Kamis, 13 Desember 2012

MY EUFORIA



“Berapa lama kamu sanggup menunggu?”

“Sampai kamu siap” jawabmu datar. Tatapanmu tetap lurus menatap jalan malam yang mulai sepi, tampak fokus, pandanganmu memang fokus pada jalan gelap tanpa lampu, tapi aku tahu hatimu tidak. Rinai hujan sedikit mengganggu pandanganmu, wiper tetap bekerja tanpa lelah atas dasar instruksi dari tuas di balik setir sebelah kirimu. Kau diam, mungkin menunggu… menungguku yang tak kunjung memberimu pasti. Jika kujawab Tidak, maka kau akan pergi. Jika kujawab Iya, maka kau akan berjuang mati-matian untuk menjadikan mimpi kita nyata. Mati-matian, itu katamu. Tapi, aku hanya bisa memberimu diam. Aku, bukan lagi sang Pemimpi itu. Aku tak cukup berani untuk bermimpi, lagi.

Katamu, aku idealis. Katamu, aku selalu tahu apa yang ku mau. Katamu, aku sangat komitmen, meski kadang tak konsisten. Katamu, aku high-principled. Katamu, karakterku cukup kuat… Ketika ada yang tidak bisa menerima, maka aku akan pergi. Tapi, tahukah kamu… sejak chemistry ini datang aku berubah menjadi orang lain? Menjadi orang lain ketika menghadapinya, lelaki yang mengaku mencintaiku sejak 7 tahun ini. Lelaki yang menilaiku hampir sama dengan penilaianmu. Bedanya, dia menilaiku sebagai orang yang sangat tidak konsisten. Yah, mungkin dia benar. Aku pikir dia benar. Tahukah kamu, sejak chemistry ini hadir aku tidak sanggup berkomitmen dengan siapapun. Aku tak tahu apa yang ku mau. Aku bingung, hanya mampu tenggelam dalam chemistry kebersamaanku, dan itu denganmu. Bukan dengannya.
“Besok kamu akan datang ‘kan?” tanyaku setengah berbisik.

“Tergantung keputusan kamu malam ini..” kau masih datar menjawabku. Tatapanmu masih sama, lurus tanpa ingin menoleh padaku. Aku tiba-tiba menjadi sulit bernafas. Dadaku sesak. Sesak akan rasa yang harus kutanggalkan malam ini. Sesak pada kebersamaan yang belum juga kutinggalkan tapi sudah kurindukan. Sesak akan sikapmu yang tetiba berubah dingin padaku malam ini.

“Sepuluh tahun sudah ini berlalu, kenapa kamu belum lelah?” tak terbendung linangan itu mengalir di balik suaraku yang terbata.

“Karena aku telah menjadi diriku sendiri lima tahun ini, dan aku sedang berusaha mencapai bahagiaku yang letaknya di ujung keputusanmu” tangan kirimu mengelus kepalaku lembut. Hal yang selalu kau lakukan ketika melihatku sedih, dan hal itu akan selalu kurindukan.

“Tujuh tahun ini aku selalu berpikir bahwa aku mencintainya..” kataku akhirnya.

“Itu pikirmu ‘kan? Boleh aku tahu rasa mu?” tanyamu menodong.

“Kau tahu ‘kan seberapa bingungnya aku sekarang? Aku bingung.. aku tiba-tiba merasa tidak kenal dengan perasaan ini ke kamu, tidak kenal dengan aku yang pura-pura tersenyum ketika bersamanya, tidak kenal dengan hidup yang tiba-tiba dipenuhi dengan pikiran tentang kamu.. Kamu ngerti ‘kan?!” emosiku meluap-luap, buliran itu lagi-lagi mengalir. Kali ini diselingi isak.

Kau menghentikan kemudi, meminggirkan mobilmu ke sisi jalan. Lalu mambalik badanmu, menatapku lembut, mencoba memahami perasaanku yang kalut.

