Rabu, 10 Juli 2013

Ini 'Kan Ramadhan

Langit cerah. Suasana halte di depan kantor sedang tak ramai. Jam tangan CASIO pemberian sahabat menunjukkan angka 04.35 pm. Ini Ramadhan, jam pulang kantor dipercepat 30 menit dari biasanya. Tak seperti biasa, ada suami yang selalu pulang bersama.. hari ini ia lagi-lagi tengah business trip. Di halte ada beberapa perempuan yang juga tengah menunggu.

“Hai Tirta..“ seorang perempuan berjilbab motif berbunga menegur perempuan berambut lurus di sampingku. Aku bukan tipe orang yang senang memperhatikan penampilan, tapi lirikanku sekilas sebelum duduk di halte sempat menangkap bayangan ‘cantik’ pada perempuan bernama Tirta ini. Cara berpakaiannya sangat elegan, blouse hitam selutut berbahan chiffon dan berlengan se-siku. Untuk sepatu ia mengenakan flat shoes berbahan leather abu-abu dengan pita sebagai tali. Badannya padat tapi tak gemuk, kulitnya halus kuning langsat. Wajahnya oval, dengan hidung yang tak pesek serta rambut hitam lurus sebahu. Sangat Indonesia. Perempuan berjilbab tadi kemudian kuketahui bernama Reni. Dan aku, duduk di sela-sela mereka. Tapi aku pura-pura sibuk dengan mobile phone-ku yang katanya pintar dan sedang sibuk bermain Game.

“Hei Ren, nunggu jemputan?” tanya Tirta.

“Iya.. kamu?”

“Sama.. aku juga..” Tirta sepertinya sedang sibuk dengan telepon pintar tipis bertombol tunggal berwarna hitam. Mungkin sedang menghubungi seseorang tapi tak kunjung ada jawaban.

“Dijemput sama Revan?” tanya Reni.

“Bukan.. Revan udah so yesterday laah Jeung..”

“Ada yang baru dong?” Reni mencoba bergurau memecah canggung.

“Gitu dehh…” Tirta hanya mendelik tersenyum malu.

“Eh Ren.. kamu kenal Ayiz gak? Anak lantai 23 sih.. tapi kan masih se-perusahaan sama kamu..”

“Ooo.. Ayiz, iyalah.. doi kan orang kepercayaan bos besar, tiap hari kali doi naik ke 25 untuk discuss sama big boss.. Kenapa jeung?”

Aku masih sibuk dengan si Brown di hp-ku.

“Hmm.. anaknya gimana? Asik gak buat diajak jalan?”

“Hah?! Sebagai temen sih asik, anaknya supel.. diajakin ngomong apa aja bisa nyambung sama dia.. tapi kalo jalan.. gak tau deh, baru kenal juga sih.. tau ‘kan aku belum lama di sini.. tapi perasaan doi dah merried deh.. anak-anak sering bilang kalo istrinya juga kerja di gedung sini.. gak tau bener apa cuma becanda sih.. Kenapa gitu?”

“Hihihiii.. peduli amat deh ada istri apa enggak, si Revan juga udahan tuh sama bini-nya kemaren..”

Aku tak bisa konsentrasi pada si Brown lagi. Pendengaranku kutajamkan untuk menyimak percakapan mereka.

“Kok gitu?” Reni menghentikan aktivitasnya dengan mobile phone-nya.

“Tenang aja Ren, biasa kok kek di Jakarta kemaren.. gue dapet order buat deketin doski biar bisa dapet info update tentang proyek-proyek yang doski kelola. Kalo gue bisa ngintervensi ke decision-nya dia gue dapet bonus juga.. you can keep my secret kan yaaa?” Tirta mendelik nakal pada Reni.

Reni diam, mungkin bingung.

“Ren, kamu bisa dong kenalin aku sama Ayiz… cuma kenalin aja kok, selanjutnya biar aku yang urus..”

“Sampe kapan sih kamu mau nerima job gak jelas kek gitu?” Reni bertanya dengan intonasi agak tinggi.

“Gak usah nyolot dong Ren.. kalo mau bilang iya, kalo gak mau ya udah.. nanti aku bisa cari cara lain kok..”

Aku menyimpan handphone-ku ke dalam tas. Taxi yang sudah ku order sejak 15 menit lalu belum juga datang. Pikiran dan perasaanku mulai carut-marut akibat obrolan mereka.

“Aku duluan yah Tir..” Reni kemudian beranjak tanpa menjawab permintaan Tirta, CR-V hitam menjemputnya meninggalkan kesal di wajah Tirta.

Aku diam, masih menunggu Taxi pesananku.

“Mbak, nunggu jemputan ato taxi?” Tirta menyepaku dengan senyum manisnya. Ia memang cantik.

“Taxi” aku tersenyum, datar.

“Kerja di sini juga Mbak? Lantai berapa?” lanjutnya bertanya.

“Saya di lantai 15, klo Mbak?” tanyaku penasaran.

“Aku di lantai 2 Mbak, baru di Makassarnya.. oia, aku Tirta..” ia mengulurkan tangannya.

Kusambut “saya Risa..” dengan senyum, masih datar.

“Biasanya emang lama taxinya datang ya Mbak?”

“Kurang tau juga sih Mbak, biasanya saya pulang bareng suami.. cuma karena dia lagi business trip jadinya naik taxi”. Kulirik dari jauh taxi yang kupesan, itu dia di ujung jalan.

“Oh.. suaminya kerja di sini Mbak?” tanya Tirta, basa-basi kurasa.

Aku berdiri, beranjak  menunggu taxi berhenti di depanku.

“Oiya, suami saya di Lantai 23, satu-satunya orang yang bernama Ayiz yang sejak tadi Mbak bahas sama teman Mbak.. Mari Mbak saya duluan..” aku naik ke taxi dengan perasaan marah yang tertahan. Mencoba mengelus dada dan beristighfar. Ini cobaan Ramadhan pertama kami.


Entah seperti apa tampang Tirta ketika kutinggalkan, aku tak ingin memperhatikan. Sudahlah, mari maafkan.. ini kan Ramadhan. 



- masih di kantor, menunggu jam 4.30 pm -

Tidak ada komentar: