Kamis, 11 Juli 2013

Have A Great Life

Aku tahu aku sedang bermimpi. Wajahmu terlihat begitu tirus dibanding terakhir kali kita bertemu. Kau juga semakin tinggi, aku rasa berenang dan basket setiap menitpun takkan sanggup menambah tinggi badanmu 15 cm dari sebelumnya, mengingat terakhir kali kita bertemu usiamu telah menginjak 28.

Tapi semua tampak nyata. Kamu, tatapanmu, gurauanmu, diammu, masih sama, seperti ketika kita masih orang yang sama bertahun silam. Kau menggangguiku dengan beberapa lelucon, aku masih diam. Aku tak berkutik. Aku tak mampu membedakan kau yang mana yang kuhadapi saat ini. Aku tahu, ini kau yang dulu.

“Risa.. kamu baik-baik saja kan?” kau melambaikan tanganmu 20 cm di depan wajahku. Kau tampak khawatir, entah ada yang salah mungkin dengan otakku atau aku hanya terlalu kaget menemukanmu di sini, saat ini. Aku yang muda, masih belia, dan cukup energik untuk meninju lengn kananmu. Aku tahu, aku rindu, melakukan ini.

“Kamu dari mana saja?” aku pura-pura marah, sambil menarikmu menjauh dari kerumunan teman-teman lama. Jujur saja, aku tak bisa mengenali mereka satu-satu, hanya kau yang kukenali, kau masih ingat kan aku tak pandai mengingat wajah dan nama seseorang.

“Hehhehe.. ada kok Ris.. masih di Indonesia, belum sempat ke luar negeri. Kamu apa kabar?” tanyamu sembari membelai rambutku, seperti biasamu.

“Aku baik.. kamu bagaimana? Sudah ketemu jodoh?” tanyaku spontan. Kau hanya tersenyum, datar.

“Kamu kenapa menghindari aku?” aku marah.. jujur.
Kau hanya tersenyum, mencoba memahami sifatku yang biasa, kekanakan.

“Risa, kamu tahu kan.. aku butuh waktu untuk memperbaiki rasa, membuang sakit hati, menghilangkan benci, juga menghilangkan pikiran tentang kamu. Aku butuh waktu Ris..”

“Jadi kamu sakit hati sama aku?”

“Iya..” kau masih tersenyum dan itu menyakitkan. Menerima kenyataan bahwa aku telah menyakitimu, saudara, teman, sahabat, serta guru bagiku selama ini.

“Sekarang? Kamu masih sakit? Karena aku mungkin?” kusosor kau tanpa merasa bersalah.

“Kalo aku masih sakit.. aku nggak akan mungkin berani muncul di hadapan kamu sekarang” kau tersenyum.

Aku terbangun. Badanku masih hangat. Tadi malam aku demam. Aku tidur sendiri, suamiku berada ratusan kilometer jauhnya dari rumah kami. Aku harus kembali tidur, besok pagi harus mengantar  Athar ke sekolah, besok hari pertamanya sekolah, ia tak boleh bolos hanya lantaran ibunya sedang tak enak badan.

*
“Pagi ibu..” Athar membangunkanku tepat saat adzan shubuh berbunyi melalui smartphone-ku.

Assalamu alaikum sayang… “ kukecup pipinya, ia tersenyum.

Waalaykum salam.. ibu kalo masih sakit aku diantar Kakek saja.. nanti Athar deh yang minta tolong sama Kakek..”

No..no.. kamu tetap ibu yang antar sayang.. siapa bilang ibu sakit? Nih ibu baik-baik aja kok..” kutegakkan badanku dan berusaha tampil sebugar mungkin. “Sudah, Athar sekarang sholat, terus siapkan perlengkapan sekolah, ibu mau sholat terus bikin sarapan dulu.. okeh?” Athar kecilku mengangguk dan tersenyum.

