Selasa, 16 Oktober 2012

..STAY


Dalam diamku aku menunggu satu tanya dari bibir tipis itu. “Apa kau baik-baik saja?” seperti pagi biasa yang kau lakukan ketika melihat luka memar di wajahku. Dan aku, akan membalas hanya dengan seulas senyum yang seolah telah lelah untuk bercerita. Kau kan diam. Hanya sesengguk tangis yang kadang kusimpan untukmu di sela kapan-kapan kita berbincang.
Pagi ini aku memar lagi, satu-satunya lelaki yang kusebut Cinta kini telah berdiam di balik jeruji. Mungkin kau senang, mungkin kau tak merasa perlu untuk melontar satu tanya lagi, karena kau terlalu yakin akan seulas senyum yang begitu lega yang ‘kau pikir akan kau peroleh di wajahku pagi ini. Selain oleh-oleh memar di pelipis kiriku ini tentu saja.

Kau tampak sibuk, mejamu berantakan, sengaja, kau memang tampak berkemas. Kuamati kau dengan awas melalui ekor mataku. Sadarkah kau, aku tengah berbincang dengan diriku tentang dirimu.

“Aku akan pergi” ucapmu memecah kejengahan ruang kerja kita. Aku masih diam, menatapmu lurus, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menelusupmu. Di balik matamu kutemui kecewa.

 “Kenapa?” hanya satu kata itu yang akhirnya terlontar sebagai rangkuman segala tanda tanya dalam kepalaku.

“Aku takkan pernah sanggup melihat mata sembabmu setiap pagi, sebagai pengganti lebam di wajahmu”.

Aku diam. “Kenapa?” lagi-lagi hanya itu kata yang kuucap.

“Karena aku takkan pernah bisa mengganti dia, lelaki yang terus kau cinta dengan lembut, tapi selalu ia balas dengan lebam di wajahmu. Is that love?” kau mengejarku dengan kata-kata atas pahammu.
Aku diam.

“Aku tak sanggup, meski ia mungkin tak kan kembali padamu lagi. Aku takkan sanggup melihat mata sembabmu di setiap pagi karena menangisi kepergiannya. Hal yang paling menyakitkan adalah karena aku yang menjebloskannya, akulah penyebab sembabmu di setiap pagi nantinya”.

Aku diam, tapi dalam diamku hatiku lebam. Jauh lebih lebam dari biasanya. Kau tak pernah tahu. 

“Tapi kenapa?” tanyaku lagi, terbata kini.

“Kenapa apa Tira?” desakmu bingung.

“Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau harus begitu prihatin padaku? Kenapa kau harus memisahkanku dengan orang yang katamu kucinta? Lalu mengapa setelah kau melakukan semuanya, mengobrak-abrik hidup yang menjadi biasaku, lalu kau pergi begitu saja? Kau hanya ingin semuanya berjalan baik-baik saja sesuai pahammu ‘kan? Dan menurutmu, setelah kepergianmu nantinya semuanya akan baik, kau adalah pahlawanku. Pahlawan tanpa pamrih yang tak butuh apresiasi? Begitu? You’ve done to break my life, and now you’re gonna leave Hahha! It’s funny you know..” setengah berteriak, aku tampak seperti orang gila. Aku rasa aku gila. Gila karena baru menyadari betapa aku sangat mencintaimu selama ini, betapa aku begitu membutuhkanmu, betapa aku menggentungkan setiap kisahku padamu. Lalu pagi ini, pagi baru yang kumulai setelah semalaman membakar kenangan dan kebodohanku selama ini. Bahagiaku hari ini adalah menyadari keberadaanmu, dan kau bilang kau akan pergi? Sesenggukan kurangkum kesedihanku dalam tangis.

Kau diam, aku tak bergeming menatapmu. “Maafkan aku..” ucapmu menatapku, menggenggam tanganku, mendekapku dalam pelukmu, lalu mengecup rambutku.

‘Please… stay.. with me’ aku berbisik dalam hati.
 
"I’ll stay.. for you” dengan lugas kau berkata, mendekapku lebih erat. Kurasai jantungmu berdetak cepat. Kau, bahagiaku kini dan nanti.

