Sabtu, 22 Maret 2014

Dear You

Hai Nak, apa kabarmu hari ini? Berapa usiamu sekarang?
Sudah pernah membaca novel Jostein Gaarder yang berjudul Gadis Jeruk?

Semoga kau baik, sehat, sholeh, entah telah menjadi dokter atau ahli astronomi seperti inginku atau apapun profesimu yang menjadi pilihanmu kini, yang penting kau profesional. Itu cukup Nak.
Aku tiba-tiba menjadi begitu melankolis malam ini, entah mengapa. Saat ini kita sekeluarga (aku, Ayahmu dan kamu) sedang menginap di rumah Mbah mu. Baru saja aku menengokmu di kamar sebelah, kau tertidur pulas ditemani Mbahmu dan Ayahmu yang sedang asyik dengan Indonesian Idol 2014. Salah satu kontestannya menyanyikan lagu Angel – Sarah Mc Lachlan. Ya, bisa jadi itu yang membuatku tiba-tiba begitu melankolis, kita sepakati saja itu nak.  

Kamu, saat ini adalah bayi berusia 64 hari –per 21 Maret 2014- yang selalu mampu membuatku haru setiap melihatmu. Semasa dalam kandungan kau tak pernah rewel, hanya sedikit menggangguku dengan morning sickness, pusing di siang hari, migraine di malam hari dan disertai susah tidur. But I didn’t blame you dear. Itu adalah proses dimana Tuhan sedang menguji kesabaranku untuk bisa menemuimu. Aku tak ingin melalui segala proses itu dengan berbagai macam keluhan. Aku hanya ingin menemuimu, itu saja.

Enam minggu pertama aku tak menyadari kehadiranmu. Aku hanya sering merasa pusing di pagi hari yang kupikir hanya anemia bulanan yang selalu hadir sebelum masa menstruasiku datang. Selang berapa hari menstruasiku tak kunjung datang, tapi gejala anemia ku semakin menjadi. Iseng-iseng kugunakan test pack -yang telah ku beli sebelumnya- di suatu pagi ketika Ayahmu sedang di site project ratusan km jauhnya dariku. Berbeda dengan hasil test pack abal-abal yang kubeli sebelumnya, kini hasilnya positif. Kamipun berbahagia.

Trimester pertama kulalui dengan banyak wejangan yang mengalir dari siapa saja yang mengetahui kehamilanku. Tidak boleh mengendarai motor, makan makanan mentah, minum soda, junk food, dan lain sebagainya. Dan aku, menurutinya dengan taat.

Kau baru saja terbangun, kelaparan, dan sudah susah tidur lagi. Ayahmu sedang mencoba menidurkanmu sekarang. Panjangmu sudah 57 cm dengan berat 5 kg. Menurut buku menuju sehat, badanmu sudah proporsional. Kau sudah banyak mengeluarkan suara, mencoba bicara, tertawa, serta tidur dengan tak tentu arah. Setengah dari tempat tidur Queen size kami menjadi wilayah teritorialmu sekarang. Terkadang, saking banyaknya tingkahmu.. membuat kami capek tertawa. Sekarang kami sedang mengajarimu memberi ciuman di pipi. Caranya kami memberi contoh dengan mencium pipimu, lalu kami menyodorkan pipi kami untuk kau cium. Awal-awalnya, jika Ayahmu menyodorkan pipinya kau juga ikut memonyongkan bibirmu, tapi dengan mulut terbuka, sesekali jilatan ikut mendarat. Hehehee.. tapi hey… baru saja kau bisa mencium pipi Ayahmu dengan sempurna. Kami bangga padamu Nak. 

Trimester kedua kujalani dengan sangat baik. Morning sickness telah pergi, nafsu makanku meningkat drastis, tapi dari segala jenis makanan yang ada, cemilan favoritku adalah terang bulan cokelat. Ice cream juga menjadi cemilan favoritku di siang hari, rasa cokelat juga tentu saja. Semuanya kunikmati, termasuk merelakan celana-celana kesayangan untuk ditanggalkan selama beberapa bulan. Semuanya untuk menemuimu.

Sekarang sudah tanggal 22 Maret 2014. Semalam aku menemanimu begadang hingga pukul 4 shubuh. Kau sedang flu nak, lendir bawaanmu sejak lahir juga tak kunjung tuntas hingga sekarang. Semalam setelah kami mengajarimu mencium pipi dengan benar, kau sempat tertidur. Tapi tak lama kemudian kau terbangun lagi. Aku mengantuk, sangat, tapi aku tak mungkin meninggalkanmu bermain sendirian. Kau bercerita.. meski mulutmu berucap hal yang hanya kau dan Tuhan yang tahu isinya apa, matamu berbicara banyak. Yang kutangkap, kau bahagia, kau bersyukur, meski sesekali terganggu dengan lendir yang menjengkelkan. Terkadang ketika batukmu menyerang berulang kali kau sangat marah, tapi bukan padaku, aku tahu, pada batukmu. Tapi tak perlu menunggu lama, kau bisa kembali tersenyum bahkan tertawa. Kau tahu nak, kau cukup cepat dalam belajar meniru. Itu yang kemudian menjadi beban bagiku agar bisa menjadi role model yang baik bagimu. Semoga Tuhan tak membiarkanku khilaf di depanmu kelak. 

Pernah satu malam ketika menemanimu begadang, aku sedang menyusuimu dan kau menjadi sangat rewel. Aku tak mengerti mengapa, kupikir semuanya baik-baik saja. Aku kemudian menaruhmu di tempat tidur dan bertanya maumu apa dengan wajah marah. Tiba-tiba kau berhenti menangis dan menatapku, lalu tersenyum dan kemudian tertawa sembari bercerita.. Aku? tentu saja tak jadi marah dan ikut tertawa. How can I not love you Nak? Belakangan aku kemudian mengerti, lendir di lehermulah yang membuatmu sedemikian rewel ketika menyusu malam itu.

Trimester ke tiga berat janinku, yaitu dirimu sudah cukup berat menurut dokter. Di bulan ke-7 beratmu sudah seperti janin berusia 8 bulan. Aku sedikit khawatir dengan gula darahku akibat cemilan-cemilan yang kukonsumsi, aku meminta dokter untuk tes lab gula darah. Ternyata hasilnya semuanya baik, dan sangat memungkinkan untuk melahirkanmu dengan normal. Air ketubanku sangat bagus, dokter selalu berkata begitu di setiap waktu kontrol. Kata dokter, beratmu mungkin cukup berat karena alasan genetis. For your information nak, aku terlahir dengan berat 3,6 kg dan panjang 51 cm sedang Ayahmu lahir dengan berat 3,4 kg dan panjang 50 cm. Jadi itu kemudian menjadi wajar bagi dokter. Aku juga sudah berhenti mengkonsumsi susu hamil di bulan ke-7, berhenti mengkonsumsi ice cream, kupikir vitamin komplit dari dokter cukup untuk nutrisi otakmu. Nafsu makanku pun mulai menurun lagi, tidurku semakin sulit di malam hari. Estimasi kelahiran mu pada awal kehamilan jatuh pada tanggal 24 Januari 2014. Aku berencana cuti di 13 Januari 2014. Tapi seiring  berjalannya waktu, semakin besarnya perutku, dan semakin buruknya cuaca, cutiku kupercepat ke 6 Januari 2014.

Kau sedang tertidur pulas sekarang. Lendirmu masih nakal, kau hanya bisa tidur nyenyak dengan bantal yang ditinggikan. Posisi tidurmu mulai tak tentu arah sekarang, miring ke kanan. Aku ingin memperbaiki, tapi takut kau terbangun dan jadi susah tidur lagi. Biar saja ya Nak, kata doktermu, jika tidurmu kurang dari 3 jam itu bisa mengganggu perkembangan otakmu. Kau baru saja terbangun, mengigau, tapi cukup mengelus-elus dadamu dibantu sssh-sssh-sssh… kau kembali tertidur.

16 Januari 2014 aku bangun pagi dan sudah membulatkan tekad untuk banyak bekerja hari itu. Mulai dari beres-beres kamar, membersihkan kamar mandi, dengan banyak berjongkok. Sesekali aku juga melakukan senam kehamilan sesuai instruksi video dari Youtube. Seorang teman yang telah melahirkan secara normal memberitahuku. Jika hari kelahiran sudah dekat jangan banyak berjalan, itu hanya akan membuat lelah, padahal saat melahirkan dibutuhkan tenaga yang sangat besar saat berkuat. Perbanyak berjongkok saja untuk memudahkan terbukanya jalan lahir. Jadi saya pun banyak berjongkok hari itu. Beberapa hari sebelumnya memang sudah sering kurasai kontraksi yang datang sesekali. 

Kau terbangun lagi, mungkin kepanasan. Kau hanya kuangkat, sedikit kuayun menghadap ke jendela denga backsound sssh-sssh-sssh, dan kau tidur lagi. Barusan kau juga mengigau, aku dan Ayahmu yang sedang sibuk bermain game online hanya bisa tersenyum melihatmu.

Tiga hal yang menjadi pertanda bagi ibu yang akan melahirkan : adanya selaput darah yang keluar, kontraksi yang semakin kuat dengan interval yang semakin pendek, atau pecahnya air ketuban. Untuk pecahnya air ketuban, jika itu terjadi maka harus segera dilarikan ke Rumah Sakit untuk melahirkan. Karena jika air ketuban sampai habis, bisa menimbulkan kematian pada bayi. Sore itu kontraksi yang kurasa tak seperti hari-hari sebelumnya, sakitnya sudah menembus tulang ekorku, datangnya pun sudah setiap jam.

Sebelum maghrib aku mulai memperhatikan interval dengan patokan jam tangan. Kontraksi sudah mulai datang tiap 15 menit. Setelah maghrib hingga menjelang Isya sedikit demi sedikit kontraksi semakin sering hingga datang tiap 10 menit. Aku sudah mempersiapkan tas berisi perlengkapan persalinan sejak bulan lalu, jadi aku tak begitu sibuk dengan itu. Kuputuskan untuk berangkat ke Rumah Sakit setelah sholat Isya berjamaah bersama Ayahmu. Dalam perjalanan ke RS, kontraksi semakin rapat, datang setiap 5 menit. 

Karena jarak RS dan rumah cukup jauh, kami tiba di RS pukul 20.30. Meski telah berbekal surat pengantar persalinan dari dokter kandungan, pengurusan administrasi ternyata tidak secepat yang kuduga. Akhirnya, aku dibolehkan masuk kamar bersalin di pukul 21.30. Suster jaga memeriksa kondisi bukaan, sudah 4-5. Mereka menanyakan kesediaanku untuk rekam jantungmu selama 30 menit. Selama rentang waktu tersebut aku tak boleh meninggalkan tempat tidur. Detak jantungmu sangat keras nak.. bunyi mesin itu mengingatkanku pada mesin Los Angles di Laboratorium Aspal jaman ibu kuliah dulu *sebut saja yang ini berlebihan*. 

Setelah rekam jantung sekitar pukul 22.30 bukaanya sudah 6-7. Pergerakanmu semakin menjadi, sakit karena menahan diri untuk tidak berkuat cukup membuatku berteriak mengadu pada Ayahmu. Ayahmu hebat Nak, ia selalu memperhatikanku, membantuku, memahamiku, selalu bisa menjadi tangan keduaku selama proses kehamilan. Ia selalu mengingatkanku untuk banyak istighfar, berdzikir.. dan yak, itu sangat membantu Nak, sangat. 23.00 bukaan telah lengkap, tapi aku belum boleh berkuat karena kepalamu belum pada posisi jalan lahir. Selang beberapa menit, dokter sudah membolehkan berkuat. Tidak mudah Nak, bagi aku yang tak pernah tahu bagaimana mengejan yang benar itu, mungkin aku terlalu banyak belajar dari film. Aku mengejan hanya di leher dengan bersuara, padahal mengejan yang benar adalah mengejan di bawah, seperti saat sedang p**p, hahahahaha.

23.27 atau sekitar dua jam di kamar bersalian, Alhamdulillahi Rabbil Alamiin.. kau lahir dengan teriakan yang luar biasa kerasnya. Aku, seketika itu haru. Peluh, lelah, semuanya terbayar lunas ketika mendengar tangisanmu. Kami bahagia Nak, sangat bahagia.

Kau masih tertidur tapi sudah saatnya kau menyusu, kelak akan kulanjut tulisan ini dengan kisah-kisah tentangmu Nak. Oh ya, ngomong-ngomong.. sudah kau baca novel Gadis Jeruk itu?

Umar Dg. Massuro’s House,  22 Maret 2014
Ibu.