Menjadi murid baru di kota baru dan negara baru pastilah tidak mudah untuk seorang Athar. Meski ini bukan kali pertama kami mengunjungi Auckland, karena hampir setiap liburan 3 tahun belakangan ini kami selalu menghabiskannya di NZ, mengunjungi ayah Athar. Proyeknya memang sedang berpusat di Auckland, hanya saja saat ini ia sedang mengikuti training di Brisbane, Aussie. Aku takkan mungkin membiarkan Athar diantar Ayahku mengingat Ayahku tak hafal semua jalanan di Auckland.

Setelah mengantar Athar ke Golden Grave School di Grey St. aku memutar ke Arthur St. dengan niat berbelanja bahan makanan untuk siang ini.
Dan kau, mulai lagi. Setelah semalam tiba-tiba muncul dalam mimpiku, siang hari pun kau muncul lagi dalam ilusiku. Lalu ini apa? Kau terlalu nyata untuk kusebut mimpi. 4 meter di depanku, duduk menyeruput kopi di dalam kafe. Aku turun dari kemudiku, mencoba merasai dan menganggap ilusi kemudian adalah hal yang harus kubiasakan. Semalam kau bilang kau masih di Indonesia kan? Tak mungkin kau di sini, di Arthur Street, Auckland, New Zealand. Terima kasih untuk tidak membuatku mulai gila Kendra. Kubatalkan untuk masuk ke street mart dan berbelok masuk ke kafe. Melirik ke bangku yang tadi diduduki oleh Kendra dan.. kosong. Mungkin aku memeng sudah gila. Aku kembali ke street mart, memilih sayuran yang memungkinkan untuk dimakan oleh Ayahku, ia mungkin tak begitu suka sayuran ini.. mungkin kumasak Rawon saja siang ini.. Aku ingat, aku berbekal Kluwek dari Indonesia kemarin, pemberian Mama mertua.

“Hai Risa..” seseorang menepuk bahuku, suaranya tak asing.. aku berbalik.

“Hai… mau lari kemana lagi kamu?” seolah semua amarahku ingin tumpah di hadapan orang ini.

“Hah? Maksudnya?” Kendra mengernyitkan keningnya tak mengerti.

“Sorry Ken.. nggak kok.. kamu ngapain di Auckland?” tanyaku dengan nada sedikit ketus.

“Cari kamu..” aku bingung.. tidak mengerti.

“Ada apa Ken? Kita kan sudah ketemu..” jawabku datar.

“Aku cuma mau minta maaf, kalo-kalo sikap aku ke kamu terakhir kita komunikasi bikin kamu gak nyaman. Aku bukannya ngindar Ris.. tapi sekali lagi, aku butuh waktu untuk memperbaiki perasaan aku sendiri. Maaf ya Ris.. aku janji.. gak akan bisa gitu lagi sama kamu..” Kendra tersenyum.
“Terakhir aku cuma bisa bilang.. have a great life ya Ris.. jadi ibu yang sholehah..” Kendra lagi-lagi membelai rambutku lembut, seperti biasanya.

Aku diam.. tersadar bahwa aku sedang tertidur di balik kemudi truk merah milik suamiku. Dan aku, masih di pelataran Golden Grave. Ah… aku mungkin masih sakit. Sempoyongan aku turun dari mobil sembari mengecek e-mail dari smartphone-ku. Dan… Aku ternganga, mematung, membaca sebuah e-mail dari teman semasa SMA dulu.

Dear friends,
Innalillahi wa innailaihi roji’un.. kita telah kehilangan salah satu sahabat terbaik, teman tersetia, dan partner professional kita.. Kendra Mahardika Darmawan. Ia meninggal saat kecelakaan mobil di Makassar dini hari tadi. Semoga diberi tempat terbaik di sisi-Nya. Amiin.. Rest In Peace my friend.



- masih   sedang ingin menulis lagi, work hour, SCPP  -

Tidak ada komentar: