Senin, 31 Desember 2012

Closing Speech


It comes to an end… terlalu banyak hal yang patut disyukuri sepanjang tahun, mengingat effort pribadi yang memang belum maksimal, I really do thank God of what I’ve had now. Masa pengangguran di awal tahun yang banyak mengajarkan saya banyak bersyukur atas apa yang saya punya, juga berusaha mandiri dengan sisa tabungan. Full service gretongan di resort Malino Highlands di bulan Februari lantaran iseng-iseng bikin tulisan di blog ini, hehe… Hal itu mengajarkan saya, Allah selalu punya jalan ajaib untuk memberi rezeki pada hamba-Nya. Dan itu membuktikan, bahwa tulisan saya juga ada pembacanya ternyata.. hehhehe. Intinya apapun itu, ikhlaslah.. karena keikhlasan selalu berbuah manis.. J

Memasuki Q2 tahun ini dengan new job yang benar-benar new job. Mesti stay di lapangan untuk proyek jalan dan jembatan di Kab. Maros.. saya banyak belajar bersyukur atas hidup. Bersyukur karena terlahir dari keluarga yang cukup peduli terhadap pendidikan dan masih sanggup membiayai pendidikan saya hingga sarjana. Bersyukur karena tinggal di kota yang sangat dimanjakan oleh fasilitas serta teknologi yang cukup memadai hingga saya mampu berkembang menjadi seperti saya yang sekarang. Tidak seperti anak-anak yang saya temui di sekitar lokasi proyek. Beberapa dari mereka memiliki keluarga yang cukup mampu menyekolahkan mereka secara materi, hanya saja secara pemahaman mungkin kita tidak sepaham. Sekolah hanya sebatas formalitas, toh pada akhirnya mereka hanya akan tinggal di desa, bercocok tanam, berdagang, dan lain sebagainya. Pendidikan di sekolah nantinya hanya akan digunakan untuk menghitung berapa untung rugi perdagangan keluarga, kalkulator juga cukup untuk menghitung itu. Tapi itu hanya sebagian, bersyukur karena sebagian yang lain berani menyekolahkan anak-anaknya sampai titik darah penghabisan, itu kata mereka.

Bersyukur karena air bersih yang mengalir setiap saat di keran bisa dinikmati kapan saja. Tidak seperti mereka yang hanya bergantung pada pipa yang mereka buat sendiri dengan sumber air dari dataran tinggi. Setelah hujan turun, biasanya air tersebut tidak layak untuk digunakan, bahkan untuk mandi sekalipun, airnya bercampur lumpur. Bersyukur karena akhirnya keputusan saya untuk resign 2 bulan kemudian bisa diterima dengan baik oleh mereka. Prinsip saya dihargai, dan itu cukup membuat saya mengklaim bahwa mereka adalah tim kerja terbaik yang saya punya hingga saat ini. Sampai saya menulis blog ini.

Bersyukur karena masa jobless yang hanya berlangsung 3 minggu, juga membuat saya semakin yakin, Allah menyayangi hamba-Nya jauuuuuuuuuuh lebih dalam dari pada apa yang dipikirkan hamba-Nya.  Dan, jangan melewatkan satu kesempatan baik apapun selagi kita mampu. Karena setiap kesempatan bisa melahirkan kejutan-kejutan yang baik atau hikmah yang bisa diambil, trust me.

Bersyukur karena di Q3 tahun ini disibukkan dengan pekerjaan yang bisa dibilang cukup menyenangkan dan punya banyak kenalan baru. J

Bersyukur karena di Q4 tahun ini membuat saya dan dia akhirnya memutuskan untuk berpisah. Perpisahan kemudian membuat kita menyadari how precious we are to each other. Dan mensyukuri that we’re one step closer now.

So now… here I am, to be myself as I’ve been fighting for. I realize, that my effort is not enough yet to get my dreams.. But I thank God for all these blessing in whole my life. Cause I never thought that I deserve it. Alhamdulillah... J


See ya on 2013 everyone..

