Selasa, 06 Maret 2012

Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh

Alkisah tentang dua orang homoseksual yang hidup merantau di Amerika Serikat, Dhimas - Ruben yang di suatu malam melakukan badai serotonin di otak mereka. Kebersamaan itu kemudian membentuk perasaan yang baru di antara mereka, selanjutnya berkomitmen untuk membuat sebuah karya masterpiece untuk 10 tahun yang akan datang. 

Karya masterpiece itu mereka putuskan dalam bentuk tulisan, lebih tepatnya tulisan fiksi. Fiksi mereka tentang Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh. Kehidupan Ksatria yang terlihat nyaris sempurna di mata dunia ternyata tak seindah tampilannya. Ksatria yang jatuh cinta pada Puteri yang ternyata sudah berstatus istri orang lain. Puteri yang juga mencintai Ksatria, yang tiba-tiba merasa menemukan puzzle hidupnya, serta menemukan jawaban atas kehampaan akan cinta yang ia jalani selama ini bersama sang suami. Backstreet, itulah jalan yang mereka pilih, meskipun akhirnya resiko tetap menanti mereka serta memaksa mereka untuk kembali kepada realitas. Tapi tidak, kisah mereka tidak berakhir dengan paksa, toh cinta bicara kepada mereka yang lebih berhati lapang.

Ksatria, lagi-lagi harus kehilangan cintanya. Bertemu Bintang Jatuh yang ternyata adalah tetangganya, membuatnya menemukan dunia yang lain, dunia yang baru. Tapi jangan pikir akhirnya akan seperti dongeng remeh-temeh.. Karena cinta itu bebas. Love is free, free is love / love is living, living love...


Yang menarik dari novel ini, adalah bagaimana Dee mempermainkan sudut pandang pembaca dalam novelnya. Bagaimana ia meracik cerita, awalnya saya berpikir tipikal, ini cerita dalam cerita. Ternyata tidak. Ini cerita yang diceritakan oleh si Pemilik cerita yang tidak diceritakan. Mereka ternyata hanyalah bagian dari cerita yang mereka buat, yang ada hanyalah ada. Hahhaha.. bingung? Itu kesan pertama saya ketika membaca novel ini beberapa tahun lalu. Tapi subjektivitas saya berkata Penulis cukup angkuh dalam menulis novel ini. Terlalu banyak melibatkan istilah asing dalam percakapan Dhimas-Ruben membuat pembaca yang tidak begitu tertarik dengan ilmu fisika, biologi, psikologi, filsafat, dll. malah jadi bosan untuk harus membaca catatan kakinya yang begitu banyak. 


Tapi overall, pendapat saya tentang seorang Dee tidak pernah berubah dalam setiap karyanya. Selalu mampu melakukan improvisasi yang apik dari cerita yang sebenarnya cukup sederhana. Penokohannya dalam, dan selalu memberikan ilmu-ilmu yang segar yang sangat jarang diberikan oleh Penulis-penulis Indonesia yang lain.  Oia, sebelumnya saya juga pernah menulis tentang Supernova #3 : Petir, kalau belum sempat baca bisa baca di sini. Tidak sabar menunggu Supernova #4 : Partikel, yang katanya akhirnya menjadi penyambung dari seluruh seri Supernova. Selamat membaca, dan.. Salam sastra.

2 komentar:

Ajie mengatakan...

Gan, ni buku dijual gak?
Ane lg nyari edisi lamanya ni.
Kalo dijual, PM ane ya.
Ke : 08562729230 an. Ajie.
Thanks.

d. mengatakan...

Sorry.. kagak.. :)
Mungkin bisa hubungi truedee book, kali-kali masih ada.