Kamis, 20 Desember 2012

K A M U


Itu dia, di sana, yang sedang sibuk dengan buku bacaan di bawah pohon di tepi danau. Biar kutebak, itu pasti novel terbaru yang ia beli di hari Sabtu. Aku senang memperhatikannya dari sini, mimiknya membaca, gerak bola matanya ke kiri-kanan mengikuti rentetean kata, kakinya yang jarang diam, selalu menjadi kebiasaannya ketika sedang membaca. Telinganya kadang tak berfungsi baik ketika sedang membaca, jangan harap dia akan menoleh untuk menanggapi pernyataanmu kalau kau tak menyebut namanya sedikit lebih keras untuk memperoleh sedikit perhatiannya. Dia, seperti hidup dalam dunianya sendiri, hanya ada dia dan cerita di dalam novel. Memperhatikannya saat ia membaca seperti ini selalu menjadi favoritku, karena aku tak perlu takut ia akan menoleh dan mendapatiku curi-curi-pandang, tak a…. rrrgh.. aku kedapatan!

Well, she’s coming..

“Ken.. liat apa kamu?” tak dinyana anak ini keluar dari dunianya tiba-tiba.

“Tuuh liat objek foto di belakang kamu.. Ceritanya sudah selesai?” kualihkan pembicaraan sembari mengganti lensa kamera. Menunduk. Sengaja, agar wajah ku yang agak memerah tidak begitu terlihat olehnya.

“Belum sih, mataku sepertinya lelah, jadi rentan berair..” keluhnya.

“Jangan terlalu dipaksa, kan cuma bacaan.. bukan bahan ujian..” aku siap mengambil gambarnya. Jarakku dengannya kira-kira lima meter sekarang. “Coba, pura-puranya kamu lagi baca..” kuatur settingan iso, aperture, shutter speed, auto focus dengan point pada matanya. Cepret.

Hasilnya selalu kusuka. Meski ia hampir selalu tak peduli. Kadang kuperlihatkan hasil jepretanku secara sembunyi-sembunyi, posenya sedang membaca, tertidur, menulis, menghayal, ataupun mengobrol. Ekspresinya, kadang tak terduga, kadang senyum mengembang, kadang tawa renyah, kadang wajah memelas, kadang terkaget, kadang pula kepalan tinju mendarat di bahuku. Dialah Risa, an unpredictable girl in my opinion. Seperti sekarang, ia tak peduli pada hasil jepretanku.

“Capek yah?” kuusap kepalanya seperti biasa, rambutnya jadi sedikit berantakan,  tapi ia tak peduli. Aku duduk di sisinya sekarang. Dia hanya diam.

“Iya.. sepertinya belakangan ini aku stress”

“Stress?! Stress kenapa? Kerjaan yah?” tanyaku iba, ia hanya menggeleng.

“Aku bingung… “ aku menunggu.. menunggu penjelasan tentang kebingungannya.

“Aku putus sama Viky Ken…” lanjutnya. Tuhan, apa aku harus bahagia di atas penderitaan anak ini? Senyum tiba-tiba mewarnai hatiku, tapi wajahku tetap kubiarkan datar, meminta penjelasan lebih lanjut.

“Kenapa?” tanyaku tiba-tiba, meskipun hatiku sebenarnya tak peduli sama sekali tentang alasan keputusannya. Aku yakin ini keputusannya, toh ini bukan pertama kali mereka putus sejak 7 tahun mereka pacaran.

“Aku dilarang pacaran..” aku belum paham, sepertinya dia masih sibuk dengan dunianya.

“Siapa yang larang?” kufokuskan pendengaranku, berharap meskipun suaranya hanya 20 desibel aku masih sanggup mendengarnya.

“Tuhan..” deg! Sudah kubilang, anak ini memang unpredictable kan?

“Tuhan bilang apa?” pertanyaanku sepertinya sudah mulai mengetuk pintu dunianya.

“Tuhan bilang, Risa.. kamu jangan pacaran ya.. selama apapun kamu pacaran dengan dia, dia belum tentu jodohmu loooh…” wajahnya datar, sepertinya anak ini memang sedang kalut.

“Kapan Tuhan bilang begitu?”

“Semalam sebelum aku putus sama Viky…”

“Kenapa Tuhan cuma bilang itu ke kamu? Kenapa Tuhan tidak melarangku juga?” tanyaku.

“Karena kamu tidak punya pacar..” wajahnya masih datar, pandangannya kosong, dan aku bingung menghadapinya begini. Sepanjang perjalanan persahabatan kami sepuluh tahun, aku tak pernah mendapatinya se-stress ini. Ia tak pernah punya masalah dalam hubungannya dengan Viky. Itu setahuku, tapi kupikir Risa memang cukup introvert tentang hubungan asmaranya.

“Ada apa sih Ris…?” aku bergeser berpindah duduk di depannya sekarang. Menyimpan kamera, dan siap mendengar penjelasannya, mencoba memperlakukannya seperti biasanya dia menjadi pendengar yang baik tentang semua masalah-masalahku selama ini. Saat ia yang memiliki masalah, biasanya ia hanya ingin ditemani dalam diam, menjadi pendengar yang baik dalam omongannya yang kadang ngawur, ikut tertawa saat ia menertawakan dirinya sendiri, dan hanya bisa diam ketika mendengar isaknya setelah tawa. Setelah itu, ia akan lebih  tenang, lega, dan bebas dengan solusi yang hanya ia dan Tuhan yang tahu. Setelahnya biasanya akupun sudah mampu lega, masa kritis telah lewat. Tinggal memberinya setopless cokelat favoritnya, maka senyum akan kembali mengembang.

Tapi saat ini ia masih diam. Aku tak sanggup… duduk di depannya lima belas menit hanya mendapatinya diam dengan tatapan kosong seperti ini.

“Dia selingkuh?” tanyaku tak tahan. Dia mendelik padaku tak terima, oke.. berarti bukan. “Dia power ranger kuning dan kamu tidak bisa terima karena kamu maunya dia ranger biru?” tanyaku mulai ngawur. Dia tertawa kecil, akhirnya.

“Dia ternyata Poseidon yang sedang mencari Zeus ke daratan lalu jatuh cinta pada manusia bernama Risa dan ingin menikahinya, tapi Amfitrit tak ingin dimadu…” dia tertawa sendiri dengan cerita yang ia lontarkan.
“Emang kamu bisa hidup di laut?” tanyaku iseng.

“Kalo aku mau, dia mau bikin rumah untuk manusia biasa, semacam rumahnya Sandy di Sponge Bob itu loh Ken…”

“Trus kenapa kamu gak mau? Cuma karena Amfitrit tidak mau dimadu? Kalo jadi kan rumah kalian pasti beda doong.. rumah ala Sandy itu kan cuma kamu yang bisa tinggal dsana..”

Dia menggeleng, “aku suka sama Zeus..” dia berkata dengan wajah datar, menatapku lurus.

Aku mencoba tertawa kecil, dia masih diam, aku kikuk lalu mencoba sedikit tersenyum. Aku tau ia serius. Ia hampir selalu serius, serius belajar, serius bekerja, serius bermain, serius membaca juga serius saat bercanda. Dan sekarang, dia serius kalut. “Risa…?” aku menatapnya, mencoba menemukan apa yang ia coba sembunyikan di balik matanya. Nihil. Tatapannya justru berbalik menembus jantungku.

“Aku jatuh cinta sama Zeus..” ia tersenyum,  manis.

“Oh yah? Sudah berapa lama?” tanyaku.

“Baru dua minggu ini..”

“Bukannya katamu kalo kamu pacaran Tuhan akan marah?”

“Iya.. makanya, kenapa Tuhan bikin aku jatuh cinta sama Zeus setelah menjadi selingkuhan Poseidon selama tujuh tahun, supaya aku putus sama Poseidon… “

“Jadi kamu minta putus sama Poseidon trus suka sama Zeus habis itu kamu mau pacaran sama Zeus gitu? Tuhan marah dong..” dia menggeleng lagi.

“Kendra, Tuhan bikin aku jatuh cinta sama Zeus cuma supaya aku putus sama Poseidon.. tapi aku juga tidak minat pacaran sama Zeus..”

“Trus? Mau kamu apa? Tadi katanya jatuh cinta sama Zeus 2 minggu ini..” aku nelangsa dibuatnya bingung.

“Aku, menunggu seorang manusia yang mengajakku berjanji di depan Tuhan.. Karena aku lelah bermimpi, entah bersama Poseidon ataupun Zeus..” katanya lagi-lagi serius.

“Siapa?”

“Siapa saja manusia baik yang beriman dan bertaqwa berbudi pekerti luhur tidak sombong dan rajin menabung…” kali ini diikuti cekikikan lucu dari mulutnya. Aku terdiam.

“Siapa Zeus itu?” aku bertanya dalam..

“Kamu.”

1 komentar:

Aya Mohammed mengatakan...

hehehe...
menyentuh banget nih kisahnya, mmmm... saya merasa kalo ini beneran diangkat dr kisah nyata. maaf kalo saya salah, salut buat mu d' ...
kutunggu cerita selanjutnya...