Kamis, 28 November 2013

31w6d

"Hai.. aku Dede'. Sejak dulu aku senang dipanggil dengan nama itu. Nama yang kucantumkan sendiri sejak SMP di balik seragam tim basket sekolah. Nama yang seolah mendeskripsikan aku yang kecil --secara fisik memang demikian-- aku yang manja, dan aku yang memang selalu ingin dianggap anak-anak. Anak-anak seolah menjadi apologi untuk setiap kesalahan yang mungkin aku lakukan kala itu. "Sudah biarkan saja, Dede' kan masih anak-anak" itu perkataan orang yang kuharap bisa kudengar ketika aku berbuat salah, ingin dimaklumi. Dede' yang sejak dulu tidak pernah merasa dewasa. Dede' yang sedari dulu, begitu-begitu saja."


Kau tahu berapa usia Dede' sekarang? Ia telah menginjak 26 tahun 5 bulan 22 hari. Bukan anak kecil lagi. Sedang berusaha untuk menjadi perempuan dewasa yang lebih bijak dalam memaknai hidup. Kenapa dia ada, untuk apa dia ada, mencoba menerka pemikiran Tuhan tentang seperti apa takdirnya dengan berusaha menjadi sebaik-baik makhluk Tuhan. Kenapa? Entahlah.. Mungkin karena usia, mungkin karena tuntutan dunia. 


Mau tahu kabar Dede' sekarang? Seorang karyawati pada sebuah NGO, seorang istri dari seorang karyawan swasta sebuah kontraktor multinasional, dan ia.. sedang mengandung calon anak pertamanya. Banyak hal yang kemudian membuatnya bahagia, risau, sekaligus takut di saat yang sama.




"Hai.. aku Dede'. Aku tahu aku tak muda lagi. Kelak, suatu saat jika aku berhasil melahirkan bayiku dengan selamat, dan telah menjadi ibu untuk anakku, aku harus bisa menjadi contoh yang baik baginya. Tidak mudah, aku tahu itu tak mudah. Tapi yang kutahu, aku sedang berusaha."


video


Dia sekarang tak henti berdoa, untuk lari dari ketakutannya. Ketakutan ketika suatu saat kesempatan yang sedang dijanjikan tak kunjung datang. Kesempatan untuk melahirkan seorang atau lebih anak, kesempatan untuk dipanggil 'Ibu', kesempatan untuk membuatkan sarapan sebelum mereka berangkat sekolah, kesempatan yang membuat mertuanya untuk pertama kali dipanggil 'Mbah Putri' oleh cucunya. Risau karena selalu mengkhawatirkan kondisi 'sesuatu' yang ia bawa kemana saja ia pergi selama lebih dari 7 bulan ini. Merasai jantung lain yang berdetak di dalam rahimnya, seolah selalu mengingatkannya, kalau dia bukan Dede' yang dulu lagi. Bukan Dede' yang harus selalu berharap maklum.

"Hai.. aku Dede'. Semakin banyak hal yang menyeramkan yang kubaca tentang proses persalinan terkadang membuatku sedikit ngeri. Well, aku takut. Tapi setiap kuceritakan ketakutanku pada suamiku, ia selalu mampu membuatku percaya, bahwa semua akan baik-baik saja. Kau tahu, aku menulis saat ini akupun sedang takut. Sedang bertanya-tanya pada Tuhan dan diriku sendiri, sanggupkah aku melaluinya? Dan setelah aku sanggup, mampukah aku menjadi Ibu yang baik? Tapi aku tahu, Tuhan tak pernah membebani hamba-Nya lebih dari kemampuannya. Dan yang kupahami, apapun yang terjadi kelak, setelah aku berjuang semampuku, berdoa setulusku, apapun hasilnya, itu sudahlah menjadi kehendak-Nya. Entah kesempatan itu akan benar-benar datang atau tidak."


"Hai.. aku Dede'. Aku hanya ingin bilang, Tuhan.. Terima kasih... untuk setiap hal yang telah Engkau gariskan untukku. Buat aku, menjadi hamba-Mu yang terus belajar untuk menjadi seperti yang Engkau mau..."