Kamis, 20 Desember 2012

K A M U


Itu dia, di sana, yang sedang sibuk dengan buku bacaan di bawah pohon di tepi danau. Biar kutebak, itu pasti novel terbaru yang ia beli di hari Sabtu. Aku senang memperhatikannya dari sini, mimiknya membaca, gerak bola matanya ke kiri-kanan mengikuti rentetean kata, kakinya yang jarang diam, selalu menjadi kebiasaannya ketika sedang membaca. Telinganya kadang tak berfungsi baik ketika sedang membaca, jangan harap dia akan menoleh untuk menanggapi pernyataanmu kalau kau tak menyebut namanya sedikit lebih keras untuk memperoleh sedikit perhatiannya. Dia, seperti hidup dalam dunianya sendiri, hanya ada dia dan cerita di dalam novel. Memperhatikannya saat ia membaca seperti ini selalu menjadi favoritku, karena aku tak perlu takut ia akan menoleh dan mendapatiku curi-curi-pandang, tak a…. rrrgh.. aku kedapatan!

Well, she’s coming..

“Ken.. liat apa kamu?” tak dinyana anak ini keluar dari dunianya tiba-tiba.

“Tuuh liat objek foto di belakang kamu.. Ceritanya sudah selesai?” kualihkan pembicaraan sembari mengganti lensa kamera. Menunduk. Sengaja, agar wajah ku yang agak memerah tidak begitu terlihat olehnya.

“Belum sih, mataku sepertinya lelah, jadi rentan berair..” keluhnya.

“Jangan terlalu dipaksa, kan cuma bacaan.. bukan bahan ujian..” aku siap mengambil gambarnya. Jarakku dengannya kira-kira lima meter sekarang. “Coba, pura-puranya kamu lagi baca..” kuatur settingan iso, aperture, shutter speed, auto focus dengan point pada matanya. Cepret.

Hasilnya selalu kusuka. Meski ia hampir selalu tak peduli. Kadang kuperlihatkan hasil jepretanku secara sembunyi-sembunyi, posenya sedang membaca, tertidur, menulis, menghayal, ataupun mengobrol. Ekspresinya, kadang tak terduga, kadang senyum mengembang, kadang tawa renyah, kadang wajah memelas, kadang terkaget, kadang pula kepalan tinju mendarat di bahuku. Dialah Risa, an unpredictable girl in my opinion. Seperti sekarang, ia tak peduli pada hasil jepretanku.

“Capek yah?” kuusap kepalanya seperti biasa, rambutnya jadi sedikit berantakan,  tapi ia tak peduli. Aku duduk di sisinya sekarang. Dia hanya diam.

“Iya.. sepertinya belakangan ini aku stress”

“Stress?! Stress kenapa? Kerjaan yah?” tanyaku iba, ia hanya menggeleng.

“Aku bingung… “ aku menunggu.. menunggu penjelasan tentang kebingungannya.

“Aku putus sama Viky Ken…” lanjutnya. Tuhan, apa aku harus bahagia di atas penderitaan anak ini? Senyum tiba-tiba mewarnai hatiku, tapi wajahku tetap kubiarkan datar, meminta penjelasan lebih lanjut.

“Kenapa?” tanyaku tiba-tiba, meskipun hatiku sebenarnya tak peduli sama sekali tentang alasan keputusannya. Aku yakin ini keputusannya, toh ini bukan pertama kali mereka putus sejak 7 tahun mereka pacaran.

“Aku dilarang pacaran..” aku belum paham, sepertinya dia masih sibuk dengan dunianya.

“Siapa yang larang?” kufokuskan pendengaranku, berharap meskipun suaranya hanya 20 desibel aku masih sanggup mendengarnya.

“Tuhan..” deg! Sudah kubilang, anak ini memang unpredictable kan?

“Tuhan bilang apa?” pertanyaanku sepertinya sudah mulai mengetuk pintu dunianya.

“Tuhan bilang, Risa.. kamu jangan pacaran ya.. selama apapun kamu pacaran dengan dia, dia belum tentu jodohmu loooh…” wajahnya datar, sepertinya anak ini memang sedang kalut.

“Kapan Tuhan bilang begitu?”

“Semalam sebelum aku putus sama Viky…”

“Kenapa Tuhan cuma bilang itu ke kamu? Kenapa Tuhan tidak melarangku juga?” tanyaku.

“Karena kamu tidak punya pacar..” wajahnya masih datar, pandangannya kosong, dan aku bingung menghadapinya begini. Sepanjang perjalanan persahabatan kami sepuluh tahun, aku tak pernah mendapatinya se-stress ini. Ia tak pernah punya masalah dalam hubungannya dengan Viky. Itu setahuku, tapi kupikir Risa memang cukup introvert tentang hubungan asmaranya.

“Ada apa sih Ris…?” aku bergeser berpindah duduk di depannya sekarang. Menyimpan kamera, dan siap mendengar penjelasannya, mencoba memperlakukannya seperti biasanya dia menjadi pendengar yang baik tentang semua masalah-masalahku selama ini. Saat ia yang memiliki masalah, biasanya ia hanya ingin ditemani dalam diam, menjadi pendengar yang baik dalam omongannya yang kadang ngawur, ikut tertawa saat ia menertawakan dirinya sendiri, dan hanya bisa diam ketika mendengar isaknya setelah tawa. Setelah itu, ia akan lebih  tenang, lega, dan bebas dengan solusi yang hanya ia dan Tuhan yang tahu. Setelahnya biasanya akupun sudah mampu lega, masa kritis telah lewat. Tinggal memberinya setopless cokelat favoritnya, maka senyum akan kembali mengembang.

Tapi saat ini ia masih diam. Aku tak sanggup… duduk di depannya lima belas menit hanya mendapatinya diam dengan tatapan kosong seperti ini.

“Dia selingkuh?” tanyaku tak tahan. Dia mendelik padaku tak terima, oke.. berarti bukan. “Dia power ranger kuning dan kamu tidak bisa terima karena kamu maunya dia ranger biru?” tanyaku mulai ngawur. Dia tertawa kecil, akhirnya.

“Dia ternyata Poseidon yang sedang mencari Zeus ke daratan lalu jatuh cinta pada manusia bernama Risa dan ingin menikahinya, tapi Amfitrit tak ingin dimadu…” dia tertawa sendiri dengan cerita yang ia lontarkan.
“Emang kamu bisa hidup di laut?” tanyaku iseng.

“Kalo aku mau, dia mau bikin rumah untuk manusia biasa, semacam rumahnya Sandy di Sponge Bob itu loh Ken…”

“Trus kenapa kamu gak mau? Cuma karena Amfitrit tidak mau dimadu? Kalo jadi kan rumah kalian pasti beda doong.. rumah ala Sandy itu kan cuma kamu yang bisa tinggal dsana..”

Dia menggeleng, “aku suka sama Zeus..” dia berkata dengan wajah datar, menatapku lurus.

Aku mencoba tertawa kecil, dia masih diam, aku kikuk lalu mencoba sedikit tersenyum. Aku tau ia serius. Ia hampir selalu serius, serius belajar, serius bekerja, serius bermain, serius membaca juga serius saat bercanda. Dan sekarang, dia serius kalut. “Risa…?” aku menatapnya, mencoba menemukan apa yang ia coba sembunyikan di balik matanya. Nihil. Tatapannya justru berbalik menembus jantungku.

“Aku jatuh cinta sama Zeus..” ia tersenyum,  manis.

“Oh yah? Sudah berapa lama?” tanyaku.

“Baru dua minggu ini..”

“Bukannya katamu kalo kamu pacaran Tuhan akan marah?”

“Iya.. makanya, kenapa Tuhan bikin aku jatuh cinta sama Zeus setelah menjadi selingkuhan Poseidon selama tujuh tahun, supaya aku putus sama Poseidon… “

“Jadi kamu minta putus sama Poseidon trus suka sama Zeus habis itu kamu mau pacaran sama Zeus gitu? Tuhan marah dong..” dia menggeleng lagi.

