Rabu, 14 Maret 2012

Cerita dari Balkon #4

Haduhh... maafkan saya untuk kamu yang sudah menunggu kelanjutan tulisan saya yang lama mengendap ini.. :(
Mudah-mudahan belum lupa sama cerita sebelumnya, kalau sudah lupa bisa dilihat di link berikut #1#2, & #3. Sekali lagi maaf yah.. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk menambah motivasi bagi yang empunya blog. Salam blogger.. :)

“Ibu Cuma berharap kamu memikirkan perasaan bapakmu, kamu tahu ‘kan bapakmu sekeras apa?”
“Saya tahu bu… tapi kenapa harus saya? Saya sudah menjadi apa yang bapak mau sejak dulu, bapak mau saya masuk STM saya masuk STM, kuliah Elektro saya kuliah Elektro, membiayai Sari, Reni dan Dila saya sanggupi..” jawab Tian.
“Kamu jangan bicara begitu seolah kamu tidak ikhlas..”
“Lalu apa saya harus ikhlas ketika tiba-tiba saya tahu bapak sudah memilihkan calon istri untuk saya bahkan sejak saya berusia 5 tahun bu?” Tian berusaha bertanya dengan nada dipelankan, tak ingin ibunya tersinggung.
“Arumi anak yang baik Tian.. pikirlah baik-baik dulu, dia juga masih kuliah..” jawab ibunya.
“Bu, tolong bujuk bapak… saya punya calon sendiri bu..” Tian memelas di telepon.
Terdengar ibunya bernafas berat “pikirlah dulu, kamu tidak harus menjawab sekarang.. kamu masih ingatkan kalo uang pensiunan bapakmu hanya habis untuk beli obat hariannya? Itu hanya agar dia terus hidup nak.. pikirlah..” jelas ibunya mulai mengiba.
“Iya.. Tian pikir-pikir saja dulu bu, tolong jangan kasih tahu bapak kalau saya sudah tahu.. saya belum siap ditanya dulu..” Tian memutuskan telepon.
*
 “Yan.. pinjem gitar dong…” kata Riadi dengan dialek asli Jakarta-nya.
“Pake saja… “ jawab Tian tanpa menoleh, masih sibuk dengan gambar instrumen-instrumen yang baru ia desain dengan AutoCAD.
“Dah brapa lama lo jalan sama si Dian?” tanya Riadi sambil menyetem gitar.
“Seperti yang kamu lihat, kita memang sering jalan sama-sama.. paling ke kantor, pasar.. biasalah.. sejak awal dia baru di sini kan juga gitu”
“Bukan itu geblek… maksudku jalan.. pacaran…” kata Riadi gemas.
“Hahhaha.. sembarangan, ya nggaklaaah… masa pacaran sama Dian?!” kali ini ucapan Riadi mampu membuatnya menoleh sambil terkekeh.
“Kenapa nggak?”
“Ya karena kami gak saling suka..” balas Tian datar masih serius menekuni gambarnya.
“Kan lo sendiri yang bilang kalo kita semua di dunia punya hak untuk memilih siapa yang kita cinta?”
“Iya.. terus?!” Tian mulai bingung, kali ini ia menghentikan tangannya beraktivitas di atas keyboard dan mouse.
“Kenapa lo gak milih untuk cinta sama Dian?”
“Saya tidak mengerti Ri..”
Lo sendiri yang bilang kalo kita semua di muka bumi ini sama, gak ada yang beda dan Tuhan itu satu, Cuma cara kita aja yang nyembah DIA beda-beda.. iya ‘kan?”
“Ya… lalu?” Tian semakin tidak mengerti.
“Kalo hemat gue, lo milih untuk nahan perasaan lo ke Dian Cuma lantaran dia muslim and lo christian, am I right?”
“Kamu salah..” Tian menggeleng pelan.
“Trus apa maksudnya lo ngedeketin Dian, perhatian ama dia kalo lo gak punya perasaan apa-apa?” tanya Riadi mengecilkan volume suaranya seakan takut Dian tiba-tiba muncul mendengarkan obrolan mereka.
“Dian itu adik saya… maksudku, dia sudah saya anggap seperti adik sendiri Ri.. plis Ri, kamu jangan menambah daftar nama perempuan yang membuat saya bingung sampai hari ini”.
“Lha skarang saya yang bingung sama omongan kamu! Maksdunya?” Riadi mengubah dialek lo-gue nya agar lebih halus.
“hmmmh.. sudahlah.. lupakan saja, saya ngantuk.. kalo mau pinjam gitarnya silahkan kamu bawa ke kamar kamu..” Tian berdiri sembari membukakan pintu kamarnya untuk Riadi, mengusir dengan halus.
*
Sejak obrolannya dengan Riadi sore itu Tian mulai  takut, takut kalau-kalau semua yang diucap Riadi menjadi nyata. Takut kalau semua itu ternyata benar, seharusnya ia tak perlu merasa takut seandainya memang tidak ada apa-apa di antara mereka. Tapi perubahan sikap Dian yang membuatnya berpikir ada yang aneh dari anak itu. Ia kembali menjadi Dian yang seolah hidup di dalam goa 3x7 m2 di kamar kost-nya, hanya keluar untuk keperluan penting saja. Perbincangan di balkon sudah hilang untuknya, kalaupun mereka berbincang itu hanya sebentar dan lantaran berpapasan saja. Tian mulai lelah, setiap diajak keluar selalu saja ada alasan bagi Dian untuk menolak. Tian bingung, seperti berusaha memahami Dian sebagai orang baru yang bukan lagi saudara, hanya sebatas kenalan. Selang 3 minggu, ia muak dan akhirnya memaksa Dian bercerita.
“Apa yang kakak mau dengar dari saya?”
“Kenapa Di? Kenapa kamu berubah?” Tian menatapnya tajam.
“Saya tidak berubah, hanya sedikit sibuk kak.. itu saja. Di kantor selalu banyak kerjaan, sampai kamar Cuma mau istirahat..” Dian tak acuh menatap langit merah tenggara dari balkon kamar yang juga koridor kost mereka.
“Berhenti menutup-nutupi hal yang sudah jelas, kamu itu berubah dan hanya berubah terhadap saya.. sama anak-anak lain kamu santai kok.. saya punya salah Di?” meski janggal memanggil Dian dengan namanya, Tian merasa itu sudah seharusnya, ia merasa tak mengenal sosok Dian sekarang.
“TIdak ada.. saya yang salah..” kini Dian berbalik menatap Tian.
“Kenapa kamu yang salah?”
“Saya salah karena belum punya cara lain yang saya tahu untuk mematikan rasa saya terhadap Kakak” lugas tanpa ragu Dian menjawab.
“Apa?”
“Saya salah karena salah memaknai semua perhatian kakak.. dan saya tahu, sampai kapanpun toh rasa ini akan tetap salah” suaranya mulai bergetar.
“Maksud kamu?”
Dian menggeleng “silahkan memaknai sendiri, yang pasti saya butuh waktu beberapa lama untuk memulihkan semuanya kak.. belum sekarang..”
“Meskipun saya bilang saya butuh kamu sekarang? Saya pusing dengan hidup saya Di.. tapi sudahlah, toh kamu juga tak kan peduli..” Tian beranjak masuk ke kamarnya, meninggalkan Dian yang masih mematung berganti tak mengerti.

2 komentar:

sioranges mengatakan...

kak dedeee... saya tunggu lanjutannya :)

parusuh rusuh saja mengatakan...

D tunggu novelnya....