya kan sudah cukup besar untuk seorang fresh graduate, apa kamu mau menerima pekerjaan dengan salary yang kira-kira hanya seperempat dari gaji kamu sebelumnya?” lagi-lagi saya tersenyum sebelum menjawab, pertanyaannya cukup menggelikan saya pikir, ditambah dengan ekspresi yang lucu juga dari interviewer saya.. “Buat saya it’s not a big problem Pak.. besar salary saya pikir selama itu mampu memenuhi kebutuhan saya dan worth it dengan jenis pekerjaannya kenapa TIDAK?” J

Semalam saya mendapat kunjungan dari seorang teman yang ternyata akan berangkat hari ini untuk bekerja di Perusahaan Minyak. Saya ingat, saya pernah sangat menginginkannya, bekerja di sebuah perusahaan pertambangan Minyak. Kata orang-orang memang lebih menantang dibandingkan tambang lainnya. Dalam hati saya berdoa… ‘Semoga saya mendapatkan pekerjaan yang benar-benar saya inginkan juga.. Amiin J’ Saya juga percaya, setiap hal yang kita lakukan di muka Bumi, selama kita sadar dalam melakukannya, akan selalu membawa kita kepada apa yang kita inginkan meskipun mungkin bukan yang kita pikirkan… Kalo Mas Erbe Sentanu bilang POSITIVE FEELING… Meskipun saya masih seorang Job Seeker, satu hal yang paling saya syukuri hari ini adalah… Saya tahu, saya ingin menjadi apa… J I already know my DREAMS, it’s time to BELIEVE and FIGHT for it… Entah seberapa jauh saya dengan mimpi saya, yang saya tahu, saya sedang BERUSAHA. Have a great life all… J



Why is everybody so obsessed?
Money can't buy us happiness
Can we all slow down and enjoy right now
Guarantee we'll be feeling alright 
Jessie J. - Price Tag








Money can't buy us happiness

1 komentar:

Grace Amaliah mengatakan...

hehehe...skdar berbagi....

Sampai sekarang pun sy masih sering dakatai "bodoh" krn menolak perusahaan POM BENSIN itu. Tp saat itu entah knp sy punya feeling jalan ku bukan ke sana.

Gajinya bahkan 2 kali lipat dr gajiku skarang, tp it's not about the money...money...money...klo orang persepsinya k sana pasti bilang sy bodoh.

Tp dlu sy punya cita2 untuk jd ahli d bidangku. Sa tdk ada nasib untuk belajar jd ahli ke tempat yg sy inginkan. Mungkin Tuhan tdk menunjukkan jalan itu *mungkin belum*....tp d tempatku sekarang, sy bahkan merasa bisa belajar lebih banyak ketimbang berada di tempat yg sebelumnya sy impikan berada d sana untuk belajar.

So be tough on your dream, believe it there must be another way to reach it....ikuti kata hati, jangan di bayang2i dgn kebahagiaan semu(baca:MONEY)...pasti nantinya akan menyenangkan melakukan hal yg kita sukai +impikan....