Jumat, 12 Oktober 2012

BBAMMM!!!


‘Finally, Bali’ kuhirup udara lembab malam dalam-dalam. Riang dalam hatiku tampaknya tak sanggup kusembunyikan, semuanya tergambar jelas dari senyum sumringah yang tak pernah hilang sejak Bapak menerima proposal liburan mid semesterku minggu lalu. Bagaimana tidak, sejak setahun lalu aku mengidam-idamkan perjalanan sendirian, menapaki kampung orang seperti ini. Meski hanya perjalanannya yang sendirian sih, karena di Bali aku akan bertemu sahabat penaku sejak SD, namanya Tita. Dia gadis Bali asli yang tinggal di Kuta. Aku dan Tita belum pernah bertemu langsung, tapi kemajuan teknologi bisa mengatasi semuanya. Kami sering berkorespondensi via Friendster dan chatting. Perjalanan sendiriku kali ini juga dibekali handphone butut bapak yang masih tahan banting dan sebesar tempat pensil ini. Tak masalah, yang penting useful.

So here I am now, Ngurah Rai International Airport, sedang di ruang tunggu depan menunggui Tita, kabar terakhir ia baru saja berangkat dari rumahnya. Karena jarak rumahnya dan airport dekat dan barangku tak banyak, aku terima saja Tita menjemputku dengan sepeda. It’s gonna be so fun… Jalan di Kuta malam-malam naik sepeda, hehehe. Hmmh. Kulirik jam tanganku, 23:03 sudah cukup larut. Tapi ini kan Kuta, dan pula ini malam Minggu, pastilah Kuta ramai oleh wisatawan.

“BBBAM!!!”
“Astaghfirullaaahhh!” spontan aku berseru. Kekagetanku membuat bulu kudukku berdiri. Suara apa itu? Terasa sangat dekat, aku merasa pijakanku sedikit bergetar. Aku tahu, aku mulai takut. Lampu tiba-tiba padam, sepertinya tak ada yang menyala sejauh mataku mampu memandang. Kurogoh saku celanaku untuk meraih handphone butut Bapak, hanya untuk mencari secercah cahaya. Kupeluk ransel hijau army-ku, satu-satunya barang bawaan yang kupunya. Melayangkan pandanganku ke sekeliling, mencoba menangkap gerak-gerik manusia yang tiba-tiba menjadi kikuk, sibuk.

“Ada bom bli…ada bom!!!” samar-samar kudengar suara kisruh dari seorang Bapak yang baru datang. Aku panik. Bom? Bagaimana mungkin? Seketika susasana berubah gaduh, orang-orang berlarian dari berbagai arah, kurengkuh tas ranselku, berlari menuju ke mana saja orang berlari, keluar dari Bandara. Jalanan dipenuhi orang lalu-lalang, tidak sedikit yang meninggalkan mobilnya di tengah jalan. Mencoba mencari tahu, apa yang baru saja terjadi. Aku terus berlari, dalam setiap langkah cepat yang kupunya, kurapalkan doa apa saja yang kuingat. Entah berdoa untuk apa, atau untuk siapa, akupun masih bingung. Langkahku terhenti, kakiku tiba-tiba kaku. Di tengah gelap gulita kota, riuh rendah suara kesakitan, tangis, cahaya terang benderang berasal dari satu titik. Bangunan terbakar, asapnya mengepul lebat, kelabu. Bahkan dari jarak ratusan meter ini, aku hanya bisa melihat satu tanda, maut yang baru saja menyapu.

Aku menjauhi pusat kobaran api, mencoba menghubungi Tita dengan sisa-sisa kesadaran yang kupunya. Semuanya masih seperti mimpi, dan tolong yakinkan aku bahwa ini hanya mimpi. Teleponnya memanggil, tapi tak ada jawaban. Dia pasti khawatir karena tak menemukanku di Bandara. Kuulangi. Teleponnya memanggil, tetap tak ada jawaban. Tapi tiba-tiba, aku justru mengkhawatirkan Tita. Aku diam, mematung, bingung. Kuperhatikan keadaan sekeliling, semua orang tampak sibuk, semua bergerak. Mataku terasa panas, buliran-buliran itu mengalir tak terbendung. Kurasai kesendirianku di tengah keramaian orang-orang yang tak kukenal, di tengah malam, di kota yang begitu jauh dari sanak saudara. Kakiku bergetar, mungkin tak lagi mampu menopang beban kengerian di tubuh ini. Aku menangis sejadi-jadinya, tanpa suara. “Yaa Rabb..” kembali kuhubungi Tita dan kembali tak ada jawaban. Dalam hati tak henti ku berdoa, semoga aku dipertemukan dengan siapa saja yang bisa menjawab kebingunganku.
Pundakku ditepuk “Dek… mau ke mana?” Tanya seorang Bapak dengan dialek Bali asli. Aku hanya diam, masih bingung dan tidak punya jawaban. Sepertinnya sesenggukanku cukup menggambarkan kebingunganku.
“Kamu turis dek? Baru sampai?” Tanya Bapak itu lagi. Aku hanya mengangguk.
“Sekarang dak aman dek.. kalo adek mau, adek bisa ikut ke rumah Bapak dulu sekarang, mobil bapak ada di sana…” si Bapak menunjuk mobil Kijang Krista berwarna merah marun di jejeran mobil yang terparkir di jalan. Entah keberanian atau kebodohan, aku hanya merasa yakin bahwa Bapak inilah jawaban dari doa yang sejak tadi kurapalkan dalam hati. Aku mengangguk, mengikuti langkah si Bapak dengan cepat.

“Dek… sudah bangun?” seorang Ibu mengetuk pintu kamar. Beringsut aku bangun membukakan pintu yang terkunci. Sempoyongan, tidurku memang tak nyenyak. Selain sibuk menghubungi Tita yang masih tak ada kabar, aku juga sibuk mengabarkan kondisiku pada Bapak di Makassar, satu-satunya keluarga yang kupunya. Aku tersenyum pada si Ibu, si Ibu ternyata membawakan sarapan, sepiring roti dan segelas susu.
“Maaf saya merepotkan bu…” kataku sekenanya.
“Dak papa.. adek kan datang ke rumah kami, sudah sepantasnya kami melayani. Adek dari mana?” Tanya si ibu.
“Saya Resi bu.. dari Makassar. Saya baru sampai tadi malam, saya mau ketemu teman saya, namanya Tita, alamatnya di sini..” kusodorkan notepad catatanku pada si ibu, kuterka beliau adalah istri dari Pak Made, bapak yang memungutku semalam. Si ibu mengembalikan notepad-ku.
“Sebaiknya dek Resi jangan keluar rumah dulu, kita semua masih takut keluar… mau tunggu kondisi tenang dulu..” ujar si ibu.
“Tapi saya mesti ketemu teman saya bu, dia pasti sibuk cari saya..” jawabku.
Ibu Made menggeleng “nanti.. tunggu tenang dulu..” katanya tenang dan tegas.
Kuurungkan niatku membantah. Kucoba menghubungi Tita kembali, kali ini teleponnya tak aktif. Bapak sudah memesan tiket penerbangan untuk menjemputku. Tapi kabar yang beredar untuk sementara penerbangan menuju Bali di-blok sementara, entah sampai kapan. Sementara aku, masih tetap ingin mencari tahu tentang Tita. Kepalaku pusing, aku butuh tidur.

Pagi ini kuputuskan untuk keluar rumah, dengan ditemani Dewa, anak Pak Made yang usianya lebih tua setahun dariku. Jalanan lengang, hanya sesekali motor lalu lalang, jalan menuju Legian lokasi pengeboman ditutup, sepertinya masih sedang diinvestigasi. Dewa mengantarku dalam diam, seperti duka yang tergambar jelas dari wajah-wajah penduduk Bali. Semuanya tampak sendu berkabung. Dua ratus nyawa hilang dalam sekejap, dan ratusan lainnya terluka parah. Bali yang kuimpikan akan menyambutku dengan damainya Ubud, keramaian Kuta, tiba-tiba berubah menjadi Bali yang dirundung kesunyian dalam duka. Dan semuanya, tergambar jelas dari wajah para penduduk Bali. Aku teringat Tita, ajakannya mengunjungi kampung halamannya ini sudah lama ia rencanakan. Keinginannya untuk mengenalkanku pada Bali yang sebenarnya, yang selalu kuingat dia selalu bilang “Kalo di Bali kamu gak usah takut, orang Bali baik-baik kok” dan itu dibuktikan dengan keramahan keluarga Bapak Made. Kesedihan tergambar di mana-mana, penduduk Bali tampak sedih tak terkecuali. Toko-toko belum berani buka, bahkan supermarket yang menjual kebutuhan sehari-hari masih sulit ditemukan. Kami sampai, rumah Tita di kawasan Poppies, gang kecil yang dipenuhi penginapan. Begitupun rumah Tita, 70% adalah penginapan sederhana dengan kolam renang kecil di sampingnya. Teduh. Patung-patung khas Bali menjadi penyambut di bagian depan penginapan. Sepi. Seorang ibu menyambut kami, mengantarku ke salah satu kamar di bagian belakang penginapan, area rumah pribadi.

Di sana, di dalam kamar, Tita terbaring meringkuk, menggulung tubuhnya sendiri di balik selimut. Diam, ia menatapku, tanpa ekspresi. Aku duduk di sampingnya, diam, tanpa ingin menyentuhnya. Melihatnya saja cukup membuatku takut kalau-kalau ia berteriak histeris.

Dari ibunya aku mendapat cerita, malam itu Tita dengan sepedanya ingin menjemputku di Bandara melewati Legian. Tepat 50 meter melewati sari club, kelab malam yang dipenuhi wisatawan asing itu tiba-tiba meledak. Tita terhempas, terkena pecahan beling, dan terhambur bersama potongan-potongan mayat yang terbang dari barbagai arah. Dia trauma. Secara fisik ia hanya mengalami luka ringan, tapi secara psikologis ia sangat terguncang. Ibunya juga mengkhawatirkanku ternyata, sampai melapor ke polisi, mereka tidak bisa menghubungiku karena handphone Tita hilang. Dan di sinilah aku kini. Menatapi sahabat penaku untuk pertemuan pertama kami. Rencana untuk menjelajah Bali dengan sepedanya, menapaki kedamaian Pulau Dewata, menonton upacara ngaben keluarganya, sirna sudah. Sedih melihatnya seperti tanpa nyawa, hanya takut akan hidup yang ia punya. Aku pamit. Sore ini aku akan pulang ke Makassar, Bapak tak jadi menjemput, tiket Denpasar – Ujung Pandang ternyata lebih dulu diperoleh. Tapi aku janji, akan kembali suatu hari nanti.

Kadang aku berpikir, bagaimana mungkin kita mengaku manusia tapi tak memiliki jiwa kemanusiaan? Membunuh sesama manusia secara brutal seakan kanibal yang tak berakal. Atas nama agama? ‘cuihh..’ aku muak. Jangan mengaku agamawan kalau yang kau lakukan justru menentang Tuhan. Agama yang mana yang mengajarkan kita untuk saling bunuh-bunuhan hah?! Aku murka… marah, kecewa pada sesuatu yang entah apa ataupun siapa. Aku pulang dengan luka yang mendalam.

Sepuluh tahun telah berlalu, Tita telah hampir pulih, hampir. Hingga kini, ia masih sering merasa risih ketika berada di suatu tempat yang banyak dikunjungi wisatawan asing. Masih cukup takut untuk mengunjungi keramaian sendirian. Tapi paling tidak, ia kini sudah bisa tersenyum dan mengingat semuanya tidak dengan benci. Di balik lukanya, ia tak menyimpan dendam kepada para pelaku, dia dengan bijak memaafkan mereka, menurutnya, merekapun korban… korban pencucian otak dari pihak-pihak yang lain. Dan hari ini, ia mulai berani untuk mengenang 12 Oktober 2002 di GWK, tanpa trauma.

Mari menjadi manusia untuk kemanusiaan.
In memorial Bom Bali I 12 Oktober 2002