Rabu, 28 Oktober 2015

Tentang Hidup

Beberapa kali aku bertanya pada diri sendiri.. Kenapa aku hidup? Apa jadinya kalau aku tak ada? Semua tak ada, tak ada penglihatan, tak ada pendengaran, tak ada perasaan, tak ada diri, aku tak ada. Aku ingat, itu pemikiranku sebelum aku masuk sekolah, tapi sudah pandai ke warung belanja permen sugus seharga 25 rupiah sebiji kala itu.

Seiring bejalannya waktu, aku mulai tak begitu peduli dengan pertanyaan itu. Banyak pertanyaan lain yang kemudian muncul.. Apa cita-citamu? Aku tak pernah menjawab dokter, entah mengapa. Jawabanku, insinyur. Belasan tahun kemudian Tuhanku yang kusebut Allah mengabulkannya, aku lulus SPMB di Fakultas Teknik Jurusan Sipil Universitas Hasanuddin, sekolah insinyur.

Saat sekolah aku tak pernah begitu serius belajar, tapi Aku tak mengerti mengapa Allah Yang MahaBaik selalu memberiku peringkat dan nilai yang seolah di atas kemampuanku. Aku tak rajin belajar, aku tak pandai menghapal, aku tak cepat dalam memahami rumus, tapi mengapa aku selalu beruntung?

Saat kuliah Aku begitu tertarik dengan kehidupan orang-orang di pertambangan yang kukunjungi saat kunjungan proyek. Allah kemudian menghadiahkanku paket tinggal dan belajar plus digaji slama 6 bulan di perusahaan tambang tersebut 2 tahun setelah kunjungan proyek.

Aku semakin melupakan pertanyaan ku kala masih kanak-kanak.

Pernah terbersit di kepalaku ingin menikah di usia sekitar 25, hanya terbersit. Allah kemudian menghadiahkanku seorang suami yang begitu pengertian, penyayang, serta perhatian di usiaku yang belum genap 26. Tak sampai disitu, IA langsung menitipiku seorang anak laki-laki yang meski tak sempurna secara fisik bagi sebagian orang, tapi bagi kami, ia sempurna apa adanya dia. Kami namai ia Muhammad Ghazy Khayran, di usia ku yang belum genap 27.

Aku mulai bekerja di gedung yang sama dengan suamiku, tepat seminggu setelah pernikahan kami, hingga saat ini. Kau lihat? Betapa Allah memanjakanku! 

Sampai kemudian, aku mulai menyadari.. Pertanyaanku yang dulu terlupakan. Sekarang, semua cita-cita sederhanaku telah terwujud.. Lalu apa? Untuk inikah Aku hidup? Untuk mewujudkan cita-citaku? Kemudian apa? Mengurusi hal-hal sepele yang dibesar-besarkan setiap harinya? Bukan.. Aku yakin bukan itu tujuan hidupku. 

Allah sangat memanjakanku. Dipertemukannya Aku dengan orang-orang baik yang sedikit banyak membantuku memaknai hidup. Sampai akhirnya, aku menemukan jawabannya.. Untuk apa aku hidup.


Karena ibadah tidak sebatas rukun Islam. Karena ibadah adalah menaati perintahNya dan menjauhi laranganNya, melaksanakan sunnah RasulNya, menaati aturan RasulNya, melaksanakan segala hal dengan niat karena Allah dan benar secara syariat.. Kesemuanya adalah ibadah. Lalu sekarang apa? Mulai membenahi diri, mempelajari syariat yang telah menjadi ketentuanNya, kemudian belajar mengamalkannya. Karena amalan tanpa ilmu adalah sia-sia, sedangkan ilmu tanpa amalan dibenci oleh Allah.

Aku terlalu serius? Iya.. Karena Aku tahu, hidup tak sebercanda itu.

Selasa, 27 Oktober 2015

Karakter Seorang Mu'min

Lagi sore, di kantor, lagi mompa ASI. Karena lagi period maka jadilah saya siang tadi saat lunch time cuma duduk-duduk aja sambil lunch di meja kantor. Iseng-iseng buka Al Qur'an & terjemahan cuss ke surah ke 23, Al-Mu'minun. Entah kenapa, pengen baca terjemahan surah itu.. Mungkin karena saya tau diri kalo signal iman lagi down banget kali, sisa 1 bar kayanya. 😭

Bertemulah saya pada ayat 1-11, coba deh buka terjemahan kamu, sekarang loh yaa..

Terhenyaklah saya.. Pengen nangis rasanya.

Yang intinya..


Rasa-rasanya tidak perlu mengumbar satu per satu alasan kenapa pengen nangis, karena saya harus mngumbar 1 per satu perihal aib saya kan yaa.. Yang pasti beberapa poin di atas kok kayanya nyesekk banget di dada.. Kok kayanya saya gak termasuk orang beriman.. Kok rasanya.. Hmmmhh.. Kok rasa-rasanya saya malu sudah mengakui mengimani Islam sebagai satu-satunya agamaku tapi kok... Saya masih gini-gini aja??!

Silahkan direnungkan teman-teman. 😓😓😓