“Risa, aku selalu bahagia.. ketika kamu bahagia.. aku tidak mau melihat kamu bingung seperti ini.. Kekalutanmu ketika bersamaku sudah cukup menggambarkan seberapa besar kamu mencintai dia.. Asal kamu yakin, akupun akan yakin..” kau meraihku, mendekapku dalam peluk sambil terus menenangkanku dengan usapanmu pada rambutku.

Kau melepaskan dekapanmu, meraih tanganku untuk sejanak kau genggam.. “Kalau kite berjodoh, kita akan bertemu di ujung jalan ini ‘kan?” katamu sambil tersenyum. Aku hanya bisa mengangguk, membalas senyum dengan air mata. Tapi senyum ini, ternyata meyakinkanku.. kau nantinya akan bahagia dengan atau tanpaku. Aku tahu itu. Aku yakin kini.

Kejengahan melanda kita, dua sahabat yang tiba-tiba bingung mendapati chemistry dalam persahabatan bertahun-tahun. Memandangimu seperti ini, mungkin akan kurindukan. Malam, wangi lime mobilmu, rintik hujan, jalanan sepi tanpa lampu jalan ini akan selalu mengingatkanku padamu nantinya.

 “Aku suka lagu ini” tiba-tiba tanganmu memutar volume lebih keras.

Aku lega, setidaknya musik yang lebih keras mampu menenggelamkan kejengahan di antara kita. Otak dan perasaanku pun ikut berenang.. kuperbaiki posisi dudukku senyaman mungkin. Mencoba menikmati lagu dengan alunan akustik di kala hujan.. hanya menunggu teh hangat maka bahagia itu cukup.

Your hand fits in mine
Like it's made just for me
But bear this in mind
It was meant to be
And I'm joining up the dots with the freckles on your cheeks
And it all makes sense to me

I know you've never loved
The crinkles by your eyes
When you smile
You've never loved
Your stomach or your thighs,
The dimples in your back at the bottom of your spine
But I'll love them endlessly

I won't let these little things slip out of my mouth
But if I do
It's you
Oh, it's you they add up to
I'm in love with you
And all these little things

You can't go to bed without a cup of tea
And maybe that's the reason that you talk in your sleep
And all those conversations are the secrets that I keep
Though it makes no sense to me


I know you've never loved
The sound of your voice on tape
You never want
To know how much you weigh
You still love to squeeze into your jeans
But you're perfect to me

You'll never love yourself half as much as I love you
You'll never treat yourself right, darling, but I want you to.
If I let you know I'm here for you
Maybe you'll love yourself like I love you, oh.

I won't let these little things slip out of my mouth
But if it's true
It's you,
It's you they add up to
I'm in love with you
And all your little things

Dan hari ini, kau benar-benar tak datang. Tapi aku tetap yakin… dengan atau tanpaku kau akan bahagia. Kebersamaan kita yang begitu indah akan kukemas ke dalam kotak berpita yang kulabeli “KENANGAN”. Hanya sebaris sms yang kau kirimkan…
“Happy Engagement Day yah Chunk.. :-) “
Sender : My Euforia

Senyum merekah di wajahku kini, aku tahu kaupun demikian di manapun kau berada.


Song by : One Direction – Little Things

3 komentar:

Aya Mohammed mengatakan...

Cinta itu seperti crayon, warnailah hidup mu dengan sesukamu dengan cinta, hitam putih pun adalah warna cinta yang indah yang klasik namun abadi.
jalan ceritanya sangat menarik, walau akan terasa sangat menyakitkan jikalau kisah ini diangkat dari kisah nyata.

Grace Amaliah mengatakan...

Hmmm...ternyata bukan cm saya...dd' jg punya sisi ini jg toh. Atau ini pgalaman pribadi ? hehehe....

Dewi Aryati mengatakan...

Setiap cerita butuh inspirasi, sejauh mana inspirasi mempengaruhi it just the writer's secret... ;)