Senin, 16 Januari 2012

Malino Highlands

Heyhhoo world… 2012 sekarang yah? Well.. di tahun masehi yg baru ini, saya juga buat satu subject baru di blog saya ini, mudah2an sih lancar.. J Subjectnya VENUE, so kedepannya saya bakalan coba share di blog tempat-tempat yang sempat saya kunjungi.. hmm.. gak jauh-jauh sih, sesempatnya saya saja ke mana… J 

Well, the first place on January 2012 is Kebun Teh, Malino, Sulawesi Selatan. Untuk kamu yang anak Makassar pastilah tau tempat ini, nah buat kamu yang belum tahu, Malino itu nama satu Kelurahan daerah dataran tinggi di Kec. Tinggimoncong, Kab. Gowa. Sekitar 80 km dari kota Makassar dengan waktu tempuh 1,5 – 2 jam perjalanan kira-kira, mengingat medannya agak ribet dengan perbaikan di beberapa titik.

Ada yang sudah pernah ke sana yah? Dua bulan lalu saya sempat ke Malino, tadinya cuma mau jalan ke Hutan Pinus saja, tapi sampai sana, kayaknya gak seru kalo gak ke kebun Teh. Eh, taunya Kebun Teh ditutup sampai Desember 2011 karena sedang renovasi. Nah, kemarin 15 Januari 2012 baru deh saya dan partner hunting foto saya sempat ke sana lagi. Dan ternyata…

Banyak perubahan saudara-saudari sekalian! Untuk saya ini kali ke-3 saya ke Kebun Teh, terakhir sih 2008, waktu itu ticket box-nya cuma sekitar beberapa ribu deh, lupa pastinya berapa. Maka, tertegunlah saya ketika sampai ternyata sudah ada gapura besar menyambut dengan tulisan MALINO HIGHLANDS dengan ticket box Rp.50.000,-/orang! Hah?! Apa saja yang ada di dalam memangnya? Tanya saya sama mas-mas loket, menjelaskanlah si mas-mas bahwa di dalamnya ada café di puncak, ada 2 danau, ada 2 air terjun, ada penginapan, ada camping ground. Lantaran penasaran dan sudah niat ke Kebun Teh, maka kami beli saja tiketnya.. itung-itung ngeliat apa saja sih yang sudah berubah setelah renovasi.


Waow… di kaki bukit sudah dibangun guest house dengan 3 kelas serta meeting room yang juga disewakan. Dari mbak-mbak di café kami dapat kabar kalau 1 kamarnya itu disewakan Rp. 1 juta/night. Angka yang cukup fantastis menurut saya bila dibandingkan dengan penginapan lain di sekitar Hutan Pinus, sekitar 7 km dari Kebun Teh. Okelah mungkin fasilitas yang ditawarkan juga di atas standar, tapi tergantung dari pangsa pasar sih, ya sudahlah yah.. saya juga gak ngerti masalah ekonomi marketing begini. J

kompleks Guest House dan Meeting Room di kaki bukit
View dari jalan menuju puncak
Penampakan cafe Zooming 3x
Sebelum mengunjungi cafe saya sempatkan untuk melihat pemandangan sekitar café yg brrr… dan.. kami disambut kabut tebal di jam 10 pagi! Kata mbak café-nya sih itu sudah biasa, apalagi belakangan ini cuaca sering hujan, kadang awan hitam juga mengganggu jarak pandang…
Kabut di jam 10 pagi.. --.--'!

View dari puncak kebun


IMHO café ini dibangun cukup high class juga untuk ukuran Malino. Saya sempat mesan hot tea 2 cup + banana apaaaa gitu, pisang yang digoreng dengan kulit martabak (terkaan saya) lalu ditaburi serutan keju + cokelat bubuk + susu kental vanilla… sllrrpp… enakkk! Dan tedeng… 3 item itu Rp. 75rb… soalnya tax-nya 15% cuy… hehheheh… Tapi worth it lah.. J
View dari cafe


Suasana  cafe outside


Hot tea + Snack J
Suasana cafe inside, cozy skali... J
Setelah main-main angin di puncak saya penasaran dengan penampakan danau dan air terjunnya. Kata si mbak café, ada beberapa jalur yang bisa kita lalui untuk ke danau dan air terjun. Oia, di loket tadi kita dimodali brosur dari pihak pengelola yang dilengkapi dengan map buat trekking di Kebun Teh. Untuk kamu yang suka hiking atau trekking it’s gonna be so fun J dan medannya memang sudah dibagi untuk yang pemula, menengah dan professional. Karena cuaca hari-hari sebelumnya hujan katanya tracknya agak becek, jadi kami memilih untuk  mutar naik motor, jadi jalannya gak jauh.. J untuk danaunya dari café juga keliatan, jadi saya tidak begitu tertarik. Maka, jatuhlah pilihan saya untuk menyambangi air terjun.
Danau tampak dari puncak

