Kamis, 29 Maret 2012

BBM (baca: Bukan Blackberry Messanger)

Hy all... semangat pagi Indonesia. Pagi ini liputan berita di negara kita tercinta masih dipenuhi dengan berita mengenai rencana kenaikan BBM oleh Pemerintah yang akan diberlakukan per 1 April mendatang. Di kota kami, unjuk rasa mengenai hal ini sudah terjadi beberapa hari belakangan ini. Beberapa jalan di depan kampus ditutup, sehingga masyarakat mesti pintar-pintar memilih jalur lain yang semoga saja tidak macet. IMHO (in my humble opinion) aksi yang berlangsung cenderung vandalisme (bukan anarkisme yah) ini dipercaya mampu menarik perhatian Pemerintah terhadap ketidaksenangan massa atas kebijakan Pemerintah yang menurut mereka tidak bijak ini. 

Tidak sedikit masyarakat yang mengeluhkan kemacetan yang ditimbulkan dari aksi ini, dan lucunya karena tidak sedikit pula dari yang mengeluh itu adalah mahasiswa yang konon hampir selalu dituding sebagai 'pembuat onar' atau si vandalis dalam kasus ini. Padahal, sadar tidak sadar si Vandalis itu sedang memperjuangkan kemakmuran masyarakat itu sendiri. Simpel sih, mungkin banyak masyarakat yang merasa kenaikan harga BBM tidak akan berpengaruh banyak ke kehidupan mereka, masih ingat kenaikan harga BBM pada bulan Mei 2008 lalu? dari 4.500/ltr ke 6.000/ltr, toh setelahnya masyarakat baik-baik saja dan akhirnya turun perlahan-lahan kembali 4.500/ltr yang sayangnya pada saat masa menjelang Pemilu 2009. Keputusan yang sangat populer Bapak, begitu kata sebagian orang, padahal menurut pandangan Pemerintah hal ini dilakukan karena mengikuti harga minyak dunia yang ikut menurun. Dan sayangnya, tarif angkutan umum yang telah ikut naik saat kenaikan harga BBM, tidak ikut turun setelah harga BBM juga turun. Alasannya harga onderdil kendaraan tetap mahal, padahal harga bahan bakar utamanya 'kan berkurang, logikanya tarifnya juga berkurang dong, meskipun mungkin tidak bisa semurah sebelumnya lagi.

Oke, kita bahas satu persatu. Pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM dari 4500/ltr ke 6000/ltr dengan beberapa pertimbangan :
1. Meningkatnya kebutuhan BBM bersubsidi yang mana menurut pandangan pemerintah didominasi oleh orang-orang yang tidak pantas untuk disubsidi. Jelas saja, hal ini mendorong jumlah BBM yang harus diIMPORT yang mana pastinya dengan harga yang sesuai dengan harga minyak dunia.
2. Jika BBM tetap dengan harga sebelumnya, maka jelas *menurut Pemerintah* angka subsidi yang harus dikeluarkan untuk BBM bisa mencapai 290T, 20% dari anggaran negara. APBN bisa jebol, katanya. (based on http://www.tempo.co/read/news/2012/03/26/092392550/Ini-Alasan-Pemerintah-Menaikkan-Harga-BBM )
3. Sebagai solusi, Pemerintah akan memberikan bantuan untuk masyarakat tidak mampu dalam bentuk BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) yaitu semacam BLT sebesar 150rb/bulan selama 9 bulan.



Dari pihak yang kontra terhadap rencana kenaikan ini punya pemaparan yang sangat berbeda. Dari fraksi PDI-P menganggap banyak hal yang bisa dilakukan untuk menutupi kekurangan subsidi ini. Caranya dengan menghilangkan tambahan belanja pemerintah (according to http://nasional.kompas.com/read/2012/03/27/17581684/Ini.Alasan.PDIP.Menolak.Opsi.Pemerintah.soal.Kenaikan.Harga.BBM ). Sedangkan ICW menduga adanya mark-up subsidi BBM & LPG selama ini (according to http://www.suarapembaruan.com/politikdanhukum/pemerintah-dan-dpr-bohongi-rakyat-soal-kenaikan-harga-bbm/18515). Yang lebih seru lagi, tulisan dan pemaparan Bapak Kwik Kian Gie dalam http://kwikkiangie.com/v1/2012/03/kontroversi-kenaikan-harga-bbm/ yang menyatakan bahwa subsidi BBM yang dilakukan pemerintah selama ini adalah PEMBOHONGAN PUBLIK. Selama ini minyak bumi milik negara telah dibeli oleh Pertamina untuk kemudian diolah, adapun pengolahannya sangat jauh di bawah harga minyak dunia. Jadi untuk apa Indonesia mengikuti harga minyak dunia. Karena kebutuhan BBM yang meningkat memang mengharuskan Indonesia mengimport minyak, tapi jumlahnya tidak sebesar yang diproduksi di dalam negeri. Kalau analisa Om Kwik benar 100%... saya benar-benar sakit hati terhadap Pemerintah.. -___-'!

Anyway.. kembali lagi ke aksi demonstrasi. Sampai tulisan ini saya buat di kata ini, aksi masih terus berjalan di berbagai daerah. Aksi vandalisme yang terjadi tidak sedikit, korban dari berbagai pihak juga tidak sedikit. Saya sangat kecewa dengan aksi pembakaran mobil truk milik minuman kola beberapa waktu lalu, aksi pelemparan di salah satu SPBU. Tahukah kalian? itu bukan milik Pemerintah, SPBU itu milik perusahaan pribadi! Dan kalaupun milik Pertamina, toh Pertamina tidak punya wewenang untuk menentukan harga BBM!! Lalu apa hubungannya BBM dengan truk minuman karbonasi?! Pengrusakan prasarana jalan juga banyak terjadi, pagi ini saya keluar, mengantar kakak saya ke kantor. Sedih dan bingung rasanya berkendara di keramaian tanpa TRAFFIC LIGHT satupun di jalur yang saya lewati. Sadarkah kalian pengrusakan itu bisa berakibat fatal terhadap kecelakaan?! Siapapun KALIAN, siapapun pelaku KEKERASAN, tolong BERHENTI, karena KALIAN sama sekali TIDAK MEMBANTU rakyat. Tapi siapapun kalian, saya juga titipkan Terima Kasih, karena aksi kalian membuat aksi itu terdengar oleh media, menarik menurut media.

Sampai saat ini saya masih mendukung aksi demonstrasi rencana kenaikan harga BBM dengan pemahaman yang saya punya. Tapi sekali lagi, aksi yang tidak merugikan rakyat dan pihak-pihak yang tidak patut menerima amarah yang salah. Saya salut dengan mereka yang berani turun ke jalan untuk membela rakyat, tidak hanya memikirkan diri mereka sendiri yang mungkin akan tetap mampu hidup meski BBM dinaikkan. Mereka mau turun ke jalan, dihalang dan dihadang peluru karet, gas air mata, dsb. jika mereka salah 'sedikit' saja. Mereka TIDAK dibayar untuk itu. Mereka berani dikambinghitamkan untuk aksi itu. Mereka berani diCERCA oleh masyarakat yang tengah mereka perjuangkan haknya. Tapi dari kacamata saya, aksi yang baik memang menuntut kita masif tapi bukan mengubah kita menjadi vandalis. Saya selalu ingat kata-kata yang hampir selalu dilantangkan ketika turun aksi... "Hati-hati... hati-hati PROVOKASI". Lanjutkan perjuanganmu Kawan... hentikan pembohongan...

Dear our Government... Bapak Ibu sekalian masih ingatkan pembagian BLT tahun 2008 lalu? Data yang katanya sudah fix pun tapi jika dikelola dengan manajerial yang buruk mampu membunuh rakyat sendiri. Tidak sedikit korban yang meninggal, luka-luka karena berebutan hanya untuk menerima uang yang menjadi hak mereka. :'( Banyaknya BLT yang salah alamat ke keluarga Pemerintah kecil, kesempatan korupsi bermunculan bahkan dari tingkat pemerintahan paling bawah, RT. Dan... BLT TIDAK menyelesaikan kemiskinan menurut saya. Bahkan membuat rakyat menjadi manja, terbiasa meminta-minta. Akan jauh lebih baik kalau dibuatkan lembaga yang bisa membentuk masyarakat kita menghasilkan karya yang bisa dijual untuk kelangsungan mereka kedepannya.

Dear our mass media.... Tolong... jangan menunggu aksi brutal lalu aksinya diliput, jangan menunggu vandalisme lalu aksinya LIVE, banyak juga kok aksi-aksi damai yang TIDAK terdengar. Jangan biarkan kami berpikir, setelah ada kekerasan, korban, perang, lalu kami akan didengar.

Dear kawan-kawan Demonstran, jangan khawatir, tidak semua rakyat membenci aksi kalian... Tetap berjuang!!! Ingat, kita harus MASIF tapi bukan kaum vandalis... HIDUP MAHASISWA!!! :)

Long march mahasiswa UNHAS di fly over Urip Sumoharjo siang ini :')

Rabu, 21 Maret 2012

S.O.N.E.T

"Kamu punya facebook? nama akun facebook kamu siapa? aku add ya.." mungkin itu menjadi kalimat yang cukup sering kita dengar ketika memiliki kenalan baru di awal pertemuan. Facebook cuma salah satu contoh, masih ingat Friendster yang juga sempat booming 10 tahun lalu? Hi5? MySpace, Skype, Twitter, Tumblr, Google+ dkk. adalah contoh lain dari 'SONET' (baca: Social Network) alias jejaring sosial. Yang mana ide awalnya merupakan tools yang sangat memudahkan kita untuk berteman secara digital.



Saya baru masuk dunia social network kira-kira 7 tahun silam, setelah cukup akrab dengan warnet di sekitar kampus. Waktu itu saya mulai dengan Friendster dan Hi5. Tujuan utamanya to keep in touch dengan teman-teman SMA, SMP dan SD yang sudah mulai bertebaran melanglang ke seluruh penjuru nusantara. Tujuan sampingannya untuk menambah banyak teman. Mulai nge-blog dari blog FS (baca : friendster). Dan sekarang... melihat tampilan FS saja saya bingung, bagaimana menggunakannya. -___-!


Seperti itulah.. banyak perubahan yang terjadi di dunia sonet, alasannya cuma satu, semoga perubahan itu bisa membuat pemilik akunnya merasa nyaman, betah, dan kebutuhannya terpenuhi sehingga tidak ditinggal mati. Keanekaragaman sonet di dunia maya kemudian berimbas kepada rasa 'keharusan' untuk memiliki akun di setiap sonet. Mengingat fiturnya yang berbeda-beda tentu saja. Tapi pergeseran fungsi juga ikut terjadi... "Jejejejengggggggg!" dan iniliah inti dari tulisan saya saat ini pirsawan dan pirsawati... :D


Well, ide awal untuk mengangkat topik ini sebenarnya sudah lama, tapi malam ini sepertinya saya ingin meledak melihat 'keanehan' demi 'keanehan' di timeline, home, atau apapun istilahnya di setiap sonet yang saya punya. Sampai di mana tadi? Pergeseran fungsi, iya itu, demikian saya menyebutnya. Sepanjang pengamatan saya yang baru menggunakan sonet 7 tahun, FS memberikan fitur SHOUT OUT yang mungkin kalau sekarang kita akrabnya dengan status. Dulu, seingat dan sejangkauan teman FS saya, update status itu hanya sekali-3 kali ketika membuka akun. Isinya juga lumayan padat, saling mengingatkan, berbagi info, pokoknya hal-hal yang dianggap necessary to be shared. Sekarang, coba deh perhatikan HOME atau TL kamu, dan.. silahkan jawab sendiri seperti apa isinya. Setiap orang memang ingin dianggap 'ada' alias butuh akan eksistensi, tapi mungkin bisa dengan hal yang lebih positif. Selain tempat mengeluh, ruang pameran tentang hidup kita, bisakah kita dengan apa yang kita tuliskan memberi pesan positif terhadap orang lain? 


Mungkin kamu menganggap saya sok bijak, itu terserah kamu, toh itu pendapat kamu, dan saya tidak punya hak untuk memaksakan tentang bagaimana orang lain menilai saya. Hanya saja, yang sangat saya sayangkan adalah bagaimana status-status berbau negatif tersebut mulai membuat kita terbiasa akan keluhan. Terbiasa melihat kemudian secara tidak sadar kita akan mulai terbiasa untuk juga melakukan. Padahal, di setiap agama di muka bumi selalu mengajarkan kita untuk bersyukur, untuk kamu yang Muslim tau 'kan kalimat yang terulang-ulang di Surat Ar-Rahman... "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" Lalu kalau isi status kita hanya keluhan, tidakkah kita mendustakan nikmat Tuhan? Sonet kadang juga membuat saya merasa risih dan merasa perlahan-lahan membuat kita berubah menjadi manusia yang 'riya'. Setiap hal yang keren harus di-share, syukur-syukur kalau infonya memang bisa menambah pengetahuan untuk yang lain. Tapi kalau hanya sebatas pamer seberapa tajir si pemilik akun, saya tiba-tiba merasa kasihan terhadap mereka. Harus ya, eksis pake label 'gaji saya banyak'. Sadar tidak sih, kita sepertinya sudah menghabiskan waktu terlalu banyak dalam hidup kita untuk hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting yang justru hanya memberikan akibat buruk untuk kesehatan hati kita sendiri. Terlalu banyak berbagi, terlalu banyak mengobrol, terlalu banyak hidup dalam dunia kita sendiri. Yang kemudian, membuat kita lupa, bahwa realitas yang sebenarnya adalah hidup di sekeliling kita. Seberapa banyak orang-orang yang butuh bantuan kita, dan seberapa banyak kita mampu membantu orang-orang tersebut.

Terlepas dari kemuakan saya akan sonet, saya sadar, saya masih membutuhkan forum tersebut. Untuk perkembangan ilmu & pengetahuan saya, forum komunikasi dengan teman-teman saya, berbagi informasi dengan sekitar saya, serta belajar. Yap, belajar tentang apa saja, tentang aku, kamu, dia, mereka dan kita semua. Saya hanya berharap, mulai sekarang kita lebih bijak dalam menggunakan social network. Mari berbagi hal-hal yang positif, adapun hal negatif yang kita peroleh cukup jadikan pembelajaran saja ke depannya. Dan saya, hanyalah manusia biasa yang juga ingin eksis dengan apa yang saya pikirkan... tapi, tidak punya hak untuk mengatur atau menjustifikasi setiap makhluk. Itu hak kalian untuk memutuskan menjadi seperti apa diri kalian.

Seperti kata Lala Karmela di akun twitternya malam ini, Whatever they may say.. You hold the last decision, own it, do it, make the best out of it.

Mari berteman dengan bijak, for a better heart and a better world :)
*sumber gambar: Googling dengan keyword SOCIAL NETWORK*

 

Rabu, 14 Maret 2012

Cerita dari Balkon #4

Haduhh... maafkan saya untuk kamu yang sudah menunggu kelanjutan tulisan saya yang lama mengendap ini.. :(
Mudah-mudahan belum lupa sama cerita sebelumnya, kalau sudah lupa bisa dilihat di link berikut #1#2, & #3. Sekali lagi maaf yah.. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk menambah motivasi bagi yang empunya blog. Salam blogger.. :)

“Ibu Cuma berharap kamu memikirkan perasaan bapakmu, kamu tahu ‘kan bapakmu sekeras apa?”
“Saya tahu bu… tapi kenapa harus saya? Saya sudah menjadi apa yang bapak mau sejak dulu, bapak mau saya masuk STM saya masuk STM, kuliah Elektro saya kuliah Elektro, membiayai Sari, Reni dan Dila saya sanggupi..” jawab Tian.
“Kamu jangan bicara begitu seolah kamu tidak ikhlas..”
“Lalu apa saya harus ikhlas ketika tiba-tiba saya tahu bapak sudah memilihkan calon istri untuk saya bahkan sejak saya berusia 5 tahun bu?” Tian berusaha bertanya dengan nada dipelankan, tak ingin ibunya tersinggung.
“Arumi anak yang baik Tian.. pikirlah baik-baik dulu, dia juga masih kuliah..” jawab ibunya.
“Bu, tolong bujuk bapak… saya punya calon sendiri bu..” Tian memelas di telepon.
Terdengar ibunya bernafas berat “pikirlah dulu, kamu tidak harus menjawab sekarang.. kamu masih ingatkan kalo uang pensiunan bapakmu hanya habis untuk beli obat hariannya? Itu hanya agar dia terus hidup nak.. pikirlah..” jelas ibunya mulai mengiba.
“Iya.. Tian pikir-pikir saja dulu bu, tolong jangan kasih tahu bapak kalau saya sudah tahu.. saya belum siap ditanya dulu..” Tian memutuskan telepon.
*
 “Yan.. pinjem gitar dong…” kata Riadi dengan dialek asli Jakarta-nya.
“Pake saja… “ jawab Tian tanpa menoleh, masih sibuk dengan gambar instrumen-instrumen yang baru ia desain dengan AutoCAD.
“Dah brapa lama lo jalan sama si Dian?” tanya Riadi sambil menyetem gitar.
“Seperti yang kamu lihat, kita memang sering jalan sama-sama.. paling ke kantor, pasar.. biasalah.. sejak awal dia baru di sini kan juga gitu”
“Bukan itu geblek… maksudku jalan.. pacaran…” kata Riadi gemas.
“Hahhaha.. sembarangan, ya nggaklaaah… masa pacaran sama Dian?!” kali ini ucapan Riadi mampu membuatnya menoleh sambil terkekeh.
“Kenapa nggak?”
“Ya karena kami gak saling suka..” balas Tian datar masih serius menekuni gambarnya.
“Kan lo sendiri yang bilang kalo kita semua di dunia punya hak untuk memilih siapa yang kita cinta?”
“Iya.. terus?!” Tian mulai bingung, kali ini ia menghentikan tangannya beraktivitas di atas keyboard dan mouse.
“Kenapa lo gak milih untuk cinta sama Dian?”
“Saya tidak mengerti Ri..”
Lo sendiri yang bilang kalo kita semua di muka bumi ini sama, gak ada yang beda dan Tuhan itu satu, Cuma cara kita aja yang nyembah DIA beda-beda.. iya ‘kan?”
“Ya… lalu?” Tian semakin tidak mengerti.
“Kalo hemat gue, lo milih untuk nahan perasaan lo ke Dian Cuma lantaran dia muslim and lo christian, am I right?”
“Kamu salah..” Tian menggeleng pelan.
“Trus apa maksudnya lo ngedeketin Dian, perhatian ama dia kalo lo gak punya perasaan apa-apa?” tanya Riadi mengecilkan volume suaranya seakan takut Dian tiba-tiba muncul mendengarkan obrolan mereka.
“Dian itu adik saya… maksudku, dia sudah saya anggap seperti adik sendiri Ri.. plis Ri, kamu jangan menambah daftar nama perempuan yang membuat saya bingung sampai hari ini”.
“Lha skarang saya yang bingung sama omongan kamu! Maksdunya?” Riadi mengubah dialek lo-gue nya agar lebih halus.
“hmmmh.. sudahlah.. lupakan saja, saya ngantuk.. kalo mau pinjam gitarnya silahkan kamu bawa ke kamar kamu..” Tian berdiri sembari membukakan pintu kamarnya untuk Riadi, mengusir dengan halus.
*
Sejak obrolannya dengan Riadi sore itu Tian mulai  takut, takut kalau-kalau semua yang diucap Riadi menjadi nyata. Takut kalau semua itu ternyata benar, seharusnya ia tak perlu merasa takut seandainya memang tidak ada apa-apa di antara mereka. Tapi perubahan sikap Dian yang membuatnya berpikir ada yang aneh dari anak itu. Ia kembali menjadi Dian yang seolah hidup di dalam goa 3x7 m2 di kamar kost-nya, hanya keluar untuk keperluan penting saja. Perbincangan di balkon sudah hilang untuknya, kalaupun mereka berbincang itu hanya sebentar dan lantaran berpapasan saja. Tian mulai lelah, setiap diajak keluar selalu saja ada alasan bagi Dian untuk menolak. Tian bingung, seperti berusaha memahami Dian sebagai orang baru yang bukan lagi saudara, hanya sebatas kenalan. Selang 3 minggu, ia muak dan akhirnya memaksa Dian bercerita.
“Apa yang kakak mau dengar dari saya?”
“Kenapa Di? Kenapa kamu berubah?” Tian menatapnya tajam.
“Saya tidak berubah, hanya sedikit sibuk kak.. itu saja. Di kantor selalu banyak kerjaan, sampai kamar Cuma mau istirahat..” Dian tak acuh menatap langit merah tenggara dari balkon kamar yang juga koridor kost mereka.
“Berhenti menutup-nutupi hal yang sudah jelas, kamu itu berubah dan hanya berubah terhadap saya.. sama anak-anak lain kamu santai kok.. saya punya salah Di?” meski janggal memanggil Dian dengan namanya, Tian merasa itu sudah seharusnya, ia merasa tak mengenal sosok Dian sekarang.
“TIdak ada.. saya yang salah..” kini Dian berbalik menatap Tian.
“Kenapa kamu yang salah?”
“Saya salah karena belum punya cara lain yang saya tahu untuk mematikan rasa saya terhadap Kakak” lugas tanpa ragu Dian menjawab.
“Apa?”
“Saya salah karena salah memaknai semua perhatian kakak.. dan saya tahu, sampai kapanpun toh rasa ini akan tetap salah” suaranya mulai bergetar.
“Maksud kamu?”
Dian menggeleng “silahkan memaknai sendiri, yang pasti saya butuh waktu beberapa lama untuk memulihkan semuanya kak.. belum sekarang..”
“Meskipun saya bilang saya butuh kamu sekarang? Saya pusing dengan hidup saya Di.. tapi sudahlah, toh kamu juga tak kan peduli..” Tian beranjak masuk ke kamarnya, meninggalkan Dian yang masih mematung berganti tak mengerti.

