Kamis, 28 November 2013

31w6d

"Hai.. aku Dede'. Sejak dulu aku senang dipanggil dengan nama itu. Nama yang kucantumkan sendiri sejak SMP di balik seragam tim basket sekolah. Nama yang seolah mendeskripsikan aku yang kecil --secara fisik memang demikian-- aku yang manja, dan aku yang memang selalu ingin dianggap anak-anak. Anak-anak seolah menjadi apologi untuk setiap kesalahan yang mungkin aku lakukan kala itu. "Sudah biarkan saja, Dede' kan masih anak-anak" itu perkataan orang yang kuharap bisa kudengar ketika aku berbuat salah, ingin dimaklumi. Dede' yang sejak dulu tidak pernah merasa dewasa. Dede' yang sedari dulu, begitu-begitu saja."


Kau tahu berapa usia Dede' sekarang? Ia telah menginjak 26 tahun 5 bulan 22 hari. Bukan anak kecil lagi. Sedang berusaha untuk menjadi perempuan dewasa yang lebih bijak dalam memaknai hidup. Kenapa dia ada, untuk apa dia ada, mencoba menerka pemikiran Tuhan tentang seperti apa takdirnya dengan berusaha menjadi sebaik-baik makhluk Tuhan. Kenapa? Entahlah.. Mungkin karena usia, mungkin karena tuntutan dunia. 


Mau tahu kabar Dede' sekarang? Seorang karyawati pada sebuah NGO, seorang istri dari seorang karyawan swasta sebuah kontraktor multinasional, dan ia.. sedang mengandung calon anak pertamanya. Banyak hal yang kemudian membuatnya bahagia, risau, sekaligus takut di saat yang sama.




"Hai.. aku Dede'. Aku tahu aku tak muda lagi. Kelak, suatu saat jika aku berhasil melahirkan bayiku dengan selamat, dan telah menjadi ibu untuk anakku, aku harus bisa menjadi contoh yang baik baginya. Tidak mudah, aku tahu itu tak mudah. Tapi yang kutahu, aku sedang berusaha."




Dia sekarang tak henti berdoa, untuk lari dari ketakutannya. Ketakutan ketika suatu saat kesempatan yang sedang dijanjikan tak kunjung datang. Kesempatan untuk melahirkan seorang atau lebih anak, kesempatan untuk dipanggil 'Ibu', kesempatan untuk membuatkan sarapan sebelum mereka berangkat sekolah, kesempatan yang membuat mertuanya untuk pertama kali dipanggil 'Mbah Putri' oleh cucunya. Risau karena selalu mengkhawatirkan kondisi 'sesuatu' yang ia bawa kemana saja ia pergi selama lebih dari 7 bulan ini. Merasai jantung lain yang berdetak di dalam rahimnya, seolah selalu mengingatkannya, kalau dia bukan Dede' yang dulu lagi. Bukan Dede' yang harus selalu berharap maklum.

"Hai.. aku Dede'. Semakin banyak hal yang menyeramkan yang kubaca tentang proses persalinan terkadang membuatku sedikit ngeri. Well, aku takut. Tapi setiap kuceritakan ketakutanku pada suamiku, ia selalu mampu membuatku percaya, bahwa semua akan baik-baik saja. Kau tahu, aku menulis saat ini akupun sedang takut. Sedang bertanya-tanya pada Tuhan dan diriku sendiri, sanggupkah aku melaluinya? Dan setelah aku sanggup, mampukah aku menjadi Ibu yang baik? Tapi aku tahu, Tuhan tak pernah membebani hamba-Nya lebih dari kemampuannya. Dan yang kupahami, apapun yang terjadi kelak, setelah aku berjuang semampuku, berdoa setulusku, apapun hasilnya, itu sudahlah menjadi kehendak-Nya. Entah kesempatan itu akan benar-benar datang atau tidak."


"Hai.. aku Dede'. Aku hanya ingin bilang, Tuhan.. Terima kasih... untuk setiap hal yang telah Engkau gariskan untukku. Buat aku, menjadi hamba-Mu yang terus belajar untuk menjadi seperti yang Engkau mau..."







Rabu, 21 Agustus 2013

Trapped in Memory

Hari sudah pagi dan mataku masih sembab. Dua hal yang patut kubenci pagi ini selain presentasi akhir pencapaian target marketku di triwulan II tahun ini di pukul 8 teng yang takkan mungkin kulalui semulus biasanya.