Map buat trekking

 
 
And here it is, tracking air terjun 1.. sayang sih matahari mulai menyengat jadi saya gak sempat ke air terjun 2-nya. Well, air terjunnya tidak tinggi kalo dibandingkan dengan air terjun lainnya di Malino, mungkin gak sampe 10 m tingginya. Tapi lumayan seru untuk jadi tempat beristirahat + kumpul tenaga untuk trekking ke tempat lain lagi. 
Tangga penurunan menuju air terjun



Pabrik teh dari kejauhan
 Hmmh.... over all semuanya menyenangkan. Udara dinginnya, cafe-nya yang cozy, pegawainya yang ramah, dan sangat sepi, kesan damainya terasa sekali, saya hanya sempat berpapasan dengan 4 orang pengunjung yang lain selama 2 jam berada di sana. Sempat terpikir, kok bisa sesepi ini? Saya membandingkan dengan kunjungan saya sebelumnya yang WOW... sangat ramai pengunjung, padahal waktu itu juga bukan masa liburan. Alasan pertama, mungkin cuaca sedang tidak begitu bagus, alasan ke dua yaitu tadi.. ticket box-nya kemahalan. Jadi kesannya memang menjadi tempat wisata untuk kelas menengah ke atas. Ada lho beberapa orang sebelum kami yang batal masuk lantaran tahu ticket box-nya segitu. Dan sepertinya memang pihak marketingnya juga belum sounding tentang perubahan drastis wisata kebun teh ini deh... * atau saya aja yang baru tahu.. hehehe*.

Tapi saya coba untuk think positive dengan program baru mereka, bisa jadi mereka memperbaharui pengelolaan kebun teh ini bukan hanya untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Tetapi untuk membuat limitasi kunjungan di area ini. Mungkin waktu area ini dibuka dengan ticket box yang relatif rendah, banyak pengrusakan yang terjadi baik secara sadar maupun tidak. Gak sengaja cabut ini-itu lah, nyampah dimana-manalah, sampai menjadikan area perkebunan sebagai tempat pacaran. Saya ingat kunjungan saya dulu, teman-teman saya sampai minta difoto di area kebun dengan background pasangan-pasangan yang lagi pacaran. Jadinya, justru lebih banyak penyalahgunaan yang dilakukan di area ini. Yang mestinya kita bisa ngerasa damai dengan pemandangan alam yang indah dan bersih, eh... yang ada malah ketemu segerombolan anak muda yang ngerokok, sampah-sampah bertebaran, dan tiba-tiba nemu orang yang lagi pacaran di balik kebun teh.. -.-'!

Jadi, menurut saya worth it lah untuk membayar ticket box seharga segitu dengan mendapatkan pemandangan alam yang indah, udara yang bersih (DILARANG MEROKOK DI AREA PERKEBUNAN), tempat trekking yang seru, cafe yang cozy dan.... pengalaman yang seru untuk dibagi.

Sudah sore... mesti balik ke Makassar lagi, dan... tunggu perjalanan saya selanjutnya yah.. hehe... Upss... satu lagi, jaga kesehatan mata.. jangan nyampah di sembarang tempat, itu bisa ngerusak mata juga lho!
Have a great life all... J

Go home.. Makassar! \(^.^)/


4 komentar:

Grace Amaliah mengatakan...

Keren dewww...baru tau ada pisang goreng semahal itu. Lain kali bawa sendiri aja dew, tp cafe nya oke punya :)

Lisa vale mengatakan...

keren yahh, pengen kesana >.<
btw kalo kesana ada transportasi umum gak? ty

d. mengatakan...

Transportasi umum mungkin adanya hanya sampai Hutan pinus, itupun mesti dipastikan sebelumnya sama Driver AngKotnya.. tapi klo sampai ke Malino Highlands, I don't think so.. dan sy jg lebih merekomendasikan menggunakan pribadi.. :)

Guide Dieng mengatakan...

wahh indah bangwet hijau


visit to Dieng Plateau come on guys
Paket Wisata Dieng Clik Paket Wisata Dieng