Selasa, 08 Desember 2015

ISLAM Bukan Hanya di KTP

Terlahir sebagai Muslim mungkin adalah takdir bagi sebagian besar dari kita. Tapi menjadi memilih menjadi Mukmin adalah seutuhnya pilihan yang ada di tangan kita. Meski kita tak pernah tahu status kita sudahlah Mukmin atau masih sebatas Muslim sampai kelak hari penghisab-an tiba. 

Terlahir di negara Kapitalis-Demokratis-Neo Liberalis or whatever people name this country system memang juga adalah takdir kita. Tapi memilih mengikuti segala aturan yang berlaku di negara kelahiran kita atau mengikuti aturan yang diharuskan oleh Pencipta yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah juga utuh berada di tangan kita.

Jika pada akhirnya kita memilih untuk tetap dengan takdir kita sebagai Muslim sejak lahir, maka konsekwensinya kita seharusnya patuh terhadap aturan yang Allah berlakukan. Kita memilih untuk diatur oleh Islam, yang kita akui sebagai agama kita. Karena Islam, bukan hanya sekedar dogma, ibadah, yang kemudian dilakukan hanya sebagai penggugur kewajiban. Karena kewajiban kita sebagai Muslim adalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Se-simple itu? Se-simple itu.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, sudahkah kita tahu sejauh mana Islam mengatur hidup kita? Cara kita beribadah, cara kita bersosialisasi, cara kita menerapkan sistem ekonomi, bahkan sampai cara kita berpakaian, Allah Azza wa Jalla telah mengaturnya. Sudahkah kita tahu tentang itu?  Sudahkah kita mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari? Perintah-perintah apa saja yang Allah haruskan kepada kita untuk dilaksanakan, dan larangan-larangan mana saja yang Allah haruskan kita untuk ditinggalkan. Sudahkah tempat yang kita sebut ‘sekolah’ yang telah kita datangi belasan bahkan sampai puluhan tahun itu telah mengajarkan kita tentang hal ini? Sejauh mana? Buat saya, ‘sekolah’ has no credit for it.

Jika kita tak mengkaji tentang ISLAM, sampai kapan kita ingin dimanjakan (dibodohi) oleh sekolah serta media, bahwa Islam itu hanya sekedar yang kita peroleh di bangku sekolah dengan subjek Pendidikan Agama. Bahwa Islam itu hanya sekedar ceramah yang setiap pagi kita tonton di TV dengan selingan-selingan candaan. Sudahkah kita mencari sendiri seperti apa wajah Islam sesungguhnya yang Allah telah turunkan dalam Al-Qur’an dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam contohkan dalam As-Sunnah? Sudahkah kita penasaran lebih jauh daripada penasarannya kita pada Supernova Part 6 Intelegensi Embun Pagi karya Dee Lestari?

Jika jawabannya Tidak, mungkin kita harus menelaah lebih jauh tentang hati kita. Sudahkah kita yakin bahwa Allah adalah Pencipta seluruh langit dan bumi? Cukupkah kita yakin akan adanya yaumul hisab kelak? Sudahkah kita yakin bahwa Allah kelak akan meminta pertanggungjawaban kita atas segala perintah dan larangan-Nya? Ataukah… kita sudah terlampau PERCAYA DIRI bahwa Amal Ibadah kita selama ini telah cukup untuk menghindarkan kita dari siksa kubur dan siksa neraka?
Na’udzubillahi min dzalik.

 Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saja yang telah dijamin akan surga oleh Allah, menghabiskan siang-malamnya dengan ibadah hingga kakinya bengkak, tidurnya hanya sekitar 4 jam sehari, dan di akhir hayatnya, beliau menangisi nasib kita… manusia yang mengaku ummatnya. 

Lalu apa kabar kita? Yang aturan Allah saja belum tentu semuanya telah kita laksanakan? Yang masih saja ngeles ketika diberitahu tentang aturan Islam? Mungkin kita perlu menelaah hati kita, masih adakah Allah dan Rasul di sana?

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36)

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hokum dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima sepenuhnya.” (QS. An Nisa : 65)

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dank eras, yang tidak durhaka kepada Allah dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim : 6)

“Dan hanya kepada-Kulah kamu harus takut (tunduk).” (QS Al Baqarah : 40)

“Sesungguhnya, adzab Tuhanmu benar-benar keras.” (QS Al Buruj : 12)

Mari mengkaji Islam, agar Islam tak hanya sekedar satu kata dalam KTP kita. Saya, yang menulis, bukan berarti lebih baik dari Anda yang membaca. Mari kita saling mengingatkan dalam kebaikan. Semoga Allah selalu membuka hati kita untuk tetap istiqomah dalam mengkaji Islam di jalan yang benar. Karena mempelajari ilmu syariat sesungguhnya hukumnya fardhu ‘ain, sedangkan mengkaji ilmu dunia hukumnya hanya fardhu khifayah. Maka sepatutnyalah, waktu yang kita habiskan justru lebih banyak untuk mempelajari ilmu untuk akhirat dibandingkan ilmu dunia. Karena kita, tak pernah tahu, berapa banyak sisa waktu yang kita punya di dunia.

Kita masih menempatkan Allah dan Rasulullah di urutan teratas di hati kita kan? :)




Tidak ada komentar: