Rabu, 19 Juni 2013

A WIFE

Hi fellas… how’s the life? Don’t ask me, cause everything HAS CHANGED!

Pernah berpikir kalo satu kata mampu mengubah hidupmu? Yeah that’s what happened in my life after Married. Dulu, saya pikir setelah menikah tidak akan ada hal yang berubah, saya hanyalah saya dengan segala bentuk kelakuan yang ingin saya lakukan. Sampai suatu hari seorang teman pernah bertanya “Kamu yakin mau nikah?” lalu saya balik bertanya “Iya. Apanya yang salah?” dia lalu bilang.. “menikah itu untuk seumur hidup lho, bukan untuk sementara.. are you really sure to spend your entire life with him?” dan saya menjawab mantap “I’m pretty sure”.

Ini bukan tentang ketidakyakinan, karena saya selalu yakin untuk setiap keputusan besar yang telah saya buat tidaklah selalu terlepas dari campur tangan DIA Sang Pemilik Alam Raya. Bukankah tidak ada hal yang kebetulan di muka Bumi ini? Daun yang jatuh dari pohon saja mesti memperoleh izin dari-Nya kan? Saya hanya teringat kembali pertanyaan dan pernyataan teman saya kala itu, ketakutannya, keraguannya dan setiap hal yang membuatnya tidak begitu yakin kemudian tampak wajar bagi saya, cause everything has changed.



Saya perempuan normal yang telah menjalani hubungan tanpa seizin Allah selama  ± 3 tahun 5 bulan. We started on June 14th 2009 then finally broke up on November 13th 2012. Kenapa? Karena kami lelah dengan hubungan yang terus berjalan tapi belum juga memperoleh petunjuk sampai kapan hubungan itu berubah menjadi hubungan yg IA ridhoi. Jangan bilang kami tidak berusaha, we did. Hanya saja, we just didn’t get any signs to make it closer. Sampai akhirnya kami menyerah, pasrah, tapi tetap berbekal niat Lillahi Ta’ala. Saya sampai bilang “Kalo kita berjodoh, kita pasti akan bertemu nantinya” dan kami sepakat untuk mengakhiri hubungan tanpa restu Allah itu saat itu juga. Live in our own life however wasn’t simple.. But, we believed, what was happening is just what should happened between us.

Dan kemudian Allah Yang Maha Keren memunculkan kemungkinan-kemungkinannya, dengan caranya yang menurut saya “ajaib”. The signs were coming while we just prayed for a better life to each other. Dan saya kemudian percaya, setiap hal memang berawal dari niat yang baik, kemudian amalan yang baik, insya ALLAH akan didatangkan jalan yang baik. Bukankah Allah telah menuliskan takdirnya atas kita jauh sebelum DIA menciptakan dunia? Hasil rapor (baca: takdir) kita memang sudah ada, tapi DIA akan menilai seberapa besar usaha kita untuk menjadi seperti yang IA inginkan. Saya percaya itu.


Sebulan sebelum saya menikah, saya mengajukan permohonan resign ke kantor, ya aturan kantor memang demikian. Alasannya? Hmm mungkin karena saya cukup lelah bekerja pada perusahaan pekerja konstruksi. Sepertinya sangat bukan saya. Dan berhubung saya akan menikah, meskipun belum memperoleh pekerjaan baru saya sudah harus resign. Saya menceritakan niat saya kepada seorang teman yang telah memiliki bayi, I said “saya percaya saya bisa mendapatkan tempat yang lebih baik dan nyaman dari pada di sana” dia bilang “menurut saya dapat kerja setelah menikah itu jauh lebih susah daripada sebelum menikah..” saya lalu bilang “oh ya? Kok bisa?” dia menggeleng dan hanya bilang “entahlah.. menurut saya saja” jawabnya yakin. Kadang keyakinan teman saya ini memang mengorek pesimisme saya, jujur saja hari itu nyali saya langsung ciut. Berbagai probabilitas di kepala saya mulai bermunculan. “Bagaimana jika dia benar? Saya tak memperoleh pekerjaan setelah menikah nanti? Stay at home, clean the house, cooking, hffffh.. I’m not into it..”  Tapi saya beristighfar.. tidak seharusnya saya menerka rezeki yang akan DIA beri, toh kantor kemarin tempat saya di-interview tidak merasa ada masalah ketika saya menceritakan niat saya untuk menikah.

Kamipun menikah di 31 Maret 2013 lalu. Selang 4 hari setelah akad nikah kami, sebuah NGO (Non-Government-Organization) asal Swiss mengabari saya via e-mail, mereka mengirimi saya Letter of Offer dan meminta saya mulai masuk 4 hari kemudian. See? How Allah shows the right one for me? Honestly, saya memang sangat tertarik untuk bergabung dengan NGO. We just need to think how to spend the fund wisely, just that. No need to manipulate the data just to earn more money fron the project,  pfffft! Dan sebagai bonus, lokasi kantor baru saya berada di gedung yang sama dengan kantor suami saya, hanya berbeda 6 lantai.. we can lunch together J.

Wondering our life after marriage? Hmmm… absolutely busy, but so much fun there.. J

Roadshow ke keluarga besar sepertinya sejauh ini kami lakukan setiap minggu, sebagai penganut nomaden, setiap weekend kami di rumah Mama, dan workdays di rumah Ibu. Semuanya memang tampak hampir sama, tapi saya tidak pernah berpikir kalau saya akan sesibuk ini. Punya keluarga besar yang banyaknya dua kali lipat,  punya cucian setrikaan yang banyaknya jadi dua kali lipat, Hmm.. kadang saya lelah, merasa kehilangan waktu pribadi *egosentris memang datang tanpa permisi kadang kala.

Setiap pagi banyak rutinitas baru yang harus saya tambahkan. Selain membuat sarapan untuk orang tua, dua cangkir teh yang bukan menjadi kebiasaan Ibu harus saya siapkan untuk suami dan saya *sebagai penemani. Kadang kala kami berkolaborasi di dapur untuk sarapan atau makan malam. Dan itu menyenangkan. J

Nanti di sambung yah.. kondisi tidak memungkinkan saya untuk menulis panjang. Harus mengurus suami. Hihhihi.. Bye!