Kulangkahkan kakiku menuju cermin, mencoba bicara pada diri sendiri atau salah satu alter ego-ku. Tunggu.. aku bukan pengidap Schizophrenia*1, tapi aku selalu menganggap aku punya alter ego yang selalu bertengkar di dalam kepalaku dan keputusanku biasanya ditentukan oleh kesimpulan hasil dari pembahasan mereka. Seperti siang-malam, hitam-putih, ying-yang (yang ini aku tak paham), mereka selalu seperti dua sisi yang berbeda ketika melihat dan mempertimbangkan setiap masalah yang kupunya.

‘Selamat pagi Jovita.. kenapa matamu masih sembab memikirkan dia yang namanya tak ingin kau sebut?’ tanya Sabina, itu aku yang menamainya demikian untuk hasil dari pemikiranku.

‘Hello Sabina.. kamu gak pernah tahu kan yaa gimana rasanya jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan?’ kini giliran Renata yang menjawab, ia adalah refleksi dari perasaanku.

‘Plis deh Re, gara-gara kamu Jo mesti ngabisin waktu semalaman cuma buat melototin foto si Juno cowok yang gak jelas keberadaannya sampe sekarang di mana, dan dia mesti ninggalin bahan presentasi yang harus ia presentasikan pagi ini!’


Well.. Sabina benar, sepertinya semalam aku agak tak waras. Membuang waktu 3 jam  cuma untuk memandangi foto disambung dengan tangis yang tersedu-sedu. Tapi jangan pikir foto itu akan kubuang apatah lagi kubakar, no.. it's BIG NO, foto itu tetap kusimpan di dalam dompetku. Rapi.

Di sana, di dalam dompetku, pada foto itu ada siluet dua anak manusia yang berdiri berhadapan, tampak samping mereka tengah bersalaman. Berlatar senja yang masih menggantung dan sengaja dibuat dalam konsep BW (black-white). Bersalaman adalah simbol kesepakatan mereka untuk akan selalu setia hingga kelak merenta bersama. Akan menjadi teman, sahabat, keluarga, yang selalu akan ada satu sama lain. Sepakat untuk selalu berbagi mimpi dan upaya untuk menjadikannya nyata. Foto siluet itu diambil 8 tahun silam, ketika mereka masih dua anak remaja yang kata sebagian orang masih terlalu naif dalam memaknai cinta. Mungkin iya. Karena kini, sebagian dirikupun menganggap hal itu benar. Aku, salah satu objek di foto itu, dan objek lainnya adalah Juno, lelaki yang kutangisi sejak semalam.

Aku rindu Juno. Aku rindu berbagi kisah, mimpi, serta cita yang kami punya bersama. Dulu, kami punya mimpi untuk traveling keliling Indonesia bersama, mengelola sebuah majalah traveling guide yang terbit sebulan sekali dengan dia sebagai fotografer dan aku sebagai penulis artikel. Mulai dari melaut ke Pulau Weh, hiking di Gunung Ciremai, trailing ke Danau Kelimutu, menengok orang utan ke Tanjung Puting, snorkeling di Pulau Dodola, hingga diving ke Raja Ampat. What a wonderful dream we made.

But what i've got now? Sejak kepergianmu 5 tahun silam tanpa kabar.. apa kau tahu kabarku? Aku tak bicara dengamu, aku bicara pada Juno seandainya saja ia telah mati dan sedang mengunjungiku saat ini. Aku.. seorang marketing manager sebuah produk makanan internasional wilayah Indonesia timur, manager termuda yang hampir selalu dinilai memiliki kehidupan sempurna oleh orang-orang yang naif dalam memaknai kehidupan. Masih di sini, menunggu kabarmu seandainya pun kau benar telah mati, itu akan jauh lebih melegakanku dibanding mengetahui kau telah beranak istri di luar sana tanpa memberitahuku. Aku mungkin akan gila. Bukan, bukan gila karena cinta. Tapi gila karena menemukanmu setelah sekian lama tapi untuk pertama kalinya kau mengingkari janjimu. Untuk merenta denganku, selalu menjadi temanku, sahabatku, dan akan menjadi keluargaku kelak, ayah dari anak-anakku.

Kurapikan kembali foto-foto kita yang berserakan, tiket-tiket bioskop, kliping tempat-tempat yang ingin kita kunjungi, tulisan-tulisan tanganku dari hasil traveling kita, dan... sebuah surat. Surat perjanjian yang kita tanda tangani tepat 8 tahun silam, ketika foto siluet itu diambil. Surat perjanjian yang takkan pernah kulupa, dan  takkan pernah kubuang, apatah lagi kubakar. Mereka ku biarkan berjejal di dalam laci meja di sisi tempat tidurku. Agar aku mudah menemukanmu, Juno. Mereka akan kusimpan, hingga nanti kau pulang, meski itu entah kapan.

*

"Hey Juno.. I'll go to your Indonesia tomorrow, do some research of orangutan in Borneo.. don't you wanna join?"
"What? for being your travel guide guys? No... it's impossible for me to leave my wife with her pregnancy, maybe next time John.."
"Ooow.. congratulation then, i'll send you some pic from your home later.." John tersenyum.
"No thank you.. my home is here, in England, beside my wife.." Juno membalas tersenyum.



Kamis, 11 Juli 2013

Have A Great Life

Aku tahu aku sedang bermimpi. Wajahmu terlihat begitu tirus dibanding terakhir kali kita bertemu. Kau juga semakin tinggi, aku rasa berenang dan basket setiap menitpun takkan sanggup menambah tinggi badanmu 15 cm dari sebelumnya, mengingat terakhir kali kita bertemu usiamu telah menginjak 28.

Tapi semua tampak nyata. Kamu, tatapanmu, gurauanmu, diammu, masih sama, seperti ketika kita masih orang yang sama bertahun silam. Kau menggangguiku dengan beberapa lelucon, aku masih diam. Aku tak berkutik. Aku tak mampu membedakan kau yang mana yang kuhadapi saat ini. Aku tahu, ini kau yang dulu.

“Risa.. kamu baik-baik saja kan?” kau melambaikan tanganmu 20 cm di depan wajahku. Kau tampak khawatir, entah ada yang salah mungkin dengan otakku atau aku hanya terlalu kaget menemukanmu di sini, saat ini. Aku yang muda, masih belia, dan cukup energik untuk meninju lengn kananmu. Aku tahu, aku rindu, melakukan ini.

“Kamu dari mana saja?” aku pura-pura marah, sambil menarikmu menjauh dari kerumunan teman-teman lama. Jujur saja, aku tak bisa mengenali mereka satu-satu, hanya kau yang kukenali, kau masih ingat kan aku tak pandai mengingat wajah dan nama seseorang.

“Hehhehe.. ada kok Ris.. masih di Indonesia, belum sempat ke luar negeri. Kamu apa kabar?” tanyamu sembari membelai rambutku, seperti biasamu.

“Aku baik.. kamu bagaimana? Sudah ketemu jodoh?” tanyaku spontan. Kau hanya tersenyum, datar.

“Kamu kenapa menghindari aku?” aku marah.. jujur.
Kau hanya tersenyum, mencoba memahami sifatku yang biasa, kekanakan.

“Risa, kamu tahu kan.. aku butuh waktu untuk memperbaiki rasa, membuang sakit hati, menghilangkan benci, juga menghilangkan pikiran tentang kamu. Aku butuh waktu Ris..”

“Jadi kamu sakit hati sama aku?”

“Iya..” kau masih tersenyum dan itu menyakitkan. Menerima kenyataan bahwa aku telah menyakitimu, saudara, teman, sahabat, serta guru bagiku selama ini.

“Sekarang? Kamu masih sakit? Karena aku mungkin?” kusosor kau tanpa merasa bersalah.

“Kalo aku masih sakit.. aku nggak akan mungkin berani muncul di hadapan kamu sekarang” kau tersenyum.

Aku terbangun. Badanku masih hangat. Tadi malam aku demam. Aku tidur sendiri, suamiku berada ratusan kilometer jauhnya dari rumah kami. Aku harus kembali tidur, besok pagi harus mengantar  Athar ke sekolah, besok hari pertamanya sekolah, ia tak boleh bolos hanya lantaran ibunya sedang tak enak badan.

*
“Pagi ibu..” Athar membangunkanku tepat saat adzan shubuh berbunyi melalui smartphone-ku.

Assalamu alaikum sayang… “ kukecup pipinya, ia tersenyum.

Waalaykum salam.. ibu kalo masih sakit aku diantar Kakek saja.. nanti Athar deh yang minta tolong sama Kakek..”

No..no.. kamu tetap ibu yang antar sayang.. siapa bilang ibu sakit? Nih ibu baik-baik aja kok..” kutegakkan badanku dan berusaha tampil sebugar mungkin. “Sudah, Athar sekarang sholat, terus siapkan perlengkapan sekolah, ibu mau sholat terus bikin sarapan dulu.. okeh?” Athar kecilku mengangguk dan tersenyum.

Menjadi murid baru di kota baru dan negara baru pastilah tidak mudah untuk seorang Athar. Meski ini bukan kali pertama kami mengunjungi Auckland, karena hampir setiap liburan 3 tahun belakangan ini kami selalu menghabiskannya di NZ, mengunjungi ayah Athar. Proyeknya memang sedang berpusat di Auckland, hanya saja saat ini ia sedang mengikuti training di Brisbane, Aussie. Aku takkan mungkin membiarkan Athar diantar Ayahku mengingat Ayahku tak hafal semua jalanan di Auckland.

Setelah mengantar Athar ke Golden Grave School di Grey St. aku memutar ke Arthur St. dengan niat berbelanja bahan makanan untuk siang ini.
Dan kau, mulai lagi. Setelah semalam tiba-tiba muncul dalam mimpiku, siang hari pun kau muncul lagi dalam ilusiku. Lalu ini apa? Kau terlalu nyata untuk kusebut mimpi. 4 meter di depanku, duduk menyeruput kopi di dalam kafe. Aku turun dari kemudiku, mencoba merasai dan menganggap ilusi kemudian adalah hal yang harus kubiasakan. Semalam kau bilang kau masih di Indonesia kan? Tak mungkin kau di sini, di Arthur Street, Auckland, New Zealand. Terima kasih untuk tidak membuatku mulai gila Kendra. Kubatalkan untuk masuk ke street mart dan berbelok masuk ke kafe. Melirik ke bangku yang tadi diduduki oleh Kendra dan.. kosong. Mungkin aku memeng sudah gila. Aku kembali ke street mart, memilih sayuran yang memungkinkan untuk dimakan oleh Ayahku, ia mungkin tak begitu suka sayuran ini.. mungkin kumasak Rawon saja siang ini.. Aku ingat, aku berbekal Kluwek dari Indonesia kemarin, pemberian Mama mertua.

“Hai Risa..” seseorang menepuk bahuku, suaranya tak asing.. aku berbalik.

“Hai… mau lari kemana lagi kamu?” seolah semua amarahku ingin tumpah di hadapan orang ini.

“Hah? Maksudnya?” Kendra mengernyitkan keningnya tak mengerti.

“Sorry Ken.. nggak kok.. kamu ngapain di Auckland?” tanyaku dengan nada sedikit ketus.

“Cari kamu..” aku bingung.. tidak mengerti.

“Ada apa Ken? Kita kan sudah ketemu..” jawabku datar.

“Aku cuma mau minta maaf, kalo-kalo sikap aku ke kamu terakhir kita komunikasi bikin kamu gak nyaman. Aku bukannya ngindar Ris.. tapi sekali lagi, aku butuh waktu untuk memperbaiki perasaan aku sendiri. Maaf ya Ris.. aku janji.. gak akan bisa gitu lagi sama kamu..” Kendra tersenyum.
“Terakhir aku cuma bisa bilang.. have a great life ya Ris.. jadi ibu yang sholehah..” Kendra lagi-lagi membelai rambutku lembut, seperti biasanya.

Aku diam.. tersadar bahwa aku sedang tertidur di balik kemudi truk merah milik suamiku. Dan aku, masih di pelataran Golden Grave. Ah… aku mungkin masih sakit. Sempoyongan aku turun dari mobil sembari mengecek e-mail dari smartphone-ku. Dan… Aku ternganga, mematung, membaca sebuah e-mail dari teman semasa SMA dulu.

Dear friends,
Innalillahi wa innailaihi roji’un.. kita telah kehilangan salah satu sahabat terbaik, teman tersetia, dan partner professional kita.. Kendra Mahardika Darmawan. Ia meninggal saat kecelakaan mobil di Makassar dini hari tadi. Semoga diberi tempat terbaik di sisi-Nya. Amiin.. Rest In Peace my friend.



- masih   sedang ingin menulis lagi, work hour, SCPP  -

Rabu, 10 Juli 2013

Ini 'Kan Ramadhan

Langit cerah. Suasana halte di depan kantor sedang tak ramai. Jam tangan CASIO pemberian sahabat menunjukkan angka 04.35 pm. Ini Ramadhan, jam pulang kantor dipercepat 30 menit dari biasanya. Tak seperti biasa, ada suami yang selalu pulang bersama.. hari ini ia lagi-lagi tengah business trip. Di halte ada beberapa perempuan yang juga tengah menunggu.

“Hai Tirta..“ seorang perempuan berjilbab motif berbunga menegur perempuan berambut lurus di sampingku. Aku bukan tipe orang yang senang memperhatikan penampilan, tapi lirikanku sekilas sebelum duduk di halte sempat menangkap bayangan ‘cantik’ pada perempuan bernama Tirta ini. Cara berpakaiannya sangat elegan, blouse hitam selutut berbahan chiffon dan berlengan se-siku. Untuk sepatu ia mengenakan flat shoes berbahan leather abu-abu dengan pita sebagai tali. Badannya padat tapi tak gemuk, kulitnya halus kuning langsat. Wajahnya oval, dengan hidung yang tak pesek serta rambut hitam lurus sebahu. Sangat Indonesia. Perempuan berjilbab tadi kemudian kuketahui bernama Reni. Dan aku, duduk di sela-sela mereka. Tapi aku pura-pura sibuk dengan mobile phone-ku yang katanya pintar dan sedang sibuk bermain Game.

