Jumat, 25 Juli 2014

Karena..



Di satu waktu, kau pulang dengan baju kotor
Berlumur lumpur hingga ke sekujur tubuhmu
Kau marah, tapi entah pada siapa,
Kau hanya menangis, tersedu sedan diiringi sesenggukan.
Aku diam.
Menunggu bicara barang sepatah kata saja.
Lama.. aku masih menunggu.

“Ibu.. kenapa aku berbeda?”
Aku tersedak. Tersedak oleh udara yang tiba-tiba terrenggut dari pertanyaanmu.
Tak pernah kusangka kau akan bertanya di usiamu yang terlalu dini.
Kau menatapku dalam, dengan air mata yang masih mengalir, lalu berhenti.
Kau kini yang menunggu, menunggu aku berkata satu atau dua mungkin tiga kalimat yang bisa menenangkanmu.
Seperti biasanya aku yang selalu bisa menenangkanmu.
“Ibu.. kenapa telingaku tidak sama dengan Fika?”
“Kenapa punyaku lain Ibu?” kau kini berhenti menangis, rasa penasaranmu jauh lebih besar dari rasa sakit yang entah datang dari mana.

Aku tahu, hari ini akan datang. Di mana kau akan bertanya tentang beda yang kau punya.
Sejakmu lahir hingga kini, aku terus memikirkan bagaimana cara menjelaskan yang baik untuk menjawab pertanyaanmu kelak.
Tapi tak pernah kuduga, aku hanya diberi waktu 2 tahun oleh Tuhan untuk memikirkan jawaban itu.
Aku tak tahu, dari mana datangnya tanyamu hari ini.
Apakah dari cermin yang berbisik ataukah ocehan teman-temanmu di teras rumah.
Kau masih menunggu. Kau menghapus air matamu, juga air mataku yang ternyata jauh lebih banyak.

Aku menghela nafas panjang, cukup panjang.
“Nak.. karena kamu spesial.”
Kau menunggu. Menunggu penjelasan lebih lanjut tentang seberapa spesialnya dirimu.
Aku tersenyum.
“Ghazy percaya Ibu kan?” aku bertanya. Kau mengangguk. Aku tersenyum.
“Ghazy diberi telinga yang demikian karena Allah tahu, Ghazy dengan telinga yang berbeda juga bisa kok bikin apa yang teman-teman Ghazy bikin. Dengan telinga Ghazy begini, apa ada yang orang lain bisa bikin tapi Ghazy tidak bisa?”
Kau menggeleng.
“Berarti tidak ada masalah Nak.. Ghazy bisa makan, bisa main, bisa sholat kan? Bisa baca doa kan?”
Kau mengangguk tersenyum.
“Lalu apa yang kurang Nak?” kau menggeleng.
“Karena Ghazy spesial” aku tersenyum melihatnya tersenyum.

Mata bulatnya kembali bersinar, menyemangatiku yang seketika rapuh mendapati pertanyaanmu pagi ini. Aku tahu kau belum sepenuhnya paham tentang penjelasanku yang mungkin belum memuaskanmu. Tapi aku juga tahu kau punya alasan kuat untuk tak meneruskan membahas ini denganku.

Kau memegang pipiku, mencium keningku.. “ibu.. Ghazy tidak suka liat ibu sedih.. ibu jangan sedih lagi ya.. kan ada Ghazy, anak spesialnya ibu..” lalu kau memelukku. Erat. Tetesan air matamu membasahi bahuku. Aku hanya diam. Aku menangis, tapi bukan sedih.. aku terharu.. balitaku tumbuh menjadi anak yang dewasa hari ini.

Aku membuka mata, terbangun. Melihatmu di sampingku. Kau masih Ghazy ku yang berumur 6 bulan 9 hari. Terbaring di samping kiriku, dengan wajah polosmu yang cerah dan pipi gempal. Aku tahu, aku sudah harus mulai menyiapkan jawaban itu sekarang.

NB : Untuk semua anak yang terlahir dengan Microtia atau anomali lainnya, itu karena kalian spesial nak.