Rabu, 21 Agustus 2013

Trapped in Memory

Hari sudah pagi dan mataku masih sembab. Dua hal yang patut kubenci pagi ini selain presentasi akhir pencapaian target marketku di triwulan II tahun ini di pukul 8 teng yang takkan mungkin kulalui semulus biasanya.

Kulangkahkan kakiku menuju cermin, mencoba bicara pada diri sendiri atau salah satu alter ego-ku. Tunggu.. aku bukan pengidap Schizophrenia*1, tapi aku selalu menganggap aku punya alter ego yang selalu bertengkar di dalam kepalaku dan keputusanku biasanya ditentukan oleh kesimpulan hasil dari pembahasan mereka. Seperti siang-malam, hitam-putih, ying-yang (yang ini aku tak paham), mereka selalu seperti dua sisi yang berbeda ketika melihat dan mempertimbangkan setiap masalah yang kupunya.

‘Selamat pagi Jovita.. kenapa matamu masih sembab memikirkan dia yang namanya tak ingin kau sebut?’ tanya Sabina, itu aku yang menamainya demikian untuk hasil dari pemikiranku.

‘Hello Sabina.. kamu gak pernah tahu kan yaa gimana rasanya jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan?’ kini giliran Renata yang menjawab, ia adalah refleksi dari perasaanku.

‘Plis deh Re, gara-gara kamu Jo mesti ngabisin waktu semalaman cuma buat melototin foto si Juno cowok yang gak jelas keberadaannya sampe sekarang di mana, dan dia mesti ninggalin bahan presentasi yang harus ia presentasikan pagi ini!’


Well.. Sabina benar, sepertinya semalam aku agak tak waras. Membuang waktu 3 jam  cuma untuk memandangi foto disambung dengan tangis yang tersedu-sedu. Tapi jangan pikir foto itu akan kubuang apatah lagi kubakar, no.. it's BIG NO, foto itu tetap kusimpan di dalam dompetku. Rapi.

Di sana, di dalam dompetku, pada foto itu ada siluet dua anak manusia yang berdiri berhadapan, tampak samping mereka tengah bersalaman. Berlatar senja yang masih menggantung dan sengaja dibuat dalam konsep BW (black-white). Bersalaman adalah simbol kesepakatan mereka untuk akan selalu setia hingga kelak merenta bersama. Akan menjadi teman, sahabat, keluarga, yang selalu akan ada satu sama lain. Sepakat untuk selalu berbagi mimpi dan upaya untuk menjadikannya nyata. Foto siluet itu diambil 8 tahun silam, ketika mereka masih dua anak remaja yang kata sebagian orang masih terlalu naif dalam memaknai cinta. Mungkin iya. Karena kini, sebagian dirikupun menganggap hal itu benar. Aku, salah satu objek di foto itu, dan objek lainnya adalah Juno, lelaki yang kutangisi sejak semalam.

Aku rindu Juno. Aku rindu berbagi kisah, mimpi, serta cita yang kami punya bersama. Dulu, kami punya mimpi untuk traveling keliling Indonesia bersama, mengelola sebuah majalah traveling guide yang terbit sebulan sekali dengan dia sebagai fotografer dan aku sebagai penulis artikel. Mulai dari melaut ke Pulau Weh, hiking di Gunung Ciremai, trailing ke Danau Kelimutu, menengok orang utan ke Tanjung Puting, snorkeling di Pulau Dodola, hingga diving ke Raja Ampat. What a wonderful dream we made.

But what i've got now? Sejak kepergianmu 5 tahun silam tanpa kabar.. apa kau tahu kabarku? Aku tak bicara dengamu, aku bicara pada Juno seandainya saja ia telah mati dan sedang mengunjungiku saat ini. Aku.. seorang marketing manager sebuah produk makanan internasional wilayah Indonesia timur, manager termuda yang hampir selalu dinilai memiliki kehidupan sempurna oleh orang-orang yang naif dalam memaknai kehidupan. Masih di sini, menunggu kabarmu seandainya pun kau benar telah mati, itu akan jauh lebih melegakanku dibanding mengetahui kau telah beranak istri di luar sana tanpa memberitahuku. Aku mungkin akan gila. Bukan, bukan gila karena cinta. Tapi gila karena menemukanmu setelah sekian lama tapi untuk pertama kalinya kau mengingkari janjimu. Untuk merenta denganku, selalu menjadi temanku, sahabatku, dan akan menjadi keluargaku kelak, ayah dari anak-anakku.

Kurapikan kembali foto-foto kita yang berserakan, tiket-tiket bioskop, kliping tempat-tempat yang ingin kita kunjungi, tulisan-tulisan tanganku dari hasil traveling kita, dan... sebuah surat. Surat perjanjian yang kita tanda tangani tepat 8 tahun silam, ketika foto siluet itu diambil. Surat perjanjian yang takkan pernah kulupa, dan  takkan pernah kubuang, apatah lagi kubakar. Mereka ku biarkan berjejal di dalam laci meja di sisi tempat tidurku. Agar aku mudah menemukanmu, Juno. Mereka akan kusimpan, hingga nanti kau pulang, meski itu entah kapan.

*

"Hey Juno.. I'll go to your Indonesia tomorrow, do some research of orangutan in Borneo.. don't you wanna join?"
"What? for being your travel guide guys? No... it's impossible for me to leave my wife with her pregnancy, maybe next time John.."
"Ooow.. congratulation then, i'll send you some pic from your home later.." John tersenyum.
"No thank you.. my home is here, in England, beside my wife.." Juno membalas tersenyum.



1 komentar:

CLk7 mengatakan...

lama nda kesini :D

hmm..ceritanya mengaduk rasa >.<