“Hei Ren, nunggu jemputan?” tanya Tirta.

“Iya.. kamu?”

“Sama.. aku juga..” Tirta sepertinya sedang sibuk dengan telepon pintar tipis bertombol tunggal berwarna hitam. Mungkin sedang menghubungi seseorang tapi tak kunjung ada jawaban.

“Dijemput sama Revan?” tanya Reni.

“Bukan.. Revan udah so yesterday laah Jeung..”

“Ada yang baru dong?” Reni mencoba bergurau memecah canggung.

“Gitu dehh…” Tirta hanya mendelik tersenyum malu.

“Eh Ren.. kamu kenal Ayiz gak? Anak lantai 23 sih.. tapi kan masih se-perusahaan sama kamu..”

“Ooo.. Ayiz, iyalah.. doi kan orang kepercayaan bos besar, tiap hari kali doi naik ke 25 untuk discuss sama big boss.. Kenapa jeung?”

Aku masih sibuk dengan si Brown di hp-ku.

“Hmm.. anaknya gimana? Asik gak buat diajak jalan?”

“Hah?! Sebagai temen sih asik, anaknya supel.. diajakin ngomong apa aja bisa nyambung sama dia.. tapi kalo jalan.. gak tau deh, baru kenal juga sih.. tau ‘kan aku belum lama di sini.. tapi perasaan doi dah merried deh.. anak-anak sering bilang kalo istrinya juga kerja di gedung sini.. gak tau bener apa cuma becanda sih.. Kenapa gitu?”

“Hihihiii.. peduli amat deh ada istri apa enggak, si Revan juga udahan tuh sama bini-nya kemaren..”

Aku tak bisa konsentrasi pada si Brown lagi. Pendengaranku kutajamkan untuk menyimak percakapan mereka.

“Kok gitu?” Reni menghentikan aktivitasnya dengan mobile phone-nya.

“Tenang aja Ren, biasa kok kek di Jakarta kemaren.. gue dapet order buat deketin doski biar bisa dapet info update tentang proyek-proyek yang doski kelola. Kalo gue bisa ngintervensi ke decision-nya dia gue dapet bonus juga.. you can keep my secret kan yaaa?” Tirta mendelik nakal pada Reni.

Reni diam, mungkin bingung.

“Ren, kamu bisa dong kenalin aku sama Ayiz… cuma kenalin aja kok, selanjutnya biar aku yang urus..”

“Sampe kapan sih kamu mau nerima job gak jelas kek gitu?” Reni bertanya dengan intonasi agak tinggi.

“Gak usah nyolot dong Ren.. kalo mau bilang iya, kalo gak mau ya udah.. nanti aku bisa cari cara lain kok..”

Aku menyimpan handphone-ku ke dalam tas. Taxi yang sudah ku order sejak 15 menit lalu belum juga datang. Pikiran dan perasaanku mulai carut-marut akibat obrolan mereka.

“Aku duluan yah Tir..” Reni kemudian beranjak tanpa menjawab permintaan Tirta, CR-V hitam menjemputnya meninggalkan kesal di wajah Tirta.

Aku diam, masih menunggu Taxi pesananku.

“Mbak, nunggu jemputan ato taxi?” Tirta menyepaku dengan senyum manisnya. Ia memang cantik.

“Taxi” aku tersenyum, datar.

“Kerja di sini juga Mbak? Lantai berapa?” lanjutnya bertanya.

“Saya di lantai 15, klo Mbak?” tanyaku penasaran.

“Aku di lantai 2 Mbak, baru di Makassarnya.. oia, aku Tirta..” ia mengulurkan tangannya.

Kusambut “saya Risa..” dengan senyum, masih datar.

“Biasanya emang lama taxinya datang ya Mbak?”

“Kurang tau juga sih Mbak, biasanya saya pulang bareng suami.. cuma karena dia lagi business trip jadinya naik taxi”. Kulirik dari jauh taxi yang kupesan, itu dia di ujung jalan.

“Oh.. suaminya kerja di sini Mbak?” tanya Tirta, basa-basi kurasa.

Aku berdiri, beranjak  menunggu taxi berhenti di depanku.

“Oiya, suami saya di Lantai 23, satu-satunya orang yang bernama Ayiz yang sejak tadi Mbak bahas sama teman Mbak.. Mari Mbak saya duluan..” aku naik ke taxi dengan perasaan marah yang tertahan. Mencoba mengelus dada dan beristighfar. Ini cobaan Ramadhan pertama kami.


Entah seperti apa tampang Tirta ketika kutinggalkan, aku tak ingin memperhatikan. Sudahlah, mari maafkan.. ini kan Ramadhan. 



- masih di kantor, menunggu jam 4.30 pm -

Rabu, 03 Juli 2013

Bizarre Love Triangle

Aku, kamu, dia.

Aku, perempuan muda berbadan cekung dan berkulit gelap, sedikit pesimistis dan tampak seolah tak bersemangat melanjutkan hidup belakangan ini. Ingat! hanya seolah.
Kamu, seseorang yang begitu ingin kutemui, tempatku berbagi untuk setiap susah, sedih, bahagia, amarah, hingga sakit yang selalu ingin kuenyahkan.
Dia, lelaki yang menikahiku 94 hari yang lalu dan baru saja meninggalkanku untuk kesekian kalinya karena business trip. Hampir selalu 2 dari 7 hari di tiap pekan aku tak tidur dengannya. Tapi tak mengapa, toh ia mengaku mencintaiku. 

Tapi kamu, selalu menarik perhatianku atas setiap ulah yang memang adalah takdirmu. Kamu, dalam waktu 4 minggu mampu membuatku pusing, bingung, serta bahagia di waktu yang sama. Kamu, sanggup membuat ia merasa 'terancam' untuk kehilangan perhatianku ketika aku benar-benar bertemu denganmu kelak. Tapi aku tahu, ia tetap bahagia, kamu tenang saja di sana.

Pagi tadi, dia pergi lagi. Kali ini ia tak begitu khawatir dengan keadaanmu, juga aku. Ini aneh, belum juga menemuimu aku sudah sebegitu sayangnya padamu. Aku rela menghindari makanan-makanan fast food favoritku, olah raga yang menjadi hobiku itu karenamu. Aku bahkan mau-mau saja menenggak susu asin yang katanya rasa cokelat hanya untukmu.

Mereka bilang, jika semuanya berjalan normal, aku akan menemuimu 27 Januari 2014 nanti. Sekarang, usiamu 10w + 2d. Kami (aku dan dia) berharap kamu bisa bertahan di sana, hingga kelak takdir mempersatukan kita sebagai keluarga yang utuh.

Jika kamu laki-laki, ingin sekali kunamai "Ahlu Azd Dzikr" sebagai doaku agar kelak kelak kamu memiliki dan menguasai ilmu-ilmu Al-Qur'an juga menjadi makhluk yang tak pernah lupa untuk berdzikir. Jika kamu perempuan, "Aeliyah Aisha" akan menjadi nama yang elok karena kamu adalah karunia dari Allah bagi kami.

"Terima kasih karena sudah bersedia hadir dalam kehidupan kami. Kami akan terus berusaha agar semua berjalan lancar sampai kita bisa bertemu nantinya.. Amiin Ya Robbal Alamiin. We both love you."


Best Regards,
A Prospective Mother

Rabu, 19 Juni 2013

A WIFE

Hi fellas… how’s the life? Don’t ask me, cause everything HAS CHANGED!

Pernah berpikir kalo satu kata mampu mengubah hidupmu? Yeah that’s what happened in my life after Married. Dulu, saya pikir setelah menikah tidak akan ada hal yang berubah, saya hanyalah saya dengan segala bentuk kelakuan yang ingin saya lakukan. Sampai suatu hari seorang teman pernah bertanya “Kamu yakin mau nikah?” lalu saya balik bertanya “Iya. Apanya yang salah?” dia lalu bilang.. “menikah itu untuk seumur hidup lho, bukan untuk sementara.. are you really sure to spend your entire life with him?” dan saya menjawab mantap “I’m pretty sure”.

Ini bukan tentang ketidakyakinan, karena saya selalu yakin untuk setiap keputusan besar yang telah saya buat tidaklah selalu terlepas dari campur tangan DIA Sang Pemilik Alam Raya. Bukankah tidak ada hal yang kebetulan di muka Bumi ini? Daun yang jatuh dari pohon saja mesti memperoleh izin dari-Nya kan? Saya hanya teringat kembali pertanyaan dan pernyataan teman saya kala itu, ketakutannya, keraguannya dan setiap hal yang membuatnya tidak begitu yakin kemudian tampak wajar bagi saya, cause everything has changed.



Saya perempuan normal yang telah menjalani hubungan tanpa seizin Allah selama  ± 3 tahun 5 bulan. We started on June 14th 2009 then finally broke up on November 13th 2012. Kenapa? Karena kami lelah dengan hubungan yang terus berjalan tapi belum juga memperoleh petunjuk sampai kapan hubungan itu berubah menjadi hubungan yg IA ridhoi. Jangan bilang kami tidak berusaha, we did. Hanya saja, we just didn’t get any signs to make it closer. Sampai akhirnya kami menyerah, pasrah, tapi tetap berbekal niat Lillahi Ta’ala. Saya sampai bilang “Kalo kita berjodoh, kita pasti akan bertemu nantinya” dan kami sepakat untuk mengakhiri hubungan tanpa restu Allah itu saat itu juga. Live in our own life however wasn’t simple.. But, we believed, what was happening is just what should happened between us.

Dan kemudian Allah Yang Maha Keren memunculkan kemungkinan-kemungkinannya, dengan caranya yang menurut saya “ajaib”. The signs were coming while we just prayed for a better life to each other. Dan saya kemudian percaya, setiap hal memang berawal dari niat yang baik, kemudian amalan yang baik, insya ALLAH akan didatangkan jalan yang baik. Bukankah Allah telah menuliskan takdirnya atas kita jauh sebelum DIA menciptakan dunia? Hasil rapor (baca: takdir) kita memang sudah ada, tapi DIA akan menilai seberapa besar usaha kita untuk menjadi seperti yang IA inginkan. Saya percaya itu.


Sebulan sebelum saya menikah, saya mengajukan permohonan resign ke kantor, ya aturan kantor memang demikian. Alasannya? Hmm mungkin karena saya cukup lelah bekerja pada perusahaan pekerja konstruksi. Sepertinya sangat bukan saya. Dan berhubung saya akan menikah, meskipun belum memperoleh pekerjaan baru saya sudah harus resign. Saya menceritakan niat saya kepada seorang teman yang telah memiliki bayi, I said “saya percaya saya bisa mendapatkan tempat yang lebih baik dan nyaman dari pada di sana” dia bilang “menurut saya dapat kerja setelah menikah itu jauh lebih susah daripada sebelum menikah..” saya lalu bilang “oh ya? Kok bisa?” dia menggeleng dan hanya bilang “entahlah.. menurut saya saja” jawabnya yakin. Kadang keyakinan teman saya ini memang mengorek pesimisme saya, jujur saja hari itu nyali saya langsung ciut. Berbagai probabilitas di kepala saya mulai bermunculan. “Bagaimana jika dia benar? Saya tak memperoleh pekerjaan setelah menikah nanti? Stay at home, clean the house, cooking, hffffh.. I’m not into it..”  Tapi saya beristighfar.. tidak seharusnya saya menerka rezeki yang akan DIA beri, toh kantor kemarin tempat saya di-interview tidak merasa ada masalah ketika saya menceritakan niat saya untuk menikah.

Kamipun menikah di 31 Maret 2013 lalu. Selang 4 hari setelah akad nikah kami, sebuah NGO (Non-Government-Organization) asal Swiss mengabari saya via e-mail, mereka mengirimi saya Letter of Offer dan meminta saya mulai masuk 4 hari kemudian. See? How Allah shows the right one for me? Honestly, saya memang sangat tertarik untuk bergabung dengan NGO. We just need to think how to spend the fund wisely, just that. No need to manipulate the data just to earn more money fron the project,  pfffft! Dan sebagai bonus, lokasi kantor baru saya berada di gedung yang sama dengan kantor suami saya, hanya berbeda 6 lantai.. we can lunch together J.

Wondering our life after marriage? Hmmm… absolutely busy, but so much fun there.. J

Roadshow ke keluarga besar sepertinya sejauh ini kami lakukan setiap minggu, sebagai penganut nomaden, setiap weekend kami di rumah Mama, dan workdays di rumah Ibu. Semuanya memang tampak hampir sama, tapi saya tidak pernah berpikir kalau saya akan sesibuk ini. Punya keluarga besar yang banyaknya dua kali lipat,  punya cucian setrikaan yang banyaknya jadi dua kali lipat, Hmm.. kadang saya lelah, merasa kehilangan waktu pribadi *egosentris memang datang tanpa permisi kadang kala.

Setiap pagi banyak rutinitas baru yang harus saya tambahkan. Selain membuat sarapan untuk orang tua, dua cangkir teh yang bukan menjadi kebiasaan Ibu harus saya siapkan untuk suami dan saya *sebagai penemani. Kadang kala kami berkolaborasi di dapur untuk sarapan atau makan malam. Dan itu menyenangkan. J

Nanti di sambung yah.. kondisi tidak memungkinkan saya untuk menulis panjang. Harus mengurus suami. Hihhihi.. Bye!

Rabu, 09 Januari 2013

HAPPY BIRTHDAY!

Aku menunggumu, menunggu barang 1 sms yang hanya berisi 2 kata paling tidak.. "Happy birthday" dan itu cukup membuatku yakin bahwa kau ingat.