Selasa, 06 Maret 2012

Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh

Alkisah tentang dua orang homoseksual yang hidup merantau di Amerika Serikat, Dhimas - Ruben yang di suatu malam melakukan badai serotonin di otak mereka. Kebersamaan itu kemudian membentuk perasaan yang baru di antara mereka, selanjutnya berkomitmen untuk membuat sebuah karya masterpiece untuk 10 tahun yang akan datang. 

Karya masterpiece itu mereka putuskan dalam bentuk tulisan, lebih tepatnya tulisan fiksi. Fiksi mereka tentang Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh. Kehidupan Ksatria yang terlihat nyaris sempurna di mata dunia ternyata tak seindah tampilannya. Ksatria yang jatuh cinta pada Puteri yang ternyata sudah berstatus istri orang lain. Puteri yang juga mencintai Ksatria, yang tiba-tiba merasa menemukan puzzle hidupnya, serta menemukan jawaban atas kehampaan akan cinta yang ia jalani selama ini bersama sang suami. Backstreet, itulah jalan yang mereka pilih, meskipun akhirnya resiko tetap menanti mereka serta memaksa mereka untuk kembali kepada realitas. Tapi tidak, kisah mereka tidak berakhir dengan paksa, toh cinta bicara kepada mereka yang lebih berhati lapang.

Ksatria, lagi-lagi harus kehilangan cintanya. Bertemu Bintang Jatuh yang ternyata adalah tetangganya, membuatnya menemukan dunia yang lain, dunia yang baru. Tapi jangan pikir akhirnya akan seperti dongeng remeh-temeh.. Karena cinta itu bebas. Love is free, free is love / love is living, living love...


Yang menarik dari novel ini, adalah bagaimana Dee mempermainkan sudut pandang pembaca dalam novelnya. Bagaimana ia meracik cerita, awalnya saya berpikir tipikal, ini cerita dalam cerita. Ternyata tidak. Ini cerita yang diceritakan oleh si Pemilik cerita yang tidak diceritakan. Mereka ternyata hanyalah bagian dari cerita yang mereka buat, yang ada hanyalah ada. Hahhaha.. bingung? Itu kesan pertama saya ketika membaca novel ini beberapa tahun lalu. Tapi subjektivitas saya berkata Penulis cukup angkuh dalam menulis novel ini. Terlalu banyak melibatkan istilah asing dalam percakapan Dhimas-Ruben membuat pembaca yang tidak begitu tertarik dengan ilmu fisika, biologi, psikologi, filsafat, dll. malah jadi bosan untuk harus membaca catatan kakinya yang begitu banyak. 


Tapi overall, pendapat saya tentang seorang Dee tidak pernah berubah dalam setiap karyanya. Selalu mampu melakukan improvisasi yang apik dari cerita yang sebenarnya cukup sederhana. Penokohannya dalam, dan selalu memberikan ilmu-ilmu yang segar yang sangat jarang diberikan oleh Penulis-penulis Indonesia yang lain.  Oia, sebelumnya saya juga pernah menulis tentang Supernova #3 : Petir, kalau belum sempat baca bisa baca di sini. Tidak sabar menunggu Supernova #4 : Partikel, yang katanya akhirnya menjadi penyambung dari seluruh seri Supernova. Selamat membaca, dan.. Salam sastra.