“Kendra, Tuhan bikin aku jatuh cinta sama Zeus cuma supaya aku putus sama Poseidon.. tapi aku juga tidak minat pacaran sama Zeus..”

“Trus? Mau kamu apa? Tadi katanya jatuh cinta sama Zeus 2 minggu ini..” aku nelangsa dibuatnya bingung.

“Aku, menunggu seorang manusia yang mengajakku berjanji di depan Tuhan.. Karena aku lelah bermimpi, entah bersama Poseidon ataupun Zeus..” katanya lagi-lagi serius.

“Siapa?”

“Siapa saja manusia baik yang beriman dan bertaqwa berbudi pekerti luhur tidak sombong dan rajin menabung…” kali ini diikuti cekikikan lucu dari mulutnya. Aku terdiam.

“Siapa Zeus itu?” aku bertanya dalam..

“Kamu.”

Kamis, 13 Desember 2012

MY EUFORIA



“Berapa lama kamu sanggup menunggu?”

“Sampai kamu siap” jawabmu datar. Tatapanmu tetap lurus menatap jalan malam yang mulai sepi, tampak fokus, pandanganmu memang fokus pada jalan gelap tanpa lampu, tapi aku tahu hatimu tidak. Rinai hujan sedikit mengganggu pandanganmu, wiper tetap bekerja tanpa lelah atas dasar instruksi dari tuas di balik setir sebelah kirimu. Kau diam, mungkin menunggu… menungguku yang tak kunjung memberimu pasti. Jika kujawab Tidak, maka kau akan pergi. Jika kujawab Iya, maka kau akan berjuang mati-matian untuk menjadikan mimpi kita nyata. Mati-matian, itu katamu. Tapi, aku hanya bisa memberimu diam. Aku, bukan lagi sang Pemimpi itu. Aku tak cukup berani untuk bermimpi, lagi.

Katamu, aku idealis. Katamu, aku selalu tahu apa yang ku mau. Katamu, aku sangat komitmen, meski kadang tak konsisten. Katamu, aku high-principled. Katamu, karakterku cukup kuat… Ketika ada yang tidak bisa menerima, maka aku akan pergi. Tapi, tahukah kamu… sejak chemistry ini datang aku berubah menjadi orang lain? Menjadi orang lain ketika menghadapinya, lelaki yang mengaku mencintaiku sejak 7 tahun ini. Lelaki yang menilaiku hampir sama dengan penilaianmu. Bedanya, dia menilaiku sebagai orang yang sangat tidak konsisten. Yah, mungkin dia benar. Aku pikir dia benar. Tahukah kamu, sejak chemistry ini hadir aku tidak sanggup berkomitmen dengan siapapun. Aku tak tahu apa yang ku mau. Aku bingung, hanya mampu tenggelam dalam chemistry kebersamaanku, dan itu denganmu. Bukan dengannya.
“Besok kamu akan datang ‘kan?” tanyaku setengah berbisik.

“Tergantung keputusan kamu malam ini..” kau masih datar menjawabku. Tatapanmu masih sama, lurus tanpa ingin menoleh padaku. Aku tiba-tiba menjadi sulit bernafas. Dadaku sesak. Sesak akan rasa yang harus kutanggalkan malam ini. Sesak pada kebersamaan yang belum juga kutinggalkan tapi sudah kurindukan. Sesak akan sikapmu yang tetiba berubah dingin padaku malam ini.

“Sepuluh tahun sudah ini berlalu, kenapa kamu belum lelah?” tak terbendung linangan itu mengalir di balik suaraku yang terbata.

“Karena aku telah menjadi diriku sendiri lima tahun ini, dan aku sedang berusaha mencapai bahagiaku yang letaknya di ujung keputusanmu” tangan kirimu mengelus kepalaku lembut. Hal yang selalu kau lakukan ketika melihatku sedih, dan hal itu akan selalu kurindukan.

“Tujuh tahun ini aku selalu berpikir bahwa aku mencintainya..” kataku akhirnya.

“Itu pikirmu ‘kan? Boleh aku tahu rasa mu?” tanyamu menodong.

“Kau tahu ‘kan seberapa bingungnya aku sekarang? Aku bingung.. aku tiba-tiba merasa tidak kenal dengan perasaan ini ke kamu, tidak kenal dengan aku yang pura-pura tersenyum ketika bersamanya, tidak kenal dengan hidup yang tiba-tiba dipenuhi dengan pikiran tentang kamu.. Kamu ngerti ‘kan?!” emosiku meluap-luap, buliran itu lagi-lagi mengalir. Kali ini diselingi isak.

Kau menghentikan kemudi, meminggirkan mobilmu ke sisi jalan. Lalu mambalik badanmu, menatapku lembut, mencoba memahami perasaanku yang kalut.

“Risa, aku selalu bahagia.. ketika kamu bahagia.. aku tidak mau melihat kamu bingung seperti ini.. Kekalutanmu ketika bersamaku sudah cukup menggambarkan seberapa besar kamu mencintai dia.. Asal kamu yakin, akupun akan yakin..” kau meraihku, mendekapku dalam peluk sambil terus menenangkanku dengan usapanmu pada rambutku.

Kau melepaskan dekapanmu, meraih tanganku untuk sejanak kau genggam.. “Kalau kite berjodoh, kita akan bertemu di ujung jalan ini ‘kan?” katamu sambil tersenyum. Aku hanya bisa mengangguk, membalas senyum dengan air mata. Tapi senyum ini, ternyata meyakinkanku.. kau nantinya akan bahagia dengan atau tanpaku. Aku tahu itu. Aku yakin kini.

Kejengahan melanda kita, dua sahabat yang tiba-tiba bingung mendapati chemistry dalam persahabatan bertahun-tahun. Memandangimu seperti ini, mungkin akan kurindukan. Malam, wangi lime mobilmu, rintik hujan, jalanan sepi tanpa lampu jalan ini akan selalu mengingatkanku padamu nantinya.

 “Aku suka lagu ini” tiba-tiba tanganmu memutar volume lebih keras.

Aku lega, setidaknya musik yang lebih keras mampu menenggelamkan kejengahan di antara kita. Otak dan perasaanku pun ikut berenang.. kuperbaiki posisi dudukku senyaman mungkin. Mencoba menikmati lagu dengan alunan akustik di kala hujan.. hanya menunggu teh hangat maka bahagia itu cukup.

Your hand fits in mine
Like it's made just for me
But bear this in mind
It was meant to be
And I'm joining up the dots with the freckles on your cheeks
And it all makes sense to me

I know you've never loved
The crinkles by your eyes
When you smile
You've never loved
Your stomach or your thighs,
The dimples in your back at the bottom of your spine
But I'll love them endlessly

I won't let these little things slip out of my mouth
But if I do
It's you
Oh, it's you they add up to
I'm in love with you
And all these little things

You can't go to bed without a cup of tea
And maybe that's the reason that you talk in your sleep
And all those conversations are the secrets that I keep
Though it makes no sense to me


I know you've never loved
The sound of your voice on tape
You never want
To know how much you weigh
You still love to squeeze into your jeans
But you're perfect to me

You'll never love yourself half as much as I love you
You'll never treat yourself right, darling, but I want you to.
If I let you know I'm here for you
Maybe you'll love yourself like I love you, oh.

I won't let these little things slip out of my mouth
But if it's true
It's you,
It's you they add up to
I'm in love with you
And all your little things

Dan hari ini, kau benar-benar tak datang. Tapi aku tetap yakin… dengan atau tanpaku kau akan bahagia. Kebersamaan kita yang begitu indah akan kukemas ke dalam kotak berpita yang kulabeli “KENANGAN”. Hanya sebaris sms yang kau kirimkan…
“Happy Engagement Day yah Chunk.. :-) “
Sender : My Euforia

Senyum merekah di wajahku kini, aku tahu kaupun demikian di manapun kau berada.


Song by : One Direction – Little Things