Kulirik jam tangan ku, 08:45 dan masih belum ada kabar darimu hari ini. Biasanya kau tak lupa, biasanya kita menikmati pergeseran tanggal hari ini sambil mengobrol via telepon. Serangkaian doa akan kau rapal dengan embel-embel traktir sebelum kau aminkan.

Entah kau mencoba memberi kejutan atau kau memang benar-benar lupa, tapi aku tak suka, tak pernah suka kejutan. 'Happy birthday Herry' dan berbagai macam doa kuterima pada beberapa akun jejaring sosialku, tapi tak satupun darimu. Mungkin kau sibuk, mungkin setumpuk gambar dan hitungan gardu di mejamu menyita semua memori ruang dan waktumu. Tapi, apapun itu aku berharap kau sedang baik-baik saja di sana. Semoga.

10:23 am. Kalau kau berniat membuatku khawatir, kau berhasil. Komunikasi kita terakhir semalam, beberapa menit sebelum tanggal berganti dan kau tertidur. Aku memilih berharap kau masih tertidur saat ini dan ponselmu mati karena kehabisan daya. Semoga.

12:09 pm. Kamu sudah makan? Kuharap iya, ponselmu tak juga aktif, dan aku, di sini.. ratusan kilometer dari tempatmu berada. Rasanya akan berlebihan untuk menghubungi keluargamu hanya untuk bertanya kau sudah makan atau belum. Karena aku tahu, kau sedang menyiapkan kejutan untukku dan aku harus pura-pura tak tahu kemudian terkejut nantinya. Harus.

01:17 pm. Hmm.. sepertinya, kau harus menerima jitakan dariku nanti sayang, kala kita bertemu.

03:46 pm. See? Aku mulai galau. Ponselmu belum juga aktif, aktivitasmu pada jejaring sosial nihil. Tak ada satu tandapun yang bisa kusimpulkan bahwa kau baik-baik saja.

"Her, mau ikut pulang bareng kita?"
Aku menggeleng, aku ingin di sini, menunggu kabar darimu.

05:13 pm. Aku belum ingin beranjak, penat sudah menemani sejak tadi sebenarnya, tapi hati belum bisa kupaksa untuk berhenti merindu. Aku rindu kabarmu hari ini. Kuketik alamat blog yang sudah kuhafal di luar kepala.

GROW A DAY OLDER

Hey Kaery, you are 28 years old now. Just now. Don't you know how i miss you? You just ended your call, you thought i was sleeping, hehhehe... Well,  i just prepared a 'lil surprise actually .. :)

Hmm i'm counting the days, 81 days to go.. see you there... Mr. Fiance... :)

Posted : today, 00:09 am

Aku tersenyum, sudah kuduga sayang, kau memberiku kejutan lagi tahun ini. Don't you know, rinduku terobati membaca postinganmu barusan, dan hatiku lega, kau tak lupa. Kau memang tak pernah lupa. Sebenarnya momen ulang tahun tak pernah spesial untukku, tapi aku tahu tidak bagimu. Kau selalu menganggap hari itu spesial.. itu sebabnya aku begitu peduli pada hari ini. Karena jika hari ini tak lagi spesial untukmu, maka demikian pula aku bagimu.

9 Januari 3 tahun silam bahkan kau rela menempuh 600 km dalam 12 jam hanya untuk menemaniku di hari spesialku. Aku tak suka kejutan, tapi kala itu aku bahagia dengan kejutan. Terlalu banyak kejutan kadang merusak perencanaan, dan aku tak suka itu. Hampir selalu.

19:09 pm. Aku tertegun selama beberapa detik. Kau, di sana, di depan pintu kamar penginapanku, terbaring lemah tanpa daya. Kau tak sadarkan diri, badanmu panas, kukompres dahimu berharap itu membantu banyak. Kuselimuti badanmu bergulung-gulung. Aku marah sayang, entah pada siapa.

Dokter bilang kau hanya demam, mungkin terlalu lelah.. itu katanya. Kupandangi wajahmu, matamu tiba-tiba membuka "happy birthday Kaery.." kau meraih tanganku, menjabatnya, lemah. "Wish you all the greatest things for your life and afterlife..." kau tersenyum dan...

"Herry... Wake up dude! We gotta go now..." Khrisna, teman indiaku menepuk bahuku membangunkan, aku masih di kantor ternyata.
"Aargh.. what time..."
"It's 9 pm... C'mon we gotta go home, i'll be waiting outside... And, happy birthday by the way.." tak acuh ia tersenyum sambil lalu, meninggalkanku.

Kucoba menghubungimu lagi, "nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di...."

NB : at foodcourt mall panakkukang, dengan bakso dan teh botol, menunggumu... signal. Untuk Kaery yang sudah lama menanti cerita tentangnya, Happy Birthday.. :)