Jumat, 03 Februari 2012

KW Super!

Beberapa minggu ini saya sengaja keliling Gramedia Makassar Cuma buat cari ‘Kening’ karya Fitrop dan ‘Manusia Setengah Salmon’ karya Raditya Dika. Dan hasilnya NIHIL. Untuk ‘Manusia Setengah Salmon’ memang SOLD OUT katanya, tapi untuk ‘Kening’ saya tidak tau infonya entah memang SOLD OUT atau memang tidak pernah terdistribusi ke Makassar. Saya jadi ingat dengan obrolan bbm-an saya dengan seorang teman yang tengah kuliah S2 di Jogja, kabarnya buku-buku di sana murah-murah, waktu itu dia sempat menawarkan buat nitip. Jadilah saya menghubungi mereka, dan ternyata bulan ini memang mereka mau balik ke Makassar… Wokkeehh GREAT time then! Saya titip ‘Kening’ dan ‘Perahu Kertas’… teman saya bilang harga 2 bukunya 30rb, katanya kertasnya dari kertas Koran jadi harganya murah. Karena saya suka baca buku *meski kadang tak tuntas dan lebih sering numpuk di lemari* saya borong 6 buku dengan 85rb Rupiah saja temans + dibungkusin pula! Bayangkan saja, 6 buku itu kalo saya beli dengan harga normal uang saya bisa habis 350rb-an. Jadilah saya senang bukan kepalang..

Kemarin pagi teman saya datang mengantarkan buku-buku saya.. *saya baru ingat kalo teman saya datangnya sejak kemarin -.-!* Saya tiba-tiba mikir “percetakan ini untungnya di mana kalo mereka jual bukunya semurah ini? Penulisnya dapat bagian di mana? Kenapa orang-orang tidak lebih memilih beli yang kertas Koran saja daripada yang kertas biasa? Kualitas kertasnya juga gak jelek-jelek amat..” saya perhatikan sampulnya dan… Ow my GOSH! Saya baru sadar, saya baru saja mendukung tindakan pembajakan buku! Printing sampulnya lumayan keliatan kok kalo pake printer biasa dengan bahan kertas foto non-glow. Itu mungkin salah satu alasan kenapa free di-sampul-in, biar sampulnya tidak cepat luntur kalau-kalau terkena air.

Warna sampulnya tak secerah yang Ori


Sebelumnya saya juga pernah dengar dari teman saya yang baru pulang dari Jogja beberapa tahun lalu, katanya buku-buku di sana amat sangat murah sekali, tapi saya tidak mendapati penjelasan yang cukup tentang kenapa bisa semurah itu. Waktu itu saya pikir mungkin karena Jogja ‘kota pendidikan’ jadi lebih sering diadakan ‘books fair’ or somekind of that yang memungkinkan para pelajar dapat diskon buku jauh lebih sering daripada kota lainnya. Pemikiran yang naïf yah… =.=!

Ok, let’s start about pembajakan especially in Indonesia. Jujur saja, saya bukan orang munafik yang mau bilang “SAY BIG NO TO PEMBAJAKAN AT ALL..” sampai hari ini, saya TIDAK PERNAH menginstall komputer pribadi saya dengan OS + software ORIGINAL. Selalu saja yang bajakan. Saya masih sangat sering mengunduh videoklip, mp3, FREE dari website-website sharing file such as Youtube, 4shared, dll. Bukannya  malah membeli mereka di website resmi berbayar dari empunya lagu. Kenapa demikian? Karena kalau saya nabung Cuma buat beli software Ori mungkin sampai hari inipun saya belum bisa nge-blog dari netbook pribadi. Soalnya uangnya Cuma cukup beli OS + software ori dan runningnya dari kompi lama Pentium III yang sudah sangat underspec untuk zaman sekarang. Hmmh.. rumit ya.. saya percaya kemajuan teknologi itu tergantung dari kemajuan manusia-manusia itu sendiri. Kalau kemajuan teknologi sudah cukup maju tapi di lain sisi SDM-nya belum qualified, sampai kapanpun ilmu itu akan stuck segitu-gitu aja, TIDAK BERKEMBANG! Saya juga percaya, banyak dari anak-anak Indonesia yang berhasil mengukir prestasi di bidang pendidikan dan teknologi hingga ke luar, juga banyak belajar dari penggunaan produk bajakan. Apa sih yang salah? Ketidak mampuan kita untuk membeli produk ori kah? Harga produk ori yang terlalu mahal kah? Atau ketidakpedulian kita terhadap orisinalitas sebuah karya? Hasil googling sebuah Web, konon kabarnya Indonesia berada di urutan ke-7 untuk Pembajak software terbesar di Dunia (updating September 2011).

Well, itu tentang software, lalu bagaimana dengan barang-barang lain yang tidak terlalu mahal dan sebenarnya juga bukan kebutuhan sekunder se-sekunder pendidikan, tapi tetap saja ada bajakannya? Contohnya, dulu sering banyak yang jual VCD bajakan buat karokean, kalo sekarang kayaknya lebih marak DVD film bajakan deh, terus barang-barang KW super di pasar mulai dari baju, dompet, tas yang meniru mulai dari logo merk sampai modelnya, tapi dengan bahan yang jauh berbeda tentunya. Dan yang terakhir ya itu tadi.. buku bajakan. Kalau untuk barang-barang seperti tas dkk. mungkin memang lebih banyak disebabkan oleh mental orang-orang kita yang sangat konsumtif. Maunya beli barang bermerk tapi maunya yang murah. Itu juga jadi salah satu alasan kenapa kota Makassar sekarang menjadi sangat macet dibandingkan 5 tahun lalu. Tapi yang itu, dibahas di lain kesempatan. Nah, jadi salah siapa atau apakah yang salah dengan itu semua? Mungkin harus menjadi tugas besar kita semua untuk mengubah cara berpikir masyarakat ya? I have no idea how to change it actually..

Huruf-hurufnya jelas, tapi hati-hati berbekas di jari, seperti koran


Let’s talk about the books.. Buku bajakan yang dibandrol jauh lebih murah bahkan hanya 25% dari harga buku original-nya, ternyata sangat laku di pasaran. Dan sedihnya, pembajak-pembajak itu memang sangat jeli untuk membajak buku-buku baru yang sangat laris di pasaran. Peminatnya juga dari segala kalangan, mulai dari kalangan bawah sampai kelas menengah. Buku memang salah satu kebutuhan sekunder dalam hidup kita. Tapi kalau kita mampu untuk membeli yang ori, kenapa juga kita mesti beli yang bajakan?! Harganya memang murah dan kualitasnya memang di bawah daripada yang ori. Tapi penekanan saya, bagaimana kita menghargai sebuah karya orisinil orang lain. Pernah membayangkan ketika kamu membuat resep kue dengan sepenuh hati dari hasil percobaan dengan takaran dan bahan yang berulang kali diubah hingga rasanya pas, lalu giliran kamu menjual kue itu, ternyata ada orang lain yang lebih dulu menjual kue dengan resep yang sama tapi dengan jenis  bahan yang berbeda, dan rasanya nyaris sama tapi harga yang mereka tawarkan jauh lebih murah. It hurts you know… kecolongan resep. Pernah berpikir bagaimana susahnya mereka para penulis membuat tulisan mereka, melakukan riset ini itu kemudian merangkainya ke dalam tulisan yang tentunya tidak gampang, kemudian menawarkan ke penerbit untuk di publish… itu proses yang panjang dan lamaaaa… yang akhirnya dengan mudah untuk dibajak. Apa impact-nya ke depan? Orang-orang berpikiran pendek seperti saya kemarin tentulah lebih tertarik membeli buku-buku bajakan dengan harga yang jauh lebih murah dengan isi yang SAMA. Dengan begitu Penulis-penulis best-seller books akan malas membuat buku.. lantaran buku ori mereka kalah laku dibandingkan bajakannya.

Desain bagian dalamnya juga persis sama!


Lagi-lagi, saya tidak mau sok bijak untuk mengajak kamu dan kamu untuk STOP PAKAI BARANG BAJAKAN karena saya juga masih menggunakan produk illegal tersebut… Tapi tolong, selagi kita mampu untuk menghindari.. hindari saja… Hargai hasil karya orang lain, sebagaimana kita ingin hasil karya kita kelak juga dihargai oleh orang lain…

Special thanks to my friend yang sudah mau direpotkan dengan belanja buku kemarin.. Terima kasih Dear, lain kali saya titip buku originalnya yaahh.. J

Have a great life all